Kemunculan Yumiro

1723 Kata
Darchen dengan wajah penasaran mencoba mengulangkan sendok tersebut ke dalam mulutnya. Dari tekstur masakannya yang tentunya berbeda membuatnya semakin penasaran. Pikirannya dipaksa meyakini kalau Celine berasal dari dunia lain. Betapa tidak? Tidak pernah sekalipun orang lain memasakkan makanan seperti yang disajikan oleh Celine itu. Tentu saja hal tersebut menjadi faktor penting dalam menumbuhkan rasa percayanya dengan dunia lain. Dunia dimana Celine berasal. "Tidak enak, jangan pernah memasak lagi" nilai Darchen berbohong. Padahal ia sebenarnya sangat menyukai masakan Celine, namun ia tidak ingin mengakui pada wanita itu. Ia teramat sulit untuk memuji wanita itu, sebab perilakunya yang berlebihan membuat Darchen kadang merasa risih, walau kadang kala ia juga senang melihat tingkah Celine yang terlampau berlebihan itu. "Ya sudah, jangan dimakan, buang saja kalau tidak suka," rungut Celine dengan muka kecewa. Ia mengira akan mendapatkan pujian dari mulut tajam pria dingin tersebut, ternyata ia malah dihina begitu. Hatinya sangat tertusuk dan hendak berhenti memasakkan apapun pada orang lain. Tidak ada yang pernah mengatakan masakannya tidak enak, dam sekarang Darchen yang ceplas-ceplos, langsung mengungkapkan penilaiannya tanpa memikirkan perasaan Celine. Hingga Celine mengira kalau semua orang telah berbohong tentang masakannya yang enak. Celine mengira kalau orang lain hanya berpura-pura menyukai masakannya hanya demi menjaga perasaan Celine saja. Mereka tidak benar-benar menyukai masakan dari tangannya itu. Baik Lyn, Paman Sam, Genah, bahkan Joel yang masih kecil, ia mengira mereka semua hanya menghargai saja, tidak benar-benar menyukai. Celine berjalan menuju tungku masaknya lalu mengangkat kuali tempat ia memasak bubur ayam tersebut. Ia hendak membuang semua masakan yang telah susah payah ia resep. Ia dengan hati yang murung meniatkan diri untuk tidak memasak lagi. "Apa yang kau lakukan?" tanya Darchen sekalian menghentikan tangan Celine. "Aku mau buang, kau bilang rasanya tidak enak. Jadi lebih baik kubuang saja," jawab Celine dengan nada lemah merengut. "Aku menyukainya, jangan dibuang," pinta Darchen dengan mata tidak sudi jujur. Ia masih berat hati untuk memuji wanita yang cepat sekali sakit hati itu. "Ehm? Kau berbohong, kan? Semua orang berpura-pura suka dengan masakanku, padahal nyatanya mereka tidak suka," renung Celine dengan muka merasa bersalah. Darchen dengan inisiatif sendiri, mengambil kuali di tangan Celine lalu meletakkannya di atas tungku. Ia mengambil mengkuk kosong lalu mengisinya dengan bubur tersebut. Ia meletakkan sendok di atasnya lalu menyajikannya di meja. Ia menarik tangan Celine dan menyuruhnya duduk di depan kursi tempat ia sebelumnya agar makan bersama. "Aku tidak pernah makan bersama orang lain, sudah sejak lama," ucap Darchen tanpa menatap wajah Celine sama sekali. Ia terus menyulangkan sendok makan ke mulutnya. "Benarkah? Bukankah keluarga kerajaan sering mengajakmu untuk makan bersama setiap malam? Kenapa tidak datang?" tanya Celine kebingungan. "Aku tidak menyukai keramaian," jawabnya singkat. "Oh begitu, aku malahan tidak suka sepi. Karena aku tidak bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Bahkan hal sepele sekalipun, aku membutuhkan orang lain," curah Celine tentang isi harinya. Darchen tampak tidak tergugah oleh cerita Celine. Ia tetap lanjut memakan bubur tersebut. "Sepertinya aku juga tidak akan bisa kembali ke duniaku. Meskipun aku sangat ingin, aku kesepian di sini. Tidak ada satu orang pun menemaniku. Seandainya aku bisa pulang," celetuk Celine berandai-andai. Seketika tangan Darchen berhenti mengayuh. Ia menatap Celine dengan muka tidak suka. Ia membalikkan sendoknya pertanda sudah selesai makan. "Kau sudah kenyang?" tanya Celine. "Hmmm," jawab Darchen singkat. Entah mengapa ketika Celine membahas tentang kepulangannya, Darchen merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Ia merasa kecewa mendengar kalimat tersebut. Ia tidak suka jika wanita itu pergi. Jika benar kalau ada dunia lain selain Dunia Athiam, dia akan menutup jalan pulang wanita tersebut agar ia terus bisa tetap bersama dengan Celine. Tidak pernah ada orang lain yang bisa memasuki hidupnya. Semua wanita yang mendekati dirinya selalu ia tolak. Tidak satu pun diizinkannya masuk ke dalam hidupnya. Namun, Celine, wanita yang tanpa disengaja datang dan tanpa seizinnya masuk ke dalam kehidupannya, harus pergi karena dunia yang berbeda. Sudah cukup lama dia tidak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga setelah pertengkarannya dengan ibunya, kini ia kembali merasakannya. Namun ternyata kehangatan tersebut hanyalah sementara, datang lalu menghilang. Tidak akan dibiarkannya orang yang masuk ke kehidupannya pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab. Ia akan menahan Celine bagaimanapun caranya. Ia tidak akan kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Ibunya, wanita yang paling ia sayangi telah ia tinggalkan karena masa lalu, kini ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang merubah sikapnya itu. Ia tidak akan kehilangan kehangatan lagi. "Kenapa lagi dengannya?" tanya Celine sambil memegang dagunya. Tidak beberapa lama terdengar suara keras dari dalam hutan, seperti sebuah pertarungan. Celine yang penasaran dengan kejadian di luar sana, berlari sekencang mungkin. Sangking cepatnya, sampai-sampai kakinya tersandung kaki kursi. Namun ia menahannya dengan menyepakkan kakinya berulang untuk meminimalisir rasa sakit. Ia terus berlari meski jari kakinya masih berdenyut-denyut karena tidak sengaja terantuk kaki kursi. Darchen pertama kali mendengar suara pertarungan itu, langsung mengingat Celine. Ia langsung turun ke bawah untuk menahan Celine, ia hendak mencegat Celine agar tidak membuka pintu dan keluar dari segel yang dibuat oleh Darchen. Namun ia terlambat, Celine sudah membuka gagang pintu dan keluar dari segel yang ia buat sebagai temeng. Sementara Celine yang masih penasaran dan tidak tahu-menahu soal keadaan di luar, tetap melangkah untuk mengecek kondisi di dalam hutan. Matanya langsung dihadapkan dengan mahluk aneh berperawakan seram. Mereka bermacam-macam bentuknya. Berakaki manusia tapi berwajah hewan. Sangat mengerikan sampai air mata keluar dengan sendirinya. Tubuh langsung gemetar saat melihat mahluk aneh itu. Makhluk-makhluk aneh itu terlihat sedang memakan seorang manusia dengan buas. Mereka mencabik-cabik manusia itu hidup-hidup lalu memakannya dengan buas. Celine yang belum pernah sama sekali melihat kejadian itu mual karenanya. Ia kaku seketika tidak dapat mempercayai apa yang ia lihat. Kakinya hendak berlari tapi batinnya masih shock. Ia begitu ketakutan. Ia mundur secara perlahan agar tidak mengundang perhatian makhluk-makhluk aneh itu. Dia tidak ingin menjadi santapan dari mereka. Ia masih ingin tetap hidup dan kembali pulang ke dunianya. Ia perlahan melangkah dengan hati-hati, selangkah demi selangkah. Namun, karena tidak terlalu memperhatikan perpijakannya, Celine menginjak ranting pohon kecil. Suara injakannya menyadarkan para mahluk aneh itu tentang keberadaannya. Seketika mata makhluk mengerikan itu tertuju padanya. Mereka menyadari keberadaan Celine. Dengan penuh gairah para mahluk aneh itu berjalan mendekati Celine sambil mengeluarkan air liur bercampur darah manusia tadi. Mereka begitu menjijikkan. Aroma yang dikeluarkan oleh makhluk itu sangatlah busuk, sampai Celine mual karena bau mereka. "Tidak … jangan makan aku," ucap Celine gemetar. Ia perlahan mundur dan mencari cara untuk kabur dari bidikan mata makhluk menjijikkan tersebut. Sudah tidak tahan lagi menatap keburukan rupa makhluk itu, Celine memberanikan diri berlari menuju kastil berharap agar dapat terlindungi di dalam. Sayangnya, makhluk itu berubah menjadi agresif saat Celine berlari. Mereka melompat ke arah Celine dan mencoba memangsa Celine. "Ahh!" Teriak Celine ketakutan. Ia menutup tubuhnya dengan tangannya. Tidak sempat dia sampai di dalam kastil. Akhirnya ia pasrah. Ia hanya bisa berharap jika mati di dunia Athiam, dia bisa kembali ke dunia nyata, dan hidup dengan normal, seperti sedia kala. Cipratan darah melumuri tubuh Celine. Ia masih dapat melihat terik matahari. Tentu saja ia masih hidup. Ia memeriksa tubuhnya entah masih utuh. Ternyata tidak ada satu pun yang berkurang. Lalu dari mana asal darah yang berlimpah di tubuhnya? "Apa kau bisa berdiri?" "Darchen?" Celine mencoba berdiri, bangkit dari ketidakberdayaannya. Namun kakinya terlalu lemas, tidak bisa bergerak. Belum lagi karena denyutan jari akibat terantuk bangku tadi, membuat Celine semakin susah untuk bangkit. "Sepertinya aku butuh pertolongan," ungkap Celine sambil memaksa kakinya agar bisa berdiri. "Apakah kau terlalu bodoh sampai berdiri pun tidak bisa?" rungut Darchen. Pangeran dingin itu lalu mengangkat tubuh Celine dan meletakkannya di atas pundaknya. Kedua ia membawa Celine ke kamar mandi dan menyuruhnya untuk membersihkan diri dari darah makhluk tadi. "Darchen, apa tadi itu? Sangat mengerikan, apakah itu hantu? Tapi aku bisa melihatnya, kau juga melihatnya, itu artinya makhluk tadi bukanlah hantu," tanya Celine sekaligus menyimpulkan dan memberikan pendapatnya. Darchen tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Celine. Ia terus membersihkan dirinya dari darah yang begitu amis itu, dan tidak memperdulikan pertanyaan Celine. "Di duniaku tidak ada makhluk seperti itu, kalaupun ada, hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, kami menyebut orang spesial tersebut dengan sebutan Indigo. Hmmm, atau makhluk tadi adalah monster?! Tidak mungkin, monster hanyalah sebuah mitologi, tidak mungkin benar adanya," ucap Celine panjang lebar. Ia terus memikirkan makhluk tadi dan mengaitkannya dengan makhluk lain. Tidak pernah sekalipun ia melihat monster-monster dengan mata telanjang seperti itu. Selain di dalam film, ia tidak pernah melihat makhluk mengerikan seperti yang tadi itu. "Tadi itu Yumiro, mereka adalah makhluk dari kebencian dan kerakusan manusia. Mereka tercipta begitu saja dan tidak akan pernah habis jika manusia tetap memiliki sifat benci dan rakus," jelas Darchen mendetail. "Yumiro? Tidak ada bedanya dengan monster. Ihhh, sungguh mengerikan. Aku hampir dimakan oleh mereka," decak Celine kesal. "Oh ya, kenapa sebelumnya mereka tidak pernah muncul? Kenapa baru sekarang? Sudah lama aku tinggal di dunia ini, tapi tidak pernah melihat monster jelek itu," sambung Celine mengumpat. "Kerajaan Athiam ini memiliki segel agar Yumiro tidak bisa masuk ke dalamnya. Namun setiap bulan akan luntur, hingga Yumiro bisa masuk dengan leluasa," terang Darchen. "Apakah sekarang monster itu berkeliaran di sini? Oh my gosh, bagaimana dengan nasibku saat bertemu dengan mereka nanti? Aku tidak punya sihir sepertimu? Argh! Aku ingin pulang!" rengek Celine ketakutan sambil membayangkan betapa terancamnya hidup di dunia aneh tersebut. "Berisik," decak Darchen. Ia pergi begitu saja mendengar umpatan Celine. Ditambah lagi ia merengek minta pulang, membuat Darchen semakin tidak bisa berlama-lama. "Hey! Darchen! Kenapa darahnya tidak bisa menghilang! Huaaa!" Celine meraung-raung ketakutan karena darah yang menempel di tubuhnya. Dari tadi ia sudah menggosok-gosok darah Yumiro tersebut tapi tidak bisa. Darahnya tetap menempel meski telah ia lap dengan kuat. Celine keluar dari kamar mandi dan mencoba menunjukkan pada Darchen. "Tidak bisa hilang, Darchen," kata Celine mengadu. "Menyusahkan," decak Darchen sambil menghela nafas. Darchen masuk ke dalam kamar mandi lagi, diikuti oleh Celine dari belakangnya. Pangeran itu meraih tangan Celine yang terdapat bercak darah. Lalu ia mengambil air di telapak tangannya, kemudian mengusapkannya ke daerah yang terdapat darah Yumiro. "Ternyata bisa hilang!" Dengan riang Celine menatap Darchen sambil tersenyum. Ia senang karena darah yang permanen di tubuhnya bisa hilang. Darchen terpanah dengan ketulusan senyuman yang dilemparkan Celine kepadanya. Hatinya sedikit tergerak, seperti ada sesuatu yang membuatnya resah. Tidak pernah ia alami sebelumnya, hingga ia tidak tahu tentang perasaan yang sedang ia alami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN