5.

3099 Kata
Bell's POV "Gue kangen banget sama lo, Dek!" ucapnya lalu mengacak-acak rambutku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya sedikit malu-malu dan canggung. Masih diantara percaya dan tidak kalau ia benar-benar ada di depanku sekarang. Terakhir aku bertemu dengannya saat dia SMP dan aku masih SD. Ayahnya yang merupakan seorang diplomat, membuatnya sering berpindah-pindah tempat tinggal. "Kapan lo dateng ke Jakarta?" tanyaku basa basi sambil merapikan rambutku yang berantakan karena Ivan. Kak Ivan. "Seminggu yang lalu.." jawabnya sambil ikut merapikan helaian rambutku yang membuat degupan jantungku meningkat pesat. Kalau begini, lama-lama jantungku bisa lepas dari tempatnya. "Dek? Kenapa diem?" tanyanya semakin menatapku lekat. Ayo Bell, stay cool. Jangan mau kalah dengan perasaan. "Ya emang gaboleh orang diem?" jawabku mengalihkan pandangan agar tidak bertatapan. "Kirain diem karena terpesona sama gue yang makin ganteng hahahaha" candanya. Untuk itu aku setuju, memang dia jauh lebih tampan dari sebelumnya. "Ngga, geer lo. Ihh geer..." ejekku membuatnya merangkul dan mengapitku ke arah ketiaknya. Jujur, wangi parfumenya benar-benar membuatku lemah. Sangat menenangkan. "Nih nih rasain gue ketekin lo.. " ledeknya. Iya gapapa kok, aku juga betah kalau diapit begini. Hanya saja, aku tetap harus menjaga image-ku. Jangan sampai dia tau kalau aku sedang tergila-gila dengan wangi parfumenya. "Bau ni!! Ketek lo bau banget! Ga mandi berapa hari?" ledekku kembali dan berusaha melepaskan diri dari apitan keteknya. Sebenarnya aku sangat betah dan sedikit berat harus menahan gengsi ini. "Enak aja! Ketek gue wangi! Nih Nih cium yang bener!" ucapnya tak mau kalah dan semakin menyodorkan ketiaknya kepadaku. Aku menusuk-nusuk ketiaknya dengan telunjukku untuk membalasnya. Kena kau! "Aduh-duh.. Hahahaha geli dekk ampun!" sahutnya lalu menurunkan tangannya dan melindungi ketiaknya dari serangan telunjukku. Kami tertawa lepas. Senangnya dapat kembali seperti ini. Drrtt...ddrtt Aku merasakan sakuku bergetar berkali-kali, menandakan ada panggilan atau mungkin pesan pada gedgetku. Aku menatap Ivan meminta izin untuk memeriksa handphone-ku sebentar. Aku mengerutkan dahiku ketika menemukan beberapa pesan dari nomor tak dikenal, lagi. From : +628xxxxxxxxxx Jangan pernah coba-coba buat selingkuh! Nomor siapa lagi ini? Ini bukan nomor yang tadi. Sepertinya hari ini aku benar-benar di teror oleh orang yang tidak dikenal. "Siapa sih? Iseng banget." gumamku kesal lalu segera menonaktifin handphone-ku dan menyimpannya di ransel. "Pacar lo ya?" tanya Ivan membuatku menatapnya tegas dan menggelengkan kepalaku. Jelas. Aku. Tidak. Mememiliki. Pacar. Tidak sama sekali. "Gue ngga punya pacar.." jawabku kembali menegaskan ketika ia justru menatapku mengejek seakan tak percaya. Aku memutar bola mataku mengisyaratkan kata 'Terserah' padanya. "Terus yang tadi nembak cowok di tengah lapangan sekolah siapa? Bukan lo?" tanyanya sambil ngangkat sebelah alisnya. Aku membelalakkan mataku dan menatapnya tak percaya. Apa dia lihat adegan tadi? "Ya bukanlah.." elakku. Bukannya tidak mau mengiyakan tetapi aku tidak ingin dia berpikir kalau aku menyukai laki-laki lain. Padahal, jelas,  yang aku suka adalah laki-laki yang ada di depanku saat ini. "Bohong banget lo! Gue tadi dibarisan paling depan. Jadi jelas banget tadi itu lo.." jawabnya enteng lalu kembali merangkulku dan tersenyum. Argh! Sudah Bell, makin tertutup rapat saja jalanmu untuk bisa bersama Ivan. "Kok bisa? Gimana ceritanya?" tanyaku sedikit penasaran, bagaimana bisa dia ada disitu. Padahal ia bukan murid di sekolahku. Dia mengambil suatu map dari tas ranselnya dan memberikannya padaku. Aku menerima map tersebut dengan tatapan penuh tanya. "Gue tadi lagi ngurusin kepindahan gue. Waktu gue mau ke ruang TU, gue ngelewatin lapangan. Rame banget. Lo taulah kalo gue itu orangnya kepoan. Jadi gue ke situ. Eh ternyata ada yang lagi main tembak-tembakan.." ledeknya membuatku menghela nafas. Kebetulan yang sangat merugikan untukku. "Gini ya, Van. Itu cuman dare. Jadi, gue dan orang tadi ga ada apa-apa.. " jelasku. Sedangkan, yang menerima penjelasan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Hening. Tak ada jawaban darinya. Aku pun bingung mau melanjutkan obrolan apa dengannya. Bell, Ivan bahkan tidak bertanya mengenai detail ataupun penjelasan, untuk apa juga kamu menjelaskan ini padanya. "Bell!" teriak seseorang dengan suara cemprengnya memecahkan keheningan antara aku dan Ivan. Suara yang tak asing untukku. Ini suara Jerry. Aku mengalihkan pandanganku pada Jerry yang sedang berlari  menghampiriku. "kenapa lo ngikutin gue?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alis. "Idih geer lu. Gua nih mau bilang tadi nyokap lu sms nyokap gua. Dia nyuruh lu balik sama gua. Rumah lu kagak ada orang. Kunci rumah lu ada di rumah gua. Bibi yang kerja di rumah lu balik kampung gara-gara anaknya sakit.." jelasnya. Aku menaikkan sebelah alisku dan menatapnya bingung. "Lah terus?" tanyaku. Jerry mengusap wajahnya dan menghela nafas kesal. "Lah jadinya kan elu mesti pulang sama gua. Berarti lu mesti balik ke sekolah. Gua kan kagak suka bolos kek elu.." jawabnya. "Dasar sepupu rempong. Tinggal biarin gue balik duluan ke rumah lo aja kenapa sih.." ucapku yang membuatnya menggeleng cepat. "No! Ntar Mama mikir gue bolos juga tapi ga balik ke rumah. Ribet. Udah deh tinggal balik lagi ke kelas terus lo tidur aja kayak biasanya.." tolaknya dan ku jawab dengan anggukan tanda menyetujui untuk pulang dengannya. "Ekhem.. Yaudah kalau gitu, gue balik dulu ya, Bell.." ucap Ivan menyadarkanku dan Jerry kalau ada orang lain di antara obrolan kami. Nyaris aku melupakan kalau ada Ivan di sini. Jerry menatap Ivan berusaha menerka-nerka siapa laki-laki berseragam bebas ini. "Gue Ivan Jer. Bukan orang asing yang mau apa-apain Bell.. " jawab Ivan disertai tawanya atas tatapan bingung dari Jerry. Mendengar itu, Jerry pun lamgsung memeluk Ivan dan tersenyum senang. Jerry dan Ivan juga saling mengenal satu sama lain, karena Jerry dan aku sering bermain bersama, otomatis Jerry pun mengenal Ivan. "Gila, ga nyangka bakalan ketemu lo lagi, bro.. " ucap Jerry dan dibalas senyuman oleh Ivan. Tanpa sadar, aku pun ikut tersenyum ketika melihat senyuman itu di wajah Ivan. Manis sekali. "Lu masuk sekolah kapan?" tanya Jerry pada Ivan sambil kami berjalan mendekati Mobil Mercy hitam milik Ivan. "Besok gua masuk sekolah." jawab Ivan lalu membuka kunci pintu mobilnya. Jerry menganggukkan kepalanya lalu pamit untuk duluan kembali ke kelas. Mungkin Jerry mengerti kalau aku dan Ivan masih ingin berbicara berdua. "Masih ga berubah ya si Jerry. Masih bawel.. " ucap Ivan yang membuatku tertawa dan mengangguk setuju. Kuakui sepupuku itu memang bawel. "By the way, gue balik dulu ya Sampai ketemu besok adek kelas alias fans gua. Besok gua jemput ya.." jawabnya lalu mengacak-acak rambutku disertai dengan tawa khasnya. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil hitam miliknya dan pergi meninggalkan area sekolahku. Aku mengatur nafasku sejenak menetralkan degupan jantungku sambil memerhatikan mobilnya yang perlahan tapi pasti menjauhi sekolahku. Setelah kurasa cukup tenang, tanpa babibu lagi aku pun langsung berbalik untuk menyusul Jerry kembali ke kelas. Tetapi kenyataannya, disaat aku berbalik, "pacar"-ku alias si Arsen songong itu ada di hadapanku. Dia yang jaraknya tidak begitu jauh dariku pun langsung mencengkram tangan kananku kuat. Sorot matanya menyiratkan amarah yang tertahankan. Rahangnya tampak sangat jelas menegang dan kaku. Wajahnya yang semula putih itu kini berubah kemerahan. Dia sehat? "Besok pagi, lu gue yang jemput. Jangan pergi sekolah dengan cowo lain. Sekarang balik ke kelas lu. Ga boleh bolos. Pulang juga gue yang anter." perintahnya tegas dan arrogant seperti biasanya. Aku menatapnya malas, melepaskan cengkraman tangannya dan berlalu melewatinya. Aku sungguh tidak mendengarkan dan tidak peduli sama sekali dengan ucapannya barusan. Aku sudah memutuskan, besok aku akan pergi sekolah dengan Ivan. Namun, Ternyata ia tak begitu suka dengan reaksiku yang tidak memberikan jawaban iya atau tidak.  Dia langsung menarik tanganku kencang mendekat ke arahnya (Bukan menarik tapi lebih tepatnya menyeret), ia menatapku dalam dan seakan mengintimidasiku untuk mengatakan 'Iya sayang, besok aku berangkat sekolah dengan kamu'. Yuck, disgusting! "Sumpah, ini orang psikopat atau tempramental atau gimana? Gue ga ada apa-apain maen emosi aja." batinku kesal. Aku yang juga terbakar api emosi pun menginjak dan menendang kakinya kuat. Aku menatapnya tajam dan mengucapkan kata "mampus" tanpa mengeluarkan suara. Setelah itu aku berlari masuk ke dalam kelas. Di sinilah aku sekarang. Di kelas terkutuk ini. Terduduk dan merutuki nasibku yang harus kembali ke dalam kelas menunggu jam sekolah berakhir. Free class sih free class, tetapi kalau diberi tugas setumpuk begini sama saja bukan free namanya. Dasar guru laknat. Udah tugasnya setumpuk, pengumpulannya juga harus pas pulang sekolah nanti. Menyebalkan. "Lu nggak ngerjain, Bell?" tanya Sarah si wakil ketua kelas ketika melihatku yang hanya mencoret-coret bukuku. Dia adalah anak rajin yang pintar nan berbakat yang menjadi idaman anak laki-laki satu sekolah. "Males. Lu udah selesai emang ngerjain ini? Gue liat lu keknya nyantai amat.." jawabku tanpa melihatnya dan fokus membuat gambar Spongebob kali ini. "Udah. Minggu lalu udah gue kerjain di tempat les.." ucapnya dengan ceria. Pantas saja dia bersantai ria. Tiba-tiba terlintas ide gila pada pikiranku. Yang aku tau, dia sangat maniak dalam mengerjakan soal, mungkin dia mau mengerjakan tugasku. Aku pun menegakkan posisi dudukku dan menatapnya dengan senyuman basa-basi. "Nah kalau gitu lu bantu gue dong ngerjain ini. Gak ngerti gua, Sar.." ujar ku bohong. Jelaslah saja aku berbohong. Karena pada kenyataannya, aku sangat paham dengan materi kali ini. Hanya saja aku tidak ada mood dan keinginan untuk berkutat dengan soal-soal ini. "Ya udah sini gue yang kerjain. Daripada ntar gue bosen mending gue kerjain punya lu.." jawabnya senang lalu mengambil buku tulisku dan mulai mengerjakannya. Dasar kutu buku, mau saja mengerjakan tugasku tanpa penolakan. "Makasih yo Sar. Baik banget sih lu sama gua. Ntar, gue traktir makan di kantin besok.. " ucap gue berterima kasih lalu berjalan keluar kelas. Menurutku Nangkring di kantin lebih seru nih daripada berdiam diri di kelas menunggu jam pelajaran berakhir. Lumayan, jika di kantin bisa sambil mendengarkan gosipan anak sekolahan dari mpok Eti. Walaupun aku tomboi begini, aku tetaplah seorang perempuan yang suka merumpi dan mendengarkan gosip-gosip terbaru. Mpok Eti pun merupakan sumber gosip nomor 1 dan sangat terpercaya seanteoro sekolah. Secara, dia mudah berbaur dengan anak-anak di sekolah ini. Tak heran, jika ia tak pernah kehabisan bahan. "Mpok! Es jeruk ya. Gue tunggu di sana.." pesanku sambil nunjuk kursi tak jauh dari kiosnya Mpok Eti. "Tunggu bentar ya, Neng.. " jawabnya. Aku duduk di kursi itu sambil menunggu Mpok Eti membuat es jerukku. Perlu kalian ketahui, es jeruk buatan kantin Mpok Eti ga akan ada 2 -nya. Jeruknya manis sehingga tidak begitu membutuhkan tambahan air gula dalam segelas es jeruknya. Benar-benar segar untuk menyejukkan suasana hati yang sedang kesal sepertiku sekarang. "Nih, pesanannya.." ucap Mpok meletakkan es jeruk favoritku di atas meja. "Makasih Mpok!" jawabku dengan semangat 45 dan langsung meminum es jeruk bercita rasa original ini. Sedangkan Mpok Eti hanya tersenyum dan duduk di depanku. "Eh, Bell.." panggil Mpok Eti membuatku mengalihkan pandanganku ke arahnya. Aku hanya mengangkat sebelah alisku sebagai jawaban 'Apa?' karena mulutku sekarang sedang berfokus untuk menikmati es jeruk ini. "Kamu beneran pacaran dengan Arsen?" tanya Mpok Eti yang membuatku nyaris tersedak oleh minuman favoritku sendiri. "M-Mpok tau darimana? Gosip itu. Ga benerlah. Tau sendiri, gue ga suka cowo sok-sokan modelan Arsen. Mpok ada-ada aja.. " jawabku mengelak. Jelas saja! Siapa juga yang mau mengaku menjadi pacar seorang Arsen. "Tapi tadi di kantin banyak banget yang ngomongin kalian. Jadi, Mpok mau konfirmasi langsung gitu. Katanya kamu yang nembak si Arsen." jelas Mpok semakin kepo. "Masalah kalau gue nembak Arsen ya itu bener. Soalnya itu tantangan dari Daffa, waktu kita main ToD tadi pagi. Inget kan tadi pagi kita berempat ada di sini.. " jelasku selogis dan sefakta mungkin. "Oh gitu. Mpok kirain bener. Kalo benerkan Mpok mau kasi kamu makan sama minum gratis di warung Mpok.." ucap Mpok Eti sedikit memancing-mancing dengan penawaran spesialnya. Jujur, untuk penawaran yang ini aku sedikit tergoda. "Serius mpok?" tanyaku berusaha memastikan mengenai penawarannya. "Kan, tadi kamu bilang ga pacaran. Ya udah gak jadi.." jawabnya santai membuatku merasa bagai dijatuhkan dari bulan ke bumi. Batal mendapatkan makanan gratis. "Yah si mpok mah. Jadiin napa sih mpok. Pacaran nih gua mpok beneran. Emang sih cuman ToD terus dah mau gue putusin, tapi si Arsen kagak mau.." jawabku sedikit mengiyakan kalau aku dan Arsen pacaran tetapi tetap memertegas kalau seorang Bell sama sekali tidak peduli akan hubungan itu. "Nahkan ngaku juga kamu pacaran." ucap mpok Eti. 'k*****t lu mpok! Awas aja ga jadi dapat gratisan!' kesalku dalam hati. "Yaudah, untuk menghargai kejujuranmu, Mpok bikinin kamu makanan deh gratis. Mau makan apa kamu?" tanya Mpok membuat senyum sumringah panjang kali lebar milikku terpampang nyata. "Nah gitu dong. Jangan buat mancing doangan mpok, jadiin sekalian. Nasi goreng special, pedes ya Mpok kek biasa.." pesanku yang langsung di dengar dengan sepenuh hati oleh Mpok Eti. "Siap!" ucapnya lalu menghilang masuk ke dalam kios kantinnya. Sembari menunggu nasi goreng jadi, aku pun memainkan game yang ada di handphoneku. Aku cukup sering menghabiskan waktuku untuk bermain game, tetapi tidak secandu orang-orang diluar sana. Saat sedang asyik bermain game, tiba-tiba aku merasakan beban yang tak begitu berat pada bahu kananku. Tidak hanya itu, aku juga dapat merasakan rambut yang menggelitik leherku.  "Ah! Siapa sih yang maen nyandar aja di pundak gua? Beh.. pasti si Jerry ni. Tau gua.. Woi Jer ah! Berat!" omelku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar handphoneku sembari menggerak-gerakkan bahuku agar ia menyingkirkan kepalanya itu. Tetapi, semakin aku menggerakkan dan menjauhkan bahuku darinya, ia juga semakin mendekat dan berusaha untuk tetap bersandar di bahuku. "Kebiasaan deh lu Jer.." ucapku lalu menjauhkan kepala itu dari pundakku untuk kesekian kalinya, tetap tanpa melihat ke arah si pemilik kepala tersebut. Kenapa aku harus melihat siapa yang sedang bersandar tanpa izin seperti ini? Aku pun tau siapa saja pelakunya tanpa harus melihat. Ada 2 manusia di dunia ini yang sangat suka gelendotan (bersandar kalau dalam bahasa indonesia yang baik dan benar) padaku tanpa izin, kalau bukan Kakakku Angga, sudah pasti Jerry. Berhubung ini masih di sekolah, sudah pasti Jerry-lah pelakunya. Sangat mudah bukan untuk menebaknya. Hanya saja aku akui, hari ini Jerry sedikit berbeda. Lebih manja. Biasanya ketika aku menggerakkan bahuku sedikit saja ia akan menarik kepalanya dari bahuku dan mendumel karena kepelitanku dalam menyediakan sandaran. "Arsen. Bukan Jerry.." gumam si pemilik kepala itu lalu kembali meletakkan kepalanya di bahuku. Apa? Arsen?! Hah?! Aku yang shock langsung melihat ke arah bahuku. Ah! Bener dia Arsen bukan Jerry. "Tinggiin dikit badan lo. Terlalu pendek. Ga nyaman buat gue sandaran.." ucapnya dengan nada datar lalu membenarkan posisi dudukku menjadi tegak dan dia kembali menggerakkan kepalanya seperti mendusel mencari posisi ternyaman pada sebuah bantal. Entah kenapa juga aku hanya diam dan membiarkannya bersandar sejenak. Walau aku pun tak dapat menyembunyikan kekesalanku. Ya, nafasku sekarang sudah seperti nafas banteng yang akan bersiap-siap menyeruduk mangsanya. 'Kurang ajar! Udah dia yang nyandar-nyandar gak pake izin sekarang malah ngatain gua. Minta dibacok nih orang atu!' kesalku dalam hati. "Makanan siap!" teriak mpok Eti dari kejauhan lalu berjalan mendekati mejaku. Dia mengecilkan suaranya begitu melihat Arsen bersandar dengan nyaman pada bahuku. Dia tersenyum dan menatapku seakan-akan mengatakan 'Cie..' . Aku pasrah dan memutar bola mataku malas. Dapat aku prediksi dalam beberapa hari ke depan, gosip mengenai aku dan Arsen akan semakin menjadi trending di sekolah ini. "Eh, ada Arsen juga ternyata. Waduh bolos pelajaran bareng. Janjian ya pasti kalian? Aduh lucunya. Udah kayak jaman mpok sekolah dulu" celetuk Mpok Eti dengan berbisik-bisik sambil menyajikan nasi goreng pesananku. "Udah deh Mpok. Gue sama nih orang atu kagak janjian. Dianya aja yang ngikut gue bolos.." sahutku lalu melipat kedua tanganku di d**a. Semakin berantakan saja moodku dibuatnya. "Gue gak bolos. Gue udah pulang.." jawabnya datar lalu menegakkan badannya. Hm, aku baru ingat kalau anak kelas 12 memang pulang lebih awal karena mereka hanya melakukan try out saja. "Ah, sudahlah Mpok gak mau ganggu kalian. Ntar Mpok iri lagi.." ejek Mpok lalu kembali masuk ke dalam kiosnya. "Lu udah balikkan? Nah udah sono pergi jauh-jauh dari gue. Pulang nanti mama lo nyariin.. " keluhku sambil mengambil sendok tanpa menatapnya. "Gak. Gue nunggu lu pulang. Kita pulang bareng. Kayak yang gue bilang tadi." jawabnya ikut mengambil sendok dan langsung mencicipi nasi gorengku. "Wah, memang ga ada sopan santun ni orang. Gue aja belum nyicip." kesal batinku semakin membeludak. "Gue balik sama Jerry. Dan gak butuh tumpangan dari elu juga.." tolakku lalu mulai memakan nasi goreng lengkap dengan suara dentingan sendok dan piring yang disengaja. Biarlah dia menganggapku tidak sopan, bagiku ini sinyal agar dia tau kalau aku tidak suka makananku dicomot tanpa izin. "Gue tungguin lu sampe selesai makan." jawabnya enteng dan tetap menyomot timun di piring nasi gorengku. Argh! Aku langsung meletakkan sendokku dan menatapnya tajam. Tapi, reaksinya justru sangat aneh. Dia malah tersenyum dan mengusap puncak kepalaku. "lya ga gue comot-comot lagi. Gih, makan dulu." ucapnya lalu beralih memainkan handphonenya. "Ya terserah!" sahutku lalu kembali fokus ada nasi gorengku. Hening. Hanya ada suara dari kantin dan dentingan sendokku. Suap demi suap aku pun menghabiskan nasi goreng ini. Entah sudah berapa lama aku memakan nasi goreng ini sampai tidak sadar kalau Arsen sudah tidak ada di sampingku. Ck, Katanya tadi mau menungguku hingga selesai makan. Tau-taunya malah pergi sebelum aku selesai. Tapi, tidak apa-apa justru itu bagus jadi aku bisa menikmati waktu dengan lebih tenang. Baru aja aku akan bersuka cita atas keberadaan Arsen yang menghilang tiba-tiba itu, aku sudah kembali dibuat berduka cita dengan kembalinya dia kehadapanku. Di pundak kanannya tersampir tas hitam kesayanganku. Sedangkan, Tangan kirinya membawa sebuah helm dan jeket kulit hitam. "Udah selesai? Kita pulang sekarang.." ucapnya lalu memakaikanku helm yang dibawanya. "Tapi gue balik sama Jerry. Lu ini tuli atau apasih?!" kesalku lalu membuka kembali helm itu. "Lu pulang sama gue.." ucapnya dengan menghela nafasnya lalu  kembali memasangkan helm itu padaku. "Gua bilang kagak ya kagak!" tolakku yang kembali membuka helm itu dan mengembalikannya pada Arsen dengan sedikit kasar. Dia tidak mengaduh sama sekali dan tetap sabar dengan wajah datarnya. "Lu pulang sama gua ke parkiran. Lu pulang ke rumah bareng Jerry.." ucapnya tenang. Ia kembali mengenakan helm itu lagi.  Aku tidak menolak kali ini karena setidaknya aku tau aku tidak akan pulang dengannya. Ia juga mengenakan jaket kulit itu ke badanku, dari ukuran dan bau jaket ini dapat dipastikan bahwa ini adalah jaket cowo. Dia kembali mengacak rambutku pelan dan merangkulku meninggalkan kantin. Jujur, rasanya sedikit aneh, tetapi cukup nyaman. "Mpok gua balik dulu yak. Makasih nasi gorengnya!" pekikku lalu berjalan meninggalkan kantin dengan rangkulan Arsen. Aku sadar, sekarang aku dan Arsen jadi pusat perhatian anak-anak satu sekolah. Tatapan mereka semua sangat mengusik ketenanganku. Apa Arsen ga risih ya setiap hari harus menjadi sasaran tatapan tajam seluruh siswa di sini? Aku yang mulai muak dengan tatapan itu pun langsung melepaskan rangkulan Arsen dan menambah kecepatan jalanku, tak lupa juga aku menutup wajahku dengan kaca helm yang gelap ini. Masa bodoh kalau aku dikira tidak waras gara-gara ini. Saat sampai di parkiran, Jerry ternyata sudah menungguku di atas motornya. Tanpa pikir panjang, aku langsung saja naik ke atas motornya  dan menyuruh Jerry untuk segera meninggalkan sekolah ini. Aku sudah sangat gerah dengan semua tatapan orang-orang satu sekolah. Sedangkan Arsen, dapat kulihat dari balik kaca helm ia pun segera naik ke atas motornya dan meninggalkan sekolah. Tak lama setelah itu, Jerry pun mulai menjalankan motornya meninggalkan sekolah. TO BE CONTINUE..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN