DUA BELAS

2259 Kata
Langit berwarna biru cerah tanpa awan, matahari menuang hangatnya tanpa malu-malu. Lapangan sekolah sudah dipenuhi siswa-siswinya di pinggiran. Mereka akan menonton sesi acara final dari pemilihan ketua OSIS yaitu sesi debat kandidat yang akan diakhiri dengan pemilihan ketua OSIS secara langsung. Di panggung buatan sudah berdiri enam belas besar calon pengurus OSIS. Setelah minggu lalu mereka menjalani serangkaian Diklat selama tiga hari dua malam. Saat ini, masing-masing akan berpidato, menjelaskan visi dan misi menjadi calon Ketua OSIS, juga nanti diminta menjawab dari soal-soal yang diajukan dari Dewan Juri. Di situ juga Naraya berdiri, ia menjadi peserta pamungkas. Sekarang sudah giliran Renard, calon ke-15 menjelaskan visi, misi, dan slogannya. Baru saja Renard mengucap salam, pekikan penonton dari koloni perempuan sudah tidak terkontrol. Di kumpulan itu juga ada para pemandu sorak, dan anak basket. Naraya melihat Fiska menggerak-gerakan pom-poms ke udara. Norak! Naraya memutar bola mata malas melihat bagaimana pendukung Renard di lapangan. Seperti dugaannya, tampang Renard bisa membuat cewek-cewek mengidolai cowok itu. Pidato cowok itu juga nggak bagus-bagus amat kok. “Renard… Renard… Renard….” Kumpulan pendukung Renard seperti sedang menonton pertandingan basket dan menyaksikan cowok itu mencetak three point. Benar-benar berlebihan noraknya! “Berikut visi dan misi saya menjadi calon ketua OSIS. Visi saya adalah terbentuknya siswa yang pintar mandiri, kreatif, inovatif, aktif dan bertanggung jawab dalam mengembangkan budaya bangsa dan tanggap dalam kemajuan IPTEK yang dilandasi dengan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Naraya hanya menanggapi pidato penuh retorika itu dengan berkali-kali melengos di balik topinya. “Misi saya; Satu, Menjaga dan mengharumkan nama baik sekolah. Dua, Meningkatkan kedisiplinan siswa dalam hal berkegiatan. Tiga, Menegaskan kembali peraturan berkarakter yang melenceng seperti cara berpakaian dan lainnya. Empat ….” Dan kalimat-kalimat selanjutnya yang hanya terdengar samar di telinga Naraya, sementara matanya sedang mencari keberadaan anak-anak kantin. Ia baru menyadari kalau pendukungnya tidak ada di lapangan. Seharusnya anak-anak Pespel sudah duduk di pinggir lapangan seperti juga murid yang lain, menonton jalannya pidato calon ketua OSIS. Namun, sampai Renard menyelesaikan pidatonya, mereka tidak kunjung datang juga. Bukannya Naraya tidak percaya diri tampil sendiri, tapi bukankah mereka seharusnya mendukungnya seperti pemandu sorak dan anak basket lakukan kepada Renard? Toh dia saat ini bisa berdiri di podium ini karena utusan dari Pespel, memperjuangkan apa yang akan menjadi keperluan Pespel. Naraya menoleh ketika moderator memanggil namanya dan berjalan menuju podium. Tiba-tiba dari ujung lapangan terdengar suara gemuruh tepuk tangan, sontak seluruh penonton memalingkan mukanya ke arah lorong samping. Makhluk-makhluk yang dari tadi tidak terlihat dan dicari-cari Naraya mendadak tumpah ruah di tengah lapangan. Iya, mereka duduk di tengah lapangan, bukan di pinggir lapangan seperti para pendukung kandidat yang lain. Seolah tidak peduli akan matahari yang menyengat, semua pendukung Naraya serempak duduk rapi di tengah lapangan seperti akan menonton tabligh akbar. Dan yang mengherankan adalah penampilan mereka saat ini. Semua memakai topi, mengenakan dasi rapi, memakai ikat pinggang, dengan baju seragam rapi tidak ada yang keluar sama sekali. Naraya tersenyum bangga dan memulai sesi pidatonya dengan santai, menyapa jajaran guru yang ada mulai dari hierarki yang tertinggi, menjelaskan visi dan misinya tanpa janji terlalu muluk. Baginya, OSIS terkadang kebanyakan teori daripada langkah. Manusia mulai bosan dengan narasi-narasi, dan meminta tindakan konkret. Berbeda dengan Renard yang menginginkan siswa menjadi lebih pintar, Naraya memilih visi agar menjadikan sekolah ini lebih solid. Ia menjelaskan bagaimana solidaritas menjadi poin penting daripada sekadar pintar. Baginya, bersekolah tiga tahun dan akhirnya terpisah, akan menjadi sia-sia jika sesama alumni nantinya tidak memiliki rasa setia kawan yang kuat. Naraya tersenyum, anggap saja dia barusan mempromosikan Pasuspala di hadapan penghuni sekolah. Beberapa yang tadinya duduk di pinggir lapangan mulai bergabung dengan anak Pespel. Mulai dari orang-orang yang Naraya kenali sampai geng kakak kelas yang hobinya tawuran. Tidak diduganya, mereka ikut duduk di tengah lapangan sekolah beralaskan koran. Mereka mulai bertepuk tangan mendengar pidatonya dan mengelu-elukan namanya. Pidatonya mulai ditepuktangani dan namanya juga dipanggil-panggil seperti Renard tadi. “Menjadi seorang pemimpin yang bisa mengayomi dan menjadi tauladan memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi waktu dan proses akan mengajarkan segalanya. Saya akan berusaha untuk terus belajar dan memberikan segala yang terbaik untuk kemajuan sekolah kita bersama.” Naraya menutup sesi pidato dengan percaya diri. “Sekian penyampaian visi misi calon ketua OSIS yang bisa saya sampaikan, apabila nantinya saya diberikan kepercayaan menjadi ketua OSIS, maka saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan visi misi tersebut dengan baik. Terima kasih atas dukungannya.” Penonton kembali bertepuk tangan, beberapa bahkan berdiri dari duduknya. Naraya kembali ke barisannya sembari tersenyum. Tak pernah ia merasa sebangga ini. Sesi pidato sudah selesai. Setelahnya ada satu sesi tanya jawab untuk memecahkan satu kasus yang sama, yang harus dijawab oleh masing-masing kandidat. Ketika moderator melontarkan pertanyaan, setiap kandidat diminta menuliskan jawabannya di selembar kertas, dan nanti akan dimintakan penjelasannya. Moderator menanyakan apa yang harus diperbuat ketua OSIS jika mengetahui salah seorang siswa di sekolah terlibat dalam penyalahgunaan nàrköbà. Perlahan, setiap kandidat mengumpulkan jawabannya. Jawaban para kandidat sudah dibaca satu per satu, saat ini, kertas Renard sedang dibuka. “Menurut Renard, yang harus dilakukan jika salah seorang siswa terlibat dalam nàrköbà adalah melaporkannya ke guru BK. Murid tersebut diminta untuk berhenti memakai nàrköbà dan sebaiknya diskors untuk sementara waktu . Bisa dijelaskan maksudnya, Renard?” Renard meraih mik yang diulurkan kepadanya. “Para pengguna nàrköbà adalah seseorang yang harus dihindari, karena dia dapat mengajak sekitarnya untuk mengikuti dia mencicipi nàrköbà. Oleh karena itu, ada baiknya jika siswa di sekolah ini ketahuan membawa, memakai apalagi mengedarkan nàrköbà. Selain dilaporkan ke guru BK, dapat juga kita laporkan ke pihak kepolisian, agar terjaganya nama baik sekolah seperti visi dan misi saya tadi. Terima kasih.” Tepuk tangan membahana lagi, membuat Naraya berdengkus kencang. Dewan jJuri membaca kertas terakhir milik Naraya, mengernyit lalu membaca dengan ragu. “Menurut Naraya, yang harus dilakukan ketua OSIS jika diketahui siswa terlibat nàrköbà adalah mengutus salah seorang wakil dari OSIS untuk melakukan pendekatan individu. Bisa dijelaskan, Naraya?” Mik diarahkan ke Naraya. “Baik terima kasih,” sahut Naraya ketika menerima pertanyaan. “Everything happens for a reason. Sebelum kita menghakimi judge siswa tersebut, baiknya pihak OSIS melakukan pendekatan personal. Ada banyak hal yang melatarbelakangi kenapa seseorang terjerumus dengan nàrköbà. Saya rasa tidak ada satu pun manusia yang mau mèrusàk dirinya sendiri. Tentunya jika kita peduli, menjauhi siswa yang menggunakan nàrköbà hanya membuat ia terperosok ke jurang nàrköbà lebih dalam,” jawabnya diplomatis. “Pasti ada faktor mengapa ia begitu. Bisa karena faktor pribadi seperti ingin coba-coba, stres atau mencari sensasi. Bisa juga faktor keluarga seperti broken