Tetap bertahan di tempat yang sama, di tempat yang menimbulkan luka bukanlah solusi terbaik menurut Ismi. Perempuan itu butuh menepi. Butuh sendiri. Dan butuh menjauh dari segala hal yang semakin membuat pikirannya penuh dan dadanya sesak.
Bukan harus menjauh dari kehidupan. Namun hanya perlu menjauh di tempat yang penuh dengan harapan akan masa depannya.
Ia tidak bisa semudah itu ke suatu daerah yang menawarkan ketenangan. Ia pegawai yang terikat. Dan ia harus patuh dengan aturan yang ada. Itu semua adalah keinginannya sejak semasa kuliah. Tidak akan disiakannya, apalagi ia tinggalkan begitu saja hanya karena alasan pernikahannya yang gagal.
Ismi kembali menekuri ponselnya. Membaca kembali kalimat per kalimat yang dikirimkan oleh mantan calon suaminya dengan d**a yang tersayat secara perlahan.
Mas Argantara: Maaf, Dek. Maaf karena melukai hati kamu sedalam ini.
Mas Argantara: Aku tahu kesalahanku sangatlah besar. Jadi, tolong maafkan aku. Aku ingin kita bertemu di waktu dekat-dekat ini. Aku ingin menjelaskan semuanya.
Itulah pesan terakhir yang Ismi baca. Mengundang air matanya untuk kembali hadir. Ia jadi semakin yakin bila Argantara memang membohonginya selama ini.
Ya jelas dia membohongi kamu dong, Ismi. Buktinya saja di hari pernikahan kalian dia tidak datang. Dasar bodoh.
Ismi tertawa miris mendengar olokan batinnya. Air matanya pun semakin meluruh deras. Menciptakan kembali rasa sesak dan nyeri di d**a.
Tanpa berpikir dua kali, ia mencari menu blokir pada pilihan menu di kontak dengan nama Mas Argantara itu. Tidak hanya pada aplikasi perpesanan itu saja. Ia juga memblokir pada semua nomor dan sosial media yang menghubungkannya dengan Argantara.
Selamat tinggal. Selamat tinggal kenangan yang pernah menjadi harapan dan mimpi hidup di masa depan.
“Ya Allah. Aku kuat kan? Pasti kuat!” ucapnya dengan suara serak dan air mata yang masih terus meluruh.
Ismi meletakkan ponselnya yang baru ia pegang setelah dua hari dianggurkan. Ia kembali fokus dengan barang-barang yang akan dibawa kembali ke Malang. Cukup sudah ia larut dalam duka. Cukup. Ia perlu bangkit agar ia bisa menopang dirinya juga hidupnya.
“Nduk...”
Ismi memandang ke pintu kamarnya. Terlihat Hasan yang sedang mengamati kegiatannya mem-packing barang-barangnya ke ransel. Dan ia benci kala melihat tatapan Hasan yang menaruh banyak kekhawatiran padanya.
Ismi kembali melanjutkan kegiatannya. Terlihat dari sudut mata bila Hasan melangkah mendekatinya. Lalu duduk di sisi kasur yang kosong.
“Cuti kamu kan masih sampai besok. Kenapa sudah siap-siap untuk kembali ke Malang?”
Ismi kembali diam. Ia berusaha menahan air matanya yang siap kembali merebak. Perhatian Hasan membuatnya tidak mampu merasa baik-baik saja. Ia sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sedang sakit. Begitu pula dengan Hasan. Pria paruh baya itu juga pasti merasakan sakit. Dan ia penyebabnya.
Sejak pagi pertengkaran—perdebatannya dengan Diana, Ismi tidak membuka mulutnya sama sekali. Tidak berbicara dengan Diana maupun Hasan. Ia sadar bahwa dirinyalah penyebab atas kekacauan yang menimpa keluarganya. Dan baginya, diam adalah jalan baginya untuk tak terlalu banyak kembali menorehkan luka. Ia juga berpikir bahwa perginya ia dari rumah akan meredam kekacauan yang ia ciptakan. Lebih cepat lebih baik.
Lalu kamu akan membiarkan Bapak di sini berperang dengan nyiyiran tetangga seorang diri?
Ismi terpekur. Pikirannya semakin membuat kepalanya pening. Banyak sekali celetukan-celetukan yang memenuhi kepalanya yang membuat kepalanya diserang sakit. Seakan ditusuk-tusuk oleh jarum.
“Kamu tidak ingin menemani Bapak di sini dulu, Nduk?” Suara Hasan nyaris putus asa. Pria itu seakan tidak rela bila putrinya harus pergi di kala ia sedang tidak baik-baik saja.
Air mata Ismi semakin menggunung. Dapat menyebabkan banjir bila ia berkedip sekali saja. Maka yang dilakukannya adalah menunduk dalam agar Hasan tidak menyadari bahwa ia sama tersakitinya.
Maaf, Pak. Maafkan Ismi. Sepertinya benar apa yang dikatakan Diana bahwa Ismi selalu merepotkan Bapak sampai kapan pun.
Sayangnya ucapan maaf itu hanya mampu ia lontarkan dalam batin. Tidak berani membuka mulut. Hasan tidak boleh tahu jika ia tengah menangis. Sedikit saja ia membuka mulut, maka akan jebol pertahanan yang sedari tadi ia kuatkan.
“Maafkan Bapak, Nduk. Maaf karena mengantarkan kamu ke laki-laki yang salah,” ucap Hasan tulus.
Seharusnya Ismi yang minta maaf, Pak. Bukan Bapak!
Dan kalimat itu hanya mampu kembali terlontar dalam batinnya. Batinnya menjerit. Namun ia berusaha agar ia tetap baik-baik saja. Semua hanya topeng belaka.
Ismi hanya memilih mengangguk. Ia pun terus menyalahkan dirinya sendiri karena dirinyalah sumber luka bagi keluarga. Bukannya membuat keluarganya bahagia, ia malah membuat keluarganya malu.
“Bukan kamu yang salah. Jangan dengarkan apa yang Diana ucapkan. Kamu tidak pernah merepotkan Bapak, Nduk,” tegas Hasan. “Tentu kamu tahu bahwa kamulah yang menopang semua kehidupan selama ini. Bapak yang salah karena tidak mencari tahu banyak hal tentang Argantara,” sesalnya.
Ismi menggeleng. Air mata yang menumpuk tak mampu lagi ditahan kelopak matanya. Menetes deras sudah air mata itu. Hingga membuat Ismi semakin menunduk dalam.
“Jika boleh pun Bapak ingin beranda-andai. Sayangnya Allah membenci hal itu bukan?”
Ismi berusaha menahan isaknya. Sekuat tenaga yang tersisa di sel-sel tubuhnya.
Hasan menghela napas. Ditatapnya putrinya yang menunduk dalam. Ia tahu bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja. Seperti dirinya yang juga sedang tidak baik-baik saja.
“Kamu yakin mau balik hari ini, Nduk?”
Ismi mengangguk. Ia masih bertahan dalam diamnya karena tangisnya semakin deras.
Hasan mengangguk. Lalu pria paruh baya itu melangkah mendekati putrinya. Ditepuknya pundak Ismi lembut dan menenangkan.
“Bapak tidak marah sama kamu, Nduk. Kamu adalah putri Bapak yang selalu bisa membanggakan Bapak. Sering-sering pulang ke rumah, ya? Jangan dengarkan ucapan tetangga,” pesan Hasan.
Ismi kembali mengangguk. Tidak ada daya baginya selain hanya mengangguk.
“Bapak ke dapur dulu. Bapak mau menyiapkan bekal untuk kamu.”
Setelahnya Hasan melangkah meninggalkan Ismi kembali sendiri. Sendiri dengan tangisnya yang semakin menyesakkan. Sendiri dengan luka yang menyakitkannya. Sendiri dengan penyesalannya dan olokan batinnya yang tak berhenti mengejek kebodohannya.
“Terima kasih, Pak,” gumam Ismi lembut saat punggung Hasan sudah tidak tampak lagi di pandangannya.
***
“Ismi berangkat ke Malang dulu, Pak. Maafkan Ismi. Terima kasih karena Bapak selalu ada untuk menguatkan Ismi.”
Akhirnya ia berani membuka mulut. Mengucapkan dua kata yang sejak tadi hanya mampu diucap batinnya. Butuh waktu lama bagi Ismi agar ia mampu melakukan hal ini. Dan ia bersyukur karena akhirnya ia mampu mengucapkan kata itu pada Hasan. Ia begitu lega.
Hasan memeluk putri sulungnya dengan hangat. Membuatnya tak sadar bila air mata telah menggenang di kelopak matanya yang sudah mulai menua.
Sedang Diana yang sedari tadi duduk di sofa pun mendengus kesal. Selalu saja dia yang disayang. Padahal dia juga yang menciptakan kekacauan. Memalukan keluarga.
Tangannya mengepal kuat. Benci jika Hasan selalu mencurahkan kasih sayang pada Ismi begitu banyak.
Hasan hanya akan memperhatikannya bila Ismi tak ada di rumah. Selebihnya, bila Ismi sedang di rumah, ia bagaikan anak tiri yang tidak pernah terlihat dan tidak pernah dianggap.
“Mbak kembali dulu ke Malang. Kamu hati-hati di rumah. Kuliahnya yang bener,” pesan Ismi lembut. Diusapnya rambut hitam Diana yang lembut.
Diana melengos. Tanpa diberitahu pun ia akan melakukan itu semua. Sok bijak. Padahal dirinya sendiri tidak bisa membijakkan perasaannya.
Ismi hanya tersenyum. Sekali lagi ia mencium punggung tangan Hasan lalu mulai melangkah menuju motor matic-nya yang telah dipanaskan oleh Hasan.
Motor Ismi mulai melaju melewati jalan di sekitar rumahnya. Seperti biasanya, ia menyapa para tetangga dengan mengangguk singkat. Dan seperti yang ia bayangkan, para tetangga yang sedang berkumpul di teras salah satu rumah pun mulai membicarakannya. Menggunjingnya.
Jujur ia tak semampu itu. Hatinya sakit. Dan rasanya sangat sakit. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang membuatnya stress. Membuatnya ingin berteriak pada dunia bahwa ia tidak baik-baik saja.
Ia mengendarai motornya setengah tak sadar. Pikirannya dipenuhi dengan olokan-olokan yang tetangganya ucapkan. Dan pikirannya juga dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan bahwa para rekan kerjanya akan memberikan tatapan yang mengerikan. Juga mungkin mereka saat ini tengah menggunjingkannya.
Apa aku mampu bertahan dan baik-baik saja di lingkungan kerja yang seperti itu? Apa aku mampu, ya Allah?
Ismi mengendarai motor dengan air mata yang kembali mengucur deras. Pandangannya pun sedikit buram. Beruntungnya ia mampu mengoperasikan setir motor dengan baik. Padahal ia sedang berada di jalan yang cukup naik.
“Kamu sedang naik motor, Is. Jangan memikirkan lukamu. Ingat! Kamu masih harus terus bertahan. Tunjukkan pada dunia bahwa Argantara tak mampu membuat kamu down. Boleh kamu menangis kemarin. Menangis meraung karena perbuatannya. Sekarang kamu harus bangkit! Pria beristri itu tidak boleh menertawakan keterpurukanmu!” ucapnya penuh tekad seraya mulai kembali fokus dengan motornya.
Ditekannya dengan kuat rasa sesak yang kembali menghinggapi d**a. Ia juga mensugesti diri agar air matanya tak perlu lagi diproduksi hanya untuk menangisi pria b******n seperti Argantara.
Ismi mengembuskan napas lega ketika akhirnya motornya telah memasuki halaman kosnya. Terlihat Bapak dan Ibu Kos yang sedang asyik berbincang saat Ismi hendak melangkah menuju kamarnya.
Ismi mengucap salam. Membuat dua pasang suami istri itu memandang Ismi terkejut. Namun dengan cepat Ibu Kos memeluknya. Membuat Ismi tiba-tiba menangis.
“Ismi adalah perempuan baik. Ibu dan Bapak percaya itu. Terima kasih karena kamu kembali ke sini, Nak.”
Tubuh Ismi seakan disiram oleh air dingin yang menyegarkan. Setelah rasa sesak dan panas yang selama beberapa hari ini, kini ia bisa merasa tenang. Ia seakan mendapatkan energi besar karena pelukan yang diberikan oleh Ibu Kos, seseorang yang bukan keluarganya.
Ismi pun bertekad untuk tidak mempedulikan bagaimana kehidupannya nanti ketika kembali ke sekolah. Yang terpenting, ia bangkit. Ia akan bangkit untuk orang-orang yang selalu membantunya untuk menopang luka yang dirasakannya.