BAB SATU

1024 Kata
"Jauhi Rendi! Tante akan sangat senang jika kamu melakukannya." "Tapi kenapa, Mi? Dira punya salah apa?" Tanpa angin dan tanpa hujan, maminya Mas Rendi begitu panggilan yang pernah dia minta), menyuruhku untuk menjauhi putranya. Ternyata ini alasan dia memintaku datang. "Mulai hari ini, jangan panggil aku mami lagi." "Tapi kenapa mendadak seperti ini?" Ruang tamu terasa panas, padahal AC-nya menyala. "Sebenarnya Tante sudah memikirkan ini sejak lama. Kamu dan Rendi sekarang jauh berbeda, kalian tidak cocok bersama. Masa seorang PNS dekat dengan tukang taman. Apa kata orang nanti?" Penjelasan dari Tante Lilis atau maminya Mas Rendi membuatku terdiam. Biasanya dia selalu menyambutku ramah. Perubahan sikapnya terjadi setelah Mas Rendi resmi diangkat menjadi PNS, dua bulan yang lalu. Namun, yang paling ekstrim baru terjadi sekarang. Padahal aku selalu mensupport apapun kegiatan Mas Rendi untuk menjadi seorang PNS. Gajiku sebagai tukang rawat taman kota habis untuknya. "Kita akan menikah setelah aku resmi jadi PNS," janji Mas Rendi kala itu. Manis sekali bukan? Nyatanya ucapan dari Tante Lilis baru saja mengoyak segala harapan yang selama ini kubangun. "Malah bengong, sana pulang! Heran aku, Rendi kok dulu suka sama kamu. Diajakin ngomong bengong terus," tegur Tante Lilis membuat lamunanku buyar. "Saya diusir, Tante?" "Sebentar lagi calonnya Rendi datang. Kamu pulang saja sana!" Tante Lilis mengibaskan tangan, seolah aku ini barang yang menjijikkan baginya. Baru saja kaki melangkah keluar dari pintu, Tante Lilis bergegas menutup. Aku sampai menoleh ke belakang, berharap semua ini hanya prank dan sebentar lagi dia akan membuka pintu kembali sambil bercanda. Sayang, harapan tinggal harapan. Sampai aku tiba di luar pagar rumah, pintu itu masih tertutup rapat. Kepalaku tidak bisa mencerna atas apa yang terjadi, semua begitu mendadak. Pengusiran Tante Lilis adalah salah satu hal yang tidak bisa kumengerti. Kenapa dia sampai setega itu? Tidak ingatkah dia dengan jatah gaji yang setiap bulan kuberikan? Jadi selain menjadi tukang taman, aku juga jualan online lewat live aplikasi. Sehingga gaji sebulan kuberikan untuk Tante Lilis. Dia meminta secara khusus waktu kami masih akrab dulu. Untuk biaya sehari-hari, aku menyambung hidup dari hasil jualan online. Mas Rendi tidak kuberitahu tentang kerja sampingan ini karena dilarang keras oleh Santi, teman sekamarku. Kami memang jualan berdua, jadi aku segan untuk mengotak-atik penghasilan. ... Rintik air hujan seolah turut merasakan kepedihan di hati. Air mata berjatuhan di pipi seakan berlomba dengan tetesan hujan dari langit. Rasanya sesak sekali, aku menangis tersedu-sedu untuk meluapkan emosi yang terpendam dalam d**a. "Kamu jangan terlalu percaya dengan Rendi." "Gajimu jangan diserahkan semua kepada Rendi." Dengungan peringatan dari teman kerja mulai terdengar lagi. Selama ini aku tidak pernah menggubris kata-kata itu. Bagiku mereka hanya iri dengan hubungan kami. Sepuluh tahun hubunganku dan Mas Rendi jarang sekali terjadi pertengkaran. Dia terlalu mengerti dan selalu mengalah jika aku sedang marah. Sekarang mereka pasti tertawa puas dan mengejek jika melihat kondisiku sekarang. Seorang diri berjalan di trotoar diiringi hujan lebat, setelah diusir oleh calon mertua. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan. Suara kendaraan lalu lalang tidak kuhiraukan, hati ini terasa sepi. Untung saja iman masih tertanam dalam d**a, jadi saat ada bisikan menyuruh untuk berbuat hal konyol, aku masih bisa menahan. "Ya Allah, Dira! Kenapa kamu basah kuyup begini?"celetuk Santi saat membuka pintu kost. Ternyata meski pikiran sedang kacau, badan ini sampai juga dengan selamat. Aku enggan menanggapi pertanyaan Santi dan memilih untuk mencari baju ganti serta perlengkapan mandi. "Dir," panggil Santi lagi. "Nanti saja ceritanya, aku mandi dulu," pamitku tanpa menoleh kembali. Kamar kost ini disewakan dengan harga murah, hanya saja kamar mandi terletak di luar. Bagiku yang penting bisa tidur nyaman dan air bersih sudah cukup. Guyuran air terasa menyejukkan kepala dan membuat kenangan masa indah bersama Mas Rendi kembali terngiang. Tak pelak, air mata tanpa permisi mulai bercucuran. Aku duduk di lantai dengan kepala menelungkup, berusaha mengusir bayangan tersebut tetapi tidak bisa. Kenapa harus sesakit ini? Gedoran pintu kamar mandi membuatku terlonjak kaget. Aku kembali berdiri dan meneruskan ritual mandi yang tertunda. "Dira!" Suara Santi terdengar dari luar. "Iya." Seketika aku menghentikan pergerakan, untung saja telah selesai. Tidak lama aku membuka pintu dan mendapati Dira masih berdiri di depan kamar mandi. "Lama banget mandinya, bikin takut aja," celetuk Santi. "Elaah, baru sebentar," jawabku sambil bersungut. "Sebentar apanya, udah setengah jam tuh," sahut Santi lagi. Tidak ingin berdebat, aku memilih untuk kembali ke kamar. Rupanya gadis itu mengikuti dari belakang. Kupikir tadi dia mau buang air kecil makanya sampai menggedor pintu kamar mandi. "Sekarang cerita sama aku. Kenapa sampai kamu basah kuyup begini?" todong Santi setelah kami berada dalam kamar. Aku menghela napas dalam sebelum menjawab. Dia pasti akan menertawakanku setelah mendengar semuanya. "Dir," panggil sahabatku itu tidak sabar. "Kamu gak lihat di luar hujan tadi? Sekarang sih udah reda," kilahku. "Oke, terserah kamu kalau gak mau cerita. Aku mau istirahat," pungkas Santi. Setidaknya kali ini aku selamat dari interograsi sahabat yang bawel. Mas Rendi tidak pernah secerewet dia, lelakiku itu lebih kalem. Jika aku tidak ingin cerita, dia akan diam saja. Perasaan sesak itu kembali datang saat mengingat kembali kebiasaannya. Kami baik-baik saja selama ini, tapi kenapa Tante Lilis malah ingin kami berpisah? Jika memang sedari awal tidak merestui, kenapa tidak dari dulu? Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, bagaimana bisa tiba-tiba pisah? Kepala rasanya sakit, seperti ada yang menghantam dengan kekuatan besar. Berapa kali aku mengecek pesan untuk Mas Rendi dan belum terbaca juga sampai sekarang. Bahkan nomernya tidak aktif, ke mana dia? [Mas, tadi mami kamu memintaku untuk menjauh darimu. Bagaimana ini? Kenapa mami tiba-tiba ingin memisahkan kita?] [Mas, kamu di mana?] [Mas?] Rentetan pesan terus kukirimkan ke nomer Mas Rendi meski selalu centang satu. Sebuah pesan bergambar tiba-tiba datang dari teman kerjaku, Fitri. Aku segera membuka untuk mengetahui apa yang dia kirim. [ Ini Rendi bukan sih?] Di bawahnya ada foto seorang lelaki yang posturnya mirip dengan Mas Rendi bersama dengan seorang wanita di sebuah toko perbelanjaan. Secara logika, aku tahu kemiripan lelaki itu hampir seratus persen dengan Mas Rendi tapi hati ini selalu menolak. [Bukan, Fit. Dia lagi di sini sama aku.] Balasku dengan air mata menetes. "Memang sakit mencoba untuk baik-baik saja, padahal lagi nyesek luar biasa," celetuk Santi yang ternyata ikut membaca pesan dari Fitri. Mas Rendi, benarkah kamu dalam foto itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN