Lebih baik terlihat nyata, dibanding bersembunyi dibalik orang lain yang sudah tidak ada di dunia. Kedatangan orangtuaku cukup membuat keributan dalam ruangan kamar rawat yang kutempati. Ibuku langsung memukuli tubuhku yang baru saja lebih segar setelah dibantu suster untuk berganti pakaian. "Kenapa kamu begini Faza. Ya Tuhan. Kapan ibu ajarin kamu kayak begini hah?" makinya dengan berlinang air mata. Pukulan demi pukulan yang ibu berikan pada tubuhku memang tidak kencang. Karena aku tahu, dia hanya mencoba meluapkan segala perasaan yang kini tengah ia rasakan. Dari kemarahannya, ada penyesalan atas tindakan yang kulakukan. Dari tangisannya, aku tahu ibu tidak ingin aku melakukan semua ini. Dan dari jeritannya, menyuarakan isi hatinya yang terdalam atas kerinduan terhadap dua putri

