“Buat dia mengerti kalau kau mencintainya. Buat dia percaya kalau kau selalu memilihnya. Selama dia masih menunggu untuk diyakinkan olehmu. Mungkin akan datang masa ketika kau berteriak untuk membuatnya memahami apa yang kau rasakan, tapi dia tidak mampu lagi mendengarmu. Karena waktu itu kejam dan tidak memiliki nurani” (Kichi Ang) # Arruna menatap Mahendra yang tertidur. Wajah pria itu yang sangat mirip dengan putranya, bulu matanya yang lentik seperti perempuan, dan juga….. “Belum tidur?” Arruna tersentak saat Mahendra perlahan membuka matanya dan menatapnya. Rona merah perlahan muncul di pipinya dan ia berbalik agar suaminya tidak sampai melihat hal itu atau ia akan menjadi canggung setiap kali bertemu pandang dengan suaminya sendiri. “Hanya….terbangun tiba-tiba.” Arruna berus

