Fahmi menggelar pesta ulang tahun anaknya malam ini. Dia mengundang teman-temannya termasuk Galih. Aku menolak hadir, tapi Galih memaksaku untuk menemaninya. Dia bilang biar tidak ada yang bertanya Mana calon istrinya?
Padahal aku belum menerimanya sebagai calon suami. Hanya menerima kehadirannya, dan kalau memang hatiku menerimanya dengan baik bukan tidak mungkin aku akan menerima pinangannya.
"Gal, buruan dong!"
"Iya, Honey. Bentar lagi tinggal pake minyak rambut," teriak Galih dari kamarnya.
Aku menggeram kesal. Kembali ke ruang tamu apartemen Galih. Aneh, seharusnya Galih menjemputku bukan malah aku yang datang ke apartemennya. Untung aku datang, karena si Biji Selasih masih enak-enakan mendengkur keras di sofa.
"Lelet amat sih, kayak cewek!" sungutku saat Galih menghampiriku.
"Kan harus ganteng, apalagi mau jalan sama calon istri." Galih merapikan kerah kemeja yang dipakainya.
"Udah tahu punya janji, malah ngorok. Kalau bukan karena gak enak sama Fahmi, gue gak bakalan hadir." Aku mengeluarkan uneg-unegku saking kesalnya sama kelakuan Galih.
"Sorry. Gue ngantuk banget soalnya, abis balik dari rumah sakit langsung tidur."
"Whatever. Emang gue pikirin. Ayo berangkat!" ketusku berjalan mendahuluinya.
"Gandengan bisa kali," serunya di belakangku.
"Jangan harap!" sungutku tetap melangkah dan tidak mempedulikannya.
Rumah Fahmi sangat ramai, pesta ulang tahun digelar di halaman belakang rumah Fahmi yang cukup luas. Banyak anak-anak yang sudah berkumpul.
"Kita harus berjalan selayaknya pasangan," Galih membusungkan dadanya, tatapannya lurus ke depan. Sedangkan tangannya mengulur padaku.
Memutar bola mata, aku mengalungkan lenganku pada lengannya. Lantas berjalan beriringan.
Deg.
Sosok itu?
Hell, kenapa ada Raka di sini?
Duh, hati... Kuatkan imanmu. Jangan sampai tergoda. Ingat pengorbanan si Biji Selasih. Dan ingat rasa sakit yang Raka berikan untukmu.
Raka memperhatikanku secara intens. Tatapannya bertumpu pada lenganku yang merangkul lengan Galih dengan cukup erat. Menelan saliva, aku memalingkan wajah untuk menghindari kontak mata dengannya.
"Waduh, gandengan banget nih?" Dipo langsung menyuarakan pertanyaaan yang sayangnya gak berminat untuk kujawab.
Aku memilih acuh tak acuh.
"Jadi kapan nyebar undangan pernikahan?" tanya Anwar dengan santainya.
"Gue pinginnya secepatnya, tapi keputusannya gue serahin ke mempelai wanita."
Boleh jitak Galih? Selain tidak waras otaknya, mulutnya juga lemes.
Rasanya ingin cepat-cepat pulang, api aku harus memerankan peranku dengan baik. Walhasil, aku mengumbar senyum palsu.
"Doain aja," jawabku sekenanya.
"Duh, kok gue merasa suhu di ruangan ini meningkat ya? Tambah panas gini," ujar Erfan sambil menggerak-gerakan kerah T-shirt yang dipakainya.
"Perasaan biasa aja. Jakarta emang panas," balas Wisnu.
"Bukan. Gue merasa ada kebakaran di sini, sumpah gerah banget gue."
Bukan hanya aku yang tidak paham dengan ucapan Erfan. Tapi semua teman-temannya menaikan alis tinggi-tinggi hanya demi mencerna makna di balik kalimatnya.
"Apa yang kebakaran?" tanya Fahmi langsung was-was.
"Hati Raka kebakaran, Bro. Lihat sang mantan yang mau naik pelaminan," celetukan Erfan membuatku benar-benar mati kutu.
Teman-temannya tertawa puas.
"Haha sialan lo! Gue kira apaan. Tenang, Rak. Lo kan punya tuh pramugari cantik yang diajak ke reuni. Bisalah nikah masal sama mantan," ujar Wisnu menepuk-nepuk bahu Raka yang masih mengunci mulutnya. Pembawaannya sangat santai, kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.
Wisnu sialan!
"Gebleg lo pada. Udah gak usah bikin rusuh. Biar kata mantan gak boleh saling mendahului," timpal Fahmi diiringi tawa.
Semuanya tertawa. Kecuali aku dan Raka.
"Eh, waktunya Quinsha tiup lilin nih. Yuk merapat!" ajak Fahmi.
Seluruh tamu mendekati kue ulang tahun yang di d******i warna pink dan putih bergambar hello kitty. Quinsha yang belum mengerti ulang tahun, diwakili oleh kedua orangtuanya untuk tiup lilin. Selanjutnya pemotongan kue ulang tahun, dilanjutkan dengan pertunjukan sulap oleh badut yang sengaja disewa.
"Ada telepon, gue angkat dulu."
Aku mengangguk, membiarkan Galih menerima telepon tanpa banyak bertanya. Mengedarkan pandangan ke segala arah, canda tawa menghiasai pesta ulang tahun Quinsha. Halaman belakang rumah Fahmi disulap menyerupai taman bermain, banyak wahana sederhana yang menarik perhatian anak kecil.
"Rain?" panggilnya setelah menerima telepon.
"Kenapa?"
Aku melihat raut gelisah dari wajah Galih, siapa yang baru saja meneleponnya? Dan apa penyebab dari perubahan raut wajahnya?
"Gal?" panggilku menyentuh lengannya. Galih pasti sedang memikirkan sesuatu.
"Papa ditangkap polisi."
Tercengang. Otakku mendadak blank mendengar ucapannya. Bingung dan tidak percaya.
"Hah? Jangan bercanda, Gal."
Dia menggeleng, kegelisahan di wajahnya kian kentara. "Gue lagi serius, Rain. Gue harus ke kantor polisi sekarang."
"Terus gue?"
"Ada Erfan, atau nebeng sama anak-anak yang lain." Tatapannya mengisyaratkan bahwa dia ingin segera pergi dari sini.
"Gue ikut," putusku. Meski tidak mengerti sama sekali soal permasalahan yang membelit Papanya.
Kini giliran Galih yang menyentuh punggung tanganku. Dia menarik lenganku ke depan dadanya. Bola mata hitam kelam itu menatapku dalam. "Rain, gue minta maaf banget sama lo. Tapi untuk kali ini, gue mau kelarin masalah bokap gue dulu. Gue juga gak tahu kenapa bokap sampai ditangkap polisi, kali ini aja nurut sama gue ya? Nanti gue minta Erfan anterin lo."
Ya mau gimana lagi? Aku tidak boleh membuatnya semakin bingung.
"Ya udah, lo hati-hati."
Galih terkekeh pelan. "Okay, Honey. Impian gue buat nikah sama lo kan belum terwujud. Jadi gue bakal hati-hati."
Itulah Galih. Selalu saja diselipin guyonan meski situasinya genting seperti sekarang. Mimik wajahnya yang tidak bisa berbohong kalau dia sedang cemas.
"Gue doain yang terbaik buat masalah bokap lo," ucapku tulus.
Dia menarikku ke dalam pelukannya, tidak sampai semenit dia langsung mengurainya. "Thanks. Kalau gitu gue berangkat."
Aku mengangguk pelan.
"Lo hati-hati baliknya, hubungi gue kalau udah sampai rumah," pesannya. Dan dia masih bisa mengkhawatirkanku di saat seharusnya aku yang mengkhawatirkannya.
"Iya."
Galih berjalan menghampiri Erfan, membisikkan sesuatu sebelum dijawab dengan anggukan kepala oleh Erfan. Kemudian, lelaki yang tidak pernah lelah berjuang mendapatkan hatiku itu melangkah lebar keluar rumah Fahmi.
"Galih kenapa, Rain?" tanya Ghina menghampiriku.
"Bokapnya ditangkap polisi," jawabku.
"What? Kok bisa?" Ghina tercengang. Kerutan di dahinya berlipat-lipat.
Kepalaku menggeleng. "Gak tahu, dia gak cerita. Lagian gue gak mau kepo soal masalah keluarganya. Tunggu dia cerita aja."
"Selama ini kayaknya keluarga dia adem-adem aja, gak pernah ditimpa masalah."
Aku mengengguk setuju. Keluarga Galih selalu harmonis dan bahagia.
"Kita cuma tahu luarnya aja, Ghin. Gak sampai ke akar-akarnya."
"Iya juga, sih. By the way, lo udah mantap sama Galih?"
Mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Jangan main-main soal hati, Rain. Niatkan dengan tulus, sesuatu yang di awali dengan niat tulus pasti mendatangkan keberkahan." Ghina tiba-tiba tertawa. "Kerenkan kata-kata mutiara gue?" cengirnya.
"Iya, Ustadzah. Gue lagi berusaha buat menempatkan Galih di kursi terdepan hati gue," jawabku. Masih mencoba menghilangkan keraguan di hati.
"Sip, gue dukung lo kalau emang lo serius mau melangkah maju. Gak ada larangan kok buat noleh ke belakang, asal jangan kembali aja. Sekedar mengingat apa yang terjadi di masa lalu untuk diperbaiki di masa depan. Hidup sesimpel itu kok, karena pepatah juga bilang pengalaman adalah guru terbaik."
Kalau bukan di tempat umum, aku pasti sudah memeluk Ghina. "Gue gak pernah menyesal sahabatan sama lo."
"Iyalah gak bakal nyesel, dari zaman sekolah lo sukanya nyontek PR gue. Kurang baik apa gue sama lo?"
Tawaku mengudara begitupun dengan Ghina. "Lo jahat karena gak setia kawan, Nong. Main nikah aja padahal gue maunya nikah bareng sama lo."
"Nunggu lo dapet calon yang ada Erfan digondol pelakor," kelakar Ghina.
Kembali tertawa. Aku berusaha mengabaikan kehadiran Raka di ruangan ini. Entah keberadaannya juga di mana sekarang.
"Yang, Calvin ngantuk kayaknya." Erfan menghampiri Ghina sambil menggendong Calvin yang matanya mulai layu. Balita bermata minim ini memang ngantuk sepertinya.
"Ya udah cari tempat duduk aja, Yang. Biar gak pegel," jawab Ghina sambil mengedarkan mata mencari keberadaan kursi yang kosong.
"Mama... Mama..." Calvin meronta-ronta. Sepertinya ingin digendong sama Ghina.
"Maunya sama kamu, Yang."
Helaan napas Ghina terdengar, dia merentangkan kedua tangannya untuk mengambil alih Calvin. "Rain, gue nidurin Calvin dulu ya. Kalau gak tidur nanti dia rewel," pamit Ghina.
"Okay."
Menikmati sepiring kecil buah-buahan yang sudah dipotong dadu. Sedikit iri melihat orang lain menggandeng pasangan bahkan sudah menggendong anak. Sementara aku nikah saja belum. Atau mungkin belum ada keinginan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Aku akan menunggu sebulan ke depan. Apakah hatiku bisa menerima kehadiran Galih? Atau tetap membeku karena Raka.
"Hai!"
Sapaan familiar itu membuatku langsung menoleh cepat ke belakang.
Oh, God!
Raka.
©©©
Thankssss :*