Bagian 1

1884 Kata
"Cinta adalah ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaanmu." --------------------------------------------------- Sudah 3 tahun Abi berada di sini - California tepatnya. Abi masih belum siap untuk kembali ke Indonesia, dan untuk saat ini Abi juga tidak punya alasan untuk kembali. Ya.. memang tidak ada alasan lagi untuk kembali, orang tuanya sudah menetap disini. Ketika Abi lulus SMP mamanya menyusul papanya yang notabene memang bekerja disini sejak sebelum mereka menikah, Abi pun lahir di California. Ketika Abi berusia 9 tahun sang mama memutuskan kembali ke Indonesia untuk mengurus eyang putri yang tengah sakit, saat itulah Abi pertama kali ke Indonesia dan memilih untuk bersekolah di Jakarta tepatnya. Saat Abi kelas 2 SMP, eyang putri berpulang dan mama Irma -mama Abi- kembali ke Amerika saat Abi lulus SMP, karena menurut mama Irma, Abi sudah cukup bisa mengurus diri dan Abi hanya ditinggalkan berdua bersama bik Siti, ART di rumah peninggalan eyang putri. Saat ini, Abi tengah berada di kediaman orang tuanya, Abi memang tinggal terpisah dengan mereka, dikarenakan rumah orang tuanya dan kantor Abi lumayan jauh jaraknya. Jadi, Abi memutuskan membeli apartemen dekat daerah kantornya. "Bi, mau makan siang disini." Abi tersadar dari lamunannya dan menoleh ke sang mama. Abi mengangguk sambil tersenyum tipis ke arah sang mama. "Gak ada rencana mau pulang ke Jakarta?" Mama Irma membuka percakapan saat mereka tengah makan. "Gak dulu, mah." "Kenapa? Abi mama liat-liat semenjak pulang kesini jadi aneh loh." "Aneh gimana sih, mah? Abi masih sama kok, masih anak mama papa." "Bukan gitu maksud mama. Jawab dulu pertanyaan mama, kenapa gak mau pulang? Ada masalah sama temen-temen?" Selidik mama. "Ya memang Abi belum bisa pulang aja, mah. Abi lagi hectic sama kerjaan kantor disini. Dhana sama Tama tadi pagi juga sempat video call-an sama Abi, jadi gak ada masalah yang perlu mama khawatirkan." "Kalo gitu, Nia apa kabar?" Lagi, mama Irma bertanya penuh selidik. Abi terdiam sebentar ketika mendengar nama itu disebut sang mama. "Nia... Ba..ik, mungkin." "Kenapa? Ada masalah sama Nia?" "Ma, Nia kan udah punya suami, dan mungkin sibuk sama keluarga dan pendidikan atau pekerjaannya di Jerman. Jadi, Abi gak enak mau ganggu kesibukan Nia, Abi juga gak enak sama bang Adrian, walaupun Abi sahabatan sama Nia, bukan berarti Abi bebas-bebas aja berhubungan sama Nia." "Ternyata Abi gak tau." Gumam mama Irma pelan "Mama bilang apa?" Abi tidak mendengar ucapan mama Irma. "Oh.. gak, mama gak bilang apa-apa." Mama Irma tersenyum dan menatap sendu ke arah Abi. Mama Irma memang mengetahui keadaan Nia saat ini. Mama Irma dikabari oleh ibu Tika -Ibunya Nia- dan juga Dhana. Dhana meminta mama Irma untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Abi, mereka -Dhana dan Tama- ingin Abi mencari tahu sendiri keadaan Nia. Mereka juga memberitahukan pada mama Irma bahwa Abi memiliki perasaan lain untuk Nia. Hal itulah yang membuat mama Irma bertanya kabar Nia pada Abi, dan seperti dugaan mama Irma, Abi masih belum mencari tahu kabar Nia. "Sekali-kali menghubungi Nia gak apa-apa, Bi. Adrian gak mungkin marah, 'kan?" Kini mereka sudah berada di ruang keluarga sambil menonton acara TV, lebih tepatnya TV yang menonton Abi, karena yang mama Irma liat Abi melamun sejak nama Nia disebut. "Iya.. nanti kalo Abi gak sibuk, mah." Jawab Abi sambil menunduk. "Sekarang kan lagi gak sibuk. Udah 3 tahun juga kan gak kabar-kabaran sama Nia. Kayaknya dia juga pasti udah lulus S2." "Iya, pastinya udah lulus, dia kan anaknya pintar." Masih menunduk dan bergumam pelan namun masih bisa didengar mama Irma. "Tuh kan.. ayo lah hubungi Nia, mama juga udah kangen sama Nia." Desak mama Irma. "Ma, siapa tahu dia udah punya anak dan riweuh ngurus anaknya." Kali ini terlihat raut wajah Abi berubah murung saat dia menyebut anak Nia. Walaupun kenyataannya, yang mama Irma ketahui, Nia tidak memiliki anak dari mendiang suaminya. "Ya udah.. nanti kalo ada waktu hubungi Nia. Jangan memutus tali silaturahmi, gak baik, Bi." "Iya, mah." Melihat sang anak murung, mama Irma menyudahi percakapan tentang Nia dan beralih ke topik lain. "Besok kerja, 'kan? Mau pulang ke apart sore ini atau masih nginep disini?" "Pulang besok pagi aja, mah. Masih ada yang mau Abi bicarakan sama papa." "Oke. Abi mau ngopi gak? Atau teh?" "Cappucino aja mah, kalo ada." "Perasaan mama, Abi sukanya americano. Sejak kapan Abi suka cappucino?" Abi hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang mama. Mama Irma berlalu ke dapur. Ingatan Abi kembali saat mereka kuliah di salah satu universitas di Jakarta, ketika Abi dan sahabat-sahabatnya beres kelas mereka pasti akan nongkrong di Cafe depan kampus dan hanya Nia yang memesan cappucino disaat yang lain memesan americano, saat ditanya alasannya, Nia hanya menjawab tidak suka pahitnya americano. Mengingat kenangan itu Abi tersenyum lirih. Tak berselang lama mama datang membawa ice cappucino, karena memang lagi musim panas saat ini. "Melamunkan apa sih? Mama liat dari tadi gak fokus nonton TV." "Gak mah. Kangen aja." "Kangen apa?" Lagi, dijawab dengan senyum oleh Abi sambil menyesap cappucino buatan mama. "Katanya Dhana mau nikah, ya?" "Iya, mah. Tadi pagi nelpon juga bilang gitu, nyuruh Abi pulang ke Jakarta." "Ya udah pulang aja. Dhana pasti berharap banget kamu ada di acara pentingnya." Bujuk mama. "Abi belum siap, mah." "Bi, apa yang membuat kamu gak siap pulang ke Jakarta? Dari kemaren-kemaren mama papa nyuruh kamu pulang, jawaban kamu pasti belum siap. Apa yang mama papa gak tau tentang Abi selama ini? Apa yang belum Abi ceritakan sama mama papa?" "Papa tau tentang ini, mah. Papa tau kenapa Abi belum siap pulang ke Jakarta." Abi tersenyum. "Kenapa Abi gak cerita sama mama juga? Mama juga kan pengen tau apa masalah anak mama." Mama menatap Abi sendu. Sebenarnya mama papa sudah mengetahui tentang Abi setelah Nia menikah dari Dhana dan Tama. Tapi, mama Irma ingin Abi sendiri yang bercerita. "Tama katanya mau nikah juga, ya?" Tanya mama "Iya, mah. Mungkin akhir tahun ini, setelah nikahannya Dhana." "Sama siapa? Kok mama gak tau kalo Tama punya pacar." "Dikenalin sama Gista, temen kantor Gista. Abi juga kenal sama calonnya." Jawab Abi sambil tersenyum, kini senyumnya sedikit cerah. "Mama kenal, gak?" "Gak, mah. Adik tingkat waktu kuliah dulu. Gak pernah main sama kita, beda jurusan juga. Tapi, satu jurusan sama... Nia." Setelah menyebut nama Nia, Abi menunduk sebentar lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap sang mama. "Kamu kapan?" Mama Irma sengaja memancing Abi bercerita tentang perasaannya terhadap Nia dengan pertanyaan kapan Abi akan menikah. "Maaaa... " Gumam Abi frustrasi sambil membaringkan kepalanya diatas paha sang mama. "Ya wajar sih mama nanya gitu, temen-temen kamu udah pada mau nikah. Kamu aja yang belum. Atau mau mama kenalin sama anak temen mama aja? Ada loh anak temen mama yang baru beres kuliah disini, ntar mama kasih tau temen mama." Ucap mama Irma panjang lebar. "Gak ya mah. Abi gak mau jodoh-jodohan." "Terus mau nikah sama siapa? Disuruh nyari pacar gak mau juga. Mau kamu gimana, Bi?" "Abi belum bisa move on, mah." Abi sontak bangun karena kaget dengan ucapannya sendiri. Hal itu digunakan sang mama untuk mengulik cerita tentang perasaan Abi. "Move on dari siapa? Perasaan mama Abi belum pernah punya pacar deh." Ucap mama dengan senyum tipis, Abi sudah termakan umpan dari mama. ".... Nia." Jawab Abi sambil menunduk. "Ada apa sama Nia? Abi pernah punya hubungan sama Nia?" "Abi gak punya hubungan apa-apa sama Nia. Tapi, Abi suka sama Nia, cinta sama Nia, dari sebelum Nia dijodohkan sama bang Adrian." "Nia tau?" "Gak tau, mah. Abi gak berani ngasih tau Nia, takut persahabatan kami hancur. Dan takut Nia menjauh dari Abi." Raut wajah Abi terlihat sedih. "Kok anak mama jadi pengecut sih. Gak mau Nia menjauh, tapi Abi sendiri memilih untuk menjauhi Nia ketika Nia menikah. Seharusnya kamu tau risiko dari pilihan kamu. Kalo kamu memilih untuk gak mengungkapkan perasaan kamu, harusnya kamu siap untuk tidak memiliki dan terluka. Jangan jadi seperti ini, gak mau Nia tau perasaan kamu, tapi juga gak mau Nia sama orang lain. Gak gentleman banget kamu." Abi terdiam saat mendengar penuturan mama. "Abi mau tau sesuatu gak? Mama yakin sih kalo kamu tau tentang ini, kamu bakalan ajuin cuti dan pulang ke Jakarta. Percaya sama mama." Tutur mama dan tersenyum menatap Abi. "Apa, mah?" Tanya Abi dengan wajah penasaran. "Adrian sudah meninggal hampir 3 tahun yang lalu. Nia tetap melanjutkan pendidikannya di Jerman setelah setahun kematian Adrian. Setau mama, sampai saat ini Nia masih di Jerman. Mungkin tahun ini Nia wisuda." Mama melirik kearah Abi yang terkejut dengan fakta yang baru diketahuinya. "Mama tau dari mana?" Tanya Abi dengan ekspresi wajah tak percaya dengan apa yang dikatakan sang mama. "Ibu Tika, Dhana dan Tama." Jawab mama Irma sambil menggenggam tangan anaknya menyalurkan kekuatan, mama Irma tau pasti Abi juga pasti terpuruk mendengar fakta ini, mengingat sebesar apa cinta putranya pada Nia. "Kenapa gak ada yang ngasih tau Abi, mah?" Kini pertahanan Abi hancur, Abi menangis. Mama tau Abi menangis bukan hanya karena kematian Adrian, tapi juga karena Nia. "Kami semua mau Abi sendiri yang mencari tahu." "Gimana caranya Abi bisa mencari tahu, mah." "Kami semua mengira kamu dan Nia masih menjaga komunikasi." Abi memejamkan matanya dan menyesali kebodohannya dengan tidak menjaga komunikasi dengan Nia. "Abi menghapus nomor Nia." Lirihnya "Sekarang, keputusan ada ditangan Abi. Mau mencari Nia atau tetap diam dan kehilangan Nia lagi." "Mencari Nia, mah." Abi bangun dari duduknya dan berlari ke kamarnya untuk mengambil dompet, ponsel dan kunci mobilnya. "Emang tau mau cari Nia ke mana?" Tanya mama saat Abi ingin keluar rumah. "Jerman, mah." "Tau alamatnya? Kerjaan kantor gimana? Nak, jangan sampai salah ambil langkah." Tutur mama dengan lembut yang membuat Abi duduk kembali. "Terus Abi harus gimana, mah?" "Pulang ke Jakarta. Dhana dan Gista akan menikah pastinya Nia ada disana. Mungkin Nia akan di Jakarta lama, mengingat Tama juga akan nikah. Saat itu gunakan waktu untuk Nia. Mengerti?" "Ma, kalo Abi gak ke Jerman sekarang, gimana Abi tau keadaan Nia?". "Cinta boleh, bertindak bodoh jangan. Kan bisa tanya nomornya Nia sama Dhana, Tama atau Aji." Mama menggeleng tak habis pikir dengan tindakan yang akan Abi lakukan. "... Aji." Gumam Abi. Aji merupakan adik Nia. Nia hanya memiliki adik kandung. Sedangkan, Abi anak tunggal dan Dhana serta Tama memiliki kakak perempuan. "Abi mau nelpon Aji dulu ya.." ucap Abi sambil berjalan ke arah halaman belakang rumahnya. "Assalamualaikum.. Ji, ini bang Abi." Sapanya ketika sambungan telpon sudah terhubung. "Wa'alaikumsalam.. iya bang. Abang apa kabar?" "Alhamdulillah baik, Ji. Kamu apa kabar? Ayah ibu apa kabar?" "Alhamdulillah kami semua sehat, bang. Kecuali kak Nia.... Mama papa gimana bang? Mama kadang sering telponan sama ibu." "Mama papa alhamdulillah baik juga. Nia memang kenapa, Ji? Abang gak dengar kabar apa-apa tentang Nia." Bohong Abi. "Abang tanya langsung aja sama orangnya. Mungkin dengan bang Abi menghubungi kak Nia, setidaknya dia gak murung lagi." Ucap Aji dari sebarang sana "Boleh Abang minta nomor Nia? Abang baru ganti handphone, ada beberapa nomor yang hilang termasuk nomor Nia." Lagi, Abi berbohong. "Oke, bang. Ntar Aji kirim ke w******p aja ya. w******p abang masih nomor ini, 'kan?" "Masih kok, Ji. Sorry ganggu nih.. abang baru ingat kalo disana sekarang jam 3 pagi." Abi baru ingat perbedaan jam Amerika dan Indonesia 14 jam. "Gak papa, bang. Karena udah ke bangun gini Shalat tahajud aja sambil nunggu subuhan." Ucap Aji sambil tertawa. "Jangan lupa doa in abang. Abang tutup dulu ya. Assalamualaikum." Setelah salamnya dijawab, Abi menutup telponnya. Tak lama kemudian, Abi mendapat notifikasi pesan w******p dari Aji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN