Ss menulis pada secarik kertas lalu dilipatnya dengan rapi kemudian kertas itu dimasukkan ke dalam amplop. Ss berada disebuah ruangan yang mewah dengan fasilitas komplit. Bunga hias yang tertata menambah keasrian ruangan itu. Kembang warna merah dan putih sedang mekar, mengingatkan pada bendera ‘Indonesia’.
Alunan musik Instrument Chopin mengalun sendu, sebuah relaksasi yang membuat aktivitas SS mengetik jadi semangat tapi santai.
“Tok, tok,tok, ” terdengar sebuah ketukan.
“Masuk!” Ss mempersilahkan seorang karyawan OB masuk ke ruang kerjanya.
“Tolong kirimkan surat ini lewat kantor pos, pakai paket kilat, ya!”perintah Ss.
“Ndak pake ojol, Mis, klo pake ojol surat panjenengan cepet nyampe. Ndak ribet, tinggal klik, klik di Hp. Ojol dateng. Mis,” anjur OB yang berlogat Jawa.
“Masalahnya amplop suratnya harus bercap pos, jadi ke kantor pos saja, ya!”
“Ok klo begitu, Mis.”
Selang beberapa detik, Ss membuka Hp nya dan membaca sebuah pesan Wa.
“Rencana rahasia kita akan segera dilaksanakan!”
Ss tidak menjawab atau menanggapi pesan Wa yang masuk barusan. Ia menyentuh layar Hp dan menguncinya. Dia berdiri menatap ke arah jendela, pandangan jauh ia lemparkan, seperti ada sesuatu yang bersemanyam dipikirannya yang butuh dipikirkan secara serius.
Rapat direksi dimulai pukul 10 pagi ini, Ss kembali ke arah meja kerja, menyiapkan laporan daring dengan aplikasi Zoom. Ss mulai berselancar menggunakan Mbah Google, mengamati pergerakan grafik harga emas yang sedang anjlok.
Ss membuka folder yang berisi image sebuah lokasi yang ditandai dengan tanda silang. Alunan piano Chopin sudah tergantikan. Musik player secara auto beralih ke ke golden song, suara frank Sinatra mengudara dengan lagu, ‘My way’.
Ss melihat Hp, membuka kunci layarnya. Pesan Wa bermunculan seperti rintik hujan. Ss hanya membuka dan tidak berupaya membaca apalagi membalas aneka pesan itu. Ia cuex saja.
Ada yang aneh, jari Ss sepertinya kikuk dan kaku saat menyentuh sebuah kontak yang statusnya sengaja diblokir. Dalam ragu yang berubah bingung, Ss menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuka laci untuk mengambil sesuatu. Ya, sebuah rokok Mild.
Sekejap ruang kerja terisi asap rokok. Tidak sadar, sudah 3 batang rokok ia isap. Dalam hati ia bergumam, “Aku harus melakukannya, maafkan!”
(3 tahun sebelumnya)
Sore itu hujan begitu derasnya, bulan Oktober masih tersisa 2 hari lagi. Ss melangkah pergi menuju halaman depan, aroma pohon cengkeh sirna tersapu angin ribut. Tukang ojek online menunggu di depan gerbang dengan memakai jas hujan berwarna biru. Sama birunya dengan kesebelasan sepakbola favorit kota ini.
Hujan beserta riak angin membuat Ss kedinginan, tubuhnya bergetar, reaksi yang manusiawi. Dibukanya payung lipat, payung terkembang membentuk kepala jamur, hujan dan angin yang begitu gagah tetap saja menjangkau bajunya. Ss suka hujan serta rintiknya tapi sekarang ia memungkiri! Ia takut basah kuyup. Seperti rasa setianya kepada R yang pupus begitu saja. Tekadnya sudah bulat, pergi dan pergi! Sekarang ia bergegas bersama ojol menuju rumah A (sahabat suaminya).
“Assalamuallaikum.”
“Waallaikumsalam.”
“A, Makasih ya, lagunya. Akan ku kenang selalu!”
“Loh, hujan begini mau kemana? Masuk dulu. Dong!
“A, aku mau pergi. Aku sudah tidak tahan hidup bareng R.”
“Hah! (kaget). Ya udah masuk dulu, ngobrolnya di dalam saja.”
“Gak usah, mau buru-buru, nih!”
Hujan dan angin masih saja betah menyirami bumi, entah maksudnya apa yang Maha Kuasa menyiramkan hujan begitu banyak. Pemuka agama mengatakan bahwa hujan adalah rezeki, tapi sungguh kalau hujan dengan kapasitas tinggi seperti ini, biasanya membuat kota ini kebanjiran.
Para ahli dan insinyur di negara ini belum mampu menghitung berapa kubik air hujan yang jatuh dari langit selama setahun, padahal ini rutin. karena Indonesia hanya memiliki 2 musim. Bukan hal yang aneh, tapi jujur kita selalu gelagapan menghadapi hal-hal rutin seperti ini. Apalagi yang dadakan. Tambah gelagapan!
Ss naik ke jok motor tukang ojek online, dalam sekejap ia berlalu, baju bagian belakangnya sudah kuyup. Mungkin saja ia menolak memakai jas hujan yang ditawarkan tukang ojek.
Barangkali juga ia menikmati hujan karena aslinya ia suka hujan atau sikapnya sekarang berubah. Ia sudah bulat untuk segera pergi dari kehidupan R. Entahlah!
Yang pasti bulan Oktober masih tersisa 2 hari lagi. Dan anak-anakku (ZZ, DD) masih terlalu kecil ketika menyaksikan Ss datang lalu pergi secepat kilat.
Om R terduduk di ruang tamu, sebuah lagu didengarkan di Hpnya. Lagunya diiringi gitar bolong, kualitas rekamannya masih sederhana, belum ada mixing atau tambahan efek suara dan alat musik lainnya. Tapi ia menikmati lagu itu, sampai ia termenung. Suara penyanyinya ia kenal, Ss istrinya yang tadi sore meninggalkannya begitu saja.
Di kota Ini
Di kota ini menyimpan sejuta kisah
Tentang kita yang pernah jatuh cinta
Tentang kita yang ingin bersama
Adzan magrib berkumadang, lagu dimatikan, lampu rumah dinyalakan, hujan telah reda. Dedaunan cengkeh mengumpul di tanah yang basah. Sorang lelaki membuka gerbang, memakai baju koko dan kopeah berenda warna emas berjalan menuju rumah. ia adalah ayah yang pulang selepas magriban.
Ayah ingin mengabarkan kepada sahabatnya mengenai Ss ( isteri OM R) yang mampir tadi sore dan memastikan apakah Ss benar-benar pergi atau kembali.
“Lagumu bagus sekali, liriknya menyentuh, walaupun sederhana, tapi maknanya dalam, Lur!” puji Om R.
“Apalagi yang nyanyinya istrimu.” Ayah menggiring obrolan ke arah itu, maksudnya agar Om R terbuka perihal kepergian istrinya.
“Tapi jatuh cinta saja percuma, aku dan dia sudah gk bisa bersama.”
“Kenapa Bro?”