Drrrtttt!!!
Tidur siang Maura terganggu oleh suara ponselnya yang berdering. Gadis itu berguling dua kali, mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel di atas meja. Kemudian menekan tombol kecil di sebelah kiri atas.
Deringan berhenti, dan dia melanjutkan lagi tidurnya.
Di ujung lain, si penelepon tidak menyerah, dia melihat layar yang tiba-tiba gelap, mengusapnya, lalu menyentuh layar yang menunjukkan nomor yang sama.
Drrrttt … drrtttt … drrrttttt!!!
Kelopak mata yang terpejam sepenuhnya terbuka. Maura menggeser layar tanpa melihat namanya, dan langsung mengomel.
“Ini baru jam empat, Zee. Jatahnya orang tidur siang. Ngapain sih nelepon mulu?”
“Jangan lupa, Ra, ntar malem ada reuni.”
Bola mata Maura juling ke atas, menandakan dia bosan. Bagaimana dia tidak bosan, dari pertama kali dia sampai tujuh hari yang lalu sampai sekarang, Zivara terus menerus membicarakan tentang reuni SMA mereka.
“Iyaaa, tenang aja, inget kok.”
Suara Zivara terdengar lagi, “Maura, kamu dateng kan? Awas lho kalau nggak!”
Tuuuuut!!!
Panggilan terputus begitu Zivara selesai mengancamnya.
Sejujurnya, Maura malas pergi, tetapi dia tahan dengan teror Zivara yang terus membahas tentang reuni sekolah yang sengaja dipilih seminggu setelah Lebaran.
Karena hanya pada momen hari raya itulah, teman-teman yang merantau ke luar daerah, termasuk Maura pulang ke daerah asal untuk kumpul bareng.
Hujan turun sejak pagi dan belum berhenti sama sekali. Maura terlalu segan untuk bangun dan hanya tidur-tiduran sambil berselancar di dunia maya dengan ponselnya.
Triiing!
Pesan WA dari Zivara melompat keluar, “Jam setengah tujuh aku jemput.”
Ketika melihat jam di sudut kiri ponselnya, di sana menunjukkan angka 17.59.
Maura bangun dari tempat tidur, mengangkat rambutnya yang sepanjang bahu dan menjepitnya dengan jedai di atas meja, mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya, dan pergi mandi.
Selesai mandi, dia mengambil baju secara acak dari dalam lemari. Itu hanya celana highwaist dengan atasan crop top, mengenakan outer blazer abu-abu yang ia beli tahun kemarin, kemudian keluar tanpa memakai riasan wajah.
Melihat anak gadisnya keluar kamar dengan pakaian rapi, Lusy, ibu Maura keluar dari dapur.
“Malam-malam gini mau kemana, Ra?”
“Ada reuni sama teman-teman SMA.”
“Pergi sendiri?”
Maura mengambil sepatu canvas biru cerah dari rak sepatu, melengkungkan punggungnya ke depan saat memakainya. Selesai mengikat tali sepatu dia meluruskan punggung, dan menjawab, “Dijemput sama Zivara.”
“Ohh ya udah kalau sama Zee.”
Ketika ponselnya kembali berdering, Maura bergegas. “Pergi ya, Ma.”
“Hati-hati, pulangnya jangan malam-malam.”
Dengan kedua tangan terselip di saku blazer supaya tetap hangat, Maura menghampiri mobil milik Zivara yang baru saja berhenti di depan rumahnya.
Lain dengan Maura yang santai, Zivara tampil all out. Mini dress-nya berwarna merah cerah, dan dia memakai riasan dan penampilannya nampak luar biasa.
Senyum di bibir wanita muda itu imenghilang saat melihat penampilan sahabatnya.
Sebelum Zivara berkomentar, Maura segera membuka pintu depan bagian kiri mobil, dan duduk di bangku sebelah pengemudi.
“Kok gini sih, Ra, penampilanmu?” wajah Zivara penuh kebencian.
Maura memutar matanya, “Emangnya harus gimana? Ini kan cuma acara reuni, bukan penerimaan penghargaan Oscar.”
“Tapi kan nggak kayak gini juga, Maura! Masa kamu datang ke reunian lusuh sih? Udahlah nggak dandan, bajunya buluk! Astagaaaaaa!!!!”
Mendengar ocehannya, Maura berbalik dan mau turun.
“Oke, kalau gitu aku nggak usah pergi!”
