9. Silly Woman

1077 Kata
Chapter 9 Idiot Woman Memasuki kamar Ryan dan memberikan perhatian kecil kepada Cloudy adalah kesalahan besar. Sangat besar hingga Rain tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa berkelit saat Cloudy menyuruhnya naik ke atas peraduan, hingga satu-satunya pilihan adalah mengejawantahkan perintah itu dan berbaring di samping Cloudy dengan perasaan jengkel yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Untunglah saat berganti pakaian mengenakan pakaian Ryan, ia sempat menyemprotkan parfum milik Ryan hingga membuat Rain terhindar dari perasaan gugup saat jaraknya dan Cloudy hanya terpisah kain yang melekat di tubuh mereka. Wanita yang sedang hamil tua itu memeluk Rain seperti seekor koala dan sial bagi Rain, ia tidak bisa memejamkan matanya meski kantuk menggelayuti dirinya. Aroma manis dari rambut Cloudy, gesekan lembut rambut wanita itu di lengannya membuat gairah kelelakiannya memohon untuk dipuaskan. Ia beberapa kali berusaha menjauhkan lengan Cloudy dari pinggangnya, tetapi lengan itu terlalu erat menempel di pinggangnya, tetapi lengan Cloudy seperti tentakel gurita dan sialnya ia tidak berani menyingkirkan dengan sungguh-sungguh karena khawatir Cloudy akan terbangun. Sesekali terlintas di otaknya untuk membuka paha Cloudy dan mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Cloudy. Tetapi, kewarasan Rain bekerja dengan baik atau mungkin malaikat di pundak kanannya yang menjaga akal Rain hingga mampu bertahan sampai malam bergulir berganti menjadi pagi. Pukul enam pagi, ia memindahkan lengan Cloudy dengan hati-hati kemudian turun dari tempat tidur lalu melangkah memasuki kamar mandi dan melepaskan seluruh pakaiannya kemudian berdiri di bawah shower mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Sepuluh menit kemudian Rain keluar dari kamar mandi dan kembali mengenakan pakaian milik Ryan. Saat ia melangkah keluar dari walk in closed, ia menjumpai Cloudy yang telah terjaga dari tidurnya. Wanita itu tersenyum ke arah Rain dan berucap, "Selamat pagi, Babe." Rain memaksakan senyumnya. "Bagaimana tidurmu?" Cloudy duduk kemudian menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk meregangkan otot lehernya. "Lumayan. Hanya saja aku tidak nyaman tidur mengenakan pakaian ini." Rain menyugar rambutnya yang masih setengah basah. "Katakan semua yang kau perlukan pada Bride, ia akan menyiapkan semua keperluanmu." Cloudy turun dari tempat tidur. "Bride telah menyiapkan keperluanku, tapi sebenarnya aku tidak ingin pakaian baru." Rain mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak?" "Karena itu pemborosan, lagi pula setelah aku melahirkan pakaian itu tidak akan bisa kukenakan lagi." Sandiwara yang bagus, pikir Rain dan yakin jika Cloudy menjerat Ryan dengan kesederhanaan dan kepolosan. Rain tersenyum. "Biar Gustav dan Bride yang mengambil semua keperluanmu di tempat tinggal kita." Cloudy melangkah menuju dinding yang terbuat dari kaca lalu menarik tirainya, ia mengangkat kedua lengannya dan menggeliat kemudahan berkata, "Pemandangan yang indah dari sini." "Ya," gumam Rain seraya matanya tidak sengaja menangkap pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat. Saat Cloudy menggeliat dengan tangan mengarah ke atas, piama yang dikenakannya terangkat hingga menampakkan bokongnya yang terlihat bulat, sintal, dan berisi. Cloudy mengenakan celana dalam yang sangat minim kain hingga menampakkan nyaris seluruh bentuk bokongnya. Sialan. Rain menekan pelipisnya. Ia telah semalaman berjuang melawan hasratnya untuk tidak berbuat apa-apa pada Cloudy dan sekarang Cloudy justru memulainya lagi. Rain berdehem. "Aku akan memeriksa sarapan kita, kau bersihkan tubuhmu terlebih dulu. Aku menunggumu di meja makan." Cloudy berbalik dan mendekati Rain. "Kau belum memberikan aku kecupan selamat pagi, Babe." Bagus. Kecupan selamat pagi mungkin akan berujung dengan ia mendorong Cloudy di atas tempat tidur dan sandiwaranya berakhir. Ia tidak tahu seperti apa gaya Ryan di atas tempat tidur, apakah sedikit kasar dan mendominasi seperti dirinya? Atau tipe romantis? Rain tersenyum demi sandiwaranya kemudian membungkuk memberikan pipinya kepada Cloudy. "Aku lebih senang jika kau yang menciumku." Cloudy menyeringai. "Kau sepertinya berubah selera, Babe?" tanyanya kemudian mendaratkan kecupan di pipi Rain. "Kau harus pergi bekerja dan aku juga ada pertemuan pagi. Jika aku menciumimu pagi ini...." Ia menatap bibir Cloudy yang terlihat penuh dan berisi. Sial, bibir itu mengundang gairah. "Kau tahu yang akan terjadi." Cloudy menjilat bibirnya. "Tentu saja. Baiklah, aku akan menyusulmu di meja makan." Tiga puluh menit kemudian Cloudy dan Rain berada di meja makan. Seperti kebiasaan Cloudy, ia duduk di samping Ryan dan mengoleskan selai ke roti untuk suaminya. Ia juga menuangkan kopi untuk Rain kemudian berceloteh menceritakan betapa menyenangkannya pekerjaannya, bagaimana ia mengungkap kasus kejahatan atau kematian melalui jejak yang ditinggalkan pelaku kejahatan. Sementara Rain dengan tenang mendengarkan semua celotehan Cloudy sambil di dalam benaknya ia mencibir. Cloudy dapat mengungkap kasus kejahatan dan kematian, tetapi Rain yakin jika wanita itu cukup bodoh untuk mengenali siapa pria yang sedang duduk di sampingnya. Rain tersenyum geli memikirkan betapa mudahnya Cloudy diperdaya hingga ketegangan dan ketakutan kedoknya terungkap perlahan menguap. Ia diam-diam menggelengkan kepalanya dan mulai menganggap Cloudy memang hanya seorang wanita i***t yang kebetulan bisa lulus dari perguruan tinggi kemudian bekerja sebagai ahli forensik di kantor polisi. Atau mungkin juga semua celotehan Cloudy hanya sebuah bualan, Cloudy bisa saja mendapatkan ijazah dan pekerjaan menggunakan cara kotor. Misalnya dengan menyuap atau menggunakan tubuhnya kepada atasan. "Mulai sekarang Gustav akan mengurusmu, kau tidak perlu menyetir sendiri," ucap Rain saat roti di piring mereka habis. Cloudy mengerutkan keningnya. "Kenapa harus Gustav?" Sejujurnya Rain juga tidak memiliki alasan tepat untuk menjawab pertanyaan Cloudy. "Apa kau ingin mengganti sopirmu?" Cloudy memutar matanya. "Apa pekerjaanmu sangat banyak hingga kau tidak bisa mengantar dan menjemputku bekerja?" Kau pikir aku ini babby sitter-mu? Dan... bagaimana bisa Ryan bertahan hidup dengan wanita manja ini? "Sayang," ucap Rain dengan nada jengkel yang ia samarkan menjadi rendah dan lembut. "Aku sudah mengatakan pagi ini aku ada pertemuan. Tapi, sore ini aku akan usahakan untuk menjemputmu dari tempat kerja." Cloudy cemberut. "Janji?" Rain mengangguk dan tersenyum manis. "Ya." Untunglah Cloudy menurut dan Rain segera memanggil Robert, meminta Robert menyiapkan satu wanita pagi itu untuk memenuhi hasratnya. *** "Cloud!" sapa Axel yang baru saja menutup pintu mobilnya kemudian menyusul langkah Cloudy. Cloudy menghentikan langkahnya. "Hai, Axel. Selamat pagi." "Ya. Pagi yang cerah dan kuharap kau telah menyelesaikan dokumen yang diminta Detektif Laurent kemarin." Cloudy ternganga. "Ya Tuhan!" Mata Cloudy mencari-cari mobilnya dikemudian Gustav dan ia tidak menemukannya, juga ia tidak memiliki nomor telepon sopir barunya. "Axel, bisa dipinjam kunci mobilmu?" Axel mengerutkan keningnya. "Jangan katakan kau melupakan dokumennya." "Kau benar, aku harus kembali ke rumah." Axel menggelengkan kepalanya. "Biar aku antar kau mengambil dokumen." Sepertinya itu memang lebih baik, Axel dapat mengemudikan mobil lebih cepat darinya untuk menghemat waktu. Namun, saat ia mendorong pintu kamar suaminya, ia merasakan jika dunia mungkin berhenti berputar kemudian planet saling bertabrakan dan tata surya berakhir. Seorang wanita sedang berlutut di depan Ryan yang bertelanjang, mulut wanita itu terisi penuh, sedangkan pria yang ia kira suaminya terlihat sangat menikmati servis yang wanita itu berikan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN