Fani membenturkan keningnya berkali-kali ke meja pantries. Tatapannya yang kosong itu lebih ke memelas seakan dia sudah sekarat dan akan mati sebentar lagi. Dia tidak henti-henti merutuki kebodohannya atas apa yang tadi dia lakukan. Rissa yang sedari tadi telah duduk di sampingnya hanya bisa menatap kelakuan Fani dengan horor sambil sesekali meringis.
"Fani ... kepala lo bisa benjol kalau terus lo benturin kayak gitu. Mending benjol doang. Nah, kalau otak lo jadi geser terus mendadak b**o' kan nggak lucu juga."
Fani menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah Rissa dengan ekspresi ingin bunuh diri.
"Rissa. Lo punya pil pcc nggak?"
Mendengar pertanyaan bodoh Fani, hampir membuat Rissa tersedak air liurnya sendiri.
"Buat apaan? Aduh, please deh, Fan. Lo tuh udah cukup nggak waras. Jangan sampai jadi gila." Rissa berdecak. "Ah, gue salah. Lo emang udah gila."
"Anjir, gue masih nggak bisa percaya lo seberani itu!" lanjut Rissa.
Fani mengangguk lemah. Benar, gue aja masih nggak percaya dengan apa yang gue lakuin tadi.
"Astaga! Gue yang jadi penonton aja merinding sendiri kalau inget." Rissa melanjutkan ocehannya.
Dan sekali lagi Fani hanya menjawab dengan anggukan lemah. Apalagi gue yang ngelakuin?
"Aduh, sumpah ya, Fan! Lo beneran udah sinting!"
Fani mengangguk lagi dan lagi. Iya, gue sinting. Banget malah.
Rissa terus saja meracau selama itu dan Fani terus menjawabnya dengan anggukan kepala lemah membenarkan perkataan Rissa. Mereka bahkan tak sadar jika sejak sepuluh menit yang lalu ada seorang pria yang mengamati mereka bergantian dengan ekspresi bingung.
"Kalian berdua bahas apa sih?" Karena tak juga paham dengan kelakuan dua gadis absurd di depannya, pria itu bertanya.
"Chubby kenapa, Ra?" Pria itu menatap Rissa penuh tanya.
Rissa mendengus. "Nama gue itu Ri-Sa. R-I-S-A! RI bukan RA! Lo kira gue Dora apa."
"Mirip, sih. Sebelas dua belas," cengir pria itu. Rissa menatapnya dengan sebal.
Pria itu mengindikkan bahu acuh lalu beralih menatap Fani. "Kalau lo nggak cepet ganti baju dalam waktu sepuluh menit. Potong gaji!" ancamnya.
Fani yang tadi pikirannya melayang-layang entah kemana langsung connect ketika mendengar dua kata paling horor dalam hidupnya. POTONG-GAJI!
Tanpa komando, Fani berdiri, menyentakkan kepala ke depan dan langsung berlari melesat ke ruang ganti karyawan.
Fani memang sudah sejak setahun yang lalu bekerja di sebuah cafe. Cafe mewah nan elite yang mempunyai dua lantai. Hampir semua yang datang ke cafe tersebut naik kendaraan beroda empat.
Fani pernah berpikir jika orang-orang yang mau makan di cafe tersebut pasti orang-orang gila. Mereka pasti orang-orang kaya yang kebanyakan uang dan bingung cara menghabiskannya. Bayangkan saja, harga satu cangkir teh kecil saja bisa mencapai lima belas ribu rupiah! Sangat tidak masuk akal dan diluar nalar seorang Fani.
Sempat heran juga karena cafe tersebut tidak pernah sepi pengunjung. Hingga akhirnya, Fani berhenti memikirkan orang-orang kaya gila macam apa yang mau membuang uang di sana. Toh, itu tidak merugikannya. Semakin banyak pengunjung maka akan semakin bagus untuk dia. Lagipula, gaji di cafe tersebut cukup besar. Setidaknya, Fani bisa membayar uang sekolah dan menabung dari gaji tiap bulannya.
"Kalau gitu, gue pulang dulu ya, Fan." Akhirnya Rissa pamit pada Fani setelah Fani kembali ke meja bar dengan seragam khas pelayan cafe.
Fani mengangguk pada Rissa dan mengucapkan kata terimakasih.
Rissa menjawabnya dengan anggukan kecil disertai lambaian tangan sebelum keluar dari cafe. Dia tadi memang hanya berniat mengantar Fani ke tempat kerja karena tadi Fani terlihat blank setelah kejadian gila yang dia lakukan di depan gerbang sekolah.
"Malam ini ada party di sini. Lo mau lembur atau pulang kayak biasa aja?"
"Ya pasti ikut lembur dong, Bos! Lumayan dapet bonus tambahan," jawab Fani sambil nyengir pada pria di sebelahnya. Pria itu membalas senyumannya dan mengacak lembut rambut Fani.
"Okey! Sekarang fokus kerja," ucap pria itu.
Fani mengangguk. "Makasih, Bos Juna. Fani saaaaaayang Bos Juna!"
Pria bernama Juna itu mendesis, tapi tak lama kemudian mereka tertawa bersama. Diantara karyawan cafe yang lain memang Juna paling dekat dengan Fani. Mereka sangat akrab layaknya kakak adik kandung.
Juna jugalah yang menawarkan pekerjaan pada Fani di cafe tersebut. Juna adalah manager di sana. Fani merasa sangat beruntung dulu bisa bertemu dan kenal dengan Juna, meskipun pertemuan pertama mereka tidaklah begitu baik.
Saat itu, Juna sedang mabuk berat. Jangankan untuk berdiri pulang dengan selamat ke rumah, berdiripun ia tak sanggup. Juna mengalami hari yang buruk karena ia baru saja kehilangan orang tuanya. Dan tak peduli jika pria itu adalah lulusan terbaik di universitas, ia tak sanggup menghadapi kenyataan tersebut. Juna mulai mabuk-mabukan, hingga ia dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja.
Juna menghancurkan hidupnya sendiri. Ia terlalu menyayangi kedua orang tuanya dan hidup sebatang kara membuatnya sangat terpuruk. Tidak ada semangat ataupun penyemangat. Tidak ada alasan kenapa ia harus melanjutkan hidup.
Saat itulah ia bertemu dengan Fani. Seorang gadis beranjak dewasa yang bekerja paruh waktu di sana-sini demi mengumpulkan kepingan rupiah. Fani yang saat itu pulang kerja dari sebuah restoran sebagai pencuci piring, menemukan Juna yang berjalan sempoyongan.
Karena merasa tak sanggup pulang ke rumah sendirian, Juna secara otomatis mendekati Fani. Ia ingin meminta tolong pada gadis itu untuk mengantarnya pulang tetapi saking mabuknya, Juna justru ambruk menimpa tubuh Fani.
Fani kala itu menjerit karena terkejut dan Juna berusaha berdiri agar tidak menakuti Fani. Namun naas, tubuhnya terasa sangat berat. Juna pun jatuh tertidur begitu saja.
Begitulah, entah apa yang ada di pikiran Fani si gadis yang masih berusia 15 tahun. Ia hanya duduk di sana, menunggui Juna hingga bangun. Meskipun masih sedikit mabuk, tapi Juna masih ingat apa yang dikatakan oleh Fani saat itu.
"Kenapa Kakak menyia-nyiakan hidup sendiri? Kakak nggak tau berapa banyak orang sakit yang ingin hidup? Lihat saja aku!" Fani menunjukkan lengannya yang penuh lebam kemerahan. "Bahkan akupun ingin hidup dengan baik."
Dan sampai sekarang Juna tidak tau kenapa saat itu lengan gadis polos nan baik hati itu penuh dengan lebam. Ada rasa ingin bertanya, namun Juna sangat menghargai sebuah privacy. Ia lebih memilih tidak berkata apapun hingga mungkin suatu hari nanti Fani menceritakan tentang hidupnya.
***
Setelah masuk, Fani segera menutup pintu rumah dan tak lupa menguncinya. Pandangan mata Fani beredar sejenak ke sekeliling ruangan yang nampak gelap. Lampu teras yang menerobos dari balik tirai jendela membantu penglihatannya di dalam rumah.
Kedua bola mata Fani terus bergerak hingga menemukan jam di dinding rumahnya yang menunjukkan pukul 01.40 dini hari. Fani menghela napas berat. Tubuhnya terasa lelah karena lembur hari ini.
Fani kadang memang bekerja lembur sampai dini hari bahkan sampai subuh, tergantung dengan lamanya pesta si penyewa di cafe tempatnya bekerja untuk mendapat bonus tambahan. Fani melakukannya demi menambah uang tabungan.
Jujur saja, Fani memang sekolah dari hasil kerjanya sendiri. Biaya SMA-nya terbilang cukup tinggi. Fani tidak mempermasalahkannya karena dia memang sejak masih SMP menyukai sekolah itu. Meskipun sebenarnya Fani hanya tertarik dengan desain seragamnya yang keren seperti di film-film korea yang sering dia tonton dengan Rissa.
Gaji di tempatnya bekerja lumayan tinggi dan lebih dari cukup untuk membayar uang bulanan sekolahnya. Tapi tetap saja dia butuh bonus dari uang lembur karena Fani ingin pendidikannya bisa berlanjut ke jenjang universitas, tidak hanya mentok di SMA.
Pandangan mata Fani kini terpaku pada sebuah pintu putih yang paling dekat dengan dapur. Pintu itu adalah pintu kamar orang tuanya. Cahaya berwarna oren temaram terlihat jelas dari sela bawah pintu kamar tersebut.
Fani tak harus berpikir dua kali untuk tau siapa yang berada di dalam kamar itu dan apa yang tengah dilakukan oleh orang yang berada dibalik sana, karena saat ini Fani mendengar dengan jelas suara desahan lawan jenis yang bersahutan satu sama lain.
Fani mencengkeram kuat sebelah tali ranselnya yang hanya disampirkan satu di bahu kanannya. Dia menarik kedua sudut bibirnya keatas dengan paksa, menampilkan senyum getir.
"Selamat pulang ...," Fani mendesah berat, mengerjabkan mata beberapa kali untuk mencegah air mata yang ingin menyeruak keluar.
" ... Ayah," bisik Fani lirih.
***
Fani mengernyit heran ketika mendapati semua pasang mata terus menatapnya terhitung sejak dia masuk pintu gerbang sekolah sampai kini dia berada di depan pintu kelas. Semua orang di sekolah yang melihatnya akan menatapnya terus dengan pandangan yang sulit dia artikan. Membuat Fani sedikit risih.
Ada apa dengan orang-orang ini? batin Fani sambil mengusap tengkuknya pelan. mendadak saja perasaannya sedikit tidak enak.
Fani menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir pikiran buruk dari otaknya.
Baru saja dia menginjakkan satu kaki di dalam kelas, Rissa sudah berteriak heboh sambil berlari ke arahnya.
"FANIAAAAA ...!!"
Fani meringis karena teriakan keras dari Rissa. Dia menatap Rissa heran juga pada teman-teman kelasnya yang kini justru mendadak hening setelah melihat kehadirannya.
"Rissa, ini ... ada apa sih?" bisik Fani pelan. Melihat tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya membuat Fani yakin ada sesuatu yang tidak beres.
"Ikut gue! Lo harus tau ini." Rissa menarik tangan Fani keluar kelas.
Fani hanya diam mengikuti langkah Rissa yang sedikit tergesa. Dia mengernyit heran ketika Rissa mengajaknya turun ke lantai satu.
"Rissa. Kenapa malah ngajak turun? Gue capek naik turun tangga. Gue butuh tidur," omel Fani karena memang dia tidak cukup tidur semalam.
"Nggak! Lo harus lihat ini dulu," jawab Rissa.
"Lihat apa?" tanya Fani tak mengerti.
Rissa mengabaikan pertanyaan Fani hingga langkahnya terhenti tepat di depan mading sekolah. Banyak siswa-siswi yang bergerombol di sana dan membicarakan entah apa. Tapi ketika mereka mengetahui kehadiran Fani, satu-persatu dari mereka berjalan menjauh dari mading, membuat Fani bingung sendiri.
"Rissa. Ini perasaan gue doang apa emang karena kehadiran gue yang bikin mereka pergi?" heran Fani. "Tapi emangnya gue nglakuin ap-?"
"Lihat itu!" sela Rissa sambil menunjuk mading sekolah.
Fani mengikuti arah pandang Rissa dan detik itu juga mata Fani membulat lebar dengan sempurna. Bibirnya ikut terbuka lebar karena tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.
"WHAT THE f**k?!" teriak Fani histeris. Fani bahkan lupa dia dia saat ini berada di sekolah dan mengumpat keras. Jika ada guru BP yang lewat, sudah dipastikan saat ini Fani akan diseret ke ruangannya.
"Fania, language, please," ingat Rissa.
"Rissa! Ini ngapain ada foto gini, ya Tuhan!" Fani menjambak rambut frustasi. "Bantuin gue nyopotin ini semua, bururan!" perintah Fani pada Rissa.
Fani terlebih dahulu bertindak. Mengulurkan kedua tangannya untuk melepas satu-persatu foto memalukan dirinya di sana. Rissa menghela napas berat sebelum ikut membantu Fani.
"Lo yakin copot semua? Sayang banget, Fan. Padahal bagus, lho!" goda Rissa. Kekehan geli keluar dari bibirnya membuat Fani ingin menaboknya saja.
"Ini juga kenapa banyak banget!" keluh Fani. Pasalnya, satu mading berukuran tiga kali empat meter itu penuh dengan fotonya.
Selama proses pencopotan foto-foto memalukan itu, Fani terus saja menggerutu. Mengutuk dan menyumpahi siapa saja orang yang telah berani melakukan hal itu. Sedangkan Rissa justru sesekali terkekeh atau menggodanya. Dia senang dengan penderitaan Fani pagi ini yang sangat jarang dia lihat.
Fani menghela napas lega saat melihat mading itu telah bersih. Semua foto kini telah berada di tangannya dan Rissa.
"Mau lo taruh di mana? Lo simpen atau-"
"Ya dibuanglah! Ngapain juga gue nyimpen foto menjijikkan ini?" ucap Fani cepat pada Rissa.
"Apa lo bilang? Menjijikkan?"
Tubuh Fani menegang seketika saat mendengar suara seorang pria yang dikenalnya. Fani menatap Rissa dan melihat gadis itu tak kalah tegangnya. Bahkan Rissa kesusahan meneguk salivanya sendiri.
Fani menghela napas sebelum memberanikan dirinya berbalik 180 derajat.
Fani menyentakkan kepalanya dan menatap datar pada pria yang berdiri di depannya.
"Ngapain lo ke sini?" sinis Fani.
Pria itu tak menjawab pertanyaan Fani. Bola mata hitamnya justru bergerak kebawah dan melihat tumpukan foto di genggaman tangan Fani. Pria itu tersenyum miring.
"Lihat foto?" tanyanya dengan nada tak yakin atau kepada dirinya sendiri.
Fani menghela napas panjang. "Lo tenang aja. Udah gue beresin semuanya. Jangan khawatir nama lo tercemar," ucap Fani yakin.
Pria itu mengangkat sebelah alisnya dengan bibir menahan geli. "Tercemar gimana?" tanyanya.
"Y-ya ... ya ... gitu ...," jawab Fani tergugu. "Pokonya lo tenang aja. Gue yang bakal tanggung jawab."
"Tanggung jawab?"
Fani mengangguk keras. "Iya, tuan Arsenio. Gue tau kok ini salah gue dan gue yang akan tanggung jawab," ucap Fani lagi.
"Dengan cara?"
Entah kenapa Fani merasa dalam pertanyaan Arsen itu terdapat nada menggoda. Tapi Fani mengabaikannya.
"Gue ... gue bakal cari tau siapa pelaku yang nyebarin foto ini," tegas Fani.
Arsen mengangguk. Dia mengusap dagunya sambil menatap Fani intens.
Arsen pun melangkah maju, menutup jarak di antara mereka. Lalu tanpa diduga oleh Fani, Arsen memajukan wajahnya hingga tepat berada di depan wajah Fani dengan jarak beberapa senti saja. Fani yang terkejut pun hanya bisa menahan napas tegang.
"Terus, kalau lo udah tau siapa pelakunya, apa yang bakal lo lakuin?" lirih Arsen. Pria itu tersenyum miring menahan geli melihat wajah tegang Fani yang terlihat lucu di matanya.
"Gue sih ... pengen seuatu yang menarik," lanjut Arsen seraya menjauhkan wajahnya dari wajah Fani.
Fani pun langsung mengambil napas banyak-banyak saat sadar wajah Arsen telah menjauh. Dia mengumpat dalam hati pada perbuatan Arsen barusan yang membuat dia tak sadar telah menahan napas.
"Gue nggak tau. Tapi gue mau cari tau dulu siapa pelakunya dan alasan dia nglakuin ini," ucap Fani. "Baru habis itu gue pikirin mau ngasih dia pelajaran apa."
"Lo kayak guru aja ngasih pelajaran," ejek Arsen.
"Bukan gitu maksud gue," Fani berdecak, menatap Arsen tajam.
"Jangan ikut campur dan jangan hajar orang ini kayak kebiasaan lo kalau lo tau lebih dulu siapa pelakunya," ancam Fani, membuat Arsen mengerjab tak percaya.
"Kenapa gue nggak boleh ikut campur?" tanya Arsen.
"Ya gue nggak mau aja ada korban bully lo lagi!" bentak Fani. "Lagian kenapa sih lo suka banget ngehajar orang?"
Fani tidak tau apa yang salah dengan pertanyaannya, tapi dia melihat wajah Arsen mendadak berubah dingin.
"Bukan urusan lo!" Arsen mendengus kasar, sangat kentara jika dia merasa tak nyaman dengan topik barusan.
Fania baru hampir membuka mulutnya saat Arsen sudah menyela dengan cepat.
"Lo beneran pengen tau siapa yang nempel foto itu?"
Kedua mata Fani terbuka lebar. Dia mengangguk keras. "Siapa? Jangan bilang lo udah tau," kata Fani. "Lo nggak ngehajar dia kan?" Fani memicingkan matanya pada Arsen.
Bukannya menjawab, Arsen justru tersenyum miring. Arsen berusaha mati-matian agar senyumannya tidak lebih lebar dari ini.
Setelah beberapa saat, Arsen pun mengangkat sebelah tangannya, seolah memberi isyarat pada seseorang untuk mendekat.
Fani sedikit terkejut ketika melihat Rafael, Bastian dan disusul dengan Gavin muncul dari balik tubuh Arsen. Mereka berjalan dan berhenti tepat di sisi Arsen yang menatapnya dengan senyum geli, terkecuali Gavin yang hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit Fani artikan. Dan mendadak, Fani menjadi canggung karena tidak kenal dekat dengan mereka semua.
"Hai, Fania," sapa Rafael dengan senyum pepsodent andalannya. Fania menarik kedua sudut bibirnya dengan paksa. Mencoba tersenyum meskipun kaku.
"H-Hai," balas Fani.
"Hahaha ... biasa aja kali sama kita-kita. Nggak usah canggung gitu," tawa Bastian. Rafael juga ikut mengiringi tawa Bastian di sampingnya. Mereka tau jika Fani sangat canggung saat ini.
Fani menjawabnya dengan sedikit anggukan kepala kaku. Bagaimanapun, dia masih merasa canggung karena ini pertama kalinya dia ngobrol langsung dengan empat sekawan itu.
Arsen berdehem memberi isyarat pada Rafael dan Bastian untuk menghentikan tawa mereka. Rafael dan Bastian mengikutinya dengan patuh.
Arsen, mengambil satu lembar dari tumpukan kertas yang dibawa oleh Rafael. Dengan tanpa dosa, dia menunjukkan foto itu pada Fani. Foto yang sama persis seperti foto yang di mading tadi.
Fani membelalakkan kedua matanya lebar. Tangan kanannya bergerak ke depan hendak merebut foto dari tangan Arsen tapi Arsen lebih dulu mengangkat tangannya hingga Fani tidak dapat meraihnya.
Mata Fani menyipit seketika. Ia menatap curiga pada Arsen.
"Jangan bilang kalau lo-"
Ucapan Fani terpotong karena Arsen menyelanya lebih dulu.
"Emang. Gue yang nempelin foto-foto itu di mading. Ah, secara teknis sih yang nempelin mereka berdua," tunjuk Arsen pada Bastian dan Rafael yang kini nyengir lebar ke arah Fani.
"Tapi ini semua ide gue. Gimana? Lo suka?" tanya Arsen. Fani terperangah menatap Arsen tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Dan menurut gue ... foto ini nggak menjijikkan. Bener kan, guys?" tanya Arsen yang langsung disahuti serempak oleh Bastian dan Rafael.
"BENER BANGET!"
"SO SWEET MALAH!" tambah Rafael.
"BIKIN BAPER!" tambah Bastian lagi.
Setelah itu tawa mereka berdua meledak sekali lagi.
Fani mendengus kasar. ia menatap Arsen dengan garang.
"Siniin fotonya!" Fani meloncat-loncat mencoba untuk meraih foto di tangan Arsen. Namun Arsen yang memang lebih tinggi darinya bisa menghindarkan foto tersebut dari tangan Fani.
Fani tak menyerah. Sampai lima menit kemudia Fani berhasil merebut foto yang berada di tangan Arsen. Fani tersenyum penuh kemenangan pada Arsen.
"Jangan seneng dulu," ucap Arsen, membuat senyuman Fani luntur seketika.
"Lo lihat itu?" tunjuk Arsen dengan dagunya ke arah tumpukan kertas yang di bawa oleh Rafael dan Bastian. Rafael dan Bastian yang cepat tanggap itu mendukungnya dengan mengambil salah satu kertas teratas dan melambaikannya pada Fani.
Fani terkesiap tak percaya.
"Gue masih punya stok banyak dan siap ditempel lagi. Kalau lo belum sempat, cek sana ruang loker. Di sana juga banyak foto-foto kayak gini." Kini Arsenlah yang tersenyum penuh kemenangan.
"Cabut, guys! Kita tempel di mading tiap-tiap kelas."
Mulut Fania terbuka lebar tak percaya mendengar ucapan Arsen. Bolehkah dia mengumpat saat ini juga lalu mencekik leher Arsen di depannya ini?
Dengan senyuman penuh kemenangan, Arsen pun berjalan begitu saja melewati tubuh Fani. Entah kenapa dia merasa senang, seolah baru saja mendapatkan mainan baru.
Rafael menyusul tak lama kemudian. Tapi dia berhenti sejenak ketika melewati tubuh Fani.
"Nice job, babe! It's so amazing," ucap Rafael seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Bastian juga melakukan hal yang sama seperti Rafael tadi.
"Aku bangga padamu!" Bastian mengusap hidung dengan telunjuknya sesaat. "See you!"
Dan yang terakhir adalah Gavin. Gavin juga berhenti sesaat ketika melewati tubuh Fani. Hanya saja Gavin tidak berkata apapun. Hanya melirik sekilas untuk melihat wajah Fani.
Gavin tersenyum tipis. Saking tipisnya, tidak akan ada manusia ataupun semut yang tau jika dia tersenyum. Setelah itu, Gavin melanjutkan berjalan mengikuti tiga temannya yang sudah berjalan cukup jauh di depannya.
Fani masih berdiri mematung. Mencerna semuanya. Mendadak, dia merasa ingin membenturkan kepalanya ke tembok hingga amnesia atau dihisap oleh lumpur lapindo sekalian.
Rissa yang tadi juga berdiri di belakang Fani tanpa bisa berbuat apa-apa karena takut pada Arsen, kini menepuk bahu Fani pelan.
"Fan ... lo nggak papa ka-"
Rissa hampir sampai pada ujung pertanyaannya ketika tiba-tiba Fani sudah berteriak histeris.
"AAAAAARRRGGGHH ...!!" Fani mengacak rambut frustasi. Dia membuang puluhan lembar foto di tangannya ke lantai dan menginjak-injaknya dengan kasar.
Fani sangat kesal. Dia geram pada Arsen. Fani menginjak-injak foto-foto itu tanpa ampun seperti orang gila.
"ARSENIO!!"
"DASAR COWOK GILA!!"
"AAARGH!! GUE SUMPAHIN BIBIR LO NDOWER."
"NYESEL GUE!"
"SALAH APA GUE YA TUHAN!"
"AAARGHH!! DASAR GILA!!"
"ARSENIO GILAAA!!"
Rissa yang berdiri di depannya hanya bisa bergidik melihat kelakuan dan racauan gila seorang Fani. Perlahan, dia melihat beberapa lembar foto yang masih berada di tangannya. Sudut bibirnya terangkat geli sekali lagi.
Foto itu ..
Foto ketika Fani mencium Arsen di depan gerbang sekolah.