Kastil Tua

2063 Kata
Pikirannya dipaksa untuk mempercayai hal yang tidak mungkin bisa terjadi. Tidak logis jika daun itu berasal dari pohon yang ada di dalam lukisan. "Jelas daun ini bukan dari sana," ucap Celine dengan kebingungan. Sudah setengah jam Celine mencari asalnya, namun tidak ia temukan. Kepalanya hampir pecah karena memikirkan asal usul daun yang tidak jelas. "Arg! Aku tidak peduli. Perutku lapar gara-gara helai daun. Sungguh bodoh kau, Celine!" ucapnya memaki pada diri sendiri. Ia memukul kepalanya dengan tangannya sendiri karena merasa menjadi orang bodoh. Ia kemudian bergegas pergi ke warung makan di dekat apartemen sewa miliknya. Saat di tengah perjalanannya, dia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis. Lucunya, anak laki-laki itu mengenakan pakaian bak seorang pangeran. Awalnya Celine mengira kalau anak itu sedang memakai kostum kerajaan karena menghadiri pesta ulang tahun. "Adik kecil, kenapa kau menangis?" tanya Celine mencoba menghibur anak yang tengah menangis itu. Namun tidak ada jawaban dari anak itu. Ia terus-menerus menangis tanpa henti hingga Celine panik, dia takut dikira penculikan anak oleh orang lain. "Aish ... jangan menangis, adik manis. Kakak punya permen, gratis untukmu," ucap Celine sambil mengeluarkan permen yang ada di saku celananya. "Aku tidak tahu jalan pulang," jelas Anak itu. "Apa? Kenapa bisa sampai ke sini? Apa ibumu tidak ingat?" tanya Celine. "Aku tidak tahu," jawab Anak itu sambil merengek. "Iya iya iya ... jangan menangis. Kakak akan cari alamat rumahmu," sambung Celine menghibur. Celine merogoh saku celananya untuk mencari ponsel genggam miliknya. Ia berniat melaporkan pada pihak berwajib agar sesegera mungkin menemukan alamat anak kecil yang ada di depannya saat itu. "Yah ... ponselnya tertinggal di apartemen," decak Celine kecewa. "Aku ingin pulang," rengek Anak kecil itu lagi dan lagi." "Iya iya, kakak pergi ambilkan sebentar. Atau ... kau ikut saja dengan kakak, biar aman," ucap Celine lalu menjatah tangan mungil anak kecil itu. Mereka berdua pun berjalan menuju apartemen miliknya. "Duduklah di sini, kakak ambil ponselnya dulu," jelas Celine. Saat Celine ingin meninggalkan anak itu, tiba-tiba dia menarik tangan Celine. Lalu memberinya kalung berlian berwarna biru dengan ukiran yang begitu mewah. Saat pertama kali melihat, Celine langsung tahu kalau berlian itu asli. "Dari mana kau dapat ini? Apa kau mencurinya?" tanya Celine gemetar. "Apa aku terlihat seperti pencuri, kakak? Aku memberi ini padamu karena akan membantumu saat dalam bahaya," terang Anak itu. Seketika dia berhenti menangis lalu memasangkan kalung berlian itu pada Celine. "Hey hey hey ... aku bisa dipenjara karena memakai kalung ini. Bocah, dari mana kau dapat ini, ha? Jangan bilang punya ibumu," umpat Celine kesal. Mulutnya berkoar-koar mengamuk tapi anak itu tak peduli sama sekali. Ia tetap melingkarkan kalung indah itu di leher Celine. "Aku tidak bisa menemui polisi jika kalung ini ada di badanku," ucap Celine lalu berniat membuka kalung yang sudah melingkar di lehernya. Ketika tangannya mencoba membuka pengait kalung tersebut, ia sama sekali tidak bisa melepaskannya dari tubuhnya. "Loh, ini kenapa bisa? Bantu kakak buka ini," perintah Celine pada anak itu. "Bahkan pangeran saja tidak bisa membukanya , apalagi aku. Ini menang milik kakak jadi tidak akan bisa dilepas lagi," jawab Anak itu dengan bijak. "Heh ... masih kecil sudah punya penyakit halusinasi. Kau raja tentu saja bisa buka kalungnya," ucap Celine meledek. "Aku ini pangeran bukan seorang raja," jawab Anak itu. "Aish, kau nakal sekali. Pantas saja ibumu meninggalkan kau di tengah jalan," gerutu Celine dalam hati. "Dasar bocah, bukakan kalungnya cepat. Leherku tidak bisa memakai barang mewah seperti ini," perintah Celine dengan tangan yang tidak hentinya mencoba melepaskan kalung tersebut dari badannya. "Ayo, bocah manis, agar kakak membawamu ke kantor polisi untuk mencari alamat rumahmu," rayu Celine lemah lembut. "Aku bisa pulang sendiri, lagi pula polisi tidak akan tahu alamat rumahku," jawab Anak kecil itu. Kemudian dia berjalan pergi dari apartemen Celine. Tentu saja Celine mengejar anak itu dan tidak membolehkan dia keluar, apalagi sendiri. Terlalu berbahaya bagi anak seusia dia. Namun sayangnya Celine kalah cepat dengan anak itu. Saat membuka pintu Celine tidak mendapati anak itu dari segala arah. Ia sudah melihat seluruh lorong bahkan menunggu lift untuk mencari anak berpakaian pangeran itu, tapi tidak ketemu juga. Akhirnya dia mencoba langkah terakhir, yaitu dengan mencari di tangga darurat. "Huft ... sudah tiga puluh kali berputar di lorong, dan menunggu antrian lift lima kali, tapi dia tidak ketemu. Aish, dan sekarang ... huh tidak ada di sini juga," umpat Celine sambil terengah-engah karena kelelahan. Akhirnya dia kembali ke apartemen miliknya untuk beristirahat. "Aish anak aneh itu bikin capek saja. Kalau ketemu awas saja kau, aku akan balas perbuatanmu," ungkap Celine kesal. Masih khawatir soal keselamatan anak itu, Celine berniat menatap dari luar jendelanya, siapa tahu anak itu lewat. Namun bukannya melihat anak itu, dia malah melihat kebenaran yang mengejutkan. Celine terkejut dan ketakutan sejadi-jadinya. Tangannya gemetar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Daun-daun berwarna coklat kering yang persis sama dengan di lukisan, berguguran dan berjatuhan di lantai apartemen miliknya. Daun-daun itu bertumpuk sangat banyak persis seperti jalan yang ditutupi daun musim semi. Tentu saja Celine yakin bahwa daun itu berasal dari dalam lukisan. Tahun itu dihadapi dengan musim dingin, tidak akan ada daun yang gugur seperti musim semi. Celine yang bahkan tidak percaya, mendekat dan mengambil selembar daun yang ada di lantai apartemennya. "Apa kalian keluar dari lukisan ini?" tanya Celine pada daun kering berwarna coklat. Kemudian dia menyentuh lukisan itu karena penasaran. Tiba-tiba kalung yang dia pakai bersinar hingga matanya kesulitan untuk melihat. Matanya buram seketika dan menjadi gelap. Sesekali dia mencoba membuka mata meski hanya sedikit, untuk memperhatikan sekeliling. Namun dia tidak bisa melihat apa pun. Cahaya itu terlalu silau hingga dia tidak mampu membuka mata. Beberapa saat kemudian, cahaya itu redup. "Aish ... mataku berkunang-kunang. Apa itu tadi?" umpat Celine sambil mengucek matanya. Saat pertama kali membuka mata, yan ia lihat bukanlah ruang apartemen. Sekelilingnya berubah menjadi hutan dengan pepohonan musim gugur yang berhamburan ditiup angin. "Woah ... dimana ini? Hmmmm? Ini, ini, ini, dan ini, apa yang terjadi?" decak kagum Celine sekaligus heran kebingungan. Celine menginjak tanah tempat ia berdiri beberapa kali untuk memastikan kalau yang dia pijak adalah nyata. Dia memukul pohon dan mencoba mendengar suara yang keluar. Sesekali dia menjerit dan melempar batu yang bergeletakan ke pohon yang ada di hadapannya. "Ini sungguhan dan ini juga sungguhan. Lalu pertanyaannya, ini dimana?" ucap Celine sambil meraba sesuatu yang ada di sana. Pemandangan yang ada di hadapannya sama persis seperti lukisan itu. Beberapa pohon berjejer dan jalan yang lurus diselimuti daun kering. Namun ada yang kurang, ia tidak melihat kasti tua sesuai dengan gambar yang ada dalam lukisan. "Apa aku ada di dalam lukisan itu? Hahaha ... apa ini sungguhan? Aku masuk ke dimensi lain, oh my God, aku tidak percaya. Ternyata ... ternyata cerita yang ada di komik betul adanya," ungkap Celine bahagia. Senyum riang tidak luntur dari bibirnya. Sangking senangnya dia berjoget kecil dan melompat karena bahagia. Dia memang sangat candu pada komik, sampai otaknya sedikit bermasalah, begitulah kata Lyn menanggapi kebodohan Celine. Tentu saja dia tidak takut atau kaget karena masuk ke dalam lukisan itu. Dia malah senang dan tidak ingin keluar untuk beberapa saat. Celine berjalan menyusuri hutan dan tidak henti-hentinya bernyanyi karena senang. Ia juga sekaligus mencari letak kastil tua sesuai dengan gambar di lukisan. "Ho ho ho, waktunya mencari kastil tua, hahaha. Mungkin saja pangeran ku ada di sana," kata Celine bahagia sambil tertawa terbahak-bahak. "Aish ... haus sekali," hela Celine sambil memegang kerongkongannya yang kering akibat dehidrasi ringan. Ia terus berjalan mencari sungai untuk diminum airnya. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Celine melihat pemukiman warga. "Kyaa! Di sini betul seperti dunia nyata, hanya saja agak berbeda dengan era modern. Wah ... keren sekali, mereka masih menggunakan transportasi kuda," ungkap Celine saat melihat beberapa kuda yang lalu lalang dari hadapannya. Pakaian yang mereka gunakan juga sedikit kuno. Persis seperti pakaian yang ada di film Cinderella. Semua wanita memakai gaun tebal dan panjang. Saat sedang asik memandangi sekitar, tiba-tiba banyak mata yang tertuju pada Celine. Tentu saja penduduk asli merasa asing melihat Celine dengan pakaian yang aneh bagi mereka. "Hey Nona, kau ini berasal dari mana?" tanya seorang wanita padanya. "Apa aku sudah ketahuan berasal dari dunia lain?" tanya Celine dalam hati. Celine langsung terkejut sampai jantungnya berhenti sejenak. "Aku ... itu," jawab Celine gugup tidak tahu harus mengatakan apa. "Apa kau dari negeri Seberang?" timpal wanita itu penasaran. Demi melindungi dirinya dan memang karena tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya Celine hanya mengangguk. Tiba-tiba wanita itu berteriak keras memanggil seluruh yang ada di sana berkumpul. "Hey! Dia dari negeri Seberang yang sedang dicari oleh ratu Sibenth." Seketika semua orang berkumpul dan memandangi Celine. Mereka mengelilinginya dan memperhatikan dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. "Kita akan mendapat seribu koin emas kalau memberikan dia pada Raja Erogha atau Ratu Sibenth," teriak seorang pria yang dari tadi memandang Celine dengan mata penuh nafsu. "Hey hey hey ... apa kalian bodoh, ha?! Dia bisa saja berbohong dengan mengatakan kalau dia adalah orang itu. Jika kita membawanya ke istana dan terbukti kalau dia orang yang salah bagaimana?" ucap seorang yang lain dari kerumunan mereka. "Benar juga," sahut beberapa orang lain. "Hey, katakan siapa kau sebenarnya?" suruh seorang pria yang kira-kira berumur lima puluhan. "Aku bukan orang yang dicari ratu atau raja, aku hanya b***k dan tidak sengaja tertinggal," jawab Celine berbohong. "Benar, apa kalian buta, wajahnya saja tidak cantik, bagaimana mungkin seorang pangeran selera melihatnya," ejek dari warga yang ikut berkumpul memperhatikan dirinya. Hatinya begitu tertusuk saat salah seorang itu mengatakan demikian. Ejekannya begitu menusuk hingga amarahnya naik seketika. "Aku akan mencabik mulutmu karena sudah mengejekku," gerutu Celine kesal dalam hati. "Eh ... kalau begitu aku permisi dulu, tuanku sedang menunggu di sana," pamit Celine lalu pergi begitu saja. Dia kemudian kembali ke hutan tempat ia datang pertama kali. Sudah cukup baginya petualangan hari itu. Ia kemudian mencari jalan pulang, kembali ke dunia nyata. Dia yakin kalau pintu pulangnya ada di hutan itu juga, persis seperti saat pertama dia menyusuri dunia lukisan itu. Namun sudah berkeliling mencari jalan pulang, ia tidak menemukan apa pun. Hari mulai gelap, malam akan tiba, matahari hampir terbenam, tapi dia tidak tahu cara untuk kembali ke dunia nyata. Celine kemudian panik tidak karuan karena tidak tahu cara pulang. Dia menggosok kalung yang dia pakai. Siapa tahu kunci pulangnya adalah kalung itu. Namun seberapa besar pun usahanya tetap sia-sia. Cahaya itu tidak ada. Aungan anjing mulai bersahutan. Dia semakin resah. Bahkan tempat berlindung pun tidak ada. Dia tidak memiliki tempat untuk beristirahat. "Huaa .... bagaimana ini? Aku akan mati dimakan serigala jika ada di sini," rintih Celine ketakutan. Dengan langkah cepat, Celine mencari tempat untuk berlindung. Hutan itu terbilang cukup jauh dari pemukiman warga, jika ia kembali ke sana, hari akan semakin gelap. Dia tahu kalau zaman yang ada di lukisan itu masih sagat kuno. Binatang liar tentulah berkeliaran dimana-mana. Karena putus asa, Celine akhirnya pasrah dengan keadaan. Dia bersandar di balik pohon yang besar dan menekuk lututnya. "Huhuhu ... siapa pun tolong aku," raung Celine. Gelap akhirnya menyelimuti dunia itu, malam telah tiba. Bahkan angin yang sejuk tadi berubah menjadi hembusan yang mencekam. Terdengar jelas suara serigala di telinga Celine dari kejauhan. Suara serigala itu menandakan kalau dia sedang lapar. Mendengar itu, Celine langsung berdiri dan berlari untuk mencari persembunyian. Seketika dia tidak rela jika harus mati di dunia lain. Dia masih ingin dimakamkan persis di samping ayahnya. Setelah jauh berlari di dalam hutan, akhirnya Celine menemukan kastil tua itu. Dia kemudian masuk ke dalam tanpa berpikir panjang. Untungnya saja kastil itu tidak terkunci dan dia bisa dengan leluasa masuk ke dalam. "Permisi," tutur Celine saat masuk. Kastil yang ia masuki terlihat sangat terawat dengan baik. Bahkan furniture yang ada di dalamnya begitu mewah. Tidak ada satu pun barang yang berdebu. Lantai wangi dan lilin lilin putih yang menyala menyinari ruangan, membuat kastil itu sangat nyaman. "Ini adalah tempat sebaik-baiknya perlindungan, aku akan aman jika beristirahat di sini," ucap Celine yang sudah merasa tenang. Celine pelan-pelan menyusuri seluruh ruangan kastil tua tersebut. Kemudian dia membuka salah satu ruangan yang ada di dalam kastil. Mana tahu ada ranjang untuk rebahkan tubuhnya. "Aku akan betah jika kastil ini jadi milikku," celetuk Celine. Ternyata benar kastil itu bukan saja memiliki perlengkapan, tapi juga tersedia tempat tidur dengan nuansa kuno tapi mewah. Kamar itu terlihat seperti milik seorang bangsawan kaya. "Apa kastil ini masih dihuni? Kenapa semuanya masih terawat? Bahkan kain di kasur ini sangat rapi," puji Celine sambil merenggangkan badannya di atas ranjang empuk dan wangi tersebut. BERSAMBUNG ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN