7.

2045 Kata
Bell POV Kuakui jarak rumah Jerry ke rumah Arsen memakan waktu yang cukup lama. Di tambah jalan menuju rumah Arsen cukup ramai, membuatku harus melalui kemacetan sebentar tadi. Untung aku bukanlah perempuan yang ribet dengan cuaca. Bukan tipikal orang yang mengeluh jika terkena sinar matahari di siang hari layaknya vampire. Aku berhenti di depan gerbang komplek perumahan. Aku membaca alamat yang tertera pada kartu identitas milik Arsen untuk memastikan apakah perumahan yang aku kunjungi ini benar. Ck, pantas saja si Arsen itu sangat anti sosial, dia saja tinggal di perumahan yang harus memiliki akses khusus seperti masuk ke kantor mata-mata dengan security 24 jam. Alay. "Ekhem, maaf mbak, ada perlu apa ya?" tanya seorang satpam datang menghampiriku, sepertinya pemeriksaan identitas. Mungkin dia curiga, karena aku sedari tadi hanya diam dan menatapi gerbang perumahan ini. "Saya mau kembaliin ini jaket sama dompet temen saya. Rumahnya di dalem komplek ini. Di nomor 14 blok B." jawabku lalu menunjukkan kartu identitas milik Arsen dan kartu pelajar milikku. Satpam tersebut mengangguk lalu membuka portal agar aku dapat melanjutkan perjalananku menuju rumah Arsen. Aku takjub dan tidak bisa berkata-kata. Perumahan ini luas sekali. Aku takjub bagaikan Squidward saat ia pindah ke perumahan baru, pada salah satu episode kartun Spongebob. Begitu masuk dari gerbang, mataku disegarkan dengan sebuah taman yang hijau dan sejuk. Terdapat air mancur yang berestetika tinggi di tengahnya juga lengkap dengan playground dan jogging track. Rasanya aku seperti tidak mengunjungi komplek perumahan, tetapi sedang memasuki sebuah perkotaan lain di dalam sebuah kota. Kini, aku paham kenapa untuk masuk ke perumahan ini sangat ribet dan alay. Mereka yang tinggal di sini kuyakini adalah orang-orang yang hartanya tidak habis hingga 7 turunan. Aku berhenti sejenak di dekat papan petunjuk jalan yang ada di taman tersebut, untuk mengetahui letak blok B di sebelah mana. Wow, tak hanya mewah dan luas, tetapi komplek perumahan ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Pada petunjuk jalan, tertera bahwa di sini ada futness center, pool bar, barbeque area, tennis dan basketball court, juga mini market. Bayangkan, di dalam perumahan ada mini market sendiri. Perumahan yang sangat keren. Aku kembali melajukan motorku menuju rumah Arsen setelah menemukan letak blok B yang searah dengan basketball court. Rumah yang terletak di blok B memiliki model rumah minimalis yang elegan, membuat siapa saja yang melihat akan merasa tenang. Aku menghentikan motorku di depan sebuah rumah yang terletak tepat di depan basketball court. Rumah ini di d******i oleh aksen kayu pada arsitektur luarnya. Bahkan pagar rumah ini saja full dari kayu, sehingga orang luar tidak akan dapat melihat penampakan halaman rumah ini. Aku melepaskan helm dan memperhatikan pagar rumah ini untuk mencari letak bel. Rumah sebesar ini, pasti memiliki bel tanpa harus membuang tenaga mengetuk atau membunyikan klakson motor. "Nah, kan, ada.. " gumamku ketika berhasil menemukan intercom yang melekat pada salah satu pilar pagar. Jujur, ini pertama kalinya aku menyentuh, melihat, dan menggunakan bel seperti ini. Seingatku, jika di film-film, kita hanya perlu menekan satu tombol dan berbicara mengenai keperluan kita, sedangkan dari dalam sana pemilik rumah dapat melihat rekaman gambar juga suara kita. "Arsen, gue mau balikin jaket sama dompet." ucapku sesingkat mungkin setelah menekan tombol intercom. Tak perlu menunggu lama, pagar yang tadinya tertutup rapat, sekarang terbuka secara otomatis. Sangat canggih. Aku mendorong motorku ke dalam dan memarkirkannya di halaman. Aku memberi nilai 10/10 untuk halaman dan arsitektur rumah ini. Sangat elegan, rapih, dan memenuhi ciri-ciri rumah impianku. Halamannya luas, tamannya rapih dengan kolam ikan yang menambah rasa tenang. Aku berdiri di depan pintu berwarna hitam dengan door knocker berwarna silver melekat di sana. Ck, aku kira semuanya serba modern di sini, tetapi ternyata pintu utama tetap menggunakan cara manual untuk memanggil pemilik rumah. Aku memegang pengetuk pintu tersebut untuk diayunkan agar menghasilkan suara ketukan. Namun, belum sempat aku ayunkan, tanganku yang sedang memegang pengetuk tersebut justru tertarik ke dalam karena pintu tiba-tiba saja terbuka. Aku yang hilang keseimbangan pun menabrak seseorang yang membuka pintu ini. Dia reflek memeluk pinggangku dan berhasil menjaga keseimbangannya, sehingga kami tidak terjatuh dan saling meniban satu sama lain. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Deg! Dia, Arsen, sedang menatapku datar, tanpa ekspresi, dan dingin. Sedangkan aku, bukannya protes, justru malah diam menatapnya dan semakin mengeratkan peganganku yang telah beralih dari door knocker ke kaos putih polos yang ia kenakan. Bahkan, jantungku, berdebar dengan kencang seakan aku telah berlari 10 putaran lapangan basket di depan. Tidak, bukan 10, tetapi 20 putaran sekarang, karena ia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggangku. Perlahan bibirnya yang tadi datar, kini sisi kanannya membentuk lengkungan. Membuat ekspresi wajahnya sekarang seperti sedang mengejekku penuh kemenangan. "Mas Alsen!! Atu dah ciapp!!" Suara teriakan seorang anak kecil laki-laki dari dalam rumah membuat aku dan Arsen sama terkejutnya. Detak jantungku yang semula berpacu cepat seketika kembali normal dan mendapatkan kesadaranku sepenuhnya kembali, namun Arsen dia yang terburuk. Begitu suara cadel itu terdengar, ia langsung melepaskan pelukannya yang sangat erat tadi dariku tanpa berpikir bahwa aku belum dalam posisi seimbang dan masih menggenggam erat kerah kaosnya. Aku yang terjatuh, tentu saja reflek semakin menarik kaos Arsen, yang membuat keadaan menjadi semakin buruk adalah aku terjatuh dengan posisi terbaring di lantai dan Arsen jatuh tepat di atasku. Arsen menatapku kaget dan aku kembali menjadi tidak normal seperti tadi. Tidak memberikan reaksi apapun, hanya detak jantung kembali berpacu dengan cepat dan juga wajahku yang sepertinya memerah. Padahal, dalam diriku sudah meronta-ronta untuk mengeluarkan suara omelan juga teriakan. Namun, semakin mataku dan mata Arsen bertemu, maka semakin terkunci rapat pula bibirku. "Mas Alsen napain tenkulap di situ? Kacian mbakna di tiban mas alsen.. " tanya anak kecil tadi yang ternyata sudah ada di samping kami. Dia memperhatikan kami dengan posisi jongkok, seperti sedang melihat sesuatu yang sangat menarik baginya. Aku dan Arsen saling bertukar tatap dan kali ini kesadaran kami benar-benar kembali. Aku mendorongnya kuat dan segera bangkit dari posisi tadi, aku pun juga menjaga jarak darinya. Sedangkan Arsen, dia hanya menggaruk tengkuknya sambil menatap anak kecil itu malu. Ck, sekarang baru dia merasa malu, tadi sebelumnya kemana saja rasa malunya itu? "Mas Alsen, ini siapa?" tanya anak kecil itu menunjukku sambil menggenggam erat ujung kaos Arsen. Dia sangat menggemaskan dengan rambut hitam tebal bermodel mangkok dan pipi chubby. Matanya bulat dan berkedip menatapku heran. Senakal-nakalnya aku, tetapi aku sangat menyukai anak-anak. Aku berlutut di depannya lalu mengulurkan tanganku untuk berkenalan. "Hai, nama kakak, Bell. Nama kamu siapa?" tanyaku dan itu membuat ia malu. Ia justru bersembunyi di belakang kaki Arsen dengan wajah yang memerah. Lucu sekali. Arsen mengelus rambut anak kecil itu lalu menggendongnya. "Ini bidadari yang sering mas ceritain.. " ucap Arsen lalu ekspresi anak kecil itu berubah dari malu menjadi tatapan tidak percaya. Dia melihatku dan Arsen bergantian. "Tapi Mba ini ga milip bidadali, milipnya cepelti lok en loll (rock n roll)!!" bisiknya pada Arsen yang masih bisa aku dengar dengan jelas. Aku setuju dengannya. Lagi pula aku tidak mau menjadi bidadari, terlalu lemah lembut. Sangat bukan gaya Bell. "Ada apa ke sini?" tanya Arsen yang membuat aku mengalihkan pandangan dari anak chubby itu. Aku menghela nafas lalu melepaskan jaketnya yang masih aku kenakan tadi. Tak lupa aku juga mengeluarkan dompetnya dari saku jaket untuk memberitahu bahwa tujuanku ke sini adalah untuk mengembalikan ini semua. "Gue tau lo orang kaya, tapi dompet ga usah ditinggal sembarangan juga." sarkasku lalu meletakkan jaket dan dompetnya di meja ruang tamu. Dia tak menjawab hanya menatapku dan barang-barangnya bergantian. "Yaudah, urusan gue udah beres, gue pamit dulu. Dadah adik kecil.. " pamitku pada Arsen dan anak laki-laki di gendongannya. Tanpa menunggu respon dari sang pemilik rumah, aku bergegas keluar dan menaiki motor milik Jerry yang terparkir di halaman rumahnya yang luas. "Mba... unggu!!" teriak anak kecil itu menghentikan aku yang akan menyalakan motor. Aku turun dari motor dan menghampirinya yang berdiri di teras rumah. "Kenapa?" tanyaku berlutut di depannya. Dia memarkan deretan gigi susunya yang rapih dan menatapku malu-malu. Menggemaskan sekali. "Mba.." sapanya lagi dengan nada memelas. "Apa adek manis?" tanyaku lagi memperhatikannya yang sedang memainkan ujung kaos putih polosnya. "Bole ya temenin atu cama Mas Alsen jalan-jalan teliling tomplek?" jawabnya yang membuatku diam sejenak. Aku mau-mau saja menemani adik kecil ini, lagi pula aku memang sangat suka bermain dengan anak kecil, tapi kalau harus jalan dengan laki-laki es batu itu.. Argh membayangkannya saja sudah membuatku kesal. "Piesss... " ucapnya semakin memelas dan memohon. Dia menyatukan kedua tangannya dan menatapku dengan matanya yang berbinar-binar. Astaga bagaimana bisa aku menolaknya. "Hm.. Bukannya kakak gamau, tapi.. " Brak!! Belum sempat aku menjelaskan alasanku pada adik kecil, suara benturan dari dua buah benda sudah mengagetkanku lebih dulu. Aku reflek melihat ke sumber suara tersebut dan menemukan motor kesayangan Jerry sudah tergeletak ditabrak oleh mobil golf yang dikendarai oleh Arsen. Nafasku tercekat. Mataku melebar. Kekagetanku bertambah menjadi 2 kali lipat. Kali ini tercampur dengan rasa marah. "Apalagi ini?! Bisa-bisa aku di cekik Jerry kalau motornya sampai rusak." omelku berlari ke arah motor Jerry yang tergeletak tak berdaya. Aku mendirikan motor itu dan langsung mencoba menyalakannya. "Ah, untung masih bisa hidup motornya!" pekikku lega setidaknya motor ini tidak rusak. Aku mengecek keadaan fisik motor ini untuk memastikan apakah ada lecet atau apapun itu. Malang sekali nasibmu Bell, omelan Jerry akan menghantuimu selama seminggu ini karena badan motornya lecet lumayan parah. Semua ini gara-gara Arsen si es batu kopyor. Aku berbalik menatapnya yang tampak santai melihatku dari balik kemudi mobil golf. Aku menggulung lengan bajuku dan berjalan mendekatinya. Rasanya kepalan tanganku ini sudah tidak sabar menyapa pipinya. "Mas Alsen!! lencananya tadi tan, atu yang ujuk mba, Mas Alsen teluarin mobilnya.. Tenapa motol mba mala ditablak?" pekik adik kecil itu sambil berlari mendekati Arsen. Hm.. Jadi ini semua direncanakan oleh Si es kopyor. Benar-benar mengesalkan. "Heh! Maksud lo begini apa?!" kesalku lalu menarik kerahnya dengan kedua tanganku. Hal itu membuat wajah Arsen kini hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. "Kalau ga begitu, pasti lo tolak bujukkan Gian." jawabnya santai. Benar-benar cari masalah denganku. "Ya tapi gausah nabrak motor gue juga! Motor gue lecet! Ganti rugi!" pekikku. "Gue mulusin lagi motor lo, tapi lo ikut gue nemenin Gian keliling komplek. Gimana?" jawabnya dengan santai, tenang, dan sama sekali tidak merasa bersalah. Ck, dia pikir dia siapa bisa semaunya. Setelah dia menabrak dengan sengaja, sekarang dia mau memanfaatkan kesusahanku. "Gue gamau. Pokoknya lo ganti rugi. Sekarang!" aku menaikkan nada suaraku, menatapnya tajam dan semakin mengeratkan genggaman pada kerahnya. Aku. Sangat. Marah. Hidung kami bahkan telah menempel satu sama lain. Nafasku sangat tidak beraturan sekarang karena emosiku sudah benar-benar akan mencapai puncaknya. Cup! Tidak. Tidak. Tidak. Kecupan yang diberikan Arsen pada puncak hidungku melenyapkan segalanya. Amarahku seketika lenyap entah kemana tergantikan oleh rasa yang tidak dapat aku deskripsikan. Kaget, panik, malu, berdebar dan seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam perutku, juga sedikit rasa senang? Cengkraman erat tadi perlahan melemah. Tatapan tajam perlahan menghilang. Sedangkan Arsen, ia malah tersenyum lalu mengacak rambutku. "Ayolah Bell, kenapa kau menjadi sangat lemah seperti ini hanya karena kecupan lancang itu. Harusnya kau marah!" batinku berteriak. "Pak, tolong itu motornya dibenerin ya. Semuanya harus balik kayak baru lagi. Saya tinggal sebentar, waktu saya balik harus udah beres ya." perintahnya kepada salah satu pekerja di rumah megahnya ini. Aku masih mematung dan memperhatikan segala gerak geriknya. "Sini Mas gendong, aduh makin sehat adek kesayangan Mas.." ucapnya lalu membantu Gian, si adik kecil tadi naik ke mobil golf yang ia kendarai. "Ayo naik. Apa mau gue gendong kayak Gian?" tanyanya membuat kesadaranku seketika kembali. Aku diam tidak menjawab dan langsung duduk di samping Gian. "lencana Mas Alsen telbaik!" bisik Gian yang masih dapatku dengar. Arsen tersenyum puas lalu kembali menyalakan mesin mobil golf ini. Kalau saja tidak ada Gian di antara kami, sudah kupastikan rambut tebalnya itu berubah menjadi gundul. Iya. Gundul. Karena aku jambak. "Sabal ya mba lok en lol.. Atu minta maap yaa? Piess..." ucap Gian lalu menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Aku menghela nafas dan mengalah. Aku selalu lemah dengan anak kecil. "Sini kakak pangku." jawabku lalu menggendong Gian ke pangkuanku lalu memeluknya. Gian tersenyum dan aku pun ikut tersenyum. "Siap tuan?" tanya Arsen pada adiknya. "Belangkat!!" sahut Gian semangat. Pagar yang semula tertutup kini terbuka dengan otomatis. "Let's go.. " jawab Arsen lalu menjalankan mobil golf ini meninggalkan rumahnya. To be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN