Pagi itu Niva bangun lebih cepat dari biasanya. Dengan rambut masih setengah basah, ia sudah sibuk memilih baju, lalu tersenyum sendiri sambil mengetik pesan. Pagi ini jemput aku, dong. Mau coba dijemput pacar. Pesan terkirim. Niva menunggu sambil merapikan tas. Satu menit. Dua menit. Layar ponselnya tetap begitu. Cuma ceklis satu. Alisnya mengerut. Apa HP-nya rusak ya? pikirnya, lalu menatap pintu apartemen seolah Nio bisa tiba-tiba muncul begitu saja. Ketika Ezkar keluar dari kamar, ia mendapati Niva sudah siap dari tadi, tapi masih berdiri di dekat meja, ponsel di tangan. “Belum berangkat?” tanyanya. Niva mengangkat layar ponsel sedikit. “Nio belum bales.” Ezkar sempat diam. Belakangan ini ia memang sengaja menjaga jarak. Tapi melihat Niva berdiri menunggu seperti itu, ia tak

