Erika mengkeret. Tak menduga kalau lemparannya malah mengenai Ibu dan melukai kakinya. "Maafkan aku, Bu. Aku tidak sengaja." Erika terbata. Ibu tak menjawab, terlihat sangat marah. Membuat gadis manja itu sedikit ketakutan. Apalagi darah dari kaki Ibu mengalir cukup banyak membuat Haifa dan Bi Marni sibuk membalut dan mengobatinya. "Erika, aku memang sangat menyayangimu. Tapi aku tidak menduga kalau kau tumbuh menjadi gadis egois, angkuh dan emosional." Ibu terisak. "Kau kubesarkan dengan segenap cinta, aku berharap kau memiliki perasaan yang lembut dan penuh empati, tapi apa yang aku dapatkan?" Lanjut Ibu masih menahan murka dan sudah. Bukan luka di kakinya yang terasa nyeri melainkan mendapati anak gadis semata wayangnya yang tumbuh menjadi gadis angkuh dan bar-bar. "Erika, minta

