Udara terasa lebih panas dari biasanya. Dengan mata basah dan sudut bibir terasa perih, Sekar bangkit. Menegakkan kepalanya. Aku tidak akan pernah jadi pecundang. Tidak akan. Seumur hidup aku adaldh pemenang. Cantik, kaya, terkanal, muda dan seksi, apalagi yang aku tidak punya untuk meruntuhkan kaum pria? Aku punya segalanya, pun orang tua kaya dan terpandang. Aku biasa berpetualang dengan banyak laki-laki, kalau aku bersikeras mendapatkan seorang Yudha, bukan karena aku mencintainya dengan tulus, tapi juga menyangkut harga diriku. Bagaimana aku bisa kalah bersaing dengan perempuan kampungan istri sah Yudha? Memuakkan. Desis hati Sekar penuh bara. "Mengapa tidak pergi, Sekar?" "Aku tidak akan pergi." Sekar menantang. "Ada harga diriku di dalam mencintaimu. Aku tahu, kau bukan pria ya

