Episode 18

1507 Kata
Sebelum pergi, Agha meminta sopir keluarga Gadendra untuk mengantar jemput Resha, tapi gadis itu menolaknya. Resha lebih suka naik taksi atau angkutan umum lainnya. Hari ini, Resha ada kuliah siang. Selesai ada kelas, Resha dan lainnya ke kantin untuk mengisi perut. Seperti biasa, mereka bercanda gurau dan mengobrol ala-ala mereka. "Re, loe belum jawab pertanyaan gue yang Minggu lalu?" Resha berpikir sejenak. "Pertanyaan loe yang mana?" tanya balik Resha karena lupa. "Loe beneran udah gak perawan?" kali ini, Edo sedikit memelankan suaranya. Resha, lebih memilih untuk tak menanggapi gurauan Edo. Ia lebih memilih untuk tetap menyantap soto pesanannya. Sayangkan kalau diabaikan. "Well, well, well, ternyata mahasiswi alim kita ini sudah tidak perawan guys" ujar Maya dengan suara lantangnya, sontak membuat pengunjung kantin yang lainnya menoleh kearah Resha dan memandang Resha rendah dan membicarakannya tak karuan. Resha, hanya diam sembari menundukkan kepalanya saat yang lain membicarakannya. "Gak nyangka ya gue, cewek alim, berhijab dan yang katanya yang pernah bersentuhan dengan laki-laki ternyata sudah tidak perawan. Gak malu loe sama tu jilbab?" hina Maya. Maya teman satu kampus Resha. Dari dulu Maya memang tidak suka dengan Resha karena Maya suka sama Gavin namun Gavin justru lebih memilih Resha, bahkan Gavin pernah melamar Resha. Salsa berdiri dari duduknya. "Asal loe tau ya cewek jalang, Resha tidak seburuk yang loe pikir. Wajar Resha sudah ti_" Resha segera menarik tangan Salsa, memintanya untuk duduk kembali dan tak melanjutkan ucapannya. "Udah jelas temen loe gak bener masih aja loe belain" "Diam bacot loe cewek jalang, simpanan om om" Edo yang membalas. Sontak ucapan Edo membuat Maya semakin emosi. "Jaga ya bicara loe atau?" "Atau apa?" balik tanya Edo yang sudah berdiri tepat di depan Maya. Tak bisa menjawab, Maya langsung pergi begitu saja dengan perasaan kesal. "Re, maafin gue ya?" pinta Edo penuh sesal. "Bukan salah loe do, memang dari dulu Maya gak suka sama gue makanya dia selalu cari masalah sama gue" balas Resha yang berusaha tersenyum walau hatinya sakit. "Oh ya, gue balik dulu ya gak enak orang rumah" pamit Resha. "Gue antar loe pulang ya, Re?" tawar Edo. "Gak usah gue naik taksi aja, tar di kira gue ada main lagi sama loe" canda Resha. Resha berdiri dari duduknya, lalu pamit pada teman-temannya. Sepanjang jalan keluar, semua melihat Resha dengan pandangan rendah. Ada juga yang mengatainya cewek jalang, cewek gak bener, bahkan ada yang menyuruhnya untuk melepas hijabnya. Sungguh sakit hati Resha. Resha terus berjalan tanpa memperdulikan cacian mereka. Sekuat apapun Resha berusaha tegar namun air matanya tak bisa diajak kompromi. Bulir bening itu mengalir begitu saja tanpa permisi. Resha, terus berjalan dengan cepat sembari menyapu kasar air matanya. Langkahnya terhenti saat ia melihat sosok yang di kenalinya bersandar di mobil sembari bersedekap tangan. Senyum bahagia langsung terpancar dari wajah manis Resha. "Mas Abi?" sapa Resha dengan bahagia, lalu menyalami tangan suaminya. "Kok mas Abi sudah pulang? Bukannya masih empat hari lagi?" "Kamu gak senang aku pulang?" tak menjawab, Agha justru malah balik bertanya. "Senang atuh mas" jawab Resha jujur. Sungguh jawaban polos Resha mampu membuat Agha melayang-layang dan tersenyum tak jelas. "Mas Abi, pasti rindu ya sama Resha, makanya pulang lebih cepat?" goda Resha yang membuat Agha langsung salah tingkah. Yang di bilang Resha memang benar, ia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena sudah sangat rindu akan istrinya. "Loe sungguh gak tau malu ya Resha" ujar Maya dengan tiba-tiba. "Dulu loe jalan sama Gavin, habis itu loe jalan sama dokter muda itu dan sekarang, loe udah ganti pasangan. Dasar cewek murahan" hina Maya dan menekankan kata di cewek murahan. "Apa maksud loe?" Agha yang bertanya. "Asal loe tau ya, cewek loe ini" ujarnya sembari menunjuk Resha. "Udah gak perawan. Percuma dia pakai busana muslim begini kalau kelakuannya b***t" Resha hanya diam, tak ingin melawan. Bukan, sebenarnya ia ingin bicara kalau dia sudah menikah, tapi dia ingat isi perjanjian yang sudah ia tanda tangani. Dan salah satu poin dalam perjanjian itu. Tidak ada yang boleh tau tentang pernikahan ini. Tak lupa ia melepas kaca matanya. "Loe tau kenapa Resha sudah tidak perawan? karena dia sudah menikah dan satu lagi, jangan pernah loe hina istri gue lagi kalau masih mau hidup" ancam Agha yang membuat Maya mati kutu. "Ayuk sayang kita pulang" ajak Agha yang di iyakan oleh Resha. Perlahan mobil Agha meninggalkan area kampus Resha. Suasana hening. Sebenarnya Agha penasaran, kenapa bisa temannya menuduh Resha tidak perawan. Apa karena? tidak. Agha segera menampik pikiran kotornya. Ia lebih memilih diam. Takut jika Resha tersinggung. "Mas?" Resha bersuara, setelah beberapa saat hening. "Buat yang tadi, terimakasih, mas sudah mau membela Resha" ucap Resha. "It's ok" jawab Agha singkat. Ada rasa gelisah dalam diri Resha. Ia takut jika Agha akan berpikiran sama seperti yang Maya katakan. Resha, mulai menceritakannya pada Agha, semua berawal dari celotehan Edo hingga Maya mendengar dan salah paham. Agha mengangguk mengerti. "Emang kamu gak bilang kalau kamu sudah menikah?" tanya Agha. Resha menggelengkan kepala pelan. "Kan di surat perjanjian gak ada yang boleh tau mas kalau kita suami istri" jawab Resha dengan polosnya. Lagi-lagi Resha membawa-bawa isi surat perjanjian itu. Agha menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Kebetulan jalan lagi tidak ramai. "Resha, aku sudah bilang. Lupakan perjanjian itu, jangan pernah lagi kamu membahasnya" ucap Agha. "Tidak bisa mas, aku sudah menandatanganinya dan aku tidak mungkin melupakannya" balas Resha. Agha memejamkan matanya rapat-rapat lalu membukanya kembali. "Kamu ingin kita tetap menepati isi perjanjian itu?" tanya Agha serius. "A.. aku, resha_" "Oke, besok mama sama papa kembali dari negeri J dan lusa kita pindah ke apartemen" ucap Agha menatap lekat Resha. "Dan kita bisa menjalankan isi perjanjian itu" lanjut Agha membuang muka dari Resha. Ia tak kuat jika harus menatap Resha dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. "Resha, ngikut aja mas" jawab Resha pasrah. "Iya" Agha kembali menyalakan mobilnya, perlahan Agha membawa mobilnya ke tengah jalan dan melajukan ke arah rumahnya. Tak ada obrolan sepanjang perjalanan pulang. Resha dan Agha lebih memilih diam dengan pikiran masing-masing. Sesampainya di rumah, Agha langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, Agha mengutuki dirinya sendiri. Kenapa dulu ia harus membikin perjanjian sialan itu? Jika tak ada perjanjian itu, mungkin semuanya tak akan seperti ini. ***** Pagi hari di kediaman keluarga Gadendra. Masih sama, mereka sarapan bersama. Tanpa kak Fanya dan Ferdy. Selesai sarapan Agha mengutarakan rencananya untuk pindah ke apartemen. "Agha sama Resha mau pindah ke apartemen?" ucap Agha yang membuat papa dan mama kaget. "Kenapa?" tanya mama. "Agha sudah berumahtangga ma, Agha ingin mandiri. Kalau Agha tinggal di sini terus kapan Agha mandirinya?" jawab Agha bohong. "Kapan kalian pindah?" tanya papa. "Siang ini" jawab Agha seadanya. "Kenapa mendadak?" tanya papa namun tak dijawab oleh Agha. "Resha, ada apa? kenapa kalian pindah mendadak seperti ini?" Resha, bingung harus menjawab apa. Ia takut salah. "Kita sudah membicarakannya lama pa, dan lebih cepat lebih baik" jawab Agha. Apa yang di bilang Agha memang benar. Ia sekarang sudah berumahtangga dan tinggal sendiri akan jauh lebih baik. Papa dan mama tak bisa menghalangi niatnya. Walau dalam hati tak ingin berpisah. Agha dan Resha kembali ke kamar, membereskan pakaian yang akan di bawanya. Agha hanya membawa pakaian kerjanya karena pakaian santainya banyak yang ia tinggal di sana. Semenjak kejadian siang itu, Agha dan Resha jarang berbicara tak seperti biasanya. Entahlah, mereka saling menutup diri. "Sudah?" tanya Agha saat melihat Resha selesai memasukkan bajunya ke dalam koper. "Sudah" jawab Resha seadanya. "Ada dua kamar di sana. Sesuai perjanjian, kita akan tidur di kamar yang berbeda" ucap Agha acuh. Ia mengambil koper Resha, membantu Resha untuk membawakan kopernya. "Mas?" panggil Resha yang membuat Agha menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi Resha?" tanya Agha tanpa membalikkan badan. "Tidak" balas Resha. Setelah sampai di lantai bawah, tak lupa mereka pamitan sama mama dan papa. Selesai pamitan, Agha langsung meluncur ke apartemen miliknya. Masih sama, tak ada obrolan antara mereka. Agha mengantar Resha ke kamarnya setelah mereka memasuki unit Agha. "Ini kamar kamu dan kamu bisa menaruh pakaianmu di lemari. Aku balik dulu ke kamar, kalau perlu apa-apa panggil saja" kata Agha. Resha, tersenyum. Hati Agha seketika lemah ketika melihat senyum manis itu. "Makasih mas" ucap Resha begitu halus. "Iya" jawab Agha singkat dan meninggalkan Resha sendiri. Resha menutup dan mengunci pintunya setalah Agha tak terlihat. Dia tak tau mengapa hatinya sesakit ini. Resha, memasukkan bajunya kedalam lemari. Selesai membereskan semuanya Resha duduk di balkon kamarnya. Aku tak tau ada apa dengan hatiku Mengapa sakit? Bukankah ini semua sudah tertulis, Tapi mengapa aku seakan tak kuasa untuk menjalinya. Apa aku sudah mulai mencintainya? Jika memang iya,, Tolong biarkan rasa itu tumbuh tanpa luka. Agha membanting tubuhnya di kasur empuk miliknya. Mengapa ia harus seperti ini? Mengapa ia tak bisa menjalani rumah tangga normal seperti orang lain? dan mengapa harus ada perjanjian itu? Agha membuka laci makasnya. Masih ada sebungkus rokok yang masih utuh. Agha mengambilnya satu batang, lalu membakar dan menghisapnya. Menikmati setiap hisapan rokok. Berharap, ia bisa melupakan sedikit masalah hatinya. Agha bukan type perokok, namun jika hatinya sedang tak baik seperti saat ini. Rokok salah satu pelarian Agha. ________ ❤️❤️❤️❤️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN