Hari Minggu, Resha memilih menghabiskan waktu di apartemen setelah tadi pagi belanja kebutuhan bulanan bersama Agha.
Selesai makan siang dan membereskan dapur serta beberes apartemen bersama Agha, Resha kembali masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya yang serasa pegal semua.
Agha, berkali-kali mengetuk pintu kamar Resha tapi tak ada jawaban dari si pemilik kamar. Takut terjadi sesuatu dengan Resha, Agha memberanikan diri membuka pintu Resha. Rupanya gadis itu sedang tertidur lelap.
Perlahan, Agha berjalan mendekati Resha lalu duduk di sebelah Resha. Agha, terus memperhatikan wajah ayu Resha, hingga tanpa ia sadari bibirnya melengkung membentuk satu senyuman.
"Kamu cantik Resha, sangat cantik dan kamu juga sangat baik. Munafik jika aku tak tertarik denganmu" ucap Agha sembari mengelus pelan wajah Resha.
Agha kembali keluar dan menutup pintu kamar Resha pelan, sangat pelan. Tadinya ia ingin memberitahu Resha kalau ia akan keluar dan mungkin akan pulang larut tapi melihat Resha yang tertidur pulas, Agha tak tega jika harus membangunkannya jadi ia hanya mengirim pesan pada Resha.
Ya, hari ini Agha ada janji sama Qainara. Gadis itu meminta Agha untuk menemaninya belanja. Agha mengiyakan ajakan Qainara sekalian ia akan berterus terang pada Qainara jika sebenarnya ia sudah menikah. Agha tak ingin terus memberi harapan palsu pada Qainara.
Qainara meminta Agha untuk menjemputnya ke rumah tapi Agha menolaknya. Agha tak ingin bertemu dengan orangtua Qainara jika bertemu sudah di pastikan mereka akan menanyakan seputar hubungannya dengan Qainara dan mereka memutuskan untuk bertemu di mall.
Setelah dua jam menemani Qainara mengelilingi mall. Agha mengajak Qainara untuk makan karena Agha sudah terlalu capek bukan tapi Agha sudah malas. Dia lebih suka menemani Resha belanja bulanan ketimbang keliling mall bersama Qainara dan hasilnya tak ada yang di beli.
"Papa sama Mama nanyain kamu?" ujar Qainara sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Salam buat om sama Tante" balas Agha.
"Qai, aku ingin bicara?"
"Bicara apa? sepertinya serius?" tanya balik Qainara.
"Qai, maaf jika selama ini aku sudah memberimu harapan" ujar Agha.
"Agha, ada apa?"
Agha menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan. "Qai, sepertinya hubungan kita tidak bisa lebih dari teman" ucap Agha dengan hati-hati.
Qainara tersenyum. "Apa masih ada Kanaya di hati kamu?" tebak Qainara. Ya, setau Qainara hanya Kanaya wanita yang di cintai Agha sebelum Agha dekat dengannya.
Agha menggelengkan kepalanya. "Bukan" jawab Agha singkat.
"Why?" tanya Qainara masih tak mengerti.
"Aku tidak ingin mengecewakan mama sama papa qai" jawab Agha. "Aku permisi pulang duluan" Agha beranjak dari duduknya namun Qainara lebih dulu menarik tangannya.
"Maaf qai, ada hati yang harus aku jaga" dengan pelan Agha melepaskan tangan Qainara tanpa kembali menoleh ke arah Qainara. Sebenarnya ia tidak tega melihat Qainara terluka tapi lebih cepat lebih baik. Ia tak ingin Qainara berharap terlalu dalam padanya.
##
Pukul setengah enam petang Resha baru bangun dari tidur nyenyaknya. Resha langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat magrib. Selesai sholat, Resha mengambil ponselnya. Ada pesan dari Agha. Resha, hanya membacanya tak membalas. Ia menghela nafasnya panjang lalu kembali meletakkan ponselnya.
Tak lama, Resha beranjak dari posisinya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Tak perlu waktu lama bagi Resha untuk mandi. Gadis itu keluar sudah dengan pakaian ternyamannya.
Ya, Resha hanya memakai kemeja yang kebesaran dan celana pendek yang hanya menutupi bokongnya. Seperti itulah pakaian Resha jika sedang sendiri di dalam kamar. Tak lupa Resha mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menyisirnya sedikit lalu kembali ia merebahkan badannya di kasur.
Resha, tak masak malam ini karena Agha sudah makan malam di luar bersama temannya. Jika ia lapar ia akan masak mie instan atau pesan makanan via online. pikir Resha. karena sudah di pastikan Agha akan pulang larut.
Resha, kembali mengotak-atik ponselnya dan memainkan aplikasi game online yang ada di ponselnya. Pukul setengah delapan malam Resha keluar kamar karena perutnya sudah meronta-ronta untuk minta di isi.
Seperti angan-angannya tadi, ia hanya membuat mie instan rebus yang di taburi bon cabe level 30. Pas dengan cuaca ibu kota yang sedang hujan rintik saat ini. Resha, begitu menikmatinya karena sudah lama ia tak makan makanan favoritnya itu. Karena Arif mewanti-wantinya untuk tak makan barang itu lagi. Tapi melanggar satu kali gak papakan???
Resha, memakannya dengan sangat lahap dan setelah makan Resha hendak kembali ke kamarnya namun ketika ia sampai di ambang pintu kamarnya ada tangan yang mencengkeram lengannya.
"Siapa kamu?"
deg, Resha sangat mengenali suara itu. Itu suara Agha, suaminya.
Agha, menarik lengan Resha yang ia cengkeram hingga membuat Resha membalikkan badannya dan menabrak tubuhnya.
Agha menelan ludahnya susah payah, saat tau gadis yang ada di hadapannya adalah Resha, istrinya. Gadis yang selama ini tertutup dan selalu mengenakan busana muslim tapi kini.
"Resha?"
Ingin rasanya Resha, terjun dari apartemen Agha karena malu. Bagaimana bisa Agha melihatnya saat ia berpakaian seperti ini. Sangat memalukan bukan. Belum lagi, jika Agha berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya? Sungguh Resha sangat malu.
"Mas Abi" balas Resha. "Maaf mas, Re.. Resha... Resha ganti baju dulu mas?" pinta Resha yang langsung masuk ke kamarnya namun tak lama Agha menyusulnya. Ini kesempatan, kapan lagi ia melihat Resha seperti ini?
Kali ini, Agha memeluk Resha dari belakang ketika gadis itu hendak membuka pintu lemarinya. "Biarkan Resha, biarkan seperti ini" bisik Agha tepat di telinga Resha.
"Tapi mas_?"
"Resha, tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada kita dan apa salah jika aku ingin menikmati ke indahan istri ku" balas Agha dengan nafas yang memburu.
Sungguh, jantung Resha rasanya ingin lepas dari tampatnya. Bagaimana tidak, jantung itu berdetak lebih kencang. Bukan hanya Resha, Agha pun juga sama bahkan Resha bisa merasakan detak jantung Agha.
Agha membalikkan tubuh Resha untuk bisa menghadapnya dan kini mata mereka saling berpandang.
Sial
Hanya melihat Resha, berpakaian seperti ini junior Agha sudah menegang. Bukankah ia sering melihat gadis-gadis lain berpakaian seperti itu. Bahkan lebih sexy dari Resha dan terang-terangan menggodanya tapi sedikitpun juniornya tak tergoda tapi kenapa saat melihat Resha, dia seolah berontak minta di keluarkan?
"Resha, apa kau sengaja ingin menggodaku?"
Nah kan, betulkan di pikirkan Resha. Agha pasti akan mengira seperti itu. Padahal tidak ada sama sekali niatan Resha buat menggoda Agha, kecuali jika Agha memang tergoda dengan sendirinya.
"Resha tidak bermaksud menggoda mas Abi, Resha juga tidak tau kalau mas Abi sudah pulang" jawab Resha dengan nada gugup. "Maaf mas" kini Resha tak bisa lagi menyembunyikan rasa gugupnya. Ini kali pertamanya Resha sedekat dan seintim ini dengan laki-laki.
Agha tak bisa lagi menahan hasratnya. Entah sejak kapan tangan Agha sudah berkeliaran di paha mulus Resha dan tangan satunya, ia lingkarkan di pinggang Resha. Satu lagi, bibir mereka sudah saling menyatu dan melumat, entah siapa yang memulai.
Tak tinggal diam melihat sesuatu yang indah menganggur. Perlahan, tangan Agha berpindah ke d**a Resha. Meremasnya secara pelan dan bergantian. kanan dan kiri. Sedang bibir mereka masih saling melumat.
Tak lama, Resha melepaskan bibirnya dari Agha saat ia rasa oksigen di tubuhnya sudah mulai menipis.
Betapa terkejutnya Resha, saat melihat kemeja yang ia kenakan sudah tak terkancing lagi. Resha, membulatkan matanya sedang Agha, pria itu tersenyum penuh kemenangan.
"Mas A.."
Belum selesai Resha melanjutkan ucapannya, Agha sudah lebih dulu menghisap pucuk d**a Resha. Tangannya memainkan d**a Resha yang menganggur. Sedang tangan yang satunya, berkeliaran di inti Resha. Meraba dan mengelusnya secara perlahan. Membuat sang empunya bergeliat tak karuan karena permainan lidah dan juga tangan suaminya.
Tidak hanya itu, lidah Agha juga bermain-main di leher Resha, mengecup dan menghisap leher Resha hingga meninggalkan bekas di sana.
Resha, hanya pasrah dan menikmati apapun yang Agha lakukan pada tubuhnya. Inikah yang dinamakan surga dunia?
Ini adalah pengalaman pertama Agha. Melihat dan menghisap langsung d**a anak gadis orang. Ralat, istrinya. Rasanya???? biarlah Agha yang tau rasanya.
Kini, baik Agha maupun Resha sudah berada di ambang pucuk nafsu. "Resha, boleh aku memintanya sekarang?" tanya Agha dengan deru nafas yang tak beraturan.
Resha, mengangguk pelan sebagai jawaban permintaan Agha. Dengan nafsu yang memburu, Agha kembali melumat bibir Resha dan meremas d**a Resha dengan sedikit kasar. Agha sudah melepas kemeja Resha, hingga membuat gadis itu bertelanjang d**a dan ....
Tok tok tok.....
Resha, melepaskan diri dari Agha saat mendengar ada yang mengetuk pintu apartemen. Sebenarnya, Agha sudah mendengarnya dari tadi tapi ia biarkan.
"Mas, sepertinya ada tamu?" ucap Resha.
"Biarkan saja" balas Agha. "Kita lanjutkan ya?" pinta Agha dengan penuh harap.
Ketika Agha hendak melanjutkan aktivitasnya, pintu di ketok semakin cepat dan kencang.
"Sial" ucap Agha kesal.
"Mas, bukain deh, takutnya penting" pinta Resha, membuat Agha, mau tidak mau harus menghentikan aktivitasnya.
Dengan wajah kesal, Agha beralih dari posisinya lalu mengambil kemeja Resha yang ia buang sembarang tadi. Dengan telaten Agha memakaikan kembali kemeja Resha dan mengancingkannya satu persatu.
"Jangan lupa pakai rok dan kerudung, aku tidak mau orang lain ikut melihatnya. aku bukakan pintu dulu" ucap Agha lalu mencium pucuk kepala Resha.
Dengan perasaan kesal, Agha keluar kamar Resha. Sepanjang jalan Agha menggerutu.
"Gue pastiin gue akan mencincang tu orang kalau gak penting. macam tidak ada hari lagi malam-malam bertamu" dan masih banyak cacian Agha.
"Lama banget sih dek buka pintunya" kata Fanya ketika Agha membukakan pintu. Agha, memejamkan matanya erat lalu membukanya kembali.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Agha sinis.
"Loe gak mempersilahkan kita masuk?" Ferdy yang bertanya.
"Biasanya juga loe main masuk" balas Agha yang di sambut senyum oleh Ferdy.
"Istri loe mana?" tanya Ferdy setelah masuk ke dalam.
"Ngapain loe nanyain istri gue?" tanya balik Agha.
"Kak Fanya?" Resha, langsung menghampiri kakak iparnya. Menyalami dan cipika-cipiki.
"Kak Ferdy" sapanya dengan ramah dan tak lupa tersenyum. Setelahnya, Resha duduk di sebelah kak Fanya.
"Kak Fanya sama kak Ferdy kapan datangnya?" tanya Resha.
"Kemarin lusa" jawab Fanya.
"Ya ampun kak, kenapa gak telpon aja biar Resha sama mas Abi yang ke rumah"
Fanya tersenyum. "Dek, loe ngajak Resha pindah ke apartemen bukan karena loe pengin bebas bisa nongkrong sampai pagi sama temen-temen loe kan?" tanya Fanya penuh curiga.
"Loe ya bawaannya curiga Mulu sama gue. Gue doain anak loe kayak gue nanti" balas Agha.
"Amit-amit ya alah jangan Sampek" balas Fanya.
Agha tersenyum miring. "Ngapain kalian malam-malam kesini?" tanya Agha masih dengan nada sinisnya.
Fanya tersenyum. "Gue cuma pengen cubit pipi Resha" jawab Fanya.
Agha memelototkan matanya tak percaya. "Dek, boleh ya kakak cubit pipi kamu?" pinta Fanya pada Resha.
"Sok atuh kak" balas Resha sembari memberikan pipinya.
Fanya mencubitnya dengan gemas. "Sayang, aku sudah cubit pipinya Resha. Ayok kita pulang" ajak Fanya pada suaminya.
"What? loe malam-malam datang ke sini cuma mau cubit pipi Resha habis itu loe langsung pulang"
Fanya menganggukkan kepalanya. "Astaga kak, loe memang ya dari dulu ngeselin. Gue baru mau bikin anak gak jadi gara-gara loe gedor-gedor pintu gue dan sekarang sudah cuma gitu doang" ucap Agha kesal setengah mati.
Resha, hanya diam mendengar ucapan fulgar Agha. Sungguh dia sangat malu. Ingin rasanya ia menenggelamkan diri di kolam renang saat ini juga.
========
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️