Surya perlahan mundur menjauhi bumi. Hari akan gelap. Namun acara Perdamaian itu belum juga selesai, sebab berlangsung selama tiga hari tiga malam berturut-turut tanpa henti.
Seperti biasa, kalau sudah jam hampir malam, Genah akan resah mencari Celine. Terlebih karena dia tidak melihat majikannya itu seharian. Dia sibuk dalam tertib acara, sementara Celine berlayar entah kemana. Mereka tidak bersua sama sekali.
Genah terlebih dahulu menjumpai Celine dengan mencarinya di kamar. Sebab dia tahu kebiasaan dari majikannya tersebut. Akan pulang bila hari mulai gelap.
Dia menyusuri lorong menuju kamar Celine. Sambil membawa wajan berisi makanan pedas kegemaran Celine.
"Nona Celine," panggil Genah sambil mengetuk pintu.
Sama sekali Genah tidak dapat masuk ke dalam kamar. Dia seperti tertolak. Dia merasakan ada sihir magis dari garis pinggir ruangan tersebut. Dia juga merasakan kalau jenis magisnya sama persis seperti miliknya.
Tidak salah lagi, Celine memakai segel yang diberikan oleh Genah waktu itu. Untuk berjaga-jaga, Genah memberikan beberapa lembar segel untuk menjaga diri supaya tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam kamar.
Waktu itu Genah memberikan dikarenakan resah soal Erica yang berniat mencelakakan Celine. Namun karena hari sudah sibuk, dia mengurungkan niatnya dan akan melakukannya di hari yang senggang.
"Nona Celine," panggil Genah lagi.
Tidak berapa lama, langkah kaki dari dalam sana terdengar. Celine dengan malasnya bangkit dari ranjangnya lalu membuka pintu untuk Genah.
"Oy," balas Celine sambil menggaruk kepalanya.
Celine tampak tidak ada gairahnya sama sekali. Dengan pakaian tipis terbuka, muka kusut tidak segar, gerakan lambat seolah tidak makan, dan juga terlihat seperti orang stres.
"Hamba membawa makanan kesukaan anda, Nona Celine," sebut Genah sambil menyodorkan tampi tempat dia meletakkan mangkok makanan pedas tersebut.
Dengan muka tidak bersemangat itu, Celine mengambilnya dari tangan Genah. Kemudian langsung masuk ke dalam.
"Ada apa dengan Anda, Nona?" tanya Genah.
"Aku kedinginan," jawab Celine sembarang bicara.
"Ganti pakaian Anda dengan yang lebih tebal, Nona," usul Genah lalu mengambilkan kain tebal dan baju panas di dalam lemari.
"Yah, tapi aku juga kedinginan," tambah Celine lagi.
"Bagian mana yang sakit, Nona? Apa Anda merasa meriang? Kurang enak badan? Hamba tahu kalau Nona sesungguhnya terlalu letih untuk hari ini," pungkas Genah cemas.
Genah langsung mengambilkan air hangat dari teko. Dia memberi pada Celine. Kemudian dia menarik Celine untuk segera duduk agar tidak terlalu lelah berdiri lama. Dia membantu Celine meneguk air hangat itu dengan mengangkatkan cangkir berukir indah itu ke mulut Celine.
"Heduh … aku tidak cacat, Genah," timpal Celine.
Betapa terlalu berlebihannya Genah memperlakukan Celine. Seolah dia menganggap Celine tidak mampu lagi bergerak. Bahkan sampai cangkir saja dia bantu angkat ke mulut Celine.
"Nona, bagaimanapun Anda harus menjaga kesehatan. Jangan terlalu banyak aktivitas dan pikiran. Sebaiknya sekarang Anda beristirahat," usul Genah.
Dia membantu Celine membaringkan tubuh agar terlentang lalu menyelimuti wanita itu. Padahal Celine tidaklah kurang sehat. Celine bisa melakukan segalanya. Hanya saja Genah panik dengan pucat wajah Celine.
Takut mengganggu ketenangan Celine, Genah akhirnya keluar dari kamar tersebut. Dia memantau dari luar. Genah duduk di samping pintu luar kamar Celine berjaga-jaga dari sana.
Beberapa jam kemudian, Genah melihat kedatangan seseorang dari sudut ujung lorong. Dia memperjelas penglihatan. Dia langsung sigap berdiri untuk memastikan siapa gerangan yang datang berjalan menuju arah mereka. Jika bukan Pangeran Darchen dan Ratu Sibenth, tidak ada yang berjalan melalui lorong mereka.
Namun saat dipandang dari jarak jauh, bukan seperti postur tubuh Pangeran Darchen. Dia seorang laki-laki, tentu tidak Ratu Sibenth.
Genah mempersiapkan diri untuk melakukan penyerangan sebagai alat antisipasi jika yang datang itu adalah musuh. Bisa saja yang sedang berjalan sana adalah suruhan dari Putri Erica dalam misi melenyapkan Nona Celine.
Dia mengeluarkan magisnya dan menahannya dalam aliran darah. Sebagai tanda kewaspadaan dia mengeluarkan sedikit percikan magis, hingga menimbulkan cahaya agak redup.
Semakin dekat langkah pria itu, semakin jelas pula aura yang terpancar dari dirinya. Terasa sangat kuat sampai Genah ragu untuk menandingi kekuatan pria tersebut. Selain daripada Pangeran Darchen, dia tidak pernah merasakan magis sekuat milik orang lain. Tapi pria yang sedang berjalan itu hampir menyamai milik Pangeran Darchen, sehingga dia tahu posisi sihirnya. Terlalu rendah banding dengan pria tersebut.
Genah mendekat berjalan pula ke arah pria itu. Dia mencoba menghentikan langkah pria itu agar tidak terlalu dekat dengan Celine. Meski dia tahu kalau Celine akan baik-baik saja jika terkena sihir magis pria itu, namun dia masih belum bisa menjamin kalau Celine mampu menyembuhkan diri sendiri jika ada magis mengerikan seperti milik pria tersebut.
"Siapa kau?!"
Sekejap mata, pria itu tidak tampak lagi. Hanya ada bayangan hitam saja yang terlihat pada pandangan Genah. Bahkan bentuk kepala dan wajah tidak bisa terbayangkan oleh Genah.
Kesimpulan pertama adalah bahwa pria itu bukanlah suruhan dari Putri Erica, sebab tidak akan mungkin ada manusia berbakat yang menjadi pesuruh. Kedua adalah bahwa pria tersebut tidak ingin dilihat rupanya oleh orang lain, bahkan aura tubuhnya saja tidak boleh tercium orang lain. Genah mengetahui kalau pria itu sedang menutupi aura magisnya, hanya saja karena terlalu kuat, hingga dia sendiri tidak bisa menyembunyikannya.
Ketika Genah mencari keberadaan pria asing itu, tiba-tiba dari arah yang bersamaan Pangeran Darchen datang. Dia terlahir sedang mengejar sesuatu. Kemudian tampak pada ujung jari Pangeran Darchen kalau dirinya sedang mengeluarkan sepercik magis dari tubuhnya.
"Hormat pada Pangeran Darchen," sapa Genah sambil menunduk.
"Apa yang kau cari?" Tanya Darchen.
"Mohon maaf sebelumnya, Pangeran. Baru saja seseorang yang asing berjalan menuju kemari, hanya saja mungkin karena menyadari kedatangan Pangeran Darchen, dia pergi begitu saja," jelas Genah sesuai dengan dugaannya.
"Ternyata benar," decak Darchen.
Ternyata Darchen juga sedang mengejar pria itu. Dari jarak kejauhan, Darchen bisa merasakan aura berbeda masuk ke dalam istana. Intuisinya langsung memikirkan sesuatu pertanda bahaya. Segera dia langsung mencari asalnaya, dan ternyata sumbernya dari lorong menuju kamar Celine.
Mungkin kedatangan pria itu ada hubungannya dengan Celine. Terlihat dari cara datangnya pria tersebut, dia sama sekali tidak membawa pengawal ataupun penjagaan dari orang lain. Pria itu juga terlihat tidak sedang ingin mencelakakan orang lain.
Darchen langsung paham. Pria itu hanya ingin menemui Celine. Tidak jelas apa tujuannya, namun dia tidak hendak berbuat jahat.
"Ampun, Pangeran, hamba akan menjaga Nona Celine, hamba pamit undur diri," pamit Celine yang mulai panik dengan kondisi dan ketidakamanan Celine saat ini.
"Biar aku saja," ucap Darchen menghentikan langkah Genah.
Darchen masuk ke dalam kamar Celine, dengan menghancurkan segel yang mengunci ruangan itu dari kedatangan orang lain.
Langkah kaki Darchen terdengar jelas di telinga Celine. Semakin dekat dengan dirinya. Celine menutup matanya erat dan menutup wajah sekaligus tubuhnya dengan kain. Dia berusaha agar tidak melihat ataupun mendengar suara Darchen. Dia menutup telinganya dengan memasukkan jari ke rongga telinganya.
"Bajjingan … bajjingan," ucap Celine berbisik pelan mengatai Darchen. Dia teramat sakit hati dengan perlakuan Darchen terhadapnya.
Darchen mendekat, dia menyentuh kain penutup tubuh dan wajah Celine tersebut, hendak membukanya. Namu. Celine dari balik selimut itu menahan agar tubuhnya sedikitpun tidak terlihat. Dia memegang kain itu agar Darchen tidak bisa membukanya.
Melihat betapa tidak inginnya Celine dibuka penutup tersebut, Darchen semakin ingin membukanya. Dia menarik dengan kuat agar kain tersebut terlepas. Sampai akhirnya selimut tersebut lepas dari wajah Celine.
"Aku tidak ingin melihatmu!" kata Celine lalu menutup lagi wajahnya. Dia berbalik ke arah lain agar Darchen tidak bisa melihatnya.
Darchen membuka selimut itu dengan kuat, sehingga terhempas kainnya. Celine tidak bisa bersembunyi dari Darchen lagi. Tubuhnya terlihat semua.
"Menjauh dariku!" tegas Celine lagi. Dia mendorong Darchen yang sedang mencoba membalikkan tubuh Celine ke arahnya.
"Dengarkan aku!" tukas Darchen lagi.
Celine langsung terdiam. Dia berhenti memberontak dan langsung menundukkan pandangannya. Darchen menarik tubuh Celine agar duduk dengan baik sejajar dengannya.
Melihat pakaiannya wanita itu yang amat terbuka dan tipis, membuatnya sedikit tidak nyaman dengan pemandangan tersebut. Dia kemudian mengambil kain yang dia hempaskan tadi lalu membalutnya ke tubuh Celine agar tertutup.
"Siapa yang kau temui beberapa hari terakhir?" tanya Darchen dengan serius.
Celine diam tidak berkutik. Dia terus menunduk dan tidak menjawab apa-apa. Dia bukan sedang tidak ingin jujur, hanya saja dia tidak ingin berbicara dengan Darchen.
"Katakan!" senggak Darchen. Dia berkata dengan keras, sampai Celine terkejut.
"Tidak … ada," jawab Celine.
"Tatap mataku!" perintah Darchen lagi.
Namun Celine tidak mengikuti perintah Darchen. Dia terus menunduk. Bahkan dia tidak menoleh ke arah lain kecuali ke arah bawah saja.
"Siapa pria itu?!" tanya Darchen sambil meneriaki Celine. Dia teramat kesal pada Celine, selalu membangkang dan tidak bisa diatur oleh dirinya.
Jika Darchen bersikap lembut pada Celine, wanita itu akan melunjak tidak mau mendengar perkataan Darchen. Sementara jika dia tegas terhadap Celine, wanita itu tertekan batinnya dan menjadi pemurung.
"Tidak ada! Sudah kukatakan tidak ada!" jawab Celine bersikukuh tidak menoleh sama sekali.
Darchen yang geram kemudian menarik dagu Celine agar mentap ke arahnya. Dia dengan paksa mebuat wanita itu patuh pada dirinya.
"Siapa dia?!" tanya Darchen dengan suara keras.
Celine menepiskan wajahnya dari pandangan Darchen lalu menundukkan kepalanya lagi. Dia tidak berkata apapun. Hanya air mata yang dia teteskan.
Kemudian mereka yang sedang berhadap-hadapan itu membuat Celine takut. Dia merasa terancam karena jarak mereka yang terlalu dekat. Suara senggakan itu terngiang di kepalanya.
Akhirnya Celine mundur sedikit dari sana. Meski mereka tetap berhadapan. Namun setidaknya kini mereka tidak lagi terlalu dekat.
"Aku tidak tahu … aku tidak tahu … aku tidak tahu," ucap Celine berulang dengan suara lirih ketakutan. Dia terus menunduk tidak menatap Darchen sama sekali. Dari matanya terus bercucuran air mata sampai membuat kasur membekas air matanya.
"Apa kau sedang memancing amarahku?" balas Darchen tidak senang.
Celine tetap tidak menyahut. Dia terus menunduk terisak-isak tangisnya.
"Jawab!!" senggak Darchen.
"Aku tidak tahu! Sudah kukatakan padamu! Kenapa kau tidak yakin padaku?! Kau terus meneriakiku seolah tahu segalanya! Aku tidak tahu siapa yang kau bicarakan!! Berhentilah menyenggakku! Aku membencimu!!!" Dengan penuh amarah Celine mengungkapnya dan derai air mata. Dia menatap mata Celine dengan tangkasnya. Dia seolah sedang menantang pria itu.
"Aku akan senang jika pria yang kau sebutkan itu datang lalu membawaku dari sini! Meski harus dijadikan b***k, aku akan senang!!" tambah Celine.
Celine membuang kain penutup tubuh yang dibalutkan Darchen tadi, lalu beranjak dari ranjangnya. Dia melangkah dengan hentakan kaki kuat kesal, bersembunyi di dalam bilik mandi dan menutup pintu dengan keras pula. Dia bersembunyi di sana agar tidak melihat Darchen lagi.
"Pergi kau dari sini! Jangan menemuiku lagi! Aku tidak menyukaimu!!! Aku bahkan membencimu!!!" teriak Celine dari dalam kamar mandi. Bahkan sampai pita suaranya terasa kering akibat memaksakan bunyi keluar dari tenggorokannya.
Darchen mengambil kain yang terletak di lantai akibat Celine melepaskannya dari tubuhnya. Dia hendak mengantar pada Celine, sebab dia tahu kalau hanya dengan penutup seperti itu amatlah dingin.