Celine kaku seketika saat melihat Darchen berada di ujung jalan keluar kolam yang tersegel itu. Dia tidak tahu harus berlaku apa setelah kejadian tadi saat Darchen telah mengacuhkan dirinya. Dia telah melupakan tentang kebersamaannya dengan Erica. Dia sudah memupuk diri agar mengeraskan hati dan tidak membuka hati lagi pada siapapun di sana. Sungguh, dia tak ingin terluka lebih dalam lagi. Sudah cukup penderitaan yang didapatnya dari kutukan sihir. Dia tidak ingin lagi terbelit-belit urusan lain.
"Aku tidak bermaksud mengganggumu ataupun sengaja berdiam diri di sini untuk menunggumu,'' jelas Celine meluruskan keberadaannya di sana, agar Darchen tidak salah paham padanya.
Darchen tidak menyahut sama sekali. Dia terus memandangi Celine dengan sangat dalam, entah apa artinya.
''A-Aku akan pergi,'' sambung Celine dengan muka kaku akibat bingung harus berbuat apa.
Dia berjalan lurus tanpa menoleh kemanapun. dia mengindari tatapan dengan pangeran itu. Pandangan Darchen tidak lepas-lepasnya dari Celine. Tampak dari sudut matanya yang mengikuti langkah Celine.
Kaki Celine terhenti seketika setelah berada di perbatasan antara kolam dengan halaman belakang istana. Segelnya masih terkunci, hingga membuatnya tidak bisa keluar dari dalam. Bibirnya ingin sekali meminta tolong pada Darchen. Tapi dia ragu. Akankah pria dingin itu mau menolongnya atau tidak.
Celine tetap berdiri di depan gerbang pintu segel. Dia pucat kaku karena tidak nyaman dengan suasana canggung yang membunuh mereka. Belum lagi karena aura yang dikelarkan oleh Darchen, membuat hatinya yang tertekan semakin terhimpit jiwa yang menyiksa.
"Da-Darchen ... a-aku ... a-aku tidak bisa keluar dari sini," kata Celine sambil menunduk tanpa menatap Darchen sama sekali.
Sehabis kalimat itu terlontar dari mulut Celine, Darchen langsung melangkah menjauh dari Celine. Dia seolah tidak peduli dengan keluh yang disampaikan oleh wanita itu.
"Apa kau kira aku ingin berdua denganmu di sini?! Aku juga tidak ingin hidup dengan kekangan dunia kalian ini!!! Seandainya aku bisa ... aku bisa memutar ulang waktu. Aku tidak akan masuk ke kastilmu," teriak Celine histeris. Amarahnya telah naik. Dia tidak tahu harus melampiaskan kesedihannya pada siapa lagi. Sama sekali tidak orang yang satu penderitaan dengannya.
"Apa yang kau katakan?'' Dengan acuh Darchen berpura-pura tidak tahu.
"Bisakah aku memilih untuk mati saja daripada hidup di sini?''
Dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca, Celine mengambil batu yang tergeletak di sana, lalu melemparkannya ke arah segel itu berada. Dengan sekuat tenaga dia melemparkannya dengan niat menembus segel yang terkunci rapat itu.
Namun saangnya, batu itu tidak tembus sama sekali. Batu itu terpental jua. Bahkan angin saja tidak dapat menembus segel yang dibuat oleh Darchen, sanking kuatnya.
"Argh! Kenapa kau begitu kejam, ha?! Semalam kau memperlakukanku sangat baik, dan sekarang kau mengacuhkanku. Katakan apa mau mu! Katakan!'' Celine memukul d4d4 Darchen dengan keras sekaligus mengeluarkan air mata yang begitu deruh.
Sementara Darchen tetap diam membiarkan wanita itu meluapkan semua kesah yang telah disimpan Celine di dalam hatinya. Sebenarnya Darchen lah yang dengan sengaja memperkuat segel itu. Dia melakukannya agar Celine tertahan di sana. Agar wanita itu dapat menenangkan pikirannya bersamaan dengan kunang-kunang yang berterbangan, yang membuat hati begitu damai.
''Kenapa kau diam saja?! Ayo, jawab!'' paksa Celine terus-menerus.
Namun Dachen tetap diam saja. Dia malah mengangkat tubuh Celine dan membawanya keluar dari kolam itu. Tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya, dia tiba-tiba menggendong Celine.
"Lepaskan aku! Turunkan, aku!'' senggak Celine berontak. Dia tidak ingin berdekatan dengan pria itu untuk beberapa saat. Dia terlalu muak melihat tingkah Darchen yang begitu susah ditebak. Dia bosan memaklumi sifat Darchen yang tempramen. Terkadang dia juga ingin dimengerti. Meski dunia sedang membencinya, namun kadang kala ia juga membutuhkan pengertian dari orang lain.
Celine menggigit tangan Darchen dengan keras agar pria itu menurunkan dirinya. Sampai darah merembes keluar. Luka bekas gigitan Celine tampak jelas amat menyakitkan.
Namun Darchen tidak menurunkan Celine sama sekali. Dia seolah tidak merasakan sakit. Ekspresi wajahnya tetap datar berjalan tanpa menghiraukan Celine. Dia terus fokus ke depan tanpa mengeluarkan mimik kesakitan ataupun marah.
Melihat Darchen yang pasrah setelah dia lukai, Celine pun berhenti berontak dan diam digendongan Darchen. Dalam hati kecilnya sebenarnya menyesali perbuatannya yang begitu ganas, namun sakit hatinya lebih parah dibanding dengan perlakuannya pada Darchen.