Hari mulai beranjak siang. Shaka berkali-kali menghela nafas, menatap sisa bayangan Athira yang hilang di pintu gerbang rumahnya yang tinggi. Shaka tidak menemukan lirikan rindu pun tatapan memuja dari sosok perempuan yang selama ini mati-matian berjuang agar pernikahan mereka tidak hancur. "Athira, tunggu." Shaka sempat memanggilnya, berharap Athira sejenak menatapnya. "Kenapa, Mas?" tanya Athira pendek dan dingin. Langkahnya terhenti sejenak "Kamu... Kamu tidak mengatakan sesuatu tentang perceraian kita, misal.... " "Misal apa?" "Misal sisa keinginanmu untuk kembali merenda pernikahan kita. " Syet. Shaka tersenyum pahit, merutuki kebodohan perasaan dan kalimat yang keluar begitu saja. Dia yang mati-matian ingin mentalak Athira, kenapa pula dia yang gamang dengan kepergian perempua