Tetapi Zivara cepat-cepat mengunci pintu mobil. “Terserah, terserah. Semerdekamu ajalah!”
Zivara memutar kunci kontakl dengan wajah kesal, dan Maura duduk di sebelahnya menatap jendela, dan mengencangkan sabuk pengaman.
Dia dan Zivara adalag teman sekolah di SMA, dan selama tiga tahun itu mereka berdua dulu tidak terpisahkan.
Maura dan Zivara memiliki kepribadian yang bertolak belakang, Maura kalem dan tenang sedangkan Zivara lebih emosian dan menggebu-gebu. Meskipun begitu, keduanya saling melengkapi.
Kalau Maura terlibat masalah, Zivara akan pasang badan untuknya. Begitu juga Maura, dia akan pasang badan kalau Zivara terlibat masalah dengan cewek-cewek di sekolah.
Memikirkan masa lalu, Maura melirik Zivara dan menemukan wajah sahabatnya yang dulu hitam berminyak, sekarang menjadi lebih cerah dengan riasan yang berkesan nakal dan seksi.
Temannya ini sangat berbeda dengan remaja yang lugu dan cantik seperti dulu.
Melihat tatapan Maura, Zivara memalingkan wajahnya dengan seringai lebar dan memegang pipinya dengan jari lentik. Kukunya yang panjang dipulas warna cokelat muda dan diberi hiasan bunga dan kupu-kupu dari kristal.
“Kamu pasti kagum karena aku kelihatan semakin cantik, yekaaan?”
Kebanggaan akan visualnya dihancurkan oleh penampilan menyedihkan di sampingnya.
“Kamu juga dong, Ra, dandan. Biarpun cetakan dari sananya sudah cakep, nggak ada salahnya kan pake make up. Minimal pakai bedak atau liptin kek biar nggak kelihatan kayak orang sakit.”
Maura mencibir, memutar matanya dan melihat keluar saat Zivara terus mengoceh tentang pentingnya perawatan wajah dan tubuh.
“Hati-hati, Zee. Ada polisi lagi razia tuh di depan.”
Zivara segera menjadi waspada begitu kata-kata ini keluar, dan tangan di pipinya segera kembali ke tempat yang seharusnya, ke atas kemudi.
Maura tertawa melihat reaksi Zivara yang gugup saat mendengar kata razia dan polisi.
Biarpun kemana-mana selalu bawa kendaraan, Zivara belum punya SIM. Katanya sih malas bikin, antreannya lama. Di suruh pakai jasa calo, dia bilang nggak mau membudayakan korupsi.
Jadi nggak heran dia takut.
Sadar dirinya ditipu, Zivara menjangkau dan memukul dengan keras lengan Maura.
Perjalanan dari rumah Maura ke tempat lokasi reuni berjara empat puluh menit perjalanan, dan semakin lama karena macet.
“Eh, Maura, udah denger gosip belum? Katanya Callya punya pacar baru, masih anak atau keponakannya Walikota.”
Gosip selalu bikin orang lebih bersemangat, apalagi ini gosip tentang gadis yang sudah lama menjadi musuh Zivara.
“Serius? Terus si Jev?”
“Ya dibuanglah.”
Sambil menunggu lampu lalu lintas, Zivara mengambil cermin dan memperbaiki riasannya.
Hati Maura bergetar, tetapi dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Akhirnya, setelah bertahun-tahun waktu pembalasan sudah tiba.”
Maura melirik temannya yang barusan bersuara. “Emangnya kamu mau ngapain setelah dia dibuang?”
“Cck!” Zivara membuat suara decakan yang keras dan meletakkan wadah maskara, tepat ketika lampu hijau menyala, dia mengganti persneling untuk melanjutkan perjalanan.
“Aku akan pergi dan berputar di depanny dengan cerah, melihat penampilan patah hatinya yang lusuh dan kusut! Siapa suruh dia nggak dengerin saranku dan tetep pacaran sama Callya itu. Rasakan akibatnya sekarang!”
Tawa nyaring Zivara menggema dalam kabin sempit dan gelap. Setelah mendengar niat jahatnya, sepertinya Maura paham kenapa dia begitu bersemangat datang ke reuni tahun ini.
Jevan adalah sepupu sekaligus tetangga Zivara saat tinggal di komplek perumahan pegawai negeri. Mereka sudah bersama-sama sejak masing-masing masih pakai popok.
Mereka berdua belajar di TK yang sama, SD bareng, berlanjut sampai ke jenjang SMP dan SMA.
Dengan postur tinggi, wajah tampan, dan temperamen dingin menjadikan Jevan sebagai cowok yang disukai oleh gadis-gadis di sekolah.
Gara-gara itulah, Zivara dimusuhi oleh hampir sebagian besar gadis-gadis di sekolah. Mereka menganggap Zivara adalah batu sandungan yang harus dibuang kalau mau mendapatkan Jevan sebagai pacar.
Tidak ada yang sadar, kalau batu sandungan mereka yang sesungguhnya adalah Callya yang disukai dan menjadi titik lemah pemuda itu.
Menurut Maura, Jevan itu adalah gambaran sebenarnya dari b***k cinta Callya.
Cukup dengan panggilan telepon dan suara memelas, Jevan rela mengorbankan apapun untuk Callya, meskipun cewek itu tidak pernah menghargai perasaannya.
Jevan mau-maunya disuruh menjemput gadis itu di Mall dan mengantarnya pulang.
Antara rumah Jevan, Mall, dan tempat tinggal Callya arahnya berlawanan dan jauh. Saat itu sudah larut malam dan hujan deras sejak sore, banjir dan macet mengepung kota.
Waktu itu Maura yang sedang menginap di tempat Zivara terbangun jam tiga pagi, dan melihat Jevan baru pulang dari mengantar Callya.
Besoknya berembus kabar, Callya pergi nonton dengan gebetannya karena gebetannya naik motor, sedangkan dia nggak mau kehujanan, akhirnya dia menelepon Jevan minta jemput naik mobil ayahnya.
Yang paling marah saat itu adalah Zivara. Jevan sendiri santai, dan menutup telinga dari semua kebenaran.
Setelah dua tahun menjadi ban cadangan, Jevan akhirnya berdiri tegak di samping Callya sebagai pacarnya.
Jevan berselisih dengan Zivara saat dia dan Callya pacaran. Bukan karena dia cemburu, tetapi karena menurut sudut pandangnya, Jevan nggak cocok dengan Callya yang manipulatif dan seenaknya.
Banyak fenomena orang jadi bodoh karena cinta, tetapi menurut Zee, panggilan Zivara, Jevan ini bukan Cuma bodoh. Melainkan sudah masuk ke level d***u yang susah diobatin.
Tetapi bagaimanapun juga,
Jevan juga berubah jadi cowok t***l
Tetapi bagi Jevan, lebih dari tujuh belas tahun persahabatan nggak sebanding dengan perasaan cinta seumur jagung yang dia rasakan untuk Callya.
Sejak saat itu, Zivara dan Jevan berubah menjadi seperti layaknya orang asing.
Melihat lagi kisah mereka bertiga, Maura hanyalah seorang penonton.
Pada saat itu yang dia lakukan adalah menemani Zee yang marah, dan mendengarkan gadis itu memarahi Jevan dan Callya dengan semua jenis u*****n dan omelan yang nggak enak di dengar.
Berakhir dengan menggotong Zivara yang mabuk ke kamarnya.
Maura tahu, Zivara tidak mencintai Jevan, dia minum hanya untuk meluapkan kekecewaan akibat persahabatan mereka yang putus di tengah jalan.
Persahabatan yang nyaris seumur hidup, ternyata tidak sebaik gadis yang baru Jevan temui.
Persahabatan yang berakhir kadang lebih menyakitkan daripada cinta yang kandas.
Setelah minum dan mengurung dirinya dalam kamar selama tiga hari, Zivara keluar menjadi pribadi baru.
Nama Jevan sudah tidak pernah keluar lagi dari mulutnya, dan ketika mereka tidak sengaja bertemu, hanya ada tatapan dingin di matanya.
Maura juga berpura-pura melihat itu semua dengan acuh tak acuh. Tetap berdiri di sampinga Zivara, tanpa pernah menyebut tentang mantan sahabatnya dari kecil.
Saat lulus SMA dan mulai kuliah, Jevan dan Callya beda pilihan universitas, tetapi mereka tetap bersama.
Banyak teman sekolah yang satu kampus dengan Callya bilang bahwa Jevan itu hanya cadangan.
Banyak desas-desus yang bilang kalau Callya punya banyak gebetan baru, dan bergantian jalan dengan mereka. Bahkan ada yang sampai sumpah-sumpah melihat Callya ciuman dengan pria lain saat status gadis itu masih pacar Jevan.
Maura nggak tahu apakah Jevan percaya atau nggak dengan berita itu, tetapi dirinya percaya, karena Maura pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Maura masih ingat, hal itu terjadi satu minggu sebelum ujian akhir. Maura pergi ke perpustakaan untuk menukar buku yang dia salah bawa. Nggak ada seorangpun di koridor menuju perpustakaan.
Saat itu sudah selesai jam pelajaran, sebagian murid sudah pulang, dan yang lainnya nongkrong di depan atau kelas.
Sebelum berbelok ke perpustakaan, pintu ruang UKS yang setengah tertutup membuatnya curiga, entah apa yang membawanya, dia malah mengintip ke dalam lewat celah pintu yang terbuka dan melihat Callya bertukar air liur dengan guru magang yang masih muda.
Saat itu hari Sabtu, Callya memakai rok seragam rok kotak-kotak pendek sebatas lutut. Kedua tangannya tergantung di leher guru, yang melingkarkan satu tangan di pinggang, dan tangannya yang lain bergerilya di balik kemeja Callya yang acak-acakan.
Rahang Maura hampir jatuh melihat adegan ini. Sumpah kaget banget.
Sebelum kedua orang itu melihat kedatangannnya, Maura segera melarikan diri.
Dia tidak pernah memberitahu siapapun tentang ini, termasuk Zivara dan Jevan yang seharusnya paling berhak tahu.
Tiiiin…tiiiin!
Suara klakson membawa Maura kembali ke akal sehatnya.
Ketika dia sadar, mereka sudah sampai depan hotel tempat reuni diadakan.
Zee yang pemarah sedang menunggu Avanza yang berjalan perlahan keluar dari tempat parkir di depan.
Gadis itu membunyikan klakson dengan tidak sabar.
Maura menoleh untuk melihat penampilannya yang barbar, menghela napas dan melihat keluar jendela.
“Ini nih, kenapa aku males keluar sama kamu, Zee. Takut digebukin orang gara-gara kamu nggak sabaran.”
Zee memutar matanya, “Salahin tuh yang di depan. Lelet!”
“Diem dulu!”
Avanza hitam itu akhirnya pergi, Zivara segera mengambil tempat parkir yang mobil itu tinggalkan. Mematikan mesin, dan kemudian membuka pintu untuk turun.
Maura mengikuti jejak Zivara yang berjalan lebih dulu. Begitu sampai di pintu, Zivara menatapnya, alisnya berkerut.
Maura merasakan firasat yang tidak enak, “Ada apa?”
Zivara tidak menjawab, tetapi dia mengulurkan tangan dan menarik jedai yang menjepit rambut Maura menjadi gulungan yang tidak berbentuk.
Rambut hitam dan tebal sepanjang bahu meluncur turun seperti air terjun, menjuntai dengan sedikit ikal di ujung.
“Nahh, begini kan bagus. Nggak apa-apa kalau nggak mau dandan. Senggaknya rambut kamu rapi, nggak kuwel-kuwel kayak tadi. Ayok cepetan, kita masuk!”
Zivara menegakkan bahunya saat dia berbicara, dan Maura nampak tidak senang, tetapi dia tidak melawan.
Keduanya masuk ke hotel, bersama-sama naik ke lantai sepuluh dengan lift, dan menarik pintu kamar pribadi di restauran yang sudah di pesan.
Begitu pintu dibuka, Maura melihat Jevan pada pandangan pertama, duduk di sudut, mengenakan kemeja denim biru diatas kaos putih polos dan kacamata berbingkai hitam.
Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat kepalanya dari gelas minuman yang ia pegang, tetapi ketika melihat siapa yang masuk, dia segera menariknya kembali.
Maura tidak pernah melihatnya selama lebih dari empat tahun, dalam ingatannyam dia sering mengenakan kaos superhero dan celana jeans, berdiri depan pagar rumah, dengan senyum cerah.
Jevan sangat jarang tersenyum, tatapi wajahnya yang tersenyum saat pertama kali mereka berkenalan, masih terekam dalam memorinya. Bahkan sampai sekarang.
Dalam sekali pandang, Maura sadar bagaimana perubahan wajah pria itu sekarang.
Murung dan sangat tertekan.
Hubungan cintanya, mungkin sudah menjadi sejarah yang menjadi kebanggaan Callya karena pria yang bucin sama dia, atau mungkin hanya bahan gosip dan tertawaan orang yang ngomongin kebodohannya.
Namun, untuk Maura itu hanya kesedihan yang susah untuk dikatakan.
“Eh, udah berapa lama kita semua nggak ketemu? Tujuh tahun ya kalau nggak salah, yang pacaran lama gimana tuh? Udah sebar undangan belum?”
Zivara segera menyindir Jevan untuk balas dendam karena dia tidak pernah mendengarkannya.
Zivara berbaur dengan semua orang, mendetingkan gelas, dan bersulang terus menerus dan berbicara tentang masa depan.
Maura makan dengan tenang dan tidak tertarik bergabung dengan keaktifan temannya. Dia hanya makan, minum, dan sesekali menanggapi saat ada yang mengajak ngobrol.
Sisanya, dia menjadi penonton yang lebih senang diabaikan.
Melihat sudut dengan santai, Jevan duduk sendirian, minum terus tanpa berhenti.
Mungkin dia akan segera mabuk sebelum acara ini berakhir.
Diam-diam Maura menghela napas, tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah makan dan minum, sekelompok orang ini keluar dari hotel. Belum puas bermain, ada yang mengusulkan pergi karaoke.
Zivara yang dikelilingi teman-teman sekelasnya nampak bersemangay, dia segera beranjak pergi, meninggalkan Maura tertinggal sendirian.
“Maura, naik mobilku aja yuk kalau kamu mau pergi.”
Seorang teman sekelas laki-laki yang melihatnya berhenti dan menawarkan tumpangan. Maura tertegun sejenak, lalu menggeleng.
“Aku langsung pulang. Kalau Zee nanya, bilangin ya aku udah pulang duluan.”
Dengan senyum sopan, pria muda yang barusan menawarkan jasanya itu mengangguk, dan setelah berjalan beberapa langkah dia berhenti untuk menatapnya. Mulut pria itu terbuka seakan mau bilang sesuatu, tetapi kemudian menelan lagi kata-kata yang sudah menggantung di ujung lidahnya.
“Oke, aku duluan ya.”
“Byee!” Maura melambaikan tangannya.
Langit nampak bersih setelah hujan berhenti. Maura berdiri dipinggir jalan, menunggu taksi yang akan menjemputnya. Wajahnya yang bersih terasa dingin diterpa angin malam.
Memindai pandangan sekeliling, dia melihat halte bus. Ketika mau pergi ke sana, langkah kakinya berhenti karena melihat sosok yang tidak stabil depan pintu masuk hotel.
Itu Jevan.
Dia berjalan sempoyongan ke samping tempat sampah, membungkuk, dan muntah.
Maura memandangnya dengan mata yang terlihat penuh kasih sayang dan juga sedih, dan akhirnya berjalan mendekatinya.
Ketika Jevan menegakkan punggungnya dan jatuh ke satu sisi, Maura mempercepat langkahnya dan mengulurkan tangan untuk menopangnya.
Ini adalah pertama kalinya dia begitu dekat dengan Jevan, tidak ada yang namanya mesra, dan hanya tercium bau alkohol yang menyengat.
Jevan tercengang ketika menamuka ada orang yang mau membantunya, dia menyipitkan matanya, menatap Maura lama, kemudian mendorongnya supaya menjauh menyebabkannya hampir jatuh.
Jevan berjalan sebanyak lima langkah, sebelum akhirnya jongkok, dan muntah.
Security yang berjaga depan pintu hotel menghampiri mereka dengan wajah gelap. Ketika mereka semakin mendekat, Maura menarik Jevan dan memaksanya untuk pergi dengan cepat.
“Ayo, ayo!”
Sebuah taksi berhenti di pinggir jalan, dan setelah memaksa Jevan masuk, Maura duduk di sebelahnya.
“Kemana kita, Kak?”
“Ke rumahnya!” Sahut Maura, dan sopir taksi hanya bilang ‘hah?’ dengan wajah bingung.
“Ahhh, maksudku ke alamat ini.” Maura menyebutkan alamat rumah Jevan tanpa ragu-ragu.
Sopir segera berangkat setelah menyalakan argo. Jevan ada di samping Maura memiringkan tubuhnya, dan meletakkan kepalanya di bahu gadis itu.
Sepanjang jalan dilalui Maura dengan jantung yang terus berlompatan.