Masa sekolah memang masa masa yang sungguh indah, tak ada fikiran tentang apa yang akan terjadi esok ataupun nanti.
Menjadi seseorang yang terkenal dan tenar dikalangan siswa ialah hal yang diinginkan beberapa siswa disekolah tak terkecuali oleh seorang Zea.
Ikut organisasi OSIS, masuk dalam kelas yang terbaik. Teman teman yang keren ialah hal yang sangat di dambakan.
Apalagi dikenal oleh beberapa cowok sekolah sebelah, sesuatu yang perlu di banggakan.
"Ze, dicariin tuh sama pacar kamu", tegur salah satu teman sekelas Zea.
"Ya", ujar malas Zea.
Nani dan Wati, dua sahabat yang memiliki satu frekuensi pemikiran dengan Zea.
Kemana mana selalu bertiga, hingga mendapat masalah pun selalu bertiga.
"Jo", sapaan akrab mereka.
"Hai, jo" tanggap Wati dan Nani.
"Tumben gak ke kantin?", selidik Nani.
"Males aku sama Hendra cuma moritin duit doang", ucap jujur Zea.
"Ya gitu deh, kalau punya pacar ganteng kitanya yang berjuang", sahut Wati.
"Ogah kalau gitu", balas Zea.
"Putus putus deh, lagian masih banyak kan cowok yang lain", ujar Nani.
Memang Zea terkenal memiliki banyak cowok, namun hal itu ia lakukan hanya untuk mencari pelampiasan atas kehidupannya di rumah yang tak pernah di anggap.
Zea merasa memiliki banyak pasangan maka akan banyak yang peduli dan perhatian pada dirinya. Padahal itu malah membuat dirinya masuk ke lubang yang dalam yang tampak hitam yang berarti tidak akan memberi kebaikan untuk dirinya.
Hingga suatu ketika, Zea bertemu seorang sosok cowok yang sebenarnya terlihat keren atau bergaya yang membuat Zea berfikir untuk dekat dengannya.
Setelah menjalani hubungan dengannya Zea baru tau, sebenarnya cowok ini tidak memiliki apa apa.
Ia hanya meminjam motor untuk bergaya pada temannya. Meskipun Zea mengetahui kenyataannya. Zea tetap mencoba menjalin hubungan dengan cowok ini.
Kehancuran mulai terjadi disaat Zea datang ke rumah cowok ini, letaknya ditengah tengah perkebunan yang jauh dari perkampungan.
Rumah cowok ini seperti pondok namun cukup luas, meskipun terbuat dari kayu. Di sana juga ada dua kamar berserta dapur dan ruang santai mungkin.
Bangunannya tingkat, di bagian bawah ada sumber air yang mengalir yang dimanfaatkan sebagai kamar mandi. Dan juga garasi yang cukup luas tempat meletakkan alat pertanian.
"Ini rumah kamu?", ada rasa tak percaya dari Zea.
"Iya ini rumah aku, memang gak bagus tapi bersyukur masih ada tempat buat tinggal", ucap Irfan cowok pujaan Zea.
Zea melangkah masuk ke dalam pondok atau mungkin rumah Irfan.
"Ayo naik, kita duduk di atas aja", ajak Irfan.
Zea hanya menurut sesuai ucapan Irfan.
"Ze, tiduran di sini yuk", ajak Irfan masuk ke sebuah kamar.
Kamarnya cukup rapi, ada kasur dan juga ranjang yang sederhana namun nyaman.
Zea mencoba merebahkan tubuhnya di dekat Irfan, meskipun sedikit agak tidak nyaman tapi Zea mencoba membiasakan diri.
"Ze, kamu masih perawan?" tanya Irfan.
Pertanyaan Irfan membuat Zea bingung apa maksud darinya. Zea hanya mengangguk memberi jawaban Irfan.
"Tapi ini kamu kok besar ya?", ucap Irfan sambil meremas d**a Zea.
Entah setan apa yang merasuki Zea, dia tidak melawan ataupun marah atas tindakan Irfan.
"Kalau pegang ini boleh?", Irfan memasukan tangannya ke organ intim Zea tanpa permisi.
Sedangkan Zea hanya menikmati apa yang dilakukan Irfan pada dirinya.
Lama kelamaan Zea dan Irfan mulai berani, dari raba hingga melepas semua pakaian yang menutupi tubuh mereka.
Irfan seperti menemukan mangsa, dia melahap semua tubuh Zea dengan rakus. Hingga saat memasuki inti tubuh Zea, Irfan mencoba mendesak masuk.
Sakit.. itu yang terasa namun tak berapa lama rasa nikmat yang dirasakan oleh Zea dan Irfan. Entah mengapa tidak ada selaput darah yang terobek, selama pergulatan mereka.
Selesai melakukan adegan panas mereka berdua, Zea serta Irfan turun dari ranjang.
"Ze, ayo temani aku makan", ajak Irfan.
Zea hanya ikut saja, apa yang dikata Irfan.
Irfan makan dengan dua potong tempe serta nasi tanpa ada sayur atau lauk pauk lainnya. Zea hanya tertegun melihat Irfan lahap memakan makanan yang di santapnya.
"Kamu makan sama itu aja?", ucap Zea.
"Iya", Irfan masih meneruskan makannya dengan lahap.
Dari sisi ini Zea masih bersyukur dengan kehidupannya karena dia masih bisa makan ikan serta sayur setiap hari.
"Fan, kamu tinggal di sini sama siapa?" tanya Zea.
"Sama ibu, sama bapak kalau adek di rumah kabupaten sama nenek", ujar Irfan.
"Kamu beneran gak naik kelas?", Zea menanyakan hal yang pernah di bicarakan olehnya dan Irfan. Meskipun Zea anak yang nakal, dia tetap memikirkan bahwa pendidikan hal yang cukup penting setidaknya untuk saat ini.
"Iya, aku kan sudah ngomong kamu. Aku gak naik jadi harus tinggal kelas", ucap Irfan enteng.
Zea tak habis pikir, kalau itu dirinya mungkin sudah dapat ceramah atau cambukan dari ibunya.
Zea dan Irfan berjalan ke jalan raya yang cukup jauh dari rumah Irfan. Tak disangka Zea bertemu dengan sosok ibu Irfan yang berjalan pulang dengan beberapa ibu ibu pulang dari berkebun yang lebih tepatnya jadi buruh perkebunan.
"Irfan mau kemana nak?", ucap ibu Irfan.
"Ini bu, mau nganter teman pulang", ujar Irfan.
"Kamu temannya Irfan, Po'o ndok seng ngerti ibu'e Irfan iki buruh. Kandanono Irfan lek sekolah seng temenanan ojok gawe dolanan mosok arek'e gak munggah sekolah po'o jok di jak pacaran ae", tutur ibu Irfan yang menyalahkan Zea seolah dia berpengaruh negatif keoada putranya.
"Enggeh bu", sahut Zea.
"Yowes ati ati, ibu tak moleh disek", lanjut ibunya melangkah pulang ke rumah.
Zea dan Irfan melanjutkan perjalanannya, "Kamu tuh lagian kok bisa gak naik kelas segala", Zea kesal dengan Irfan.
"Ya maaf, lagian mau gimana lagi kalau emang gak naik terus harus gimana", ujar Irfan masa bodoh.
Sampai di jalan raya, Irfan menghentikan sebuah angkot.
"Ayo masuk", ucap Irfan.
"Kamu ikut juga?" tanya Zea.
"Iya, aku anter kamu sampai dekat rumah", kata Irfan.
Sebenarnya ini pengalaman pertama Zea naik angkot yang cukup jauh dari rumah.
Zea tak banyak bicara hanya memandangi jalanan yang ia lewati dengan Irfan.
"Hati hati Ze", ucap Irfan setelah sampai di dekat rumah Zea.
Pengalaman pertama yang membuat Zea masuk ke lubang hitam kehidupan, entah hal apa lagi yang akan terjadi. Seks bebas momok bagi kalangan remaja, di masa pubertas.
Zea oh... Zea
Ada apa dengan dirimu, apa yang membuatmu pasrah dengan segala tindakan yang akan menjerumuskanmu ke lubang hitam kehidupan.
Hanya takdir tuhan yang tau...
bersambung....