Nada bicara ayah membuat Maura merasa bersalah karena sudah mengecewakan mereka, meskipun ini terjadi bukan karena kesengajaan.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, dia menelepon ibunya untuk meminta maaf dan menjelaskan semua, tetapi panggilannya tidak dijawab oleh ibunya. Sekali, dua kali, dan berkali-kali mencoba, panggilannya tetap ditiolak.
Dan tepat ketika dia sudah mulai cemas, teleponnya berbunyi, Maura segera melihat ponselnya, itu panggilan dari Jevan.
Melihat nomor pria itu, emosinya menjadi tak terkontrol.
Mengapa Jevan berinisiatif membawa kedua orang tuanya datang ke rumahnya untuk melamar tanpa lebih dulu berdiskusi dengan dirinya?
Apa susahnya sih ngomong? Bukannya hampir setiap hari dia menelepon?
Dia tidak bisa membayangkan, betapa murka ibunya saat mengetahui berita kehamilannya dari mulut orang lain, bukan dari anaknya sendiri. Bahkan, kalau ibunya akhirnya berdamai dengannya dan menerima kenyataan bahwa anaknya hamil di luar nikah, dia pasti akan mengungkitnya lagi selama beberapa tahun ke depan.
Menatap layar dengan pandangan sengit, Maura tidak bergerak untuk menjawab telepon, karena takut melampiaskan emosinya kepada Jevan.
Namun, Maura butuh seseorang untuk mendengar semua keluhannya, dan orang itu adalah Zivara. Dia segera menghubungi gadis itu begitu Jevan menyerah untuk menghubunginya.
Panggilan itu langsung dijawab dalam dua kali nada sambung.
“Hai!”
Sapaannya yang ramah dibalas dengan suara bernada masam dari Zivara.
“Maura, orang sibuk ini masih ingat sama aku ternyata.”
Maura menghela napas dengan sedikit rasa bersalah, intonasinya mengandung sedikit bujukan ketika dia berkata, “Percaya deh, Zee, bahkan udah matipun aku nggak bakal lupain kamu. Apalagi sekarang aku masih hidup.”
Maura bisa mendengar suara cibiran dari mulut Zivara di sisi lain telepon. “Oke, sekarang kamu boleh ngomong.”
Mendapat lampu hijau, pertanyaan yang menggantung di ujung lidah Maura langsung meluncur keluar.
"Orang tua Jevan pergi ke rumahku, kamu tahu?”
" Tahu, aku yang mengantar mereka ke rumahmu.”
Mendengar jawaban temannyang yang santai, Maura agak sewot.
"Kok bisa sih hal sepenting ini nggak kamu kasih tau ke aku, Zee?”
“Ngomong ke kamu? Kamu sendiri gimana? Ada nggak ngomong ke aku kalau kamu lagi hamil? Itu juga masalah penting juga kan? Karena aku nggak tau apa-apa, aku cuma bisa planga-plongo kayak orang b**o waktu mamamu nanyain. Ujung-ujungnya, aku dimarahi dan dibilang sekongkol sama kamu buat sembunyiin aib!”
i semakin marah dan melampiaskannya semua kekesalannya kepada Maura terus menerus. Hal ini membuat tenggorkan emannya serasa tercekik, dan setelah lama terdiam, dia akhirnya mengalah.
“Maaf, Zee. Pikiranku lagi kacau, ada terlalu banyak masalah belakangan ini.”
Maura mengerutkan kening dan mengangkat dahinya, suaranya menjadi berat dan terganggu, penampilan Ingga dan bayangannya memanggil namanya di luar pintu hari itu kembali terlintas dipikirannya. Hatinya kembali kacau.
Mendengar suaranya yang lemah seperti tadi, sikap Zivara di telepon akhirnya melunak. “Apa yang terjadi padamu?”
Suaranya yang lembut dan penuh perhatian terdengar, menghantam hati Maura.
Sejak dia berpisah dengan Ingga, dia masih terlihat baik-baik saja dipermukaan. Padahal dia sedang melarikan diri dari emosinya dan dirinya sendiri, dan tidak ada orang di sekitarnya yang bisa dia ajak bicara tentang perasaannya.
Dan emosinya sudah ditekan terlalu lama, pertanyaan Zivara seperti tangan yang menarik pemicu bom, dan semua keluhan dan rasa sakit yang tersembunyi jauh di sudut hatinya nyaris meledak.
Maura mengerutkan bibirnya, menahan rasa tersedak yang akan keluar dari tenggorokannya.
“Maura, sebenarnya ada masalaha apa?” Zivara bertanya lagi, “cerita aja, kalaupun aku nggak bisa bantu buat menyelesaikan, senggaknya kamu bisa lega setelah cerita.”
Maura menggertakkan giginya, menarik napas dalam-dalam, dan menahan perasaan tidak enak itu.
Setelah diam selama satu menit, dia mengeluarkan unek-uneknya.
"Sebelum aku tahu tentang anak ini, aku jatuh cinta. Namanya, Ingga. Setelah sama dia, aku pikir akhirnya aku menemukan rumah yang bisa bikin aku nyaman, bikin aku bahagia. Sayangnya, kami nggak bisa bersama.”
Maura tersedak setelah berbicara, tetapi dengan cepat mengerutkan bibirnya dan menahan air matanya. Di sisi lain, Zivara ikut tertekan dan merasa simpati.
“Apakah menurutmu kisah percintaanku menyedihkan?”
Maura menertawakan dirinya sendiri, sementara Zivara segera menghiburnya dengan beberapa kata-kata semangat.
“Kupikir kamu masih mencintai Jevan.”
“Ya, tapi cinta semacam ini bukan sejenis cinta yang membuatku mau menjalani seumur hidup dengannya.” Maura menarik napas panjang.
“Tapi pada titik ini, apakah kau memiliki keberanian untuk berhenti?"
Maura tertegun sejenak ketika mendengar pertanyaan Zivara, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Nggak."
Ya, dia sudah tidak punya keberanian untuk berhenti, keberaniannya sudah habis pada hari saat dia membuang Ingga pergi dari hidupnya.
Dengan kata lain, dia merasa bahwa dia tidak akan pernah bertemu Ingga lagi, dan dia juga mengira tidak akan pernah bertemu pria lain yang lebih baik dari Jevan. Jadi, jalani yang ada saja.
Toh dia juga harus bertahan demi anak yang tiba-tiba muncu dalam hidupnya.
“Baguslah,” kata Zivara lagi, “kalaupun kamu mau berhenti, itu sudah terlambat. Alasan kenapa orang tua Jevan datang ke rumahmu, karena tante Mita berpikir bahwa kehamilan adalah hal yang sangat penting, mereka pikir kamu pasti takut bilang sendiri ke orang tuamu. Jadi, setelah Jevan melamarmu, tante Mita juga datang ke rumahm untuk menunjukkan ketulusan mereka. Karena takut orang tuamu akan salah paham dan mengatakan keluarganya nggak menghormati keluargamu kalau menunggumu pindah ke sini. Jadi aku membawa mereka ke rumahmu."
Maura memindahkan telepon ke sisi kanan telinga, "Lalu, bagaimana respon ibuku?”
“Yaah, baru kali ini aku lihat ibumu jutek abis sama orang. Kalau nggak ingat masih berteman, mungkin aku nggak mau datang ke rumahmu lagi setelah ini.”
"Dia nggak mempermalukanmu, kan?"
“Cuma marah sedikit sebenarnya, tapi sikapnya langsung berubah drastis begitu tante-tante yang tinggal diatas rumahmu datang.”
“Tante Nurul?”
Maura terkejut, dan memikirkan orang ini membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.
"Kayaknya, dari dia datang itulah ibumu jadi berwajah hitam sepanjang waktu. Gara-garanya, tante Nurul muji-muji kamu gitu, Ra, tapi ya daripada muji sih, kataku dia lagi nyindir.”
“Emangnya dia bilang apa?”
“Macem-macem sih, yang katanya kamu itu pintar, lulus kuliah nilainya bagus, punya pekerjaan mapan, cantik, sopan, gampanglah buat dapetin bos dengan rumah dan mobil bagus kayak anaknya. Buat apa terburu-buru terima lamaran orang yang bibit bebet bobotnya nggak jelas. Intinya sih, tante itu mau bilang kalau latar belakang Jevan nggak layak buat kamu.”
"Serius dia ngomong begitu? Bikin malu orang aja.”
Maura menutupi wajahnya tanpa berkata-kata, dan tiba-tiba merasa lelah. Tidak masalah jika Ibu marah padanya, asalkan jangan sampai menghina orang tua Jevan yang baik banget itu.
"Malu? Bukan hanya malu? Rasanya aku mau menggali lubang, dan mengubur tante-tante itu di sana.”
"Terus, Jevan dan orang tuanya gimana? Langsung pergi dari sana nggak?”
Suara tawa Zivara yang seperti lonceng terdengar.
“Nggak lah! Tante Mita malah bilang, jangan bandingin sama orang lain. Kalau sekadar rumah atau mobil, merea juga bisa beliin. Ngapain mesti nikah sama bapak-bapak yang puluhan tahun lebih tua.”
“Gila nyindir anaknya tante Nurul banget! Terus gimana?”
Zivara melanjutkan informasi yang barusan disela Maura.
“Kalau kamu bersedia, mereka akan beliin rumah buat kamu cash! Mau di PIK, Kelapa Gading, atau dimana terserah kamu. Sebenarnya mereka sudah siapin apartemen, lengkap dengan Mobil, tinggal tunjuk aja mau yang mana, dan itu semua atas nama kamu. Kebayang nggak sih gimana ekspresi mamamu? Cerah ceria, kayak habis dapat lotre.”
Zivara menceritakan itu semua dengan gemas, dan Maura tak bisa menahan tawa ketika dia membayangkan ekspresi lucu ibunya.
"Hahaha..."
"Bisa-bisanya kamu ketawa, Ra. Memangnya kamu kira, seberapa miskin keluarga Jevan?"
Maura tersedak oleh senyumnya sendiri, merasa seolah-olah dia telah melewatkan intinya.
“Kamu bilang orang tuanya membeli apartemen empat kamar dengan semua uangnya? Dia juga membeli mobil?”
“Yah, asalkan kamu menikah?”
“Memamgnya mereka keluarganya kaya?”
Maura serius, sedangkan Zivara menggelengkan kepala, merasa temannya ini sangat bodoh.
"Kalau keluarganya sangat miskin sehingga mereka bahkan tidak mampu membeli rumah, akankah aku membiarkanmu menikah?"
"Aku yakin kamu nggak akan setega itu,” kata Maura, “tapi kalau lihat lingkungan tempat tinggal keluarganya sudah sangat tua, dan mobil ayahnya, aku kurang yakin.”
"Itu karena . . Orang tuanya nggak menunjukkan kekayaan mereka. Biar aku kasih tahu, ayah Jevan itu pengusaha tambang, yang tambang batubaranya ada di hampir seluruh pulau Kalimantan. Belum lagi kebon sawit yang berhektar-hektar di Sumatera. Mereka sebenarnya kaya raya, tapi diam.”
Informasi dari Zivara membuat Maura tertegun, dan setelah beberapa detik kaget, dia hanya memberikan satu kalimat.
“Aku benar-benar nggak nyangka.”
“Saat itu, setelah Jevan lulus dari sekolah menengah, orang tuanya mau mengirimnya ke luar negeri. Mereka sudah membayar biaya kuliah yang nggak bisa dibilang sedikit, tapi hangus begitu aja karena Jevan menolak.”
“Kondisi keluarganya sangat baik, mengapa Callya putus dengannya?”
“Kondisi keluarganya hanya baik untuk perempuan baik-baik kayak kamu dan aku. Cewek macam Callya nggak akan dilirik orang tuanya, biarpun Jevan cinta mati sama dia. Setahuku nih ya, sejak Callya ngabisin duit tabungan Jevan yang dikumpulin selama puluhan tahun dalam semalam, ibunya bilang udah nggak sudi ngasih uang seperakpun buat Jevan, karena khawatir dipakai buat membiaya Callya.”
"Kasihan banget Jevan."
Maura menghela napas, tetapi Zivara nggak peduli.
"Dia yang pantas mendapatkannya, tapi kamu, kamu nggak boleh terlalu lembut sama dia.”
Obrolan dengan Zivara membuat suasana hati Maura pulih, dan kondisi keluarga Jevan yang sangat baik, itu benar-benar mengejutkannya, dan itu adalah hal yang baik, setidaknya ibunya nggak akan mengomelinya di masa depan, dan tidak harus membayar cicilan untuk bisa mendapatkan rumah atau mobil.
Panggilan telepon Jevan datang lagi, dan tanpa bertanya mengapa dia tidak menjawab telepon, dia langsung mengatakan bahwa dia pergi ke rumahnya untuk melamarnya langsung ke orang tuanya.
Emosi negatifnya hilang, Maura pura-pura tidak tahu apakah orang tuanya sengaja mempersulit, tetapi telepon berhenti selama beberapa detik, dan kemudian dia mendengar suara menelannya yang keras.
“Nggak, orang tuamu sangat antusias.”
Masih ada ketakutan yang tersisa dalam suaranya, Maura ingin mengungkapkannya, ingin tertawa, tetapi dia bisa menanggungnya.
"Bagus," jawabnya, gemetarannya hampir mematahkan suaranya dengan begitu banyak menahan diri.
Merasa ada yang salah dengannya, dia terkejut selama satu atau dua detik, tetapi langsung ke intinya tanpa bertanya.
"Yah, kita harus membeli rumah baru. Ibuku pikir keputusan untuk memilih lokasi ada ditanganmu. Dia sudah mencari modelnya, nanti kamu tinggal pilih mau yang mana.”
Setelah dia selesai membaca senar tanpa emosi, Maura memikirkannya sebentar, dan merasakan sakit kepala.
“Aku ikut apa seleramu ajalah.”
“ Aku sudah kirim gambarnya. Mending kamu lihat dulu. Cari yang paling nyaman buatmu, kita tinggal di sana nggak cuma sehari dua hari, tetapi seumur hidup.”
Ada sedikit jejak putus asa dalam suaranya, Maura menggigit bibirnya, merasa penuh kebencian.
“Oke, kalau gitu aku tutup dulu. Bye.”
“Baiklah.”
Maura mengunduh gambar yang dikirim oleh Jevan, dan melihatnya satu persatu. Rumah-rumah dalam brosur itu berukuran besar, lebih dari dua ratus meter persegi, dan model rumahnya juga bagus, sesuai dengan seleranya yang simpel.
Semakin dia melihat banyak gembar, MAura semakin kesulitan untuk membuat pilihan mana yang harus diambil.
Setelah menggeser layar ponselnya sampai halaman terakhir, Maura segera memanggil ibu Jevan dan dengan sopan mengatakan bahwa dia tidak berdaya untuk memilih kamar.
Tetapi ibu Jevan bersikeras bahwa dia harus membuat keputusan. Dia mengatakan bahwa ini akan menjadi miliknya di masa depan, jadi Maura, yang akhirnya dalam situasi putus asa, harus mendorong lubang ini ke Jevan.
“Aku suka semua yang disukai Jevan,” katanya berpura-pura bahagia dan malu.
Maura sendiri merasa kalimat ini mati rasa, dan sangat berguna untuk mendapat persetujuan wanita itua.
Mita tidak bisa berhenti tertawa ketika mendengarnya, dan akhirnya percaya pada kebohongan yang ia katakan, dan tidak lagi memaksa.
Setelah membuang semua kesulitannya ke pundak Jevan, Maura juga merasa lega. Setelah itu, dia kembali menelepon Zivara untuk mencari tahu, karena hanya dari mulut temannya itu dia bisa mendengar situasi sebenarnya dari kedua keluarga.
Zivara berkata bahwa setelah mengetahui bahwa keluarga Jevan dalam kondisi yang amat sangat baik, sikap ibunya meningkat pesat.
Dan Mita juga sangat antusias, dia pergi ke rumah Maura untuk mengantarkan barang-barang, dan sekarang dia bahkan membawa calon besannya untuk melihat rumah.
Ketika Maura mendengar ini, dia tidak bisa tidak kesal dengan ibunya yang matrealistis.
"Kamu tahu kan gimana keras kepalanya ayahmu? Dia ngotot dia yang akan membeli mobil itu, tetapi ibumu nggak terlalu senang. Orang tua Jevan juga menolak, tetapi dia menampar wajahnya dan mengatakan bahwa mereka nggak akan bisa menikahimu kalau ayahmu nggak setuju.”
“Jadi gimana?”
“Ya akhirnya pada ngalah, mereka setuju kalau ayahmu yang membeli mobil.”
Zivara berkata padanya dengan suara yang penuh dengan penyesalan, tetapi Maura tidak merasakan betapa bodohnya ayahnya. Dia percaya, ayahnya melakukan itu karena menyayanginya, dan karena takut dirinya akan dipandang sebelah mata oleh keluarga Jevan karena datang ke sana tanpa membawa apa-apa.
“Ayahku menyayangiku.” Maura tergerak untuk menjelaskan, memikirkan semua hal tentang ayah, matanya sedikit berembun.