Episode 10

1125 Kata
Ada pasar malam di ibukota. Agha sengaja membawa Resha kesana. Dia ingin menikmati waktu singkatnya bersama gadis nyamannya. Untuk kali ini saja, Agha memohon untuk di lancarkan waktunya bersama, Resha. Agha, memohon waktu berputar sedikit lambat karna dia ingin menikmati malam bersama, Resha. Agha dan Resha sangat menikmati waktu singkat mereka. Tak lupa mereka mengabadikan kebersamaan mereka. Mereka mencoba semua wahana yang ada di sana. Bukan hanya itu, mereka juga mencicipi semua jajanan, mengelilingi area pasar malam. 'Tuhan, hentikanlah waktu. Supaya aku bisa terus bersamanya. Aku masih ingin melihat senyum manisnya.' Sepertinya, doa-doa mereka tak di dengar. Waktu berputar begitu cepat. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Resha, mengajak Agha untuk segera kembali. "Mas, udah malam. Resha, gak enak sama yang lain kalau pulang terlalu malam" ujarnya. "Ya udah yuk" Agha, memarkir mobilnya lumayan jauh jadi mereka masih bisa ngobrol. "Kamu kenapa gak pernah kirim aku pesan?" tanya Agha. "Aku tidak mau ganggu mas Abi" jawab Resha alasan. "Oh ya, maafin teman aku yang tadi" "Gak papa kok mas" tak ada obrolan. Suasana kembali hening. "Mas" Resha, menghentikan langkahnya. "Terimakasih" ucapnya. Bukan itu yang ingin dia ucapkan, namun hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya. "Untuk?" tanya Agha tak mengerti. "Terimakasih, sudah hadir di waktu yang tepat" "Sama-sama" kenapa hanya itu yang keluar dari bibir Agha. Kenapa dia tidak bisa sweet. Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata keluar dari mulut Agha maupun Resha. Mereka lebih memilih diam dengan pikiran masing-masing. Agha, memilih fokus ke depan sedangkan Resha, lebih memilih melihat indahnya lampu-lampu indah malam hari di ibukota melalui kaca pintu mobil. Mereka seperti orang asing yang baru pertama bertemu. Kenapa begini? bukankah tadi mereka di pasar malam mengobrol santai biasa. Bercanda seperti dulu kala. Kenapa sekarang begini? Setelah dua puluh tiga menit perjalanan akhirnya mereka sampai di kontrakan, Resha. "Mas Abi, terimakasih" senyum itu, selalu membuat Agha terngiang-ngiang. "Resha" tangan Agha sudah lebih dulu mencegahnya ketika Resha hendak membuka pintu mobil. Gadis itu kembali menoleh ke arah Agha. "Resha, terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Semoga Tuhan selalu memberimu kebahagiaan dan semoga kelak kau mendapatkan jodoh terbaik yang Tuhan pilihkan untukmu, terimakasih Resha" ucapnya pelan dan sangat hati-hati. Gadis itu tersenyum sebelum membalas ucapan, Agha. "Mas Abi, juga ya. Semoga Allah selalu melimpahkan kebahagiaan buat mas Abi dan semoga mas Abi segera dipersatukan dengan jodoh mas Abi" balasnya. Senyum itu tetap ia suguhkan. Mungkin ini malam terakhir dia jalan bersama Abi. Minggu depan dia sudah harus kembali ke kota B. Tak ingin lama-lama, Resha segera turun dari mobil Agha sebelum perasaannya lebih dalam ke Agha. Gadis itu berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi kebelakang. Agha baru meninggalkan halaman kontrakan Resha setelah gadis itu benar-benar tak terlihat olehnya. Tak langsung pulang, Agha kembali ke kontrakan Arif. Dia harus mengembalikan mobil Arif. Sesampainya di kontrakan Arif, Agha langsung merebahkan badannya di kasur empuk Arif. "Loe udah pamit sama, Resha?" tak langsung menjawab. Agha seperti menanggung beban yang begitu berat. "Gue gak sanggup, Rif" jawab Agha pada akhirnya. Saat bersama Resha tadi, Agha menangkap ada kesedihan dalam wajah gadis itu. Matanya terlihat begitu sayu, namun dia selalu berusaha menutupinya dengan senyuman. "Resha, sepertinya juga sedang ada masalah" Arif mengerti, dia tak ingin lagi membahas tentang Resha, karena memang apa yang di lihat Agha, benar adanya. Ayu hanya cerita, kalau Resha sudah di jodohkan sama orangtuanya. Cukup, Arif tak ingin membahas tentang Resha lagi. Dia takut, jika temannya akan benar-benar memiliki perasaan lebih pada Resha. "Lalu, bagaimana dengan Qainara? apa loe akan menggantungnya begitu saja?" Ya Tuhan, kenapa pertanyaan Arif tak pernah terpikirkan olehnya? Kenapa Arif semakin menambahkan beban dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya itu? Bukan, bukan menambahkan beban, namun ia mengantisipasi sebelum semuanya terlambat. Agha harus memiliki jawaban atas semua tindakan dan keputusannya. Agha, beranjak dari posisinya lalu duduk di sofa kamar Arif. Pria itu hanya mengangkat bahunya tanda tak mengerti. "Lebih baik gue mikirin tumpukan file yang ada di meja gue daripada mikirin masalah seperti ini" ujarnya kesal sembari mengacak-acak rambutnya "bikin kepala sakit" lanjutnya. "Lupain Qainara dan fokus ke kehidupan loe yang baru. Ingat, akan ada hati yang harus loe jaga nanti" Arif hanya bisa memberi pesan singkat namun sangat bermakna itu untuk Agha kedepannya. Agha, terdiam mencerna dengan baik ucapan, Arif namun dia masih belum begitu paham akan makna ucapan Arif. Dia sedang memikirkan sesuatu. "Rif, gue ada ide" ujarnya. "Gue mau bikin perjanjian nikah sama dia" "Perjanjian? perjanjian apa maksud loe?" "Gue mau bikin perjanjian, tidak ada yang boleh tau pernikahan ini, gue bebasin dia bergaul sama siapapun dan dekat dengan siapapun sebaliknya dia juga tidak boleh larang-larang gue untuk dekat siapapun" Arif tidak mengerti dengan jalan pikiran Agha. Apa temannya ini sudah tidak waras? "Apa loe sudah gila, gha? sama aja itu loe mainin pernikahan, gha. Bukankah pernikahan itu sesuatu yang saklar. Loe sendiri yang bilang itu, gha" "Bukan seperti yang loe pikir, Rif? tapi...." Agha tak mampu melanjutkan ucapannya. "Terserah loe lah gha, loe yang ngejalanin. Tapi hati-hati kalau loe terjebak permainan loe sendiri. hati-hati jatuh cinta" seru Arif. "Loe harus temenin gue, Rif?" pinta Agha "Sorry gha, tapi gue ada seminar diluar kota" "Gue gak mau tau, pokok loe harus ikut gue. Loe harus temenin gue" Arif hafal jika temannya itu tak suka di tolak. Dia akan terus memaksa sampai mau. __________________ Malam hari di kediaman tuan Gadendra. Agha, baru kembali dari kontrakan Arif. Ada mama, papa, dan juga kak Tiara di ruang tengah. Agha, berjalan dengan santai dan hanya menyapa keluarganya yang sedang berkumpul dan ada keinginan untuk bergabung. "Agha" langkahnya terhenti ketika suara lembut itu memanggilnya. "Ada apa, Ma?" pria itu menghampiri mamanya, lalu duduk di sebelah mamanya. "Loe dari mana dek, jam segini baru pulang?" tanya Tiara "Habis jalan sama teman" jawab Agha singkat. "Teman cewek loe ya?" goda Tiara "Ingat, loe udah mau nikah, jangan genit-genit sama cewek" lanjutnya yang mendapat lemparan bantal kursi dari, Agha. "Sayang, apa yang di bilang kakakmu itu benar. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami, jauhi teman-teman perempuanmu nak dan belajarlah untuk mencintai pasanganmu biarpun kalian belum saling mengenal tapi mam yakin, kamu akan dengan sangat mudah mencintainya" ujar mama dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Iya, ma" Agha tak ingin membantah Mamanya, akan jadi panjang jika dia membantahnya. "Agha, kembali ke kamar dulu" pamitnya yang langsung meninggalkan ruang keluarga. Entah mengapa, Agha tak bisa melupakan senyum manis, Resha. Senyum yang tulus tanpa paksaan. Senyum yang begitu manis yang selalu membuatnya merasa nyaman. "Resha, mengapa kita di pertemukan jika akhirnya kita di pisahkan?" batin Agha. Agha, hanya bisa tersenyum tidak jelas. Kenapa jadi, Resha yang ada di bayangannya? kenapa bukan, Qainara? Apa dia sudah mulai menaruh hati pada, Resha? gadis yang baru di kenalnya satu bulan yang lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN