Gara-gara klien yang akan dia temui ada acara dadakan, Deera jadi telantar di kota Banyuwangi. Ini pertama kalinya dia datang ke kota yang terletak di paling ujung timur pulau Jawa.
Karena tidak ada teman dan tidak tahu harus pergi kemana, wanita muda itu memutuskan untuk menghabiskan waktu dalam kamar hotel, tiduran sambil main menggulir layar gawai miliknya.
Sebuah keputusan yang sangat tepat karena tidak lama setelah Deera masuk ke kamar, langit yang tadinya cerah tiba-tiba menumpahkan air yang sangat deras dan belum juga berhenti sampai malam.
Setelah membaca satu atau dua thread cerita horor di twitter keberaniannya mulai menipis. Sebelum keberaniannya benar-benar menguap dan hilang, Deera segera menutup aplikasi burung biru, dan segera pindah ke aplikasi komik online khusus cerita BL.
Baru juga membaca dua halaman, dia sudah terganggu dengan panggilan masuk. Sudut matanya melirik ke arah jam tangan di atas meja, lalu menggerutu.
“Ngapain sih ini manusia nggak jelas tengah malam nelepon-nelepon?”
Malas mengobrol nggak jelas dengan Hoshi, Deera sengaja tidak mengangkat telepon biar dikira sudah tidur. Berpikir begitu, Deera dengan santai meletakkan gawai di atas bantal menunggu kapan panggilan berhenti.
Sayangnya Hoshi bukan tipe orang yang pantang menyerah, semakin diabaikan, semakin gencar dia menelepon. Sampai akhirnya Deera yang mengangkat bendera putih.
“Ngapain sih nelepon mulu. Ini udah tengah malam tau!”
Pertanyaan dari pemilik suara yang menyebalkan terdengar speaker, “di mana?”
“Apanya?”
“Lo nya di mana? Kok rumah sepi, gue mau numpang makan nih!”
Deera pura-pura menguap saat menjawab, “Gue lagi ada kerjaan di Banyuwangi.”
“Arggh, sial! Jadi nggak ada orang nih di rumah?”
“Ada Leo kan? Lo ketok aja pintu dia.” Deera dengan murah hati memberi saran untuk Hoshi.
“Justru karena Leo nggak ada, makanya gue mau numpang makan ke rumah lo! Bener-bener deh.”
Daripada suara Hoshi yang memelas, Deera lebih tertarik dengan ucapan Hoshi yang barusan bilang Leo nggak di rumah.
“Leo nggak ada di rumah? Emang dia kemana?”
“Emang dia nggak ngomong sama lo, Ra. dia pergi kemana?” Hoshi malah balik bertanya, kemudian dia mengatakan hal yang membuat Deera penasaran, “klien yang ini emang istimewa sih, nggak heran Leo nggak ngomong sama lo.”
Jiwa gosip Deera segera terbangun dari hibernasi, “istimewa gimana?”
“Tapi lo nggak usah ngomong ke Leo kalau gue yang cerita? gue bilang begini biar lo waspada sebagai istri. Deal?”
Deera yang kepo luar biasa segera menjawab, “Deal! Sekarang cepetan lo ngomong!”
“Klien Leo kali ini anak pengusaha klinik kecantikan. Salah satu generasi kedua yang kaya, semua photoshoot pribadi dia, termasuk yang hampir telanjang harus diambil sama Leo.”
“Itu cewek naksir juga sama Leo?”
“Naksir berat. Sayangnya dia sudah punya pasangan, tapi yang pernah gue denger, klien ini mau biayain semua keperluan Leo. Asalkan…”
“Asalkan… apa?”
Hoshi mendesah atas pertanyaan polos dari Deera. “ya asalkan Leo mau jadi simpenan dia lah! masa kayak gini aja lo ngga bisa nebak sih, Ra? Bodoh banget sih lo!”
“Ya gue mana kepikiran sampai ke sana sih!” Deera menjawab secara naluriah, “tapi hebat juga ya pesona Leo, sampai wanita bersuami juga kesengsem.”
Hatinya tidak terlalu terpengaruh, andai Leo benar-benar setuju untuk jadi simpanan, dia tidak akan terlalu kaget, hanya sedikit kecewa.
Bagaimanapun, pernikahan di antara mereka pada awalnya tidak masuk akal, dan bahkan sampai hari ini dia merasa itu sangat tidak nyata.
Mungkinkah pria itu mau menikah dengannya untuk menutupi skandal perselingkuhannya dengan istri orang?
Kayak layangan putus versi ASN yang kemarin viral itu.
Ketika panggilan berakhir, drama perselingkuhan berdarah yang menjadikan Leo dan wanita kaya tadi sebagai pemeran utama mulai tayang dalam otak Deera.
Sampai Monny di meja depan perusahaan mengiriminya pesan WA, emosi Deera mulai berfluktuasi dengan hebat.
Setelah mengobrol sebentar, emosinya mulai stabil dan dia sudah bisa tertawa lepas.
Monny sangat layak untuk julukannya sebagai ratu gosip, semua yang dia omongin di WA tentang berita terbaru yang ngga begitu seru sebenarnya.
Deera sudah bolak balik menguap, tetapi susah untuk mengakhiri percakapan. Ketika kecepatan membalas chat Deera semakin melambat Monny yang masih mau bergosip segera mengganti topik.
"Deera, lo tau nggak kenapa Arling ngasih proyek yang begitu penting kaya ini?”
“Nggak tuh. Kenapa?”
Deera melihat Monny sedang mengetik. Kayaknya panjang, soalnya mengetiknya lumayan lama.
Setelah satu menit, akhirnya balasan dari Monny datang
“Dari yang gu denger sih, katanya nggak ada yang mau karena daerah sana serem. Apalagi hotel yang sekarang lo tempatin. Perusahaan kan hemat banget kalau masalah budget pengeluaran. Nggak heran cari hotel yang murah, dan biasanya hotel murah itu berhantu.”
“serius lo?”
“Yakali gue boong! Tahu nggak? Hotel yang sekaran lo tempatin itu bekas klinik tempat aborsi. Ngga cuma bayi, banyak juga pasien dewasa yang mati pendarahan. Kitty pernah juga kan nginep di sana, dan selama tiga hari tidur di hotel ini, dia selalu mengalami mimpi buruk. ada yang lebih serem lagi.”
Deera belum sempat mengetik jawaban ketika pesan dari Monny datang lagi.
“Si Edna, lo tau dia kan? Katanya di kamar cuma disediain sepasang sandal waktu dia dateng, sandal itu udah dia pakai terus dia pergi mandi. Selesai mandi, dia keluar dong. Pas buka tirai kamar mandi, dia nemuin ada sepasang sepasang sandal lain di luar. . "
Bulu-bulu halus di sekujur tubuh Deera mulai terbangun, tengkuknya mulai merinding.
Dengan adanya saksi baru seperti Edna, sulit bagi Deera untuk percaya atau tidak.
Sebelum Monny offline, dia juga meninggalkan pesan untuknya, "udah tidur, nggak usah mikir apa-apa. Pokoknya berdoa."
Deera tidak pernah takut pada langit dan bumi, tetapi ada dua hal yang secara langsung memotong kelemahannya, yaitu hantu dan ... Leo.
Terutama karena dia bermain-main dengan kain kafan beberapa hari yang lalu, dan dia melakukan sesuatu dan menangkap hantu dan setan.
Apalagi tadi dia ketawa ngakak pas baca thread horor tentang hantu pocong b*****g.
Bagaimana jika dia menyinggung perasaan kedua mahluk halus itu? Apakah dia akan ditangkap untuk membuat ide iklan untuk neraka, dan dia tidak akan pernah masuk surga?
Memikirkannya seperti ini, Deera dengan cepat melupakan semua cerita-cerita seram yang tadi dia baca, menyenandungkan lagu kebangsaan dan mandi.
Hanya saja beberapa hal, meski dilupakan, tetap terjadi seperti biasa.
Ketika Deera selesai mandi, dia dengan santai membuka tirai, mengambil handuk mandi, dan menyeka air dari wajahnya. Setelah penglihatannya menjadi jelas, dia melirik secara tidak sengaja, dan tiba-tiba ... dia tercengang.
Mengapa ada dua pasang sandal? Dia jelas hanya mengenakan satu pasang untuk masuk!