EMPAT PULUH TUJUH

1787 Kata

Adji memandang kosong layar ponsel. Telponnya ke Naraya tidak juga diangkat perempuan itu. Sekarang, masih pukul setengah delapan malam, belum terlalu malam untuk tidur. Naraya sedang apa? Dia menimang ponsel dengan bingung. Hari ini, dia belum bertemu dengan Naraya. Cewek itu juga pulang sebelum sempat bertemu dengan dia. Apakah Naraya baik-baik saja? Haruskah dia ke rumah Naraya saja untuk mengeceknya? Bergegas Adji bangkit, meraih jaket dan menggapai kunci mobil. Langkahnya terhenti di pintu rumah karena Anissa menatapnya curiga. “Bagas, mau ke mana?” tanya Anissa terdengar menyelidik. “Mau keluar sebentar, Ma,” ujarnya mengalihkan muka dan mulai memakai jaket. Anissa terdengar berdecak dan mendekatinya. “Ini sudah malam, kamu nggak capek apa? Tadi, kamu sudah pulang magrib, lho.” S

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN