Setelah Celine memperingati Erica, tidak terjadi apapun di hari-hari selanjutnya. Semua berjalan seperti biasanya. Tidak pernah terdengar lagi berita tentang Erica.
Begitu juga dengan Darchen. Sudah hampir tiga hari, Celine tidak pernah melihat Darchen sama sekali. Berkat ketidakhadiran sosok pembawa masalah padanya, hidupnya untuk beberapa hari terasa damai. Erica tidak ada, Darchen pun tidak ada. Tentu saja membuat Celine sedikit lega karena ia akhirnya bisa menjalani hidup normal.
Namun entah mengapa ia juga sedikit merasa sepi karena tidak ada Darchen. Meski pangeran tersebut sangatlah dingin dan sering menyulitkan Celine, tapi ia juga terhibur. Dalam beberapa hari terakhir, tidak ada yang mau mengajaknya ribut.
"Genah, aku bosan," ungkap Celine sambil menahan dagunya dengan sebelah tangan dan duduk memandangi pemandangan melalui jendela.
"Apa Anda mau hamba masakkan, Nona?" tawar Genah.
"Tidak, aku ingin jalan-jalan," simpul Celine yang sudah amat bosan karena berada di istana tanpa keluar sama sekali. Ia dalam beberapa hari hanya mengelilingi istana itu bersama Ratu Sibenth. Sesekali ia pergi ke taman yang amat indah milik Darchen. Untuk mengurangi kebosanan yang ia alami.
"Ratu Sibenth tidak mengizinkan Anda keluar dari istana, Nona," kata Genah mencoba mengingatkan.
Dalam beberapa waktu terakhir, telah terjadi pembunuhan dan perampokan di negeri Athiam. Hal itu membuat Ratu Sibenth cemas terhadap keselamatan Celine. Ia melarang Celine keluar dari istana meski sudah membawa pengawasan dari pengawal. Dengan ketat ia melarang Celine. Ia tidak ingin terjadi apa-apa padanya.
"Aish, aku dipenjara di sini, huaaa … aku ingin keluar cari angin. Tidak akan lama. Ayo, ayo, sebentar saja," ajak Celine melanggar nasehat Ratu Sibenth.
"Nona Celine, di luar terlalu bahaya, banyak …."
"Hust … aku tahu. Hanya sebentar," timpal Celine langsung. Ia tidak mendengarkan Genah sama sekali. Baginya yang terpenting adalah melupakan rasa bosannya dalam istana. Ia ingin keluar sebentar untuk merefresh pikirannya yang sudah buntu akibat terkurung.
Celine adalah tipe orang yang suka berkeliaran dan tidak tahan berlama-lama dalam rumah. Dulu, ketika masih berada di dunia nyata, ia selalu mengajak Lyn, untuk bermain-main, makan, jalan-jalan, dan lain-lain. Tidak pernah dalam sejarah ia betah berdiam diri dalam rumah.
Namun setelah tinggal di dunia Athiam, ia amat terkekang. Belum lagi karena kondisi lingkungan yang menyeramkan, semua mengekangnya. Jika dikatakan betah, ia senang dan menikmati pengalaman berada di sana, tapi ia juga ingin kembali ke dunia nyata.
"Nona!" panggil Genah sambil berlari mengejar Celine. Celine tetap pergi meski sudah tahu kalau di luar sangat berbahaya. Musuh kerajaan Athiam sedang menunggu umpan.
Karena tahu Genah akan melarang dia untuk keluar dari istana, akhirnya Celine bersembunyi di balik tembok agar Genah tidak melihat dirinya. Ia menunggu sampai pelayan itu jauh dari persembunyiannya lalu berlari dengan kencang keluar dari gerbang istana.
"Huft … aku bebas. Genah tidak melihatku, bukan?" Dengan nafas terengah-engah, ia duduk di balik pemukiman salah satu warga untuk bersembunyi. Ia masih takut kalau Genah masih mengejar. Akhirnya ia memutuskan menunggu sampai beberapa waktu dan memastikan kalau tidak ada anggota kerajaan yang mencarinya.
Ketika ia sibuk melihat kondisi gang pemukiman warga tersebut, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menyentuh tangannya. Spontan Celine langsung berbalik dan melihat orang itu.
"Bikin kaget, astaga. Aku kira kau Genah," decak Celine sambil mengusap-usap arah jantungnya yang hampir pecah karena terkejut.
"Kakak, sedang apa di sini?" tanya Anak itu dengan polos.
"Sedang sembunyi," jawab Celine langsung. "Kau sedang apa?" tanya Celine balik.
"Aku juga sedang bersembunyi," jawabnya.
"Hah? Sembunyi dari siapa?" tanya Celine terkaget.
"Ada pencuri anak di sana. Mereka ingin menangkap ku untuk dijadikan sandera lalu meminta tebusan pada ayah ibuku," jelas Anak itu dengan bijak.
"Ih sembunyi di balik ku saja. Siapa namamu? Biar sekalian kakak carikan ibu dan ayahmu nanti."
"Joel, kak."
"Baiklah, Joel. Kita harus bersembunyi setertutup mungkin agar tidak tertangkap," kata Celine dengan tegas memberikan arahan.
Celine dengan jiwa yang berkobar untuk melindungi anak laki-laki tersebut berpikir keras mencari persembunyian bagi mereka.
Celine tahu bahwa anak yang bernama Joel itu adalah sosok keturunan terpandang di negeri itu. Dilihat dari pakaian, cara bicara, jelas kalau dia anak dari seorang yang berpengaruh. Para pencuri tersebut telah menargetkan mangsa yang bagus. Dari situ saja sudah dapat disimpulkan kalau Joel adalah anak bangsawan.
Celine mencari tempat yang cocok untuk persembunyiannya dan melihat sebuah tong besar yang cukup untuk memuat anak itu. Namun setelah dipikir lagi, ada kemungkinan besar kalau pencuri itu akan menemukan Joel.
Dalam beberapa saat otaknya terasa diputar karena kerasnya dalam memikirkan jalan keluar. Akhirnya ia terpikirkan untuk meminta bantuan salah satu penduduk di sana untuk memperbolehkan mereka masuk ke dalam dan bersembunyi. Tapi tidak ada satupun yang mau menampung mereka. Alasannya tidak lain karena takut pada perampok itu.
"Dasar penduduk bodoh! Tidak apa-apa, Joel. Kakak akan carikan persembunyian yang aman bagimu," ucap Celine menenangkan. Ia dengan erat memegang tangan anak laki-laki tersebut agar tidak terlepas sama sekali.
Ketika terus mencari tempat, akhirnya Celine melihat ada sebuah rumah bordil di sekitar ia bersembunyi. Ia dengan cepat masuk ke dalam sana sambil menggendong Joel.
"Maaf Nona, tidak diperbolehkan untuk membawa anak kemari," hadang seorang wanita.
"Tapi ia adalah anakku. Bisakah kau perbolehkan dia masuk bersamaku?" tanya Celine sambil memohon.
"Tidak boleh, Nona," ulang wanita itu. Ia menutup pintu persinggahan tersebut agar Celine dan Joel tidak bisa masuk ke dalam.
Tiba-tiba seorang pria berpakaian bagus datang mendekati Celine dan Joel.
"Tidak mungkin dia pencuri, kan?" tanya Celine sambil menengok ke arah Joel.
Namun melihat ekspresi Joel, Celine menebak kalau pria itu adalah seorang pencuri. Meski ragu dengan tebakannya, ia tetap melindungi Joel dari laki-laki tersebut.
"Apa ada pencuri setampan ini?" decak Celine dalam hati.
"Kakak, tolong aku," rintih Joel ketakutan. Ia bersembunyi di balik kaki Celine. Tangannya terasa bergetar dan dingin karena takut.
"Tenang saja, kakak ada di sini," jawab Celine menenangkan.
"Joel! Jangan bersembunyi di sana!" Dengan nada keras, Pria itu menyenggak dan memerintahkan Joel.
Seketika Joel terperanjat dari persembunyiannya lalu keluar dari balik kaki Celine. Ia menunduk tidak berani mengangkat kepalanya sambil meneteskan air mata.
Melihat Joel bermimik menyedihkan seperti itu, Celine menggendong Joel lalu menjauhkan diri dari pria itu. Meski wajahnya tampan, Celine tidak akan terpesona dengan hal itu. Ia lebih memilih untuk menjaga anak itu dari pria kejam tersebut.
"Hey! Bisakah kau jangan menyenggak anak kecil seperti itu?!" serang Celine balik dengan suara yang tidak kalah kerasnya dengan pria tersebut.
"Tidak perlu ikut campur. Berikan dia padaku," ketus Pria itu dengan muka masam. Tergambar rasa jengkel dalam dirinya.
"Tidak akan! Mati pun Joel tidak akan kuberikan padamu, dasar pencuri anak!" umpat Celine.
"Kau yang pencuri anak. Berani-beraninya menuduhku," balas Pria itu.
"Dia anakku, jangan pernah berharap aku memberikannya padamu," kata Celine membual.
"Kau ibunya?" tanya Pria itu.
"Ya, tentu saja. Dia anakku kandung. Kenapa?!" tantang Celine dengan muka arogan.
"Kemari, Joel!" Teriak Pria itu dengan keras.
Joel yang semakin ketakutan merangkul Celine dengan erat lalu menyembunyikan wajahnya. Jantung anak tersebut terasa berdegup tidak beraturan. Bahkan ia juga gemetar.
"Hey! Siapa di belakangmu?!" Tunjuk Celine ke arah belakang Pria itu. Setelah Pria tersebut berbalik untuk memeriksa, Celine menggunakan waktu untuk berlari dari laki-laki yang diduga pencuri.
Bagaimanapun caranya, ia harus melindungi anak tersebut. Ia tidak ingin membiarkan anak seusianya dijadikan sandera.
"Tenang, Joel. Kita akan aman," ucap Celine menenangkan sambil berlari. Padahal Celine sudah sangat lelah karena berlari sekaligus menggendong disaat yang bersamaan. Tenaganya banyak terkuras. Belum lagi tadi dia berlari dari istana dan kabur dari Genah. Cukup banyak energi yang ia keluar. Badannya basah akibat keringat yang bercucuran.
Karena tidak tahan lagi, Celine menurunkan Joel daru gendongannya lalu mengambil nafas sejenak untuk melepaskan kelelahannya. Ia teramat haus saat itu. Bibirnya sampai pucat karena tidak minun setelah perjalanan harinya yang panjang.
"Kakak, apa kau lelah?" tanya Joel sambil memegangi tangan Celine.
"Yah, tapi tidak apa-apa. Kita cari minun saja. Kelihatannya pencurinya tidak mengejar kita lagi," ungkap Celine yang sudah setengah mati menahan hausnya. Ditambah terik matahari yang menghadang. Membuat suasana tenggorokannya semakin kering. Bahkan air liurnya pun tidak bisa membasahi tenggorokan yang kering kerontang.
"Kita ke sana saja kak, ada sumur," tunjuk Joel ke arah sumur. Di sana tampak banyak para ibu-ibu yang sedang mencuci, memandikan anaknya, dan lain sebagainya.
Dilihat dari ramainya orang di sana, dapat disimpulkan bahwa sumur itu adalah milik istana dan diperuntukkan bagi semua orang. Akhirnya Celine mendekati sumur tersebut lalu meminta cangkir seorang wanita paruh baya yang juga berada di sana.
"Terima kasih, Nek," tunduk Celine sambil tersenyum.
Segera ia menimba air dalam sumur itu lalu meminumnya dengan tegukan cepat. Dahaganya telah hilang setelah air itu membasahi tenggorokannya. Ia juga memberikan pada Joel yang sama hausnya dengan Celine. Walau memang Celine yang lelah di situ, tapi Joel juga butuh air untuk menjaga keseimbangan dalak tubuhnya.
"Aish … segar sekali," decak Celine sambil tersenyum pada Joel. Ia senang sekali karena kembali segar.
Ketika Celine dan Joel baru saja hendak melangkah pergi dari sumur itu. Lagi-lagi pria tampan yang diduga pencuri itu datang menghampiri mereka dengan wajah masamnya.
"Jangan berlari lagi! Aku tidak sempat berkejar-kejaran dengan kalian," perintah Pria itu.
"Astaga! Dia menemukan kita, Joel," ucap Celine kaget. Ia langsung menggendong Joel agar lebih aman.
"Kemari, Joel. Ayah tidak akan menghukummu," kata Pria itu.
"Ayah?!" Kebingungan pun timbul. Celine tidak mengerti sama sekali dengan situasi mereka. Joel mengatakan kalau pria itu adalah seorang pencuri anak. Tapi pria itu mengaku kalau dia adalah ayah Joel. Entah siapa diantara mereka yang bisa dipercaya.
Celine menduga kalau pria itu hanya berpura-pura menjadi ayahnya karena agar lebih mudah untuk menangkap Joel. Begitulah pemikiran Celine. Namun pernyataannya itu disangkal oleh Joel langsung.
"Dia memang ayahku, Kak. Aku berbohong padamu tadi," kata Joel mengakui.
Rasanya Celine ingin pingsan karena mendengar kejujuran dari Joel. Dengan lancangnya Celine menuduh pria itu seorang pencuri anak, padahal faktanya ia adalah ayah dari Joel sendiri.
"Matilah aku," decak Celine ketakutan sekaligus merasa bersalah.
"Kak, jangan biarkan ayah mengambilku, aku takut dihukum olehnya," rintih Joel sambil memeluk Celine.
"Kemari, Joel. Jangan memancing kemarahanku," peringat Pria itu lagi.
Seluruh yang ada di sumur itu ikut menyaksikan mereka. Suara bisikan gosip dari wanita-wanita itu terdengar di telinga Celine. Semua mengeluarkan spekulasi sendiri dan menuangkannya dalam kebenaran yang tidak benar.
Hingga terdengar suara seorang ibu-ibu yang amat lantang. "Hey, Nak. Selesaikan masalah keluarga kalian sana. Jangan biarkan orang melihat pertengkaran kalian."
"Eh, bukan, kami tidak …."
"Kau harusnya mendengarkan suamimu berbicara. Tampaknya ia mengasihi kalian sampai jauh-jauh mengejar kemari. Pergilah padanya," potong Wanita itu langsung.
Ingin meluruskan pokok permasalahannya pada mereka. Namun kesempatan berbicara tidak diberikan. Celine ingin membantah pemikiran para wanita itu. Mereka mengira Celine adalah istri dari pria tidak dikenal tersebut. Mereka menasehati Celine dengan pendapat masing-masing tanpa mengetahui kalau Celine bukanlah keluarga dari Joel dan pria yang ternyata adalah ayah Joel sendiri.
Ayah Joel sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia membisu mendengarkan spekulasi para warga tentang mereka. Ia juga tampak tidak peduli dengan yang dikatakan oleh masyarakat.
"Maafkan anak dan istriku sudah menyusahkan kalian semua." Pria tersebut menunduk lalu menarik tangan Celine. Kemudian ia merangkul Celine seolah mereka adalah sepasang suami-istri.
Celine ternganga dan tidak mengerti dengan situasi saat itu. Ia tanpa sadar mengikuti langkah pria itu dengan sendirinya.
Setelah jauh dari kerumunan warga. Pria itu melepas rangkulannya dan menarik Joel dengan paksa. Kemudian ia tanpa sepatah kata pun pergi membawa Joel.
"Hey!" Celine memanggil tapi tetap tidak dihiraukan. Ia ingin mengejar tapi tidak ada hak mencampuri kehidupan mereka. Celine hanyalah orang asing. Meski ia takut terjadi apa-apa pada Joel, tapi ia tidak ada urusannya dengan mereka.
Sementara Joel yang terusan memberontak ingin bersama Celine, terus merengek pada ayahnya. Ia menangis histeris sambil meraung-raung meminta kembali bersama Celine.
"Aku tidak mau pulang! Aku mau kakak," rengek Joel.
"Joel! Jangan merengek seperti itu! Kau laki-laki!"
"Tapi aku mau kakak," balas Joel yang tidak henti-hentinya merengek.
"Tidak!" tegas Alan Jordan.
"Huaaa …" Tangis Joel semakin menjadi-jadi.
"Kau akan kuhukum jika terus menangis," ancam Alan Jordan tidak peduli dengan permintaan anaknya tersebut.
Ayahnya sangatlah menyeramkan jika sudah marah pada Joel. Pengajarnya pada Joel sangatlah keras. Ditambah ia yang sibuk dengan urusan pekerjaan membuat tidak memiliki waktu bersama anaknya. Ia juga tidak terlalu pandai dalam memberikan kasih sayang pada anaknya itu.
Joel yang terbilang kurang kasih sayang, tumbuh dengan baik meski tanpa ada asuhan dari seorang ibu. Ia diurus oleh neneknya dan tinggal di sana bersama ayahnya juga.
"Ayah," panggil Joel dengan wajah yang sembab akibat menangis tadi.
"Hmmm."
"Apa kakak itu bisa tinggal denganku?" tanya Joel dengan polos.
"Tidak, dia punya kehidupan lain. Jadi jangan mengganggu dia," jawab Alan dengan tegas.
"Aku ingin kakak," decak Joel. Mukanya amat murung dan tidak bersemangat lagi.
Joel menjadi sangat pendiam setelah kejadian tersebut. Tidak pernah keluar bermain lagi seperti biasanya. Ia terus mengurung diri. Bahkan makan pun tidak mau.
Hal tersebut membuat nenek Joel merasa sedih dan mencoba menghibur cucu kesayangannya tersebut. Berbagai cara ia lakukan, tapi tidak ada satupun yang berhasil. Nenek Joel menanyakan pada Alan perihal anaknya yang tiba-tiba murung itu.