Puncak acara pernikahan denisa aurely juga lireon malves sedang berlangsung,keduanya tampak bahagia. ??
"woi, sini deketan" reon pun sedikit menundukkan kepalanya.
"gue mau ke toilet bentar"
"udah telat kalau mau kabur"
"kalau gue mau kabur gak bakalan izin sama lo om"
"kau!"
"wlek om om" ia berlari hendak pergi.
srett
"ehh anjir"
greb!
para tamu undangan yang berada disekitar mereka pun bersorak,apalagi ciwi ciwi yang suka aroma aroma romansa,auto kejang kejang.
"lepasin gue!" menahan suaranya, sambil berusaha mendorong tubuh kekar reon.
"kau harusnya berterima kasih pada ku bukan?"
"apa sih!" langsung pergi meninggalkan para tamu yang mulai berbisik aneh aneh.
"sosweet bangett"
"gue juga mau kek gituu"
"gak sabaran banget sih lo" kalimat terakhir berhasil membuat reon menajamkan matanya pada manusia sengak yang tak jauh darinya,rio sahabatnya.
Manusia yang tiada hari tanpa cengengesan,kadang bonus nyengir nyengir kek kuda. Kecuali hari dimana gajinya udah tipis tapi pengen chekout barang yang diskonnya bukan main,ehh candaa Rio tak semiskuin author wkwk
"itu pengantinnya baru balik" yang ditunjuk hanya berjalan kebingungan.
"kenapa nyo.. Iya gak jadi" pelototan maut mertuanya memang ajip.
"mama,biar samaan"
"sama siapa?" gk ada takut takutnya nih bocah.
"sama reon dongg, masa sama Rio"
"kalau mau samaan sama Rio juga gak masalah kok tan"
plak! oke mantap.
"kamu pulang, pengantin baru mau kekamar" usir Megan pada Rio, membuat anjing yang dibuang majikannya itu memelas minta tampol.
Sedangkan pengantin baru yang dimaksud hanya diam,diam diam pengen kabur.
"ma.. mendingan pulang ke ru.."
plak!
"awhh... sakit ma"
"mampus!"
"kamu kira mama gak tau isi otak mu itu heh?!"
"aku kenapa ma?" sok sok an gak tau, si kambing.
"setau aku ya kak reon itu gak sepolos itu deh,mama sengaja booking semuanya termasuk kamar,supaya kak reon sama denisa bisa nge seks"
plak!
"sakit ma"
"mulut anak gadis kok gitu,gak malu apa sama kak Rio?!"
"dia?" menunjuk Rio, mamanya mengangguk.
"dia ma? aku seorang gwyn malves malu sama dia? gak lah yaww" melengos pergi, mungkin lupa antri pembagian akhlak.
"gwyn kampret! beraninya depan orang tua doang"
"biasa aja dong mukanya,gak usah kek dendam banget gitu"
"bacot lo! tante om Rio pamit dulu, mau cari cewek"
"kek ada aja yang mau sama lo" Rio mendekati reon.
"anjing lo!" lalu beralih ke nisa.
"denisa cantik, aak pamit dulu ya" tersenyum selebar mungkin,yang jadinya aneh bikin anak orang takut aja.
"aak apaan om?" yang ditanya sudah melesat pergi.
"reon,nisa mama sama papa duluan ya"
"iya ma"
"aak apaan om?" tanyanya lagi pada om yang satunya lagi,lebih tepat suaminya sendiri dan ia tak mendapatkan jawabannya.
"saya butuh bicara serius"
"ohh oke" mengekori reon hingga ke salah satu kamar hotel.
"ngomong apaan om?" menutup pintu,memastikan tak ada orang yang tau, berasa jadi intel dia.
"apa alasan kau menyetujui pernikahan ini?"
"yee.. itu lagi, kan udah dibilang gue cuma mau surat kelulusan gue"
"sampai harus menikahi saya?" nisa mengangguk pelan, lalu berjalan ke toilet.
"hanya itu alasan mu? saya meragukannya sekarang" nisa berhenti.
"terus? masalahnya sama gue apa? memangnya harus sebanyak apa ala.."
"harta" nisa berbalik.
plak!
"gue tau lo kaya, gue juga tau orang kaya itu banyak dramanya, tapi maaf kalau saya tidak sesuai dengan ekspektasi anda tuan! saya tidak akan menyentuh sedikit pun harta anda itu! anda bisa membawanya ke kuburan anda!"
brak!
malam itu nisa tidur di ruang ganti, malam pertama yang dibicarakan banyak orang tak seindah itu. Nisa tau dan sudah terbaca dari awal,namun tak menyangka saja bila alasan dia berada disana karena soal harta, orang kaya memang repot.
***
tok.. tok..
"udah ma biarin aja, pasti capek ma denisa nya"
"udah kamu diem aja"
tok.. tok..
"ishh.. reon kemana sih?!" emosi sang ibu mulai menyulut.
ceklek
"kamu tuh lama banget!"
"kenapa ma?"
"istri kamu mana?" nada bicaranya berubah,jadi kepo sekarang.
"masih di dalam" mak mak rempong mendongakkan kepalanya berusaha ngintip,namun tertutup oleh tubuh kekar nan berotot putranya itu.
"liat dikit doang pelit amat"
"hari ini pulang rumah kan ma?"
"gapapa kalau kalian mas.."
"pagi nyonya mama mertua,hari ini udah pulang kan?" nyosor lewat bawah ketiak om pedo,senyum secerah matahari dan selebar jidat Rio.
"kok seneng banget sih kamu pulang"
"hehehe kan aku matre,jadi pengen liat rumah mertua aku dong" kau tau,nisa nyindir om pedo dan berhasil membuat sang empu merasa tersindir.
"kita beres beres dulu ma, permisi" ia menarik nisa lalu menutup pintu kamar.
"mau kemana kau?" menarik kerah baju nisa,membuat anak itu balik lagi dari pada kecekek kerah baju sendiri, kan gak lucu.
"beres beres lah,sesuai yang di bilang tadi" melengos hendak pergi.
"kau berani melawan suami mu?!" dengan nada penuh penekanan.
"suami? memangnya situ mau punya istri MATRE?!"
BRAK!
nisa menutup pintu kamar mandi,ia mengguyur tubuhnya menggunakam shower. Berusaha mendingin kan kepalanya agar lebih sabar menghadapi iblis berkedok suami dihadapannya nanti.
ceklek
"saya mau bicara" berusaha tenang melihat nisa yang berbalut handuk dihadapannya,sepertinya reon memilih waktu yang tidak tepat. Mau urung niatnya udah terlanjur,kalau dilanjutin gak aman untuk kesehatan,adiknya.
Nisa pun berbalik,aduhh..Bahaya!
"hmm" ia berjalan kearah meja rias,duduk di sofa yang berada tak jauh darinya.
"bisa sekarang ngomongnya?" merasa reