Aku dan dia sama. Namun bukan berarti segala hal harus disamakan. Karena apa yang kami impikan pun berbeda. Termasuk dalam segi agama.
3 tahun sebelumnya...
Pagi hari yang buruk sepanjang sejarah hidupku. Bukan. Bukan karena aku kalah dalam taruhan semalam tetapi kali ini sungguh sangat-sangat buruk bagiku.
Melihat kedua wajah orangtuaku berseri rasanya kata buruk bukan pilihan terbaik. Tetapi itu bagi mereka, tidak menurutku. Karena rasanya sulit dijelaskan apa yang hatiku rasakan saat mendengar bila saudara kembarku meminta ijin untuk menikah bersama seorang laki-laki pilihannya.
Aku rasa laki-laki itu bukanlah pacarnya. Entah bagaimana mereka bisa bertemu, yang jelas aku bisa melihat keyakinan dari pancaran kedua manik mata saudara kembarku, Marzia.
"Fa, sini. Jangan diam aja. Barusan kamu dengar enggak, kalau ada laki-laki mau melamar adikmu."
Ya, ibu dan ayahku, serta orang-orang di sekitarku selalu memanggil Marzia, atau Zia dengan sebutan adikku. Padahal dirinya yang lahir lebih dulu dari aku, Mafaza.
Namun dari keyakinan dokter, atau dukun, aku lupa di mana ibuku melahirkan kami, karena waktu itu aku masih terlalu kecil untuk meyakini tempat apa itu. Keyakinan tersebut berdampak bila seorang perempuan melahirkan anak kembar, maka anak yang dilahirkan pertama kali biasa dipanggil sang adik. Karena sang kakak sesungguhnya adalah yang membantu adiknya untuk keluar lebih dulu.
Ah, sudahlah. Aku pun bingung menjelaskannya. Yang pasti sampai detik ini, usiaku hampir genap 24 tahun, Marzia, atau Zia adalah adik dari Faza.
"Kak, Fa. Kenapa sedih gitu?" tanya Zia ke arahku.
Mendadak aku bingung harus berekspresi seperti apa. Rasanya agak gila bila aku harus berteriak-teriak seperti supporter bola atau bulu tangkis kebanggaan Indonesia.
"Selamat ya, Zia."
"Makasih Kak Fa."
"Memangnya siapa laki-laki itu?" tanya ayah mulai bersuara.
Cie ... pasti dia takut kehilangan satu bidadari cantiknya di rumah ini.
Aku cuma bisa tersipu malu membayangkan kata cantik. Rasanya cuma aku atau hanya aku yang tidak pantas menyandang kata itu.
Bila kulihat dalam-dalam, seperti halnya penilaian masyarakat zaman sekarang. Aku dan Zia benar-benar berbeda. Ya, meskipun wajah kami bagai pinang dibelah dua. Namun selain wajah, kami sungguh-sungguh berbeda.
Zia, seperti perempuan lainnya. Cantik, kulitnya mulus dan terawat. Dia juga memakai hijab, sama seperti ibu.
Sedangkan aku?
Wajahku kusam. Terlalu sering berkendara menggunakan motor ke sana ke sini. Maklum saja, selain aku bekerja di kantor yang setiap saat pekerjaannya monoton, aku memiliki pekerjaan sampingan.
Yakni sebagai driver ojek online.
Kadang pagi sebelum berangkat ke kantor, aku melakukan perjalanan dengan beberapa penumpang lebih dulu. Lalu setelah pulang kerja, aku melakukannya lagi. Sampai tepat jam 10 malam baru aku kembali pulang ke rumah.
Bagiku pekerjaan yang aku jalankan sah-sah saja. Selama tidak merugikan orang lain rasanya tidak ada yang perlu dipikirkan. Namun ayahku tidak sepemikiran. Baginya perempuan tidak seharusnya memforsir waktunya hanya demi mendapatkan uang. Karena tugas seorang perempuan sesungguhnya adalah menjadi seorang istri, dan seorang ibu yang baik agar bisa menjadi contoh untuk anak-anak kelak.
Anak?
Hahaha, rasanya masih terlalu jauh membicarakan masalah anak. Biar saja Zia yang merasakan lebih dulu pahit getirnya berumah tangga. Ya, meskipun sedikit banyak hatiku sakit, tapi mau bagaimana lagi? Karena ternyata pada akhirnya, manusia yang terlahir kembar tidak selamanya harus selalu sama dalam segala hal. Termasuk dalam pernikahan.
Tersadar dari lamunanku, ibu dan ayah kompak tertawa sambil menatap ke arahku.
Eh, apa ada hal yang terlewat olehku?
"Kenapa? Ada yang aneh?"
"Faza ... Faza ... memang bukan jodohmu ternyata," ucap ibuku menimbulkan tanda tanya besar.
Jodohku? Siapa?
Kenapa mereka semua membahas tentang aku?
"Kak Fa, pasti kenal pak Firman deh."
Keningku berkerut mendengar ucapan dari Zia. Nama itu terdengar familiar di telingaku. Tetapi aku tidak yakin untuk menyimpulkannya.
"Benar Pak Firman itu bosmu di kantor?" suara ayah semakin membingungkanku.
"Firman yang mana?"
"Firman Abdul Ghani."
Mendengar nama itu disebut rasanya kepalaku seperti ingin meledak. Baru kemarin sore dia memberikan aku segudang pekerjaan untuk dikerjakan pada hari libur ini.
Lalu sekarang, saat ayah mengucapkan namanya mendadak aku ingin membenci ayah sekarang juga.
"Kok tiba-tiba ngomongin dia?"
"Dia itu laki-laki yang akan melamar Zia."
Laki-laki yang akan melamar Zia?
Siapa?
Pak Firman?
Firman Abdul Ghani?
Laki-laki yang mirip tiang listrik itu. Yang sering kali berkata manis supaya aku mau bekerja lembur menemani dia?
"Kok bisa?"
"Panjang ceritanya, Kak. Nanti Zia ceritakan." Semburat merah terlihat di kedua pipi Zia.
Hanya berkata ingin menceritakan sosok pak Firman, dia terlihat malu-malu seperti itu. Ya Tuhan, ada kekeliruan apa di sini?
Karena belum saatnya Zia menceritakan, akhirnya aku menyerah saja. Malas saja aku menghabiskan waktu hanya untuk memuaskan rasa penasaranku.
"Ok," jawabku singkat. Lalu berjalan kembali ke kamar.
Biarlah. Biarlah Zia menikmati hidup bersama laki-laki itu. Walau pada kenyataannya rasa penasaranku benar-benar meningkat, namun bisakah aku mencari tahu tanpa ketahuan oleh Zia?
Firman Abdul Ghani, jangan-jangan selama ini dia sengaja bersikap baik kepadaku, agar aku merestui pernikahannya dengan Zia. Dasar menyebalkan.
***
Sosok pak Firman bolak balik di sekitar area tempat kerjaku. Dia mengecek unit lain yang kebetulan masih berada dibawah pengawasannya.
Maklum saja di kantorku ini, Pak Firman berkedudukan sebagai Division head. Atau kalau di cerita-cerita fiksi biasanya mereka menggambarkan sosok GM.
Bukan. Dia bukan CEO. Pak Firman juga bukan seperti dewa-dewa Yunani. Karena menurutku dia masih manusia biasa yang menyebalkan.
Ya, meskipun pakaian dengan style anak muda bisa kulihat dipakai olehnya saat ini. Sepatu kulit berwarna cokelat dengan celana bahan hitam memang aku akui benar-benar menunjang penampilannya.
Cukup cocoklah mereka. Antara Zia dan Pak Firman. Mereka jika disejajarkan akan terlihat serasi.
Aku berkata demikian bukan berarti aku berkecil hati. Namun aku mencoba sadar diri, perempuan dekil sepertiku jangan mengharapkan langit menghampiri bumi yang jauh berada di bawahnya.
Dan sampai detik ini aku pun masih memegang teguh, bila anak kembar tidak selamanya akan selalu sama dalam segala hal.
Karena tipe laki-laki yang kami cintai berbeda.
Dering ponselku memberitahukan ada panggilan masuk saat ini. Pikiranku atas kenyataan yang sejak tadi terpampang nyata mendadak lenyap.
Pada layar ponselku tertulis dengan jelas nama seorang laki-laki yang menjadi partnerku dalam menjalankan aktifitas sebagai tukang ojek online.
"Ya, Jek."
"Nanti lo narik enggak?"
"Narik dong. Gue lagi enggak punya duit buat beli hadiah."
"Hadiah apaan?"
"Hadiah untuk pernikahan kembaran gue. Marzia dan Pak Firman," kataku menahan keanehan dalam hati.
"Jadi adek kembaran lo nikah? Wah berarti sebentar lagi lo bakalan terima gue jadi suami lo, dong?”
"Jangan mimpi!!!"
-------
continue