03 |BUKAN ORANG YANG SAMA

1172 Kata
“WOI!” Seseorang menepuk jeha dari belakang dan membuat gadis itu terperanjat kaget. “Haduh! Kamu ngagetin aku aja sih Ros!” decak Jeha sambil berbalik menatap kesal sahabatnya. “Lagian ngapain lo ngintip-ngintip ruang dosen, kek’ maling,” komen Rossa, tidak habis pikir ketika menemukan Jeha ada di depan pintu ruang dosen dan celingukan mencari sesuatu. “Aku cariin Mas Ser,” jawab Jeha lalu kembali melanjutkan aksinya mencari Sergio di antara meja dosen. Rossa memutar bola mata. “Gue nggak habis pikir lo bakal tergila-gila sama dosen sendiri,” ungkap Rossa. “Yaelah, kayak kamu enggak aja. Tuh buktinya bisa sama Pak Glen.” Jeha balas menyindir. Rossa sontak terbelalak. “Lo tahu dari mana gue sama Pak Glen ada hubungan?” tanyanya dengan suara bisik-bisik karena tidak mau ada orang lain yang dengar. Jeha mengibaskan tangan merasa pembahasannya dengan Rossa tidak lebih penting. “Ah panjang lah ceritanya. Kamu nggak bakalan paham juga. Tapi asal kamu tahu yah, aku tuh tergila-gila sama Mas Ser bukan karena dia dosen, tapi karena dia—” “Cowok setengah serigala yang lo taksir di dalam mimpi,” Rossa menyela saat tahu apa yang hendak dikatakan sahabatnya, “iya-iya, gue tahu. Lo udah berulang kali cerita itu ke gue setelah sadar dari koma,” imbuhnya dengan intonasi jengah. “Lah, itu kamu tahu! Mendingan sekarang kamu bantuin aku cari Mas Ser!” Rossa mencebik seraya melipat tangan di depan daadda. “Emang setelah ketemu Pak Sergio, lo mau ngomong apa?” tanyanya. “Aku mau mastiin lagi, dia bener-bener lupa sama aku atau enggak,” timpal Jeha tanpa memalingkan wajahnya dari dalam ruang dosen. “Emm Jeh, gue mau kasih tahu lo sesuatu.” “Apaan, ngomong jangan setengah-setengah dong!” Jeha merasa terusik dengan ucapan Rossa yang menggantung, tapi tatapannya masih tak lepas mencari sosok Sergio di dalam ruangan. “Pak Sergio ada di belakang lo!” ujar Rossa yang seketika membuat Jeha melototkan mata ke arahnya. "Seriusan?” Dalam keadaan seperti ini, Jeha masih mengira Rossa bohong, Sergio terkenal punya wajah dingin yang menakutkan, kalah dinginnya dengan Pak Glen yang terkenal killer. Rossa menelan ludah sambil mengangguk ngeri, “Iya. I-itu!” Rossa menunjuk seseorang di belakang Jeha. Sementara Jeha mengikuti arah pandang Rossa lalu berakhir menatap sepasang mata cokelat beralis tebal yang merengut sinis memandangnya. “Ehhh… Pak Sergio ada di sini toh. Anu… sa-saya cariin bapak cuma mau tanya.” Jeha seketika ikut merinding dibawah tatapan dinginnya. “Bapak beneran nggak inget saya?” Jeha bertanya setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, dan Sergio membalasnya berupa gelengan kepala tanpa suara. “Sama sekali nggak inget? 50% aja juga nggak? Atau 10%? 1%?” Jeha mendesak, sedangkan Rossa meringis mendengar pertanyaan Jeha yang malah mirip sedang meminta diskon super flash sale. “Berapa kali saya harus jawab, saya nggak pernah kenal bahkan ketemu sama kamu Jeha!!” Sergio menekan setiap perkataannya untuk menegaskan pada Jeha bahwa dirinya memang tidak mengenal gadis itu. Jeha menunduk lesu mendengarnya, lalu Sergio bertanya, “Sekarang giliran saya yang bertanya.” Jeha mendongak, menanti pertanyaan Sergio dengan penasaran. “Pak Ser tanya apa?” “Apa setelah kamu sadar dari koma dokter melewatkan pemeriksaan otakmu? Kukira otakmu sedikit geser jadi suka memikirkan hal yang tidak-tidak. Oh, atau mau kubantu antarkan ke Pak Rizky untuk memeriksa kesehatan kejiwaanmu?” Rossa meringis, sarkas sekali ucapan pria itu. Mungkin jika Rossa jadi Jeha, dia mulai akan menyerah sekarang. Tapi Rossa yakin Jeha tidak akan secepat ini berhenti. “Pak Rizky?” Jeha menjulingkan mata ke atas untuk berpikir. “Pak Rizky itu dosen ilmu kejiwaan di universitas kita, dia juga seorang dokter psikolog. Masa kamu lupa sih,” jelas Rossa, membantu sahabatnya mengingat. “Oh iya-iya, aku inget!” sahut Jeha. Lalu tanpa disangka-sangka langsung menggandeng telapak tangan Sergio dan berkata, “Yaudah, yuk Mas Ser kita berangkat sekarang aja gimana?” Sergio melongo, sedangkan Rossa mati-matian menahan tawa akibat ulah sahabatnya yang justru bersedia di antarkan untuk memeriksa kesehatan jiwanya. Udah pasti ketahuan gila habis ini lo Jeh! Hahaha! Rossa berbicara dalam hati. “Lepas! Berapa kali saya bilang jangan panggil saya Mas Ser!” maki Sergio setelah menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Jeha. Jeha tak putus semangat. “Oh, jadi nggak mau digandeng. Maunya dipeluk?” Jeha menabrakkan tubuhnya memeluk Sergio. Kebetulan saat itu bu Risma dan bu Laila baru saja keluar dari ruang dosen dan terkejut melihat Jeha yang memeluk Sergio. Rossa sampai menahan napas melihat adegan di depannya. Akan jadi gosip baru kalau bu Risma dan bu Laila melihat semua ini. Tidak ingin terlibat drama Jeha lebih jauh, Rossa mundur selangkah demi selangkah meninggalkan posisinya. “Semoga berhasil Jeh! Gue doain lo dari jauh… bye-bye! Muach!” gumam Rossa setelah dia berhasil kabur dari depan ruang dosen. Setelah memberi kiss bye sebagai bentuk dukungan untuk sahabatnya, Rossa langsung ngacir pergi ke kantin untuk mengisi perut. Di sisi lain, Sergio mendorong tubuh Jeha hingga gadis itu terpental mundur melepas pelukannya. “Maaf-maaf, ini nggak seperti yang bu Risma dan bu Laila lihat.” Sergio mengklarifikasi kesalah-pahaman yang bu Risma dan bu Laila lihat. Bu Risma tersenyum—lebih tepatnya menertawakan kegugupan Sergio. “Nggak apa-apa Pak. Nggak ada peraturan yang melarang dosen dan mahasiswa berpacaran kok,” ujarnya. Yang kemudian ditambahi oleh bu Laila. “Iya, asalkan jangan sering-sering tampil berdua dimuka umum aja. Nggak enak buat jadi contoh mahasiswa lain. Yasudah, kami permisi dulu yah.” Ekspresi Sergio berubah loyo, tapi ia tidak menyerah meyakinkan dua dosen perempuan tersebut. “Enggak bu! Saya dan Jeha nggak ada hubungan apa-apa! Sumpah bu!” teriak Sergio, yang hanya ditanggapi tawa dari bu Risma dan bu Laila yang mulai pergi meninggalkan Sergio dan Jeha. “Hahaha.” Jeha tertawa bahagia saat ucapan Sergio tidak percaya oleh dua dosen perempuannya. Sergio menatap tajam Jeha yang seketika meluapkan tawanya. Bukan karena ia sedang ditatap tajam oleh pria itu, tetapi cara Sergio menatap Jeha saat ini benar-benar sama persis dengan tatapan tajam saat Sergio masih menjadi siluman serigala. Ya Tuhan… Jeha sangat merindukan sosok Sergio saat masih menjadi siluman serigala bersamanya. Meskipun sering kali menatap tajam dirinya, tetapi Jeha masih menemukan cinta dalam binar matanya. Tapi yang dilihat Jeha pada Sergio yang sekarang hanyalah binar kebencian di sepasang matanya. “Plis Jeha, jangan membuat orang-orang salah paham dengan hubungan kita! Aku dan kamu hanya berstatus sebagai dosen dan mahasiswa, tidak akan pernah lebih dari sebatas itu! Karena kamu bukan siapa-siapa bagiku! Kau hanya kebetulan mahasiswaku yang tidak tahu diri dan sedang sakit jiwa! Kau paham itu?!” Kalimat itu diungkapkan Sergio dengan penuh amarah, dan sukses menyakiti Jeha hingga membuat mata gadis itu berkaca-kaca. Sergio yang Jeha cintai tidak akan setega itu untuk menghinanya. Mungkin benar, Sergio yang Jeha cintai sudah mati sejak saat terakhir kali mereka bertemu sebelum kemudian Jeha terbangun dari koma. Dan Sergio yang ia lihat sekarang hanya kebetulan memiliki wajah dan nama yang sama dengan Sergio yang ia cinta. Mereka bukan orang yang sama. Jeha berusaha menelan pahit kenyataan itu. BERSAMBUNG…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN