# Saat Arruna kembali tersadar, ia berusaha bergerak namun seseoang menahannya. “Jangan bergerak bodoh, kau mau membuat luka di bahumu robek lagi?!” Tangan Syeni menghalangi Arruna yang hendak bangkit berdiri. “A…anakku…apa aku…” Arruna tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi, matanya berlinang air mata. “Kau masih mengandung, jangan khawatir. Dasar bodoh! Apa gunanya anak itu hidup kalau kau sampai mati, kau dan anak itu pasti mati juga…kenapa kau tidak pernah berpikir panjang dahulu sebelum mengambil keputusan hiks…hiks….” Air mata Syeni tidak terbendung lagi. Ia marah, kecewa, kesal tapi juga ketakutan setelah berkali-kali hampir kehilangan adiknya. Arruna menarik napas lega. Ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri kalau ia sampai kehilangan anak dalam kandungannya. Lalu

