LIMA BELAS

1962 Kata

Naraya terbangun dengan badan terasa kaku. Rupanya tadi dia tertidur dengan seragam dan sepatu yang masih terpakai. Perlahan, dikerjapkan matanya. Hari sudah malam, kamarnya gelap karena lampu belum dihidupkan. Tangannya berusaha meraba lampu tidur di atas nakas. Disentuhnya sekali, lampu tersebut hidup, mengeluarkan cahaya remang. Disentuhnya kedua kali, cahaya lampu tersebut menguat, cukup terang. Masih dengan mode malas bergerak, dia berusaha meraih ponsel di dalam tas. Siàl, baterainya habis, dan ponselnya padam. Naraya kemudian beranjak bangun untuk mengisi daya ponsel, dan menghidupkan lampu kamar lalu menoleh ke dinding. Waktu menunjukan pukul delapan malam. Lambat, ia menyeret langkah untuk menutup tirai jendela. Tangannya berhenti. Alih-alih menutup tirai, dia malah membuka balko

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN