Bab 16. Konsekuensi

1241 Kata

“Niva!” Suara itu menembus riuh konser seperti sirene. Langkah Niva langsung berhenti. Jantungnya jatuh ke perut. Ia menoleh pelan. Ezkar berdiri beberapa meter di belakang mereka. Napasnya masih tersengal-sengal, wajahnya tegang seperti orang yang hampir kehilangan sesuatu. “Di belakang gue, lo kesini,” ulang Ezkar, lebih rendah sekarang. “Sama dia?” Nada itu bukan tanya. Lebih seperti tuduhan. Nio tidak melepaskan genggaman tangan Niva. “Ada masalah?” tanyanya tenang. Mata Ezkar beralih padanya. Tajam. “Lo pikir bawa dia ke tempat kayak gini malem-malem itu ide bagus?” Kerumunan orang masih lalu lalang di sekitar mereka, tapi udara di antara tiga orang itu terasa menegang. Nio mengangkat bahu sedikit. “Dia yang mau nonton konser. Dia bukan anak kecil,” potong Nio ringan. Ezkar m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN