Arsen berdiri bersandar di tembok dengan kedua tangan masing-masing berada di dalam saku celana dalam diam. Ia menatap jalanan yang masih tampak ramai meskipun tidak seramai di siang hari. Beberapa kendaraan masih berlalu lalang, membelah jalanan ibu kota. Arsen menghela napas, ia mendongak ke atas menatap awan gelap di atas sana. Tak banyak bintang yang terlihat, tapi Arsen tetap menyukainya. "Bye, Kak!" Arsen menoleh saat mendengar suara seorang gadis yang sejak tadi ia tunggu, sedangkan gadis itu melambaikan tangan ke arah pintu pada Juna dengan senyum lebarnya. Saat gadis itu berbalik, ia terkejut melihat Arsen berdiri tak jauh darinya. "Arsen?" Arsen tersenyum, menegakkan tubuh lalu berjalan menuju gadis itu. "Hai, Princess," sapanya. "Ngapain lo di sini?" tanya Fani, kepalanya