home, kurang perhatian, kurang komunikasi dan sebagainya. Atau karena faktor lingkungan seperti salah bergaul, ikut-ikutan bahkan bisa jadi karena ancaman,” terang Naraya. “Setelah mengetahui apa yang menjadi latar belakang, barulah bisa bertindak. Apakah bisa diselesaikan dengan guru BK, apakah memanggil keluarga, apakah rehabilitasi atau lainnya. Yang jelas kita semua adalah keluarga di sini. Teman adalah saudara dan guru adalah orang tua selama kami di sekolah. Murid perlu bimbingan, arahan, teguran. Dan peran yang dilakukan oleh para guru itu sangat berarti bagi kami. Terima kasih.” Penonton masih tertegun menatap Naraya. “Itu tadi siapa yang ngomong? Naraya?” bisik sebuah suara tak percaya. Mereka masih diam sampai sebuah tepuk tangan milik seorang guru membahana, disusul gemuruh tepuk tangan penonton lainnya. Naraya tersenyum kecil. Bukan, itu bukan murni idenya. Ia hanya melihat apa yang ada selama ini di Pasuspala. Mungkin ia belum bisa mempraktikkan teori itu, tapi nilai tersebut tertanam di organisasinya. Sekali lagi, anggaplah dia sedang mempromosikan Pasuspala yang selama ini dianggap pembuat onar. *** Ajeng menatap Naraya yang sedang serius melahap es semangka. Saudaranya itu sepertinya dehidrasi sehabis turun dari podium. “Nay,” bisiknya yang hanya dibalas gumaman dari Naraya. “Lo tadi pagi sarapan apa?” “Beli bubur ayam McD, nggak sempat makan di rumah. Soalnya dasi gue hilang, jadi ngejar beli di koperasi. Kenapa?” “Ada micinnya nggak itu bubur?” Pertanyaan Ajeng membuat Naraya menarik bibirnya datar. “Straight to the point, Jang.” Kalau Naraya dipanggil ‘Nay’, Ajeng dipanggil ‘Ujang’ di kantin. Menurut anak kantin, nama Ajeng terlalu manis berada di tempat ini. Ajeng terkekeh., Naraya memang tidak suka berbasa-basi. “Lo pintar banget hari ini,” ungkapnya jujur, tidak menyangka akan penampilan spektakuler Naraya di podium tadi. “Apa udah berubah, ya? Biasanya lo itu lapar bègö, kenyang tulul. Apa sekarang kalau kenyang jadi pintar?” Sebuah keplakan semena-mena berlabuh di bahu Ajeng. “Codot lo!” balas Naraya. Dia menarik segaris senyum dan Ajeng tertawa lepas. “Bahagia banget, ya. Harusnya tuh lo yang berdiri di sana, Ujang! Harusnya lo yang jadi wakil Pespel di OSIS. Bukan gue yang penampilan aja jarang rapi. Lo nggak lihat pintu kantin ketawain gue karena hari ini gue pakai dasi?” “Dih, biar apa gue berdiri di situ? Tega lihat gue matgay?” tandas Ajeng. Dia tidak bisa membayangkan dirinya akan mati gaya jika disodori pertanyaan-pertanyaan seperti debat kandidat tadi. “Untung lo deh Nay yang di sana. Kalau gue, ditanya tentang nàrköbà tadi, gue bakal pingsan di tempat kali atau gue bakal bilang 'EGP, urusin diri masing-masing aja udeh! Ribet'.” “Lebay lo, Jang. Itukan pertanyaan gampang. Kita kan udah duluan bikin begituan sama si Ucup,” bisik Naraya. Mata Ajeng membulat, teringat tahun lalu ketika mereka berdua mencari tahu apa yang membuat saudara mereka menjadi kecanduan nàrköbà. Bahkan, saat itu, mereka sampai menguntit Yusuf untuk mengetahui apa saja yang dilakukannya di luar sekolah. Setelah mengetahui Yusuf membeli barang tersebut, mereka mengikuti sampai rumah dan mengontak yang lain agar menyergap kamar Yusuf sebelum cowok itu memakai barang haram tersebut. Katakanlah itu gila, tapi benar-benar berhasil. Akhirnya Yusuf mengakui mengapa dia mengkonsumsi barang tersebut. Kehilangan perhatian orang tua membuat cowok itu merasa kesepian, merasa tidak ada tempat berbagi. Ajeng lalu memandang Naraya, saudara seangkatannya yang susah dideskripsikan dengan kata-kata. “Pespel ajarin kita banyak hal ya, Nay?” Naraya hanya mengedikkan bahu. Sejurus kemudian, ia melihat Adji masuk ke kantin. Cowok itu tidak berubah, tetap menganggapnya teman. Meski sudah dijauhi Naraya. Masih saja membelanya, termasuk menolong saat disuruh Fiska push up di dalam air. Fiska, gumam Naraya dalam hati. Cewek itu ada masalah apa sih sama dia? Fiska seolah terganggu dengan kehadirannya. Naraya jadi berpikir perkataan Fiska saat Diklat OSIS, apa benar dia kecentilan? Apa benar dia sok cantik? Rasanya tidak. Naraya tidak pernah memedulikan penampilan. Namun, Fiska tetap tidak suka dan mencari-cari masalah. Naraya juga heran kenapa? Susah memang kalau innerbeauty muncrat-muncrat gini. Naraya berdengkus pelan. Adji mendekat. “Nay, lo udah milih?” Pemilihan ketua OSIS kali ini berbeda dengan tahun lalu. Jika tahun lalu yang orasi hanya enam besar calon inti pengurus OSIS, pada tahun ini orasi diberikan kepada enam belas besar calon pengurus OSIS. Pemungutan suara juga dibagi menjadi dua, bisa memilih langsung di TPS yang sudah disediakan, bisa juga langsung voting di website sekolah dengan memasukkan nomor induk pelajar untuk login. Saat ini, di kantin Pespel sudah ramai antrean yang mau voting di website. Tapi biasalah masalah anak sekolah; kalau bukan tidak ada pulsa, biasanya kehabisan paket. Lalu, seperti biasa, ponsel Naraya menjadi jalan keluarnya. Ponsel itu berpindah-pindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain. Melihat Adji tetap ramah kepadanya, Naraya berpikir ulang. Mungkin dia salah sudah menjauhi Adji. Toh, cowok itu tidak salah dengan perasaan yang dipunya. Seharusnya, dia menganggap lalu pernyataan Adji dan kembali bersikap biasa seperti dahulu saat belum ada kabar apa pun di antara mereka berdua. Naraya mengangkat tangannya sekilas. “Belum, hape lagi dipakai anak-anak.” “Pilih langsung aja, yuk,” ajak Adji menoleh kepadanya. “Jam satu closed, Nay.” Naraya melirik arloji hitamnya. Saat ini pukul 12.30, setengah jam lagi pemilihan langsung itu akan ditutup. “Nanti kalau voting mepet-mepet, terus system error, rugi lo.” Naraya mendengkus geli. Website sekolah mereka memang kadang ada abal-abalnya dan yang lebih mengesalkan adalah sering error saat dibutuhkan di detik-detik terakhir. “Yuklah,” jawabnya. Dia berdiri di samping Adji, disertai beberapa tatapan mau tahu dari jamaah pengantri ponsel. Diikutinya langkah Adji keluar kantin setelah menitipkan pesan agar pemakai terakhir ponselnya menitipkan ke Ajeng. “Nyante aja matanya, woi!” Keplaknya semena-mena ke kepala Yusuf dan Jaka yang memicing curiga. Sesampainya di TPS yang dibuat di pinggir lapangan badminton, Naraya disodori kan surat suara dan masuk bilik pemilihan. Lucu memang, bukannya semua orang juga tahu kalau dia akan mencoblos dirinya sendiri? Ia menertawakan dalam hati menatap enam belas muka yang terpampang di selembar kertas, membolongi fotonya sendiri dan melipatnya kembali. Dengan pasti, ia berjalan menuju kotak suara. “Nay, foto dulu,” panggil Adji saat Naraya hendak memasukkan surat suara. Cowok itu mengarahkan ponsel ke arahnya. “Diangkat kertasnya.” “Gini?” Ia mengangkat lipatan kertas itu di depan muka. “Jangan ditutup mukanya, terus senyum,” suruh Adji. Sebenarnya Naraya sudah akan membalas seperti biasa, tetapi ia sedang berada di keramaian. Akan sangat aneh jika ia membalas kalimat barusan dengan ‘Ribet!’ atau ‘Berisik!’. Naraya tersenyum tipis, pencitraan yang sangat tidak disukainya. Seseorang berambut hitam panjang ala iklan sampo mendekat ke Adji saat Naraya memasukkan surat suara. Siapa lagi kalau bukan cewek yang belakangan ini makin suka mencari masalah dengannya? Iya, Fiska. Naraya sudah akan kembali ke kantin tetapi Adji memberi isyarat agar menunggunya yang sedang diajak bicara oleh Fiska. Dia lalu duduk di bangku semen pinggir lapangan, melihat kedua orang itu berbicara. Gerak-gerik Fiska terlihat tidak natural. Kentara sekali cewek itu mencari perhatian Adji, Naraya bahkan membuang muka saking muaknya. Ternyata jawaban datang tanpa dia perlu bersusah payah. Cewek itu suka sama Adji? Hiya.. Hiya... Rasanya Naraya ingin tertawa kencang-kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN