Hujan jarang turun di jendela yang bersih, membuat suara derai yang tidak teratur.
Di luar jendela, pohon-pohon di sebelah koridor basah dan bergoyang di tiup angin.
Setelah musim kemarau panjang yang cukup lama, air yang mengguyur meninggalkan bau alami saat hujan turun membasahi tanah yang kering.
Di pintu masuk panti jompo yang dikelola yayasan milik swasta, Natasha membersihkan air yang membasahi rambutnya yang di ekor kuda, poninya patah halus, bulu matanya yang tipis dan tebal terkulai dan gemetar.
Menyapa beberapa perawat yang familiar, dia bergegas menuju ke Paviiun Anggrek, tempat ibunya sekarang tinggal.
Begitu sampai, dia membuka pintu dengan gerakan pelan, dan agak berjingkat ketika berjalan masuk menghampiri seorang wanita tua yang berbaring telentang di tempat tidur dengan mata terpejam.
“Bu,” bisiknya di telinga wanita itu.
Kelopak mata yang keriput itu terangkat dengan lemah, “Tumben jam segini, Nat.”
Natasha bergegas maju, membantu neneknya duduk, “Iya, tadi masuk pagi.”
Dengan lembut tangan yang berkeriput itu membelai rambut cucunya yang basah kehujanan, tampak khawatir.
“Hujan-hujan begini kamu nggak usah datang, mendingan istirahat. Capekkan berangkat subuh-subuh.”
“Yee, masa mau liat ibu sendiri nggak boleh. Lagian capek apa sih, orang deket kok.” Yang dibilang dekat oleh Natasha itu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan kereta disambung ojek.
Dengan cekatan gadis bertubuh semampai itu mengeluarkan kotak thermal yang masih dilapisi penghangat yang dia bawa. “Aku juga bawa makanan, ibu belum makan kan?”
Natash cepat-cepat mengeluarkan sup dari termos yang ia bawa untuk neneknya, pertama-tama biarkan dia minum semangkuk kuah sup ayam untuk menghangatkan perut, kemudian mengeluarkan bubur, dan mengatur lauk untuk ibunya makan.
“Kapan kamu buat ini?”
“Pagi tadi sebelum berangkat, kenapa? Nggak enak apa?”
“Enak, tapi kan ibu juga dapat makan di sini. kamu nggak usah repot-repot masak setiap hari, pakai waktu luangmu buat main, kenalan sama orang lain.”
Yang dimaksud dengan orang lain di mulut wanita berparas lembut itu, tentu saja laki-laki yang cocok untuk anak gadisnya. .
“Umurmu sudah cukup untuk menikah.” Wanita paruh baya itu melanjutkan.
Natasha tidak menjawab, dan hanya memberikan sendok dan mangku bubur kepada ibunya.
Menikah? Untuk gadis-gadis lain, mungkin itu mudah.
Namun, itu sulit untuk Natasha.
itu bukan karena dia tidak cantik.
Sebaliknya, Natasha masuk kategori cantik, wajahnya mungil serta matanya yang bulat dinaungi dengan bentuk alis yang alami melengkung alami seperti di lukis dengan indah.
Hidungnya ramping dan panjang.
Bentuk bibirnya tidak terlalu penuh, tetapi cukup tebal dengan cupid bow atau bibir tengah bagian atas yang sempurna.
Kalau gadis-gadis lain keluar banyak uang untuk mendapatkan kulit putih, Natasha bangga dengan kulitnya yang cenderung kecoklatan, orang bilang sih sawo matang.
Usianya baru 24 tahun, banyak yang laki-laki ditempat kerja yang mengejarnya. Masalahnya adalah, Natasha belum tertarik untuk urusan cinta.
Dia tidak punya uang, tidak punya mobil, tidak punya rumah, dan terlalu banyak utang.
Penghasilannya standar UMR, dan ada seorang wanita yang sakit-sakitan yang menjadi tanggungannya.
Semua uang yang diperolehnya digunakan untuk menyembuhkan ibunya. Membuang banyak uang ke rumah sakit, penyakit ibunya hanya sedikit membaik.
Banyak orang membujuknya untuk menyerah, tetapi dia selalu, hanya mendengarkan dan tidak menjawab.
Ibu adalah satu-satunya keluarga yang sekarang ini dia punya.
Ketika Natasha berumur 14 tahun, ibu yang selama ini membuka grosiran toko sembako untuk mengisi waktu luangnya, divonis mengalami kerusakan fungsi ginjal akibat kurang minum dan hipertensi yang di deritanya.
Karena tidak merasakan gejala apapun, ibunya hanya minum ramuan herbal seperti rekomendasi kenalannya, dan tetap berjualan seperti biasa.
Waktu terus berjalan tanpa ada keluhan apa-apa, setelah setahun lebih, ginjal yang sudah 40 tahun dipakai itu mulai mengalami gejala yang serius.
Setelah dikirim ke rumah sakit, melakukan bermacam-macam tes, dokter mengatakan bahwa sakit ginjalnya sudah akut, dan ibunya diharuskan melakukan cuci darah.
Pada awalnya, keluarga tidak ada masalah mengeluarkan sejumlah uang untuk cuci darah. Apalagi ayahnya engineer di pertamina dengan gaji 8 digit perbulan, tetapi kemudian intensitas cuci darah ibunya semakin sering.
Dari yang sebulan sekali menjadi dua minggu sekali, kemudian seminggu sekali, lalu seminggu tiga kali.
Tujuh tahun yang lalu belum ada BPSJ seperti sekarang.
Semua biaya pengobatan ditanggung sendiri, dan karena biaya cuci darah yang mahal, setelah beberapa tahun, toko, tabungan dan barang berharga mulai habis untuk berobat.
Ayahnya mulai lelah dan tidak tahan lagi.
Ketika Natasha berusia 20 tahun, ayahnya diam-diam menceraikan ibunya, menjual satu-satunya rumah yang mereka tempati.
Setelah membayar tagihan rumah sakit, dia hanya meninggalkan 20 juta dan kemudian pergi entah kemana.
Saat itu Natasha berada di tahun kedua. Mendengar berita itu, kagetnya seperti disambar petir. ibunya masih membutuhan biaya banyak, utang di orang-orang yang harus dibayar, dan dia harus pergi ke sekolah.
apa yang harus dilakukan?
Setelah berdiskusi lama dengan ibunya yang kebanyakan hanya menangis, akhirnya uang yang tidak seberapa itu dibagi dua untuk mencicil utang dan biaya ibunya.
Dia sendiri melanjutkan kuliah sambil bekerja part time di sana sini sampai lulus.
Setelah ada BPJS, bebannya sedikit terangkat, tetapi tetap saja dia butuh banyak uang untuk biaya mondar mandir ke rumah sakit, biaya perawatan ibunya di panti jompo, dan utang keluarga yang masih menumpuk.
Daripada menikah, fokusnya saat ini adalah menghasilkan uang agar ibunya nya tetap sehat.
Terima kasih buat Oma Lusy yang masuk ke kamar setelah selesai nonton TV, dengan begitu bisa menghindari pembicaraan tentang pernikahan tanpa menyinggung perasaan ibunya.
Natasha mengambil satu mangkok lagi untuk Oma Lusy.
ketiganya makan dan mengobrol dengan santai.
Sikap ibunya dan Oma Lusy yang sering berdebat untuk hal-hal kecil yang sepele, membuatnya tertawa dan melupakan beban hidupnya sejenak.
Ketika ibunya minta untuk tinggal di panti jompo, Natasha menolak permintaan itu pada awalnya. Dia masih bisa merawat orang sakit sambil bekerja.
Kemudian, dia menemukan kalau ibunya bukan hanya sekadar butuh mandi, makanan yang sudah siap, dan hal-hal lain yang selalu dia lakukan. Yang paling di butuhkan ibunya adalah orang yang menemaninya sehari-hari, mengobrol dengannya supaya tidak kesepian dan kepikiran dengan penyakitnya.
Hal sepele itulah yang tidak bisa dilakukan oleh Natasha yang harus bekerja.
Benar, dia kasih uang jajan ke tetangga sebelah rumah untuk mengawasi neneknya kalau kenapa-kenapa, tetapi tetangganya juga ada kesibukan lain dan tak bisa menemani orang yang sakit-sakitan sepanjang waktu.
Membayar pengasuh yang bisa menemani ibunya seharian, uangnya belum cukup untuk itu, lagipula mereka hanya tinggal di petakan yang cuma punya satu kamar.
Pada akhirnya, Natasha terpaksa menyetujui permintaan ibunya untuk ke masuk panti jompo, dan mencari tempat yang terbagus di antara yang paling bagus.
Nggak apa-apa keluar biaya agak mahal, itu sepadan dengan kondisi ibunya yang sekarang lebih ceria karena banyak teman di sini.
Semakin tua, orang semakin gampang lelah. Setelah menghabiskan makanan yang dibuatnya, dan mengobrol sebentar, ibunya dan Oma Lusy mulai menguap.
Setelah kedua wanita itu tidur siang, Natasha merapikan bawaannya, kemudian berjalan keluar masih dengan suara pelan.
Melewati klinik kesehatan, dia mampir untuk bertanya tentang kondisi neneknya.
Melihat klinik kosong, dia mengetuk pintu kaca tiga kali, dan langsung masuk, “Sore, Dok.”
Dokter Sutikno adalah pria paruh baya yang sudah puluhan bekerja di dunia kesehatan. Juga, orang yang menggagas untuk membangun panti jompo ini.
Mendengar suara Natasha, dia meletakkan ponsel ke atas, dan menyapa gadis itu dengan serius.
“Kebetulan kamu datang hari ini, Nat. Saya baru mau meneleponmu. Duduk.”
Natasha duduk, dan berkata dengan gugup, “Ibu saya kenapa, Dok?”
Pria di depannya berkata dengan tenang, “Ibumu baik-baik aja, saya nelepon cuma mau ngasih tau kabar, rumah sakit menemukan ginjal yang cocok buat ibumu.”
Wajahnya yang cantik nampak bersemangat.
Akhirnya, setelah lama menunggu, ibu dapat kesempatan untuk diselamatkan.
“Tapi kondisi ibu gimana, Dok? Harus nunggu apa, gitu nggak, sebelum bisa operasi?”
“Keadaannya baik, tubuhnya siap untuk operasi.” Dokter Sutikno menurunkan kacamata ke tengah hidung, terdiam cukup lama saat menatap Natasha.
Mengerti dengan maksudnya, gadis itu bertanya, “Tapinya apa, Dok?”
“Biaya operasi sangat mahal. Sekitar 300-400 juta. BPJS cuma meng-cover 85% dari total biaya. Untuk amannya, seengganya kamu harus pegang dana sekitar 20 sampai 30 persen dari tarif yang dipatok rumah sakit buat mengantisipasi pembengkakan biaya karena tambahan tindakan medis.”
Ketika Natasha mendengar ini, senyum di wajahnya tiba-tiba membeku.
20 sampai 30 persen?
itu sekitar seratus juta, darimana dia dapat uang sebanyak itu?
Tidak peduli apakah pasien dan keluarganya punya uang atau tidak, dokter tetap menyampaikan pendapatnya dengan tanpa perasaan.
“Ginjal ibumu sudah kronis. Kalau sudah dapat donor yang cocok, sebaiknya jangan ditunda.”
Natasha berpikir lama, lalu mengangkat kepalanya dan berkata kepada Dr. Sutikno, “Saya usahakan secepatnya.”
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada dokter, Natasha meninggalkan klinik dan menatap matahari yang akan tenggelam di cakrawala.
Sore ini raja surya tenggelam di barat. Besok pagi Dewa Ra akan terbit lagi di ufuk timur, dan itu akan menjadi hari yang benar-benar baru.
Seperti prinsip yang selama ini dia gunakan. selama dia hidup, akan selalu ada harapan.
Dua puluh lima tahun, masih jomlo, dan seorang pengangguran. Di mata keluarga besar yang ia temui setiap hari raya, Andara adalah seorang perawan tua yang malang.
Dan kemalangannya itu selalu akan menjadi bahan olokan om dan tantenya setiap kali kumpul keluarga.
Setiap setahun sekali pasti ada saja yang bilang begini ke Andara, “eh Dara, kok sendirian aja, mana pacarnya?”
Kalau Andara jawab, “belum punya pacar.”
Pasti salah satu tantenya ada yang bilang begini, “kamu sih milih-milih. Lihat tuh anak tante, dia seumuran kamu, tapi sudah punya anak dua. Jangan kelamaan sendiri lho, ntar jadi perawan tua.”
Yeee, dikiranya cari pasangan kayak cari sempak kali, asal enak, beli terus pakai.
Selain pasangan, yang sering ditanyakan itu pekerjaan dan penghasilan. Sewaktu mereka tahu Andara adalah pengangguran, selalu saja ada perbandingan yang keluar.
“Anak Om umurnya dibawah kamu, tapi dia sudah bisa beli mobil sendiri biarpun nyicil Lihat kamu, Ra. Udah setua ini masih jadi beban orang tua!”
“Makanya kamu tuh keluar, Ra. Jangan ndekem terus dalam rumah, kalau nggak bisa cari kerjaan, minimal carilah suami kaya biar bisa nebeng hidup enak.”
Apakah Andara sakit hati atau insecure dengan kata-kata mereka?
Tentu saja tidak. Omongan yang keluar setahun sekali itu hanya masuk telinga kiri, kemudian mental keluar sebelum mencapai telinga kanan.
Kuncinya adalah mental yang kuat untuk menghadapi para emak-emak menopouse yang resek.
Semakin ke sini, suara sumbang itu semakin terdengar nyaring. Andara sih masih tetap pada gayanya yang cuek dan masa bodoh, tetapi tidak dengan Neela, ibunya. Mental wanita paruh baya itu belum sekuat Andara menghadapi omongan saudara.
Apalagi saat dia mendapat undangan pernikahan keponakan, anak temannya, atau anak tetangga. Melihat kenyataan gadis-gadis seusia Andara yang sudah dipinang, Neela menjadi khawatir tentan anak gadisnya.
Takut anak gadisnya yang sampai sekarang masih santai dan belum juga membawa gandengan ke rumah jadi perawan tua, wanita itu mulai mencarikanya jodoh. Entah dapat dari mana, setiap minggu ibunya pasti selalu menyuruhnya keluar untuk kencan buta dengan dengan cowok-cowok yang sudah lolos seleksi ibunya.
Kandidatnya nggak main-main, mulai dari yang fresh graduate sampai bujang tua semua ada.
“Na’e kamu sibuk nggak hari ini?” pintu kamarnya yang tertutup rapat tiba-tiba terbuka, dan kepala ibunya terjulur dan bertanya kepadanya sambil tersenyum.
“Sibuk banget.”
Saat menjawab, wajah Andara tidak berpaling sedikitpun dari layar laptop di depannya.
Andara bisa menebak tujuan ibunya, wanita itu pasti mau memintanya bertemu dengan Lukman, cowok yang ia temui minggu kemarin, dan yang menjadi favorit ibunya.
“Dara!” ekspresi Neela berubah, wanita itu membuka pintu kamar dan segera masuk, “Nggak usah bohong! pengangguran kayak kamu tuh sibuk ngapain sih? Orang kerjaannya cuma online nggak guna!”
“Sembarangan aja ngga guna. Emangnya duit jajanku dari mana kalau nggak dari sini?”
Melihat tampang anaknya yang bersungut-sungut, Neela langsung merangsek ke dalam kamar.
“Dari sini tuh dari mana?” omelnya, lalu dengan semena-mena wanita itu menekan tombol power di laptop milik Andara.
“Mama ih, kok dimatiin sih?” pekik Dara, gadis itu akhirnya bergerak dari depan layar dan menyalakan kembali komputernya dengan tergesa-gesa, “mana tulisannya belum disave lagi. kalau ilang gimana? Capek tau nulisnya, apalagi mikir alurnya.”
“Nulis, nulis, nuliiiiiiisss mulu kerjaannya!” Neela melotot dengan kedua tangan di pinggulnya yang berdaging tebal, “dari zaman nyusun skripsi sampai sekarang kamu nulis mulu, mana hasillnya? Nggak ada tuh buku hasil karya kamu mama tengok!”
“Kan bukunya online, Ma.”
“Alah nggak usah alasan! Tuh si Rika, anaknya bu Nur, dia jualan online ada wujud barangnya, udah kebeli motor, dompetnya makin tebal. Lah kamu duduk berjam-jam depan laptop hasilnya apa? Cuma nebelin kantong mata sama lemak doang!”
Andhara paling takut kalau ibunya sudah mulai membahas tentang kegiatannya menulis novel online.
Ketika dia memutuskan untuk menjadi penulis lepas setelah lulus dari perguruan tinggi, ibunya dengan tegas menentang keinginannya, dan sekarang ibunya menjadi lebih agresif dan mengomel di sampingnya setiap hari.
“Nggak ada yang salah dengan menulis,” nada yang keluar dari mulut Neela menjadi lebih lembut, “