Chapter 9

1243 Kata
Mobil Galih berhenti tepat di depan gerbang rumah Kak Arkan. Aku yang memintanya mengantarku ke sini. Bukan berniat kabur, intinya aku malas pulang. Memilih rumah Kak Arkan sebagai tempat persinggahan dan bukan rumah Kak Arsen karena aku tidak ingin dicerca pertanyaan oleh Kak Arsen. Sedangkan mulutnya Kak Arsen itu cukup pedas. "Tunggu di sini aja," kataku pada Galih sambil membuka pintu mobil. "Lama gak?" tanya Galih. "Gak," jawabku singkat. Turun dari mobil Galih aku segera membuka pintu gerbang rumah Kak Arkan. Aku suka gaya rumah ini, halaman tidak terlalu luas di bagian depan. Namun Kak Arkan memberi halaman yang luas di bagian belakang rumah, dengan adanya kolam renang dan taman yang dia sediakan untuk bermain anak-anaknya ataupun tempat kumpul keluarga. "Kak!" Aku berteriak sambil mengetuk pintu. Tak berselang lama, wajah Kak Arkan muncul dari balik pintu. "Ngapain teriak-teriak? Tamu itu harusnya sopan," tegurnya. "Kak, aku nginap ya?" Aku menampilkan wajah memelasku senatural mungkin, sebuah trik agar Kak Arkan percaya pada adik cantiknya ini. "Nginap di mana?" "Di sini dong. Masa di kandang ayam," balasku nyolot. Kak Arkan memperhatikanku dari atas sampai bawah dengan ekspresi serius, setelah menatapku penuh kecurigaan tatapannya mengarah pada mobil Galih sekarang. "Kamu kabur dari rumah?" tebaknya. Bahuku terangkat dengan santai. "Gak juga, pengin nenangin diri dulu. Gak mau debat panas lagi sama Bunda. Nanti ngalahin panasnya debat capres." "Diantar siapa kamu?" Kak Arkan menyadari ada mobil lain di depan rumahnya. "Galih." "Suruh masuk, Kakak mau ngobrol sama dia." Aku melongo. Demi apa? Tiba-tiba bulu kuduk merinding. Membayangkan Kak Arkan berbicara dengan kalimat-kalimat sok bijaknya membuatku takut, takut jika ada maksud terselubung di balik kata ngobrol yang dikatakan Kak Arkan tadi. "Lah, Kak, ngapain?" tanyaku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. "Emang gak boleh?" Ia balik bertanya. "Jangan bicara yang aneh-aneh, Kak." "Nggak. Udah suruh dia turun. Gak sopan banget sama calon kakak iparnya." Tidak sopan dari mananya? Belum tentu juga Galih menjadi adik iparnya. Dasar! Kakak posesif. Baik Kak Arkan ataupun Kak Arsen, selalu ikut campur. Atau bisa dibilang ikut menyeleksi setiap lelaki yang menjadi teman atau pacarku. Malu sebenarnya, pernah pas kuliah dulu. Aku diantar salah satu teman laki-laki ke rumah. Bunda meminta temanku mampir, kebetulan waktu itu ada Kak Arsen di rumah. Tahu apa yang Kak Arsen tanyakan pada waktu itu, dia tanya udah berapa lama pacaran sama Raina? Ah, kampret memang! Padahal teman laki-lakiku itu sudah punya pacar. Ya sudah, balik ke persoalan. Tentang Galih. Galih tidak sering bertemu dengan kedua kakakku, karena Kak Arkan dan Kak Arsen sudah berkeluarga, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Itu cukup menguntungkan buatku. "Rain! Kok malah ngelamun." Kak Arkan menepuk kedua tangannya di depanku hingga terlonjak. Jadi, aku melamun? "Ya udah, bentar." Saat aku berbalik badan, Kak Arkan kembali menginterupsi. "Kamu mau nginap gak bawa baju?" "Pinjam punya Khanza aja," jawabku enteng. "Dasar!" Aku tertawa. Memangnya kenapa? Toh badanku sama badan Khanza seukuran. Eh, itu dulu sebelum dia punya anak. Sekarang, kakak iparku itu badannya sedikit melar. "Jadi gak nih, minta Galih turun?" "Jadi, Kakak tunggu di ruang kerja." "Kak?" cegahku saat Kak Arkan hendak masuk rumah. "Apa?" "Kok, ruang kerja sih?" tanyaku bernada protes. Ya kali di ruang kerja mau bahas apa coba? "Biar kamu gak denger." Jawaban Kak Arkan benar-benar membuatku ingin mencekiknya detik ini juga. "Kak, jangan di ruang kerja dong! Aku kan pengin dengar." Aku mengguncang lengan Kak Arkan supaya dia mengubah keputusannya. Dan sayangnya, ayah beranak satu ini sama sekali tidak terpengaruh dengan rengekanku. "Namanya bukan rahasia kalau kamu denger. Ini urusan laki-laki. Perempuan gak boleh tahu, nanti kamu bantuin Khanza masak buat makan malam. Galih sekalian makan di sini aja." "Astaga! Kak?" "Apalagi? Udah sana panggil Galih!" Menghela napas pasrah. Hanya bisa berdoa supaya Kak Arkan tidak melakukan sesuatu yang aneh dalam mewawancarai Galih nantinya. Setidaknya dia tidak menjelek-jelekkan namaku di depan Galih. Membungkukkan badan, aku mengetuk jendela mobil Galih yang tertutup. Galih menengok, lantas menurunkan kaca mobilnya. "Diizinin?" tanyanya dengan wajah ngantuk. Pantas memang kalau dia ngantuk, dia shif malam di rumah sakit. Tapi jam sepuluh pagi sudah aku bangunkan, minta ditemani jalan-jalan ke Mal, beli kosmetik dan segala macamnya. "Lo ditunggu Kak Arkan di dalam. Katanya pingin ngobrol gitu sama lo." Galih langsung menegakkan tubuhnya dan mengucek mata. "Kok mendadak ngeri, ya?" "Gak papa. Kak Arkan gak semenyeramkan Kak Arsen, kok. Enak juga diajak ngobrol." "Serius, nih?" "Iya." "Mau ngobrol apa sih? Apa mau minta gue cepat-cepat nikahin lo, ya?" Aku memukul kencang bahu Galih. "Gak usah ngaco. Ayo turun!" Galih tertawa. Dia membuka pintu mobilnya, dan aku mundur dengan teratur. "Beneran nih? Apa ini semacam sidang pra-nikah?" "Nikah terus yang lo pikirin!" pukulku di bahunya. "Udah, ayo!" aku menyeretnya memasuki rumah Kak Arkan, dan langsung mengantarnya ke ruangan kerja milik kakakku itu. "Gue takut," bisik Galih amat sangat pelan di depan ruang kerja Kak Arkan. "Lo gak bakal digorok juga kali," jawabku ketus. "Lo temenin gue kan?" Ekspresi ngeri sangat kentara dengan jelas di wajah Galih. "Pinginnya sih, gitu. Tapi, Kak Arkan gak izinin kayaknya. Paling nanti gue masuk cuma buat kasih lo minum." Galih meringis seraya mengusap wajahnya gusar. "Rain?" "Gak papa, Gal. Masuk gih!" Aku mendorong bahunya masuk ke ruangan Kak Arkan. Meninggalkan Galih bersama Kak Arkan, aku masih berharap Kak Arkan tidak berbicara yang aneh-aneh. Sial! Pake segala di ruang kerja, aku kan jadi tidak bisa menguping pembicaraan mereka berdua. Ya sudahlah! Daripada sibuk menduga-duga, lebih baik aku membantu Khanza memasak untuk makan malam. Kak Arkan tidak mempekerjakan nanny untuk mengurus anak mereka. Hanya ada seorang asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah, memasak, dan menyetrika baju. Kalau mencuci pakaian itu pekerjaan wajib Khanza setiap pagi. Ah, kasihan sekali kakak iparku itu. "Kenapa cemas gitu mukanya, Rain?" Khanza sempat menengok ke arahku saat aku baru saja tiba di dapur, dan dia sedang mengiris bawang. Aku duduk di kursi meja makan, sambil memperhatikannya. "Itu Kak Arkan gak bakal bicara yang aneh-aneh, kan, Za?" "Gak, kok. Tenang aja," jawab Khanza santai, tapi aku malah semakin takut. "Yakin?" "Yakin dong. Kakak kamu melakukan itu semata-mata buat kebaikan kamu, Rain. Kamu kan adik perempuan satu-satunya, kakak-kakak kamu sayang banget kan sama kamu. Termasuk Mas Arkan. Lagian dia pernah bilang, dia gak pengin kamu milih suami sembarangan. Dia pengin adik kecilnya ini menikah sama laki-laki yang benar-benar tanggung jawab. Dan cara Kakak-kakakmu menyeleksi itu, kayak sekarang yang dilakukan suamiku." "Tapi, deg-degan tau, Za. Tau sendirilah Kak Arkan mulutnya kayak gimana," keluhku. "Mulutnya bisa dikondisikan kok, tenang aja." "Dulu sebelum kalian nikah, Kak Arkan di interview dulu gak sama Om Billy?" Khanza diam sejenak, seperti sedang mengingat sesuatu. "Iya deh, kayaknya," balasnya kurang yakin. "Tapi menurutku sih wajar kalau misalnya keluarga kita menilai pasangan kita, asal gak berlebihan. Kayak yang bokap lakuin sebelum aku nikah, pastinya ada pembicaraan empat mata dengan kakak kamu yang menyangkut pernikahan." "Wajar gak sih?" "Ya jelas wajar, Rain. Udah sih, tenang aja. Mas Arkan gak suka terong kok." "Eh, apaan coba? Jangan bikin otak anak perawan jadi ngeres ya, Za." Khanza terkekeh, lantas memasukan bawang yang tadi dia iris ke dalam penggorengan. "Mending bantuin masak sini, daripada galau gitu." Dengan malas aku bangkit berdiri, "apa yang mesti ku bantu?" "Itu, aduk sop-nya dong. Cobain ayamnya udah mateng belum," interuksi Khanza. "Sip!" Aku mengambil spatula, lantas mengaduk sop ayam dalam panci. Ponselku berbunyi, aku menaruh spatula di samping kompor untuk melihat isi pesan yang masuk. Nomor baru. Siapa? 082123765xxx Rain, ini Raka. Besok ada waktu gak? Ketemuan plis What the hell? Ini laki maunya apa sih??? ©©© Terima kasih sudah membaca :*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN