Author’s POV
Tidak ada yang benar-benar menyadari perubahan itu di awal.
Bell tetap datang ke sekolah dengan motor yang sama. Tetap ribut di kelas. Tetap celetukan tidak penting ke Jerry dan Daffa. Tetap tertawa keras bersama Romeo.
Hanya saja ia tidak lagi lama. Bell datang. Bell tertawa. Bell pergi.
Dan entah kenapa, setiap kali ia menghilang, arahnya selalu sama. Lapangan basket. Lorong kelas dua belas. Tangga belakang dekat ruang OSIS. Sudut kantin. Tempat-tempat yang… terlalu sering dilewati satu orang.
Arsen.
Romeo yang pertama kali menyadarinya.
“Eh,” katanya sambil menyenggol Jerry dengan sudut sikunya pelan, “Lo sadar nggak sih, Bell jarang nongkrong bareng kita?”
Jerry mengernyit. “Perasaan dari kemarin ada terus si Bell ga pernah absen.”
“Iya ada, tapi bentar. Mana jarang bolos lagi, ada terus di sekolah. Ga kayak biasanya..” ucap Romeo yang merasa kehilangan peran sebagai penyeludup gelap tas Bell jika ia akan kabur dari sekolah.
Daffa melirik ke arah bangku kantin di depannya, tempat Bell biasanya duduk. Kosong. “Dia lagi sibuk apa sih?”
Ivan yang berdiri tak jauh dari mereka ikut menoleh. Senyumnya masih ada, tapi tidak selebar biasanya. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal.
Bell sendiri tidak sadar kapan tepatnya ia mulai sering berada di dekat Arsen. Awalnya hanya lewat. Lalu pura-pura ke toilet. Lalu duduk agak lama di bangku yang sama, tapi dengan jarak aman. Lalu, melewati lorong seniornya lebih sering.
“Eh, lu tau ga, Si Arsen putus..”
Langkah Bell terhenti saat ia Akan menuruni tangga belakang ruang Osis untuk kembali lewat di lorong kelas 12. Suara itu datang dari bangku panjang dekat Lab. Komputer. Tiga siswa kelas dua belas duduk santai, tertawa tanpa beban, seakan dunia memang selalu berpihak pada mereka.
“Putus sama anak kelas 10 itu? Lagi cewe adu jotos itu mana bisa sih pacaran sama si manusia gagu itu..” jawab satu orang lainnya.
“Ya lagi mereka jadian juga karena Dare doang itu..” sahut lainnya yang tidak menyadari bahwa Bell masih berdiri tidak jauh dari mereka. Tidak pernah bergeser.
“Iya, pacar main-mainnya. Arsen mah mana bisa pacaran, kaku gitu.”
“Gayanya sok dingin, padahal cuma numpang nama orang tua. Heran gue juga cewe-cewe pada suka sama tu orang”
“Lagi dia juga klemer bener dah jadi cowok yang dilabrak juga diem doang,” sahut yang lain tertawa.
Rahang Bell mengencang. Dulu, Bell mungkin akan ikut tertawa. Bahkan mungkin menambahkan komentar. Sekarang, dadanya terasa panas.
“Eh,” potong Bell tajam, berbalik menghadap mereka. “Ngomongin orang itu minimal liat-liat dulu.”
Ketiganya menoleh bersamaan.
Salah satu dari mereka tertawa kecil. “Santai, Bell. Cuma bercanda.”
“Bercanda lo kayak sampah,” balas Bell cepat. Bell melangkah maju satu langkah. Tangannya mengepal tanpa ia sadari. “Masalah lo apa sama dia?”
Suasana berubah tegang.
“Kenapa? Tersinggung?” sahut salah seorang dari mereka.
“Kenapa gue harus tersinggung?” Bell melangkah lebih dekat. “Yang lo hina bukan gue.”
“Ya tapi lo keliatan ribet banget belain dia, padahal udah jadi mantan..” ejek lainnya. Mereka tertawa.
Bell tertawa kecil, pahit. “Lucu ya. Ngomong segitu banyak, ngatain orang gagu, padahal lu pada sendiri kayak cewe, beraninya gosip doang.” Nada suara mulai meninggi. Beberapa siswa menoleh.
Salah satu dari mereka berdiri. Lebih tinggi. Lebih besar. “Hati-hati ngomong, Bell.”
Bell tidak mundur. Bahkan semakin dekat. “Hati-hati itu harusnya buat orang yang omongannya nggak punya otak.”
Satu langkah lagi, dan itu bukan lagi adu mulut.
“Bell.” Suara itu datang dari samping. Rendah. Tenang. Dingin.
Arsen.
Ia berdiri beberapa meter dari mereka. Wajahnya datar seperti biasa. Tatapannya tidak menantang, tapi cukup membuat mereka semua terdiam sesaat. Bell menoleh. Dadanya naik turun.
“Mereka ngomongin lo.” Adu Bell agar Arsen tau bahwa teman seangkatannya membicarakannya di belakang.
“Biarin.” balas Arsen lalu berjalan mendekat.
“Kok biarin, sih?” suara Bell bergetar. Marah. Kesal. “Kenapa lo biarin dan terima? Lo di jelek-jelekin gitu! Nanti mereka besar kepala..”
Arsen berdiri di samping Bell. Posisi tubuhnya jelas—melindungi, meski tanpa menyentuh.
“Masalah gue,” katanya pada Bell. “Jangan libatin diri lo untuk urus hal kayak gini, abaikan aja.”
“Wah, akhirnya buka suara,” ejek salah satu dari mereka. “Gimana rasanya dibelain cewek?”
Bell refleks mengangkat tangan dan hendak melangkah mendekat, siap melayangkan genggaman tangannya yang siap membuat siapapun tumbang. Namun Arsen lebih cepat. Tangannya menangkap tubuh Bell kuat. Tidak keras. Tapi cukup untuk menghentikannya.
Pelukan tak langsung itu membuat Bell terdiam.
“Sudah,” kata Arsen tenang. “Kalian juga yang dilawan cewe, ga malu?” tanyanya balik. Singkat tapi cukup menyerang pada titik yang tepat. Skakmat!
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat ketiganya akhirnya mundur. Bukan takut—lebih ke enggan. Seperti tahu, satu langkah lagi akan membuat masalah mereka jadi lebih besar.
Mereka pergi sambil menggerutu. Bell masih berdiri kaku. Tubuhnya masih berada dalam rengkuhan Arsen.
“Lepasin,” gumam Bell pelan.
Arsen segera melepaskan. Seakan baru sadar apa yang ia lakukan.
“Lo kenapa sih?” omel Bell begitu mereka benar-benar pergi. “Kenapa lo diem aja tiap orang ngomongin lo?”
Arsen menoleh ke Bell. Ekspresinya tetap terkendali. Terlalu terkendali.
“Biasa,” jawabnya singkat.
“Biasa apanya?!” Bell mendengus. “Lo itu dibicarain jelek-jelek, Arsen.”
“Gue tau.”
“Dan lo biarin?” ketus Bell. Arsen menatap Bell lebih lama dari biasanya. Tatapan itu tenang. Dalam. Seolah menimbang sesuatu.
“Gue ga perlu klarifikasi hal yang udah jelas tidak benar. Lagian ada hal yang lebih penting dari omongan orang,” katanya akhirnya. “Selama mereka nggak ngerugiin orang lain, gue nggak peduli.”
Bell terdiam. “Lo…” Bell menelan ludah. “Lo harusnya jaga diri lo sendiri dulu.”
Arsen tersenyum tipis. Sangat tipis. “Gue udah.”
Bell mendengus kesal, lalu tanpa sadar menarik lengan seragam Arsen. Gerakan spontan. Dekat. Terlalu dekat.
“Mulai sekarang, jangan gitu lagi,” ucap Bell pelan tapi tegas. “Gue nggak suka cowo yang lemah. Gue aja bisa lawan, masa lo ngga.”
Arsen merasakan hangat menjalar pelan. Tapi wajahnya tetap tenang.
“Kalau lo yang minta,” katanya lirih. “Gue coba.”
Bell menatapnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Jarak mereka tidak jauh. Terlalu sedikit untuk aman. Terlalu banyak untuk mundur. Arsen hanya menatap Bell—dan untuk pertama kalinya, tidak berusaha menyembunyikan ketertarikan itu sepenuhnya.
Detik itu juga, Arsen merasa seluruh dunia mengecil. Ia mengangkat tangan, ragu. Jemarinya berhenti beberapa senti dari rambut Bell. Menunggu. Meminta izin tanpa kata. Bell tidak mundur. Arsen akhirnya menyentuhnya. Sangat ringan. Mengusap rambut Bell yang tertiup angin.
Dari kejauhan, Ivan melihat semuanya. Bell berdiri terlalu dekat dengan Arsen. Nada suaranya tidak seperti biasanya. Tatapan matanya… berbeda. Ivan tersenyum kecil, tapi kali ini senyum itu terasa berat.
“Bell,” panggilnya sambil melangkah mendekat.
Bell menoleh. Seperti baru tersadar, ia langsung melepaskan genggamannya pada lengan baju Arsen. Sedikit mendorongnya, membuat Arsen terdorong mundur satu langkah.
Ivan berdiri di antara mereka, seperti refleks.
“Lo di sini ternyata, gue cariin dari tadi. Lagi ngapain?” Ia berjalan mendekat dengan senyum lebar, langkah santai. Tangannya langsung mendarat di bahu Bell, akrab, seperti biasa.
“Ngga ngapa-ngapain,” jawab Bell cepat.
Arsen mundur satu langkah. Seperti biasa. Seperti setiap kali ia sudah cukup dekat, lalu seseorang datang dan mengambil ruang itu darinya. Perlahan. Tanpa paksaan. Tanpa konflik terbuka.
Ivan melihatnya.
“Eh, abis ini lo balik kelas atau mau ke mana?” tanya Ivan, tangannya masih bertahan di bahu Bell. Ia seperti mendistraksi Bell. Mengalihkan fokusnya dari Arsen ke Ivan.
Bell ragu sesaat. Matanya sempat melirik ke arah Arsen. Tapi Ivan sudah lebih dulu melangkah.
“Anter gue ke kantin, yuk.” Kalimat itu sederhana.
Namun di telinga Arsen, itu terdengar seperti pintu yang tertutup pelan. Bukan dibanting. Bukan dikunci. Hanya ditutup… cukup rapat untuk membuatnya tidak punya alasan masuk.
Arsen menghembuskan napas perlahan. Dadanya terasa hangat dan perih bersamaan. Ia tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah Bell lihat.
Begini caranya, pikirnya.
Bukan sekali ini saja, tapi selalu seperti ini. Bell tidak sadar, tapi setiap kali Arsen mulai muncul… Ivan selalu ada. Mengisi ruang. Mengambil fokus. Membuat kehadiran Arsen lama-lama memudar, sampai akhirnya Bell bahkan lupa—bahwa ia pernah ada.
Bahwa mereka pernah dekat. Bahwa ia pernah berarti.
Dan itu cukup. Cukup untuk membuat Arsen memilih hal yang sama seperti dulu.
Pergi.
Saat Bell akhirnya menoleh lagi, Arsen sudah tidak ada.
“Eh,” Bell bergumam pelan. “Arsen…”
“Hm?” Ivan menoleh. “Kenapa?”
“Nggak… nggak apa-apa.”
Bell menggenggam tangan Ivan lebih erat, reflek. Ada rasa aneh di dadanya. Seperti baru saja kehilangan sesuatu, tapi tidak tahu apa.
Ivan tersenyum dan menariknya sedikit lebih dekat.
“Ayo,” katanya.
Bell mengangguk dan berjalan.
Tanpa sadar, ia meninggalkan satu sosok di belakang. Dan Arsen, dari kejauhan, berhenti sejenak. Ia menoleh sekali lagi. Melihat Bell tertawa kecil karena sesuatu yang Ivan katakan. Dan saat itu juga, ia kembali sadar, kehadirannya di hidup Bell akan selalu samar. Jauh. Dingin.