Hari Senin datang lagi, semua aktivitas kembali lagi seperti semula, anak sekolah maupun yang bekerja.
Bagi anak sekolah yang paling tak disukai pada hari senin adalah upacara. Upacaranya mungkin tak lama tapi, pidato yang disampaikan kepala sekolah membuat lutut gemetaran dan kaki cenat cenut.
"Upacara woy, upacara!" suruh sang ketua kelas di dalam kelas Ayla.
Ayla mengambil topinya di dalam kelas lalu memasang di kepalanya.
Ayla memilih barisan paling belakang, lumayan badannya tertutup dengan badan Markonah yang selebar gorden warteg.
Upacara pun dimulai, semuanya dilaksanakan secara kronologis hingga saatnya amanat pembina upacara.
Peluh sudah membasahi pelipis Ayla, sinar matahari terik, cuaca hari ini sangat panas.
Kaki Ayla rasanya sudah tak kuat lagi karena ceramah kepala sekolah masih semangat berceramah apalagi membicarakan ulang tahun sekolah kemaren yang masih terasa sampai sekarang. Jika pembina upacara belum juga menyelesaikan pidatonya 5 menit lagi mungkin peserta upacara ada yang pingsan.
Brukkk
Benar saja, seorang siswi di samping Ayla jatuh tak sadarkan diri, teman-teman Ayla segera mengangkat gadis itu tak terkecuali Ayla yang ikut menolong, walaupun hanya memegang tangan gadis pingsan itu.
Ayla mengantarkan sampai ke UKS, anak PMR langsung mengambil alih tugas mereka.
"Huft, lagian tuh pak botak lama banget ceramahnya,"
"Iya," jawab Tusa menyetujui Ayla.
Tusa memang ikut membantu siswi yang pingsan tadi karena Tusa berbaris tak jauh dari Ayla.
Lalu tak lama pintu UKS kembali terbuka, tampak Alyo sedang merangkul Angel membawanya ke ranjang UKS.
Ayla memutar bola matanya malas, kenapa Alyo merangkul Angel seperti itu, tidakkah ia tahu jika Ayla tak suka melihatnya.
"Suster tolong-tolong, suster tolong teman gue dong, dia pusing nih," teriak Alyo panik, Angel teesenyum tipis melihat tingkah Alyo.
Anak PMR langsung meneriksa Angel dan memberikan minyak kayu putih meringankan pusing di kepala Angel.
"Lo kira ini rumah sakit?" cibir Ayla, sepertinya Alyo tak menyadari ada Ayla di sana.
"Loh kok ada kecebong di sini," ucap Alyo menatap Ayla, dengan kesal gadis itu memukul badan Alyo.
"Kecebong pala lo, gue aduin mama ya."
"Hehe sorry Ay, lagian lo kecil-kecil kayak apaan gitu."
Ayla tak menggubris, bibirnya dimanyunkan menatap Alyo kesal.
"Lo jangan manyun gitu, gemmesh gue liatnya."
Pipi Ayla langsung merona mendengar ucapan Alyo, ia tak bisa menahan senyumnya, Alyo menyadari jika Ayla malu-malu digodanya, lalu tangan Alyo mengacak-ngacak rambut Ayla.
"Masa iya ada kecebong secantik lo!"
Dan, rasanya Ayla terbang setinggi-tingginya. Aneh ya memang kenapa ia harus baper digoda oleh kakaknya sendiri?
***
Bel istirahat pun berkumandang, siswa berbondong bondong keluar kelas untuk mengisi perut mereka ke kantin.
Ayla, Kina, dan Tusa makan di kantin seperti biasanya. Pandangan Ayla beralih melihat Tari beserta gengnya memasuki kantin.
"Hantu-Setan datang," ucap Ayla kepada kedua sahabatnya.
"Hooh, Ratu Valak udah datang," jawab Kina pula.
"Iya, Nenek Lampir binti Nenek Sihir ke sini," balas Tusa pula.
"Hai, Ayla adik ipar!" sapa Tari selembut sutra.
"Kenapa? Mau minta tanda tangan?" tanya Ayla santai.
Jika semua orang takut dengan Tari, namun Ayla tidak, jika Tari macam-macam dengannya maka Alyo akan marah pada Tari, tentu saja Tari tak ingin itu terjadi, ia sudah lama menginginkan Alyo.
"Kakak lo mana? Dia gak masuk kelas dari pagi," tanya Tari yang sudah penasaran dimana Alyo.
"Gue gaktau," jawab Ayla, ia memikirkan kemana Alyo pergi? Terakhir Ayla bertemu di UKS dengan kakaknya itu.
Apa jangan-jangan Alyo ke rumah Angel? Gadis itu kan sakit.
Ayla bangkit lalu berjalan menjauh dari kantin, ia mencoba menelpon Alyo namun tak diangkatnya. Ayla menggeram kesal kenapa Alyo tak mengangkat panggilannya.
"Ih kemana sih kak Alyo," kesal Ayla.
Kina dan Tusa menghampiri Ayla, kedua sahabatnya itu menatap heran Ayla yang pergi begitu saja.
"Lo kenapa, Ay?" tanya Tusa.
"Kak Alyo kemana? Masa dia gak masuk kelas dari tadi pagi, dia juga gak ngabarin gue dulu kalau mau pergi," jawab Ayla masih mencoba menelpon Alyo namun sama saja, Alyo tak mengangkat panggilan Ayla.
"Hm, mungkin Kak Alyo nganterin si Angel pulang, kan tadi si Angel sakit tuh," ucap Kina.
Mendengar jika Alyo mengantarkan Angel saja sudah membuat Ayla kesal setengah mati.
"Yaudah deh, ke kelas yuk,"ajak Ayla.
***
Sepulang sekolah Ayla segera bergegas ke rumah Angel, ia ditemani sama Kina ke sana, sedangkan Tusa tak bisa ikut karena sudah dijemput mamanya ke sekolah.
Ayla dan Kina menaiki taxi ke rumah Angel. Setibanya di sana Ayla bertemu dengan wanita seumuran mamanya yang sedang duduk di teras.
"Assalammualaikum Tante," salam Ayla dan Kina.
"Waalaikumussalam, teman-temannya Angel ya? Ayo masuk," suruh wanita itu ramah.
"Angel sakit ya Tante?" tanya Ayla basa-basi.
"Iya, Nak! Tadi temannya nganterin pulang, tuh masih ada di dalam nemenin Angel."
"Oh, namanya Alyo ya Tante?" tanya Ayla lagi.
"Ah iya Nak, namanya Alyo, ganteng lagi kamu temannya nak Alyo juga?"
"Aku adiknya Tante, kenalin nama aku Ayla," ucap Ayla tersenyum mengulurkan tangannya.
"Panggil Bunda aja ya, jangan Tante," balas bunda Angel menerima uluran tangan Ayla. Gadis itu menyalami tangan bunda Angel, memberikan hormatnya kepada orang tua.
"Iya Bunda, oh ya ini temannya Ayla namanya Kina, Bun."
Kina langsung menyalami bunda Angel dan memperkenalkan namanya.
"Yaudah ayo masuk, Nak! Daritadi masa di luar aja," suruh Bunda Angel.
Ayla dan Kina masuk ke dalam rumah Angel, namun mata Ayla tak menangkap keberadaan Alyo, dimana kakaknya itu?
"Angelnya mana Bun?" tanya Ayla.
"Oh mungkin lagi di halaman belakang, kamu samperin aja nanti lewat pintu itu ya kamu lurus aja," ujar Bunda Angel.
"Iya Bunda."
"Bunda mau buatin air dulu sama ambil cemilan buat kalian."
"Eh jangan repot-repot Bunda," ucap Kina diangguki Ayla.
"Ah gapapa, kalian teman-teman barunya Angel di sini kan, anggap kayak rumah sendiri aja ya, Bunda senang Angel banyak temannya karena daridulu Angel temenan sama sepupunya saja, sayang sepupunya sudah meninggal Angel jadi sedih, makanya Bunda bawa Angel ke sini supaya gak sedih lagi," jelas Bunda menceritakan kisah Angel.
Angel yang tak terlalu bisa bergaul, Angel yang sangat Introvert membuat bundanya khawatir jika Angel tak mempunyai teman-teman dan tak bisa menikmati masa remajanya.
Ucapan Bunda Angel membuat Ayla mematung, bulu kuduknya seakan berdiri dan perasaan nyeusek itu kembali terasa lagi. Kina yang mengetahui perubahan Ayla, mengusap bahu sahabatnya itu menenangkan Ayla.
"Kita mau kok jadi temannya Angel, Bunda," ucap Kina membuat bunda Angel tersenyum mendengarnya.
"Makasih ya, Nak! Eh sampai lupa, bunda buatin air dulu ke belakang ya."
"Iya Bun, makasih! Tapi kita boleh gak ke tempat Angel?"
"Iya boleh, Bunda gak mau ganggu, kayaknya Angel sedang asik di sana, mending kalian samperin aja langsung."
"Oke Bunda!"
Lalu Ayla menarik tangan Kina menuju halaman belakang yang ditunjukkan bunda Angel.
Di sana, ada Alyo yang sedang tertawa bersama Angel, Ayla menggeram kesal namun kakinya tertahan untuk tidak ke sana.
"Kenapa gak mau samperin?" tanya Kina.
"Gue pengen tahu, mereka ngomongin apaan," jawab Ayla.
Lalu gadis itu mengendap-ngendap agar tak ketahuan oleh Alyo dan Angel, ia membungkuk dan bersembunyi di balik gazebo.
"Ngel!" panggil Alyo, Angel langsung menoleh.
"Iya," jawab Angel.
"Emm gue... "
Tangan Alyo gemetaran, keringat membasahi kedua tangannya, ia akan menyatakan perasaannya kepada Angel.
Alyo daritadi sudah berlatih kalimat apa yang akan diucapkannya, namun sekarang lidahnya terasa kelu, belum lagi jantung Alyo deg deg degan.
"Yaelah nembak cewek lebih degdegan ya daripada potong pisang," ucap Alyo dalam hati, kenapa menembak cewek lebih menakutkan daripada ia sunat waktu kecil?
Gebetan Alyo memang banyak, fans-fansnya juga bejibun, tapi Alyo belum pernah menembak seseorang sebelumnya. Inilah kali pertama bagi Alyo seumur hidupnya.
"Ngel..." panggil Alyo lagi.
"Iya kenapa Alyo?"
"G-gue su--"
"Ah elah kenapa jadi kayak sinetron gini sih," dengus Alyo dalam hati.
"Lo ngomong apaansih? Kok kayak gerogi gitu?" tanya Angel heran.
"Gue... gue... gue..."
"Iya?" tanya Angel penuh kesabaran.
"GUE KEBELET KENCING!" teriak Alyo langsung berdiri dan menjauh dari Angel.
Angel menatap heran, masa iya Alyo ngomong gerogi hanya mengatakan ia kebelet? Pasti ada sesuatu, bibir Angel tersenyum tipis, apa Alyo akan menembaknya? Jika ia Angel pasti akan senang sekali.
Tak lama Alyo kembali berbalik, Angel dapat melihat keringat yang membanjiri pria itu, perasaan ia tak mersa kepanasan, apa karena ia sakit? Tapi cuaca sudah mendung.
"Lo tadi mau ngomong apaansih? Lo mau--"
"Ehm aduh gue gak bisa ngomongnya, gue gerogi," jujur Alyo menggaruk tengkuhnya.
Di balik gazebo Ayla menatap Kina heran, "kak Alyo mau ngomong apa ya?" bisik Ayla namun Kina mengangkat bahunya tak tahu.
"Emang lo mau ngomong apaansih?" pancing Angel.
Dengan ragu Alyo meraih tangan Angel lalu menggenggamnya.
"Gue suka sama lo!" akhirnya kalimat itu terucapkan oleh Alyo, pria itu menghembuskan nafas lega.
Ayla tersentak di balik gazebo, jadi Alyo barusan bilang jika ia menyukai Angel? Apakah Alyo mencintai gadis itu? Perasaan Ayla menjadi memanas, lalu Ayla segera pergi dari situ tanpa sepengetahuan Alyo dan Angel tentunya.
Kina mengikuti Ayla yang pergi begitu saja, ada apa dengan sahabatnya itu?
"Em iya, terus?" tanya Angel, ia bahagia akhirnya Alyo menyukainya namun apakah Alyo tak menanyakan perasaannya?
"Yaudah itu aja, emang apalagi?" tanya Alyo polos.
Angel terdiam sebentar, ganteng-ganteng gak peka juga ya, batin Angel.
"Lo gak mau ngajak gu--"
"Gue mau kok jadi pacar lo, tenang aja hari ini kita pacaran," potong Alyo santai.
Kenapa Alyo tak seromantis yang dibayangkannya? Kenapa seolah-olah dirinya yang mengajak Alyo pacaran?
"Tapi lo belum nanya peras--"
"Ssst, diam! Gue tau kok lo pasti suka sama gue, udah sejuta cewek yang ngomong gitu, jadi gue gak butuh jawaban lo lagi hehe," kekeh Alyo santai dengan pedenya.
"Tapi kalau gue bilang gak suka gimana?"
"Ah elah nih kaleng kerupuk, gak mungkin lah lo gak suka sama gue, bohong dosa loh!" ucap Alyo.
Angel meringis pelan, kenapa Alyo jadi beda begini setelah mereka berdua resmi berpacaran? Namun bagaimanapun juga Angel juga menyukai Alyo, benar katanya siapa yang tak menyukai Alyo?
Angel menghela nafas pelan, lalu bibirnya tetap mengembangkan senyuman, berpacaran dengan Alyo sudah membuatnya bahagia.
"Iya, gue juga suka sama lo," ucap Angel lalu mendekatkan badannya ke arah Alyo, pria itu tersenyum dan merangkul Angel dari samping.
***
Ayla mengambil tasnya di sofa lalu memakainya berjalan keluar dari rumah Angel, ia menemukan bunda Angel yang sedang menyiram bunga.
"Eum Bun, Ayla pulang dulu ya, Mama udah nyariin, makasih Bun," pamit Ayla menyalami bunda Angel.
Kina yang tak tahu apa terjadi mengikuti saja kemana Ayla, gadis itu menghambat taxi yang kebetulan lewan.
Ayla segera masuk ke dalam taxi diikuti Kina.
"Lo kenapa si, Ay? Main pulang gitu aja?" tanya Kina heran.
"Gapapa kok," Ayla tak kuasa lagi menahan perasannya, perlahan isakan Ayla keluar sendirinya.
"Lo kok nangis Ay? Lo kenapa?" tanya Kina panik.
Ayla tak menjawab ia hanya menghapus air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Cerita sama gue, lo kenapa?" tanya Kina menatap muka Ayla.
Ayla menggeleng masih tak mau buka suara, Kina memikirkan kejadian tadi, Ayla pergi begitu saja setelah Alyo bilang suka ke Angel, apa Ayla cemburu? Masa Ayla cemburu sama kakaknya?
"Lo nangis karena cemburu Kak Alyo nembak Angel ya?" tanya Kina hati-hati.
"Gue gak cemburu," bantah Ayla, walaupun di hati kecilnya Ayla sangat cemburu.
"Terus lo kenapa nangis? Lo pergi gitu aja setelah Kak Alyo nembak si Angel kan?"
"Gu-gue cuma gakmau aja kalau Kak Alyo punya pacar ntar dia gak sayang lagi sama gue," jawab Ayla yang sudah berhenti menangis.
"Ahaha lo kenapa si Ay? Kok mikirnya gitu sih? Dimana-mana ya kalau seorang kakak sudah punya pacar ia akan tetap sayang kok sama adiknya, karena sayangnya kakak ke adeknya sudah mendarah daging itu gak akan berubah walau nantinya dia punya pacar," jelas Kina menatap aneh, ada-ada saja Ayla.
"Tapi, kalau kak Alyo berubah gimana?"
"Percaya sama gue, lo kan tau seberapa sayangnya Kak Alyo ke lo? Kok lo masih meragukan dia sih?"
"Iya gue percaya," jawab Ayla.
Kina memeluk badan Ayla dari samping, menenangkan sahabatnya.
"Hatiku sakit melihat kau bahagia dengan yang lain."
***