Alan Jordan yang terus mengawasi mereka dari kejauhan melihat kejadian tersebut. Awalnya Alan mengira kalau Celine dan anaknya itu sedang bercanda gurau. Dia tak mengira kalau anaknya itu serius.
Makanan yang ada di perut Joel keluar semua dan memenuhi gaun yang dipakai Celine. Hendak marah tapi dia tahu kalau Joel masih anak-anak jadi tidak bisa melihat kondisi dan situasi.
Alan langsung menghampiri mereka untuk membantu Celine membersihkan gaunnya yang telah terkena muntah Joel. Dia langsung menunduk meminta maaf atas perlakuan anaknya itu lalu mengajak Celine masuk ke dalam untuk mengganti gaun yang telah kotor itu dengan gaun baru.
Para pelayan langsung menunjukkan semua gaun terbaik yang ada di sana. Satu per satu dikeluarkan dan dicobakan pada Celine.
"Eh, sudah, aku pakai yang mana saja," ucap Celine. Pelayan-pelayan itu menyuruhnya untuk mencoba setiap gaun yang ada, sampai membuatnya kelelahan. Ia hanya butuh baju pengganti saja. Masalah bagus atau tidaknya ia tak peduli, toh di istana bajunya sangat banyak karena Ratu Sibenth setiap hari mengirimnya baju yang cantik.
"Nona, semua cocok dengan Anda, pilihlah yang terbaik bagi Anda," kata Pelayan.
Tidak butuh berfikir soal pakaian, dia langsung keluar dengan memakai gaun yang terakhir ia coba, dia sudah malas untuk mengganti pakaian lagi karena dari tadi kerjanya hanya memasang, membuka , memasang lagi, dan membuka lagi.
Celine keluar dari ruangan itu lalu hendak kembali melihat keadaan Joel. Ia khawatir jika anak itu sakit akibat kejadian tadi.
"Astaga!" Celine terkejut melihat sosok Alan masih ada di depan pintu menunggunya. "Kenapa kau masih di sini?" tambah Celine menanya.
"Menunggumu," jawab Alan cepat.
"Ha? Terserah. Aku menemui Joel dulu, dia mungkin masih menangis," celetuk Celine menebak.
"Tidak perlu menemuinya lagi, dia harus sadar akan kesalahannya dan merenungkan perbuatannya," tegas Alan.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dengan didikan mu padanya. Tapi dia masih anak-anak belum mengerti tentang kesalahannya. Harusnya dia diajarkan dengan cara memberi pemahaman bukan malah menghukumnya agar tidak mengulangnya lagi," terang Celine. Ia seketika berubah menjadi orang bijak dalam sewaktu.
Mendengar hal itu, Alan terdiam tidak bersuara. Ia hanya mengikuti langkah Celine menuju tempat keberadaan Genah dan Joel. Namun Celine terhenti akibat saling bertatapan dengan seseorang yang sudah beberapa hari tidak dilihatnya.
"Darchen?!" Reaksi terkejut Celine.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Darchen keheranan. Ia yang sedang berbicara dengan Nenek Zoe harus terhenti akibat wanita itu muncul di depannya.
"Kau juga, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Celine balik.
"Jangan membuatku bertanya dua kali," tegas Darchen.
"Aku sedang berkunjung ke sini, melihat Joel," jawab Celine sambil menunjuk arah taman.
Darchen teramat tidak senang melihat Celine berada di dekat Alan. Mereka tampak sangat dekat hingga api kecemburuan muncul di hatinya. Ia langsung menunjukkan mimik ketidaknyamanan.
Darchen langsung menarik tangan Celine dan membawanya ke lorong sepi untuk menanyakan beberapa hal.
"Darimana kau mengenal Alan?" tanya Darchen dengan wajah serius.
"Aku tidak mengenalnya," jawab Celine. Ia memang benar-benar tidak mengenal Alan, bahkan namanya saja baru ia ketahui ketika Darchen menyebutkan Tuan Jordan itu dengan panggilan Alan.
"Jangan berbohong padaku!" senggak Darchen.
"Aku tidak mengenalnya, sungguh. Yang kutahu dia adalah ayah Joel. Hanya itu," jelas Celine.
"Kenapa kau bisa sampai ke sini?"
"Alan menjemputku tadi, dia bilang Joel tidak mau makan kalau tidak aku tidak datang berkunjung," tambah Celine menjelaskan.
Dalam hati Darchen bertanya sudah sedekat apa hubungan mereka sampai Alan sendiri yang datang menjemput Celine. Ia tahu kalau Alan adalah orang yang teramat sibuk, bahkan urusan kerajaan pun ia tidak datang dengan alasan sibuk berbisnis. Tapi kenapa ia bisa meluangkan waktunya pada Celine. Bahkan tadi mereka juga tampak dekat.
"Apa sebenarnya hubunganmu dengan mereka?" tanya Darchen curiga.
"Aku dan Joel berteman," jawab Celine asal.
"Bukan itu yang kutanya! Hubunganmu dengan Alan!" desak Darchen dengan nada tinggi.
"Darchen, aku berhak dekat dengan siapapun, aku bebas berhubungan dengan siapapun. Kenapa kau jadi sibuk mengurusi hal ini? Lagi pula aku juga tidak pernah mengurusi kehidupanmu, jadi jangan ganggu aku!" tegas Celine panjang lebar. Ia juga lama-lama heran harus menanggapi Darchen. Namun tingkahnya tadi sungguh membuat Celine tertekan. Seolah ia melarang Celine untuk dekat dengan siapapun.
Tiba-tiba suara pot bunga terjatuh.
Serentak mereka melihat asal suara itu untuk memeriksa keadaan. Ternyata Joel yang tak sengaja menyenggolnya hingga pot tersebut pecah.
"Joel?" Celine langsung berlari melihat kondisi Joel. Ia memeriksa apakah anak itu terluka. "Untung kau baik-baik saja," celetuk Celine lega.
"Kakak, apa kau tidak boleh bertemu denganku lagi?" tanya Joel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Siapa yang katakan begitu?"
"Paman itu mengamuki mu tadi, ayah juga bilang kalau Kakak tidak akan datang ke sini lagi," kata Joel dengan perasaan yang amat sedih. "Apa kau marah karena tadi aku muntah di bajumu?" tanya Joel lagi. Matanya menggambarkan kesedihan amat mendalam. Ia tidak ingin kalau Celine berhenti mengunjungi dirinya. Ia senang dengan kedatangan Celine.
"Tidak, aku tidak marah, aku hanya kesal karena kau tidak mendengarkan perkataanku tadi. Lain kali jangan banyak gerak sehabis makan," ulang Celine mengingatkan sambil mengelus rambut halus Joel pelan.
"Maafkan aku, Kakak. Aku akan dengarkan perkataanmu lain kali," balas Joel menurut.
Darchen yang melihat Celine dan Joel begitu dekat, hanya bisa terdiam. Ia merasa tersentuh melihat Celine yang begitu amat perhatian pada Joel yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.
"Darchen, aku pergi dulu, Joel …."
"Aku tidak peduli," timpal Darchen langsung. Ia pergi begitu saja.
"Kenapa lagi dengannya?! Padahal tadi dia mengurusi hidupku, dan sekarang malah acuh begitu. Apa karena dia tersinggung dengan kata-kataku tadi?" tanya Celine kebingungan.
"Apa Paman Darchen adalah kekasihmu?" tanya Joel.
"Bukan, dia musuhku," jawab Celine bercanda.
"Tampaknya paman itu cemburu, Kakak," ungkap Joel.
"Anak kecil tahu apa," decak Celine tidak mendengar perkataan Joel.
"Apakah Kakak punya kekasih?" tanya Joel lagi.
"Tidak," jawab Celine singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja, Kakak tidak peka," ledek Joel.
"Kau tidak akan paham, dia ingin membunuhku perlahan makanya tingkahnya seperti itu," jelas Celine tentang pendapatnya.
"Sudahlah, Kakak, menikah dengan ayahku saja, kalau tidak, tunggu aku besar lalu menikah denganku," kata Joel serius.
"Baiklah, aku akan menikah denganmu, jadi cepatlah besar," tukas Celine bercanda.
Sementara Darchen yang sedang kesal kesalnya dengan Celine tidak tahan berlama-lama lagi di kediaman itu. Dia ingin segera pergi tapi tidak bisa meninggalkan Celine di tempat itu sendirian, yang ada Alan akan menarik hati wanita itu.
"Nenek Zoe, bisakah kau baca garis tangan gadis yang bersama Joel itu?" tanya Darchen.
"Hmm, tentu saja. Apa dia wanita yang kau pertanyakan tadi?"
"Benar, Nek. Dia mengaku berasal dari dunia asing," tambah Darchen.
"Hahaha … aku rasa dia sedang bercanda," ledek Nenek Zoe tidak percaya.
"Awalnya aku juga mengira seperti itu, tapi tingkahnya begitu berbeda dengan orang pada umumnya," jelas Darchen meyakinkan Nenek Zoe.
Karena penasaran, Nenek Zoe memerintahkan seorang pelayan untuk memanggil Celine ke ruangannya. Ia ingin membaca garis tangan wanita tersebut sesuai dengan permintaan Darchen.
***
Seseorang mengetuk pintu kamar Joel berulang.
"Siapa itu?" tanya Celine pada Joel.
"Entahlah," geleng Joel tidak tahu.
"Biar hamba yang buka, Nona," usul Genah.
Genah membuka pintu tersebut memeriksa orang yang mengetuk pintu tersebut. Ternyata orang itu adalah seorang pelayan yang diutus oleh Nenek Zoe untuk memanggil Celine.
"Aku ikut," sorak Joel.
"Hanya sebentar, tetap di sini bersama Genah," perintah Celine.
Jeol yang semula mengikut langsung terdiam dan tidak memaksa Celine untuk membawanya bersama pergi ke tempat neneknya tersebut.
"Ada urusan apa aku dipanggil?" tanya Celine pada pelayan.
"Hamba juga kurang tahu, Nona."
Tidak berapa lama, Celine datang dan langsung masuk ke dalam ruangan sesuai dengan yang dikatakan pelayan tersebut. Ia melihat Nenek Zoe sedang duduk di kursi tua yang berada di ujung ruangan. Wajahnya terlihat cantik meski sudah keriput. Ia selalu tersenyum dan terlihat ramah.
"Hormat pada Nenek Zoe," sapa Celine sambil menunduk.
Nenek Zoe menjawab sapaannya dengan senyuman hangat.
"Ada apa, Nek?" tanya Celine langsung.
"Kemarilah," pinta Nenek Zoe memanggilnya mendekat.
Nenek Zoe langsung memegang tangan Celine dengan lembut sambil tersenyum dan memejamkan mata. Celine yang kebingungan ingin bertanya tapi takut mengganggu, hanya bisa menunggu Nenek Zoe lebih dulu berbicara.
"Jadi benar yang dikatakan Darchen," celetuk Nenek Zoe sambil membuka matanya. Ia melepas genggamannya dari tangan Celine.
"Ada apa, Nek?" tanya Celine kebingungan.
"Terima kasih sudah mengurus Joel. Datanglah lain kali kemari, mungkin Joel akan sangat senang," pinta Nenek Zoe.
"Tentu saja, Nek. Aku akan sering kemari," angguk Celine.
"Aku akan suruh Alan mengantarmu pulang," tambah Nenek Zoe.
"Tidak perlu, Nek. Aku bersama temanku, jadi kami naik kereta sewa saja," tolak Celine.
"Begitukah? Aku akan suruh kusir mengantarkan kalian pulang," usul Nenek Zoe.
"Terima kasih, Nek, kami sudah merepotkan mu," jawab Celine ramah.
"Tidak, harusnya kami yang berterima kasih, kalau tidak karena mu, mungkin Joel akan terus mengurung diri," tukas Nenek Zoe.
"Hahah … iya, Nek. Kalau begitu aku kembali ke kamar Joel dulu," pamit Celine.
Setelah Celine pergi dari ruangan tersebut, Darchen masuk untuk menanyakan kepada Nenek Zoe tentang Celine. Sudah lama ia penasaran dengan asal-usul wanita itu, tapi tidak pernah mendapat jawaban.
Entah mengapa beberapa hari terakhir, Darchen percaya kalau Celine adalah manusia yang berada dari dunia berbeda dengannya. Namun setelah dipikir secara logis, hal itu sangatlah mustahil. Bagaimana dia bisa masuk tanpa sebuah portal, secara ia pernah mengatakan kalau dunianya tidak ada sihir sama sekali. Agar tidak banyak tanya lagi, ia langsung masuk dan mendengarkan penjelasan Nenek Zoe.
"Maaf, Darchen. Tapi Nenek tidak bisa membacanya," ungkap Nenek Zoe.
"Bagaimana maksudnya?"
"Ketika aku mulai membacanya, yang terlihat hanyalah sebuah kegelapan dan satu cahaya di ujung yang amat jauh, tidak bisa digapai semakin kita mengejarnya," jelas Nenek Zoe.
"Apakah kau pernah mendapat garis tangan seperti dia?" tanya Darchen.
"Pernah, dulu aku pernah menemui seorang pria yang sama dengan Celine. Ia juga mengaku berasal dari dunia asing dan tersesat di sini," jawab Nenek Zoe.
"Apakah memang benar kalau mereka berasal dari dunia asing?" tanya Darchen lagi.
"Entahlah, tidak ada yang tahu. Ketika aku mencari tahu keberadaan pria itu, dia telah menghilang. Padahal aku sudah memberi penanda magis di tubuhnya, tapi tidak bisa ku lacak sama sekali," ungkap Nenek Zoe.
"Apa mungkin pria utu telah kembali ke dunianya?" tanya Darchen.
"Bisa jadi, tapi tidak pasti."
Mendengar hal itu, Darchen semakin penasaran dengan asal-usul Celine. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mencari info tentang dunia itu. Hanya Nenek Zoe satu-satunya orang yang telaten membaca garis tangan orang lain. Tidak ada orang yang bisa ia tanyakan lagi.
"Dimana aku bisa mencari informasi tentang dunia itu?" tanya Darchen pada Nenek Zoe.
"Aku ragu memberitahukannya, dia juga bisa jadi tidak akan tahu. Tapi ada baiknya mencoba. Pergilah ke bukit Teris dan temui Tuan Jing, semoga dia membantu," usul Nenek Zoe.
"Baiklah, terima kasih," pamitnya.
Darchen langsung pergi hendak pulang ke istana karena Dion mengirim pesan kalau Raja Erogha memiliki tugas padanya. Sebelum ia pergi dari kediaman Zoe, ia teringat akan Celine.
Dia tidak bisa meninggalkan Celine berada di situ berlama-lama. Akhirnya ia memutuskan untuk mengajaknya pulang bersama. Darchen menghampiri Celine di kamar Joel dan langsung mengajaknya pulang.
"Aku pulang bersama Genah," tolak Celine.
"Hamba bisa pulang nanti, Nona," ujar Genah. Ia malah mendukung Darchen untuk mengajak Celine.
"Kakak, jangan pulang, aku tidak mengizinkannya. Paman Darchen tidak boleh bawa Kakak pulang," larang Joel sambil memeluk Celine dan tidak melepas rangkulannya.
"Urus anak kecil itu," perintah Darchen pada Genah.
"Joel, besok Nona Celine akan datang kemari lagi, jangan khawatir," bujuk Genah sambil menarik Joel.
"Tidak, Paman Darchen tidak akan memberikan Kakak padaku besok, dia tadi memarahi Kakak karena dekat denganku," sangkal Joel. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan tidak mau melepaskan tangannya dari Celine.
"Kutunggu di depan gerbang, kuberi waktu dua menit terlambat." Darchen dengan sikap acuhnya pergi langsung.
Melihat tingkah Pangeran Darchen, Genah langsung mengerti. Tidak pernah sekalipun pangeran itu mengajak orang lain naik ke kudanya, bahkan wanitanya saja dulu tidak pernah menunggangi kuda Darchen. Tentu saja Genah langsung paham bagaimana perasaan Darchen pada Celine. Hanya saja ia tidak bisa menunjukkan rasanya tersebut, oleh karena itu sikapnya tampak arogan.
"Nona, pergilah, demi keselamatan Anda kedepannya," nasehat Genah.
"Joel, besok Kakak janji akan datang," tegas Celine meyakinkan.
"Aku tidak percaya. Tetap di sini, jangan pergi kemana-mana," perintah Joel sambil merengek.
"Joel sudah janji akan mendengarkan, bukan?"
"Iya, tapi berjanjilah akan datang besok," ucap Joel.
"Tentu saja," angguk Celine.
Meski tidak ikhlas membiarkan Celine pergi, tapi ia harus membiarkannya. Sebab ia takut kalau Celine mendapatkan masalah dari Darchen. Ia tidak ingin Celine murung karena diamuki oleh Paman Darchen-nya itu.