7. KIC

1745 Kata
Hari ini adalah hari dimana Raziq akan berangkat ke Bengkulu untuk mengurus proyek yang saat ini sedang ia jalankan. Dan untungnya Raziq pergi sendiri ke bandara tanpa diantarkan oleh keluarganya jadi kali ini Salfa bisa menemui suaminya sebelum dia berangkat. Namun adanya Salfa disamping dirinya justru membuat dia berat untuk pergi, karena Raiq tidak tega melihat raut wajah sedih isterinya. “ Mai, jangan begini dong Mai. Gimana aku bisa tenang disana kalau kamunya berat gini ngelepas aku pergi.” Ucap Raziq. “ Ya emangnya ngga ada apa orang lain yang bisa gantiin kamu pergi bby. Kamu kan baru aja kerja bby, masa udah langsung ngurus proyek begini sih bby.” Rengeknya. “ Mai dengerin aku baik-baik. Aku adalah calon penerus perusahaan keluargaku. Dan ini adalah salah satu tugas yang memang harus aku jalankan Mai. Nanti kedepannya pasti masih banyak lagi kerjaan yang harus aku urus. Jadi kamu sebagai isteriku pun harus bersedia dengan segala kemungkinan kesibukan yang harus aku jalani Mai.” Bujuk Raziq. Ucapan suaminya pun membuat Salfa diam dan berfikir. “ Maaf ya bby kalau Mai egois. Mai mentingin perasaan Mai sendiri.” Ujarnya yang kemudian memeluk suaminya. “ Kamu ngga egois kok Mai, aku ngerti perasaan kamu. Mungkin aku pun akan merasakan hal yang sama jika aku ada di posisimu. Jadi kali ini kamu ikhlas kan ngizinin aku pergi.” Tanya Raziq. “ Mai ikhlas kok bby, Mai Cuma takut kangen aja sama kamu.” Godanya. “ Bisa aja kamu Mai, sebenarnya aku sih pingin ajak kamu kesana. Tapi takutnya nanti kalau kamu ikut aku kesana bisa-bisa aku anggurin kamu. Makasih ya Mai, aku janji kalau urusanku disana udah selesai aku akan langsung pulang dan nemuin kamu. Aku pun akan berusaha telfon kamu setiap hari.” Balas Raziq. “ Iya bby aku percaya kok. Yang penting kamu disana harus jaga diri ya.” Pinta Salfa. Hati Raziq pun merasa lega ketika isterinya pun tersenyum melepaskan dirinya tugas. Ketika Raziq masuk, Salfa masih terus berusaha senyum karena dia tidak mau Raziq terus memikirkan keadaan dirinya yang sebenarnya masih sedih. “ Ya Allah jagalah selalu suamiku dimanapun dia berada. Lindungi dia dari segala marabahaya. I love you, bby.” Ucap Salfa ketika suaminya semakin menjauh dari pandangannya. Setelah Raziq tidak terlihat lagi, Hani pun yang ternyata dari tadi mengumpat keluar juga. Sekarang dirinya baru berani menghampiri sahabatnya itu. Hani memang memaksa ingin ikut denganSalfa, karena dirinya ingin memastikan sendiri semua yang Salfa ceritakan padanya. Namun Hani masih belum berani menampakkan dirinya di hadapan Raziq. “ Astagfirullahaladzim, aku benar-benar ngga percaya dengan apa yang baru aja aku liat fa. Kamu benar-benar pantas banget jadi artis deh. Kamu bisa berakting di hadapan kedua orang tuamu untuk ikut memusuhi keluarga suamimu. Tapi di belakang mereka kamu menjalin kasih dengan anaknya. Ya Allah fa, kepalaku benar-benar pusing memikirkan masalahmu ini.” Ucap Hani. “ Siapa suruh ikut kesini.” Ujar Salfa yang berjalan menuju parkiran. “ Ya jelas dong aku harus ikut. Aku harus memastikan sendiri dengan mata kepalaku tentang hubungan yang sedang terjadi. Biar aku yakin kalau sahabatku ini benar-benar udah gila karena cinta.” “ Stop Hani. Sekarang aku lagi sedih karena suamiku pergi. Semakin kamu banyak bicara semakin bertambah pusing kepalaku ini.” “ Ya Allah fa, dia kan Cuma pergi beberapa hari aja. Masa segitunya banget sih kamu.” “ Kamu belum ngerasain apa yang aku rasain. Awas aja kalau besok kamu ditinggal suamimu pergi jauh. Aku bakalan ngetawain kamu.” Balas Salfa. “ Ya Allah jahat banget sih kamu.” “ Sama kamu juga.” Ujar Salfa. Walaupun mereka berdua sering bertengkar seperti ini, tapi tetap saja semua itu hanya sekedar pertengkaran kecil bagi mereka. Persahabatan yang sudah mereka jalin pun tidak mudah untuk di pisahkan. *** Beberapa hari di Bengkulu pun sudah membuat Raziq sulit untuk menghubungi isterinya setiap hari. Dia tidak menyangka kalau sesampainya dia disana sudah banyak pekerjaan yang menantinya. Sampai Raziq merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya pada Salfa untuk menelfonnya setiap hari. Dia berangkat pagi dan pulang malam, karena tubuhnya sudah lelah dia pun terkadang lupa untuk sekedar memberi kabar pada Salfa. Bahkan banyak sekali telfon dari Salfa yang ia tolak. Tapi sekarang ada hal lain yang membuat Raziq heran, ketika dia memandang ponselnya bukan nama Salfa yang tertera disana, melainkan nama mamanya. Dia pun langsung mengangkatnya, karena dia takut ada sesuatu terjadi. Karena baginya mamanya itu jarang sekali menelfon dirinya seperti ini. “ Halo, Assalamualaikum ma.” “ Waalaikumsalam ziq.” “ Mama, apa kabar.” “ Alhamdulillah mama baik ziq, kamu sendiri gimana disana.” “ Alhamdulillah Raziq pun disini baik ma, kerjaan pun lancar. Ada apa ma, tumben mama telfon Raziq.” “ Memangnya ngga boleh ya, kalau mama telfon Raziq.” “ Ya boleh dong ma, Bahkan setiap saat mama telfon Raziq pun boleh kok.” Balasnya. “ Bisa aja kamu ziq. Oh iya kamu pulang kapan nak.” “ Insyaallah tiga hari lagi ma. Tapi ngga tahu juga sih kalau urusan disini semuanya udah beres. Pasti Raziq akan langsung pulang kok ma.” Jawabnya. “ Ok, mama akan mendoakan supaya urusan Raziq cepat selesai. Oh iya ziq ada hal yang ingin mama tanyakan ke Raziq.” “ Mama mau tanya apa ma ke Raziq.” Tanya Raziq. “ Mmm, tapi tunggu kamu pulang aja deh.” “ Kalau memang hal yang mau mama tanyakan ke Raziq itu penting, mama tanya sekarang juga ngga apa-apa kok ma.” Ujar Raziq. “ Apa mama boleh tahu siapa Mai itu ziq, apa mama mengenalnya.” Tanya mamanya. Raziq pun terkejut mendengar pertanyaan mamanya, dia tidak mungkin mengatakan sekarang pada mamanya kalau Mai kekasihnya adalah anak dari musuh dari keluarganya. Mungkin mamanya tidak akan marah jika tahu siapa mai itu. Tapi tetap saja Raziq khawatir. “ Kenapa mama tiba-tiba tanya begitu.” Tanya Raziq balik. “ Ngga apa-apa kok ziq, mama Cuma pingin tahu aja. Siapa tahu aja mama udah pernah ketemu sama dia.” “ Raziq kan belum pernah ngenalin Mai ke mama. Jdi mama belum pernah ketemu dia kok ma. Nanti kalau keadaannya sudah membaik, pasti Raziq akan kenalkan dia ke mama.” Jawabnya. “ Ya udah kalau gitu, mama tutup dulu ya telfonnya. Ziq.” “ Iya ma.” “ Assalamualaikum.” “ Walaikumsalam.” Setelah menutup telfonnya, Raziq pun jadi berfikir sendiri. “ Aneh, kenapa mama tiba-tiba tanya tentang Salfa ya. Apa ada sesuatu yang mama ketahui.” Ujarnya sendiri. *** Saat ini Salfa terus-terusan mengomel ngomel sendiri. Hani sendiri sampai pusing melihat sahabatnya yang terus-terusan seperti ini. Untung saja sekarang Salfa berada di rumah Hani, dan tidak mungkin juga Salfa bisa gelisah seperti ini jika ada di rumah. Karena selama dia ada di rumah, Salfa harus tetap bersikap seperti biasa. “ Fa, bisa ngga sih kamu diam sebentar. Kalau ngliat kamu seperti ini terus bukan Cuma kamu yang pusing, tapi aku juga ikutan pusing fa.” Ujar Hani. “ Kamu ngga tahu gimana perasaanku sekarang Han, aku benar-benar khawatir karena harusnya hari ini adalah kepulangannya mas Raziq. Tapi dia ngga ngabari aku sama sekali Han. Gimana aku ngga khawatir dan kesal ke dia.” Balas Salfa. “ Ya mungkin dia masih sibuk fa. Namanya juga pimpinan fa.”Ucap Hani. “ Pimpinan sih pimpinan Han, tapi ngga begini juga dong Han. Dia sendiri yang janji bakalan ngabarin aku setiap hari, tapi sekarang apa. Bahkan aku telfon aja selalu dia tolak. Aku benar-benar kesel banget sama dia Han. Kalau seperti ini caranya mendingan aku nyusulin dia kesana.” Ujar Salfa. “ Ya Allah fa, kenapa sampai segitunya sih. Sabar aja fa, semoga aja bentar lagi dia ngabarin kamu.” Salfa seperti tidak menghiraukan segala ucapan Hani, dia masih saja mencoba menghubungi suaminya yang memang belum ada kabar dari kemarin. Padahal Salfa ingin sekali menjemput Raziq ketika dia pulang. Hani yang tidak tega melihat keadaan Salfa pun kali ini mengatarkan Salfa pulang. Orang tua Salfa tidak mengizinkan Salfa untuk menginap di rumah Hani, karena mereka merasa akhir-akhir ini Salfa jarang sekali berada di rumah. Maka untuk hari ini orang tuanya menyuruh Salfa untuk pulang. Karena bagi Hani tidak mungkin Salfa bisa mengendarai mobil sendiri dalam keadaan galau seperti sekarang. Ketika masuk kedalam rumah orang tua Salfa heran melihat keadaan putrinya yang terlihat lesu. Tanpa mengatakan apapun Salfa langsung naik ke kamarnya. Sedangkan Hani yang memang di suruh ikut makan malam pun langsung menghampiri mama Salfa untuk membantunya menyiapkan makan malam. “ Han, apa kamu tahu yang terjadi pada Salfa. Kenapa tante merasa kalau Salfa lagi ada masalah ya.” Tanya mamanya. “ Masa sih tante, mungkin Salfa Cuma lagi kecapean tante. Dia kan masih sibuk nyari kerjaan.” Jawab Hani yang  kali ini jadi ikut berbohong seperti Salfa. “ Anak itu memang keras kepala. Kenapa ngga ikut papa aja sih di kantor. Kalau seperti itu kan dia ngga perlu pusing-pusing cari kerjaan.” Ucap papanya yang mendengarkan percakapan isterinya. “ Udahlah pa ikuti aja keinginannya dia. Nanti lama-lama dia juga ngerti kok dengan maksud kamu ngajak dia bergabung di perusahaan.” Balas mamanya. “ Ya semoga aja ma.” “ Nan, mama minta tolong dong sayang. Kamu panggil kakakmu buat turun dan makan bareng.” Suruh mamanya Salfa. “ Kakak kan udah besar ma, kalau dia lapar nanti juga turun sendiri kok.” Balasnya yang menolak untuk memanggil kakaknya. “ Nan, tinggal panggil aja apa susahnya sih. Apa kamu mau jadi anak yang keras kepala juga seperti kakakmu.” Ujar papanya. “ Iya pa... iya.” Balasnya dan langsung beranjak ke kamar kakaknya. Tak lama kemudian Salfa dan Hanan pun turun. Keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol sebentar sembari menunggu Salfa dan Hanan turun. Kemudian mereka berdua pun ikut serta. Namun tak lama kemudian di layar televisi pun mengabarkan sebuah berita. “  Tadi pagi telah terjadi kecelakaan di sebuah proyek pembangunan PT. PELITA. Dan kecelakaan itu menyebabkan salah satu anak dari pengusaha sukses Fendy Raditya mengalami luka yang parah akibat terjatuh dari lantai tiga. Dia adalah Maulana Raziq Raditya, calon penerus perusahaan keluarganya.....” Hanan dan Hani pun langsung menatap Salfa karena mereka khawatir ketika melihat berita tersebut. Sedangkan Salfa hanya diam, namun mereka dapat melihat kesedihan di raut wajah Salfa. Tangan Salfa pun gemetar, namun ketika dirinya berbalik tidak sengaja dia menabrak vas yang ada disampingnya karena begitu lemas mengetahui apa yang terjadi pada suaminya. “ PRANG...” Orang tua Salfa yang dari tadi fokus melihat berita pun jadi terkejut mendengar suara itu. Semua pun melihat kearah Salfa dan tidak lama kemudian tubuh Salfa pun luruh ke lantai karena pingsan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN