Rasya memperhatikan Gabriel kesal. Rasanya ia ingin sekali membanting ponsel yang sekarang di pegang oleh putranya itu. Jika saja ponsel itu murah, Rasya akan melemparkannya sekarang. Tapi sayang sekali, ponsel itu harganya lebih mahal daripada punyanya ataupun punya Aril. Aril, orang b******k itu benar-benar membelikan handphone untuk putranya dan hanya mengisinya dengan game dan beberapa aplikasi chat untuk menghubunginya ataupun Aril. “Gabriel.” Gabriel mengacuhkan Rasya. Putranya itu asyik bermain game survival. Nasi yang di pegang Rasya terabaikan. “Gabriel di panggil Mommy tuh.” Kata Aril dengan memperhatikan pekerjaannya yang masih menumpuk. Aril lebih memilih mengerjakannya di rumah sakit tepatnya ruangan Keino daripada di kantor. “Apa sih Mommy... Biel sibuk.” Jawab Gabrie

