Mata Celine memerah, menandakan api kemarahan telah diujung batas. Dia tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak mencabik-cabik wanita itu, Erica.
Tiba-tiba pembuluh darah baru muncul di tengkuk leher Celine. Urat kepalanya timbul dan kasat. Matanya berubah seperti pupil reptilia.
Bukan hanya fisiknya saja yang mengalami perubahan. Namun aura yang dikeluarkan oleh Celine sangat mencekam. Teruntuk saat melam bulan sedang sunyi. Rembulan yang sempurna itu menambahkan cekikan langsung.
Karena ingin hati Celine berniat untuk membalas wanita itu, tanpa kendali tangannya bergerak sendiri. Dia mencekik leher Erica lalu mengangkat tubuhnya. Kemudian dia menghempaskan tubuh wanita itu dengan keras. Sampai Erica terlempar ke pembatas jembatan itu.
Erica menjerit kesakitan. Dia tidak bisa bangkit lagi akibat hempasan yang terlalu keras. Dia tidak menyangka kalau Celine berani melakukannya di depan Darchen. Dia pun tidak mengira kalau Celine memiliki kekuatan yang sangat besar.
"Auch …," rintih Erica kesakitan. Dia mencoba berdiri tapi tidak kuat lagi. Tulangnya seakan remuk.
"Celine!" senggak Darchen.
Darchen langsung membantu Erica bangkit. Dia menyandarkan tubuh wanita itu agar bisa diberikannya sedikit tenaga dari magis yang ia miliki.
"Sakit sekali, Pangeran," rintih Genah mengadu.
"Kenapa kau kasar sekali!" senggak Darchen lagi.
"Aku hanya membela diri!" tegas Celine. Dia mengepal tangannya untuk mempertahankan kebenaran yang ada, bahwa dirinya hanyalah sebatas membalas Genah. Hanya saja tiba-tiba saja tangannya kuat seketika. Dia bahkan tidak menyadari apa yang dia lakukan.
"Jika terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan mengampunimu!" murka Darchen. Dia tidak menyangka kalau Celine akan setega itu pada Erica. Padahal dia tahu kalau Erica memiliki fisik yang lemah. Sihir dalam diri Erica terlalu besar sehingga tubuhnya tidak dapat menampung semua. Hingga akhirnya dia menjadi lemah dan tidak dapat mengontrol kekuatan. Bisa dikatakan dia adalah orang yang cacat.
"Kenapa kau malah membela dia? Bukankah … bukankah dia yang lebih dulu menamparku? Kenapa kau membela dia … kenapa?!" tanya Celine dengan penuh kekecewaan. Dia tidak menyangka kalau Darchen menyalahkan segalanya pada Celine.
Darchen mengangkat tubuh Erica yang lemah itu lalu membawanya ke istana untuk diberikan pada tabib istana agar segera mengatasi luka pada Erica. Celine tidak menyangka kalau Darchen akan meninggalkan dirinya di sana sendiri dengan kondisi tubuh yang sedang tidak terkontrol. Sedikit pun pria itu tidak mengucapkan selamat tinggal padanya. Padahal baru saja dia memperhatikan Celine dengan sangat. Namun lagi-lagi dia terhempas oleh realita.
"Jika kau melangkah dari sana, jangan pernah mencariku lagi! Jangan pernah mengingatku lagi! Selamanya!" teriak Celine dengan pita suara yang membengkak.
Namun Darchen tetap tidak mendengarkan perkataan Celine. Dia membawa Erica pergi dari sana. Sebab dia khawatir kalau terjadi apa-apa pada wanita itu. Jika sudah terkena sihir Celine, hanya kemungkinan kecil bisa sembuh total, itupun berlaku untuk orang yang memiliki magis. Sementara Erica adalah manusia biasa, bahkan bisa dibilang lebih lemah daripada orang pada umumnya. Tentu saja akan sangat berbahaya baginya. Darchen juga merasakan kalau aura negatif dari tubuh Celine telah menarik paksa energi dalam tubuh Erica. Hingga tubuh wanita itu melemah.
Sementara Celine yang hancur sejadi-jadinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia menatap ke arah aliran sungai sambil melihat pantulan cahaya rembulan dari sana. Tanpa sadar dia juga melihat wajahnya. Begitu buruk hingga dirinya tidak bisa menerima segalanya.
Dia menjamah wajahnya sambil menitikkan air mata kesedihan. Dia mengambil kerikil yang berada di dasar sungai, lalu melemparkannya ke sungai dimana wajahnya terbayang.
"Argh! Aku benar-benar capek sekarang!" ucapnya kesal dengan takdir yang begitu membingungkan.
Setelah beberapa merenung di dasar kolam, Alan datang entah darimana pun dia mengetahui keberadaan Celine.
Dia kemudian duduk di samping Celine sambil menatap ke arah rembulan. "Bulan yang cantik," puji Alan.
"Kenapa kau bisa tahu aku di sini?" tanya Celine sambil menghapus air matanya untuk menutupi kesedihannya.
"Anggap saja kebetulan," jawab Alan.
"Lebih baik kau jangan mendekatiku untuk sekarang," ucap Celine mengingatkan. Dia takut kalau dirinya tanpa sengaja melukai Alan.
Alan menyentuh wajah Celine, lalu menatap dengan seksama urat-urat yang timbul di keningnya. "Aku menyukainya," puji Alan berniat menghibur Celine yang tengah hancur.
"Jangan melihatnya," perintah Celine dengan muka cemberut lalu menutup bagian urat-urat itu dari Alan. Dia tidak ingin orang lain merasa terganggu dengan pemandangan dari wajahnya yang buruk.
"Aku suka," jawab Alan.
Dia menepiskan rambut yang menutupi sebelah wajah Celine, lalu kemudian dikaitkannya ke telinga Celine. Dia mencoba membuat wanita itu percaya diri dan tidak terus-terusan menyalahkan takdir. Sebab segalanya telah diatur sedemikian rupa sehingga manusia beserta yang ada di dalamnya hanya perlu menjalankan.
"Kau berbohong, aku tentu saja mengerikan," tuduh Celine. Dia tidak percaya ada orang yang menyukai orang yang buruk rupanya. Urat-urat itu begitu menghancurkan wajahnya sebab bentuknya yang mengerikan. Bahkan Darchen sampai tidak menghiraukannya karena urat yang bermunculan itu. Dia membenci segalanya yang telah diberikan Darchen.
"Terserah, aku menyukainya," pungkas Alan.
"Hahaha … terima kasih sudah berbohong," serang Celine dengan tawa lebar. Dia berdiri kemudian dari duduknya lalu menarik tangan Alan agar ikut berdiri.
"Ada apa?" tanya Alan keheranan. Dia menatap genggaman tangan Celine kemudian.
"Ayo, kita pulang! Joel dimana?" Seolah Celine sedang baik-baik saja. Dengan senyum lebar ia menutup segala kesedihan yang dia derita. Meski hatinya sedang sakit, dia tetap tersenyum. Sebab dia tahu, kalau sebenarnya cinta hanya membuatnya bodoh.
Dalam benak Alan sedikit tersenyum. Dia merasakan hangat dari Celine. Baik cara Celine mengajak dia pulang, dan cara dia menanyakan Joel, bagai seorang istri dan ibu kandung saja.
"Dia ada di kereta," jawab Alan sambil berdiri.
Matanya yang belum lepas dari tangan Celine, membuat wanita itu merasa bersalah karena lancang menyentuhnya.
"Maafkan aku," ucap Celine, lalu melepaskan tangannya yang sedang menarik tangan Alan. Sedikit pun dia tidak berpikir demikian, dia hanya menganggap Alan sebagai teman saja. Lalu ia memperlakukan Alan sesuai dengan caranya berteman.
"Tidak masalah," balas Alan.
Mereka akhirnya berjalan menuju kereta untuk kembali ke kediamannya. Dia tidak tahu kalau keputusannya kali ini benar atau salah. Hanya saja keadaan memaksa dirinya untuk segera meninggalkan tempat megah itu beserta dengan isinya. Di lain waktu dia akan meminta izin pada Ratu Sibenth atas segala kebaikannya.
Sesampainya di depan kereta kuda. Joel telah menunggu Celine di sana dengan wajah tidak sabaran. Ketika melihat Celine dan ayahnya itu datang, dia langsung melompat dari kursi kereta lalu berlari ke arah Celine.
"Hey! Jangan berlari!" nasehat Celine sambil menangkap tubuh Joel. Dia mengangkat Joel ke pelukannya lalu mencium kening anak itu.
"Kakak … aku mengira kau berbohong pada kami. Mengatakan kalau ingin tinggal tapi diingkari," pungkas Joel.
"Tentu saja tidak, aku jujur dan tidak suka ingkar janji," balas Celine dengan senyum lebar.
"Ayo kita pulang!" teriak girang Joel sambil mengepal tangannya ke atas sambil unjuk tangan.
Mereka naik ke atas kereta kuda untuk segara kembali ke Kediaman Keluarga Zoe.
"Kenapa ayahmu tidak ikut naik?" tanya Celine keheranan. Sebab dia tidak melihat Alan naik ke atas.
"Ayah menunggang kuda mengawal kita," jawab Joel bijak.
"Apa dia juga mengawal tadi?" tanya Celine lagi.
*Iya, Kakak. Kenapa?"
"Tidak," balas Celine. Meski dalam hatinya berkata lain. Dia menyimpulkan bahwa Alan adalah ayah yang baik, hanya saja dia tidak bisa berlaku seperti seorang ibu yang selalu menumpahkan kasih sayang pada anaknya. Dia adalah tipe ayah yang terus berusaha untuk melindungi anaknya, bak seorang pahlawan.
Hanya saja diumur yang masih kecil itu, Joel harus mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Baik itu dari ayah ataupun ibunya. Namun karena kondisi keluarga yang tidak lengkap, seharusnya Alan memberikan cukup perhatian pada anaknya itu. Sebab tidak wadah baginya untuk mencari pendidikan moral. Jika ayahnya begitu keras padanya, tentu saja dia akan tumbuh menjadi pria dingin kelak.
Seperti halnya dengan Darchen. Dia begitu keras di didik saat masih kecil. Hingga dirinya tumbuh menjadi orang yang kejam. Belum lagi karena penghianatan dari sejumlah orang terdekat. Membuatnya terkikis dari sifat lembut, dan membantu bersama dengan kebekuan hatinya.
"Joel," panggil Celine sambil menopang dagunya. Kepalanya membayangkan bagaimana Joel kelak saat dewasa nanti. Dia ingin sekali melihat anak itu menjadi orang sukses di masa mendatang.
"Ada apa,Kakak?" tanya Joel yang masih menempel di pelukan Celine.
"Jangan jadi anak yang cuek, yah!" nasehat Celine.
"Hmmm? Aku ingin menjadi seperti ayah," timpal Joel dengan semangat dan mata yang membarakan api pertarungan.
"Bagus sekali. Daripada harus menjadi Darchen, sebaiknya kau meniru ayahmu saja," celetuk Celine meledek.
"Aku juga ingin seperti Paman Darchen, sebab ayahku mengatakan kalau dia adalah orang yang hebat dan berbakat," jelas Joel dengan semangat.
"Syukurlah," decak Celine lega.
Selama diperjalanan mereka banyak membahas tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka juga membahas tentang orang-orang disekitar mereka. Hingga tidak terasa waktu telah berjalan cepat. Mereka tiba di kediaman Alan.
Ketika mereka turun dari kereta kuda tersebut, Nenek Zoe telah menunggu kedatangan mereka dengan berdiri di depan pintu kediaman bersama dengan senyum yang lebar. Dia memberi salam pada Celine seolah gadis itu adalah seorang temu istimewa. Karena memang bagi keluarga Zoe, Celine adalah intan. Sebab Joel, cucu rewel mereka itu, telah luluh dan tunduk pada aturan Celine. Sehingga menurut mereka kalau Celine terus bermain bersama dengan memberi pendidikan bagi Joel, dia akan hidup dengan kasih sayang, meski tidak berasal dari ibu kandungnya sendiri.
"Selamat datang, Celine," sapa Nenek Zoe dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Nenek Zoe, atas sambutannya. Senang bertemu lagi denganmu," balik Celine menyapa.
"Astaga, aku yakin kau sudah kedinginan. Mari masuk ke dalam," panggil Nenek Zoe ramah.
Tanpa melepaskan genggamannya dari Celine, Joel terus menempel tidak bisa dilepaskan lagi bak prangko dan amplop. Terus bersama.
"Joel, Kakakmu mungkin capek, biarkan dia istirahat," unjuk Alan yang kasihan melihat Celine. Dari hatinya yang sedang hancur itu, dia masih saja menunjukkan senyum palsu di wajahnya, seolah tidak terjadi apapun.
"Tidak, aku senang," elak Celine. Dia memang ingin sekai beristirahat, hanya saja dengan adanya Joel di dekatnya,dia merasa lega dan tidak masalah dengan rasa letihnya itu.
"Kakak tidur denganku saja," sorak Joel gembira. Dia dengan antusiasnya menarik tangan Celine memuji kamarnya.
"Eh? Iya … iya," angguk Celine sambil berjalan cepat akibat Joel yang menarik tangannya dengan paksa. Dia akhirnya tertuntun ke arah kamar Joel.
Alan yang merasa kalau anaknya terlalu lancang hanya bisa memendam seluruh ceramah yang hendak dia lempar ke Joel. Di lain waktu nanti, dia harus menyiapkan etika pada anaknya yang pembangkang itu. Ditambah dia juga harus dikasih jatah hukuman untuk menebus semua kesalahannya.
Setelah berada di pintu kamar Joel, dia langsung dengan cepat mengambil bantal untuk Celine dan meletakkannya tepat di sebelahnya. Dia dengan sigap merapikan ranjangnya yang sudah bersih sebelumnya.
"Joel, cuci kaki dan tangan sebelum tidur!" perintah Alan.
"Iya, Ayah. Apa Ayah juga ingin tidur di sini?" tanya Joel polos. Tanpa rasa bersalah, dia asal celetuk mengucapkan hal demikian. Hingga Alan sendiri tidak tahu harus menjawab apa pada anaknya itu.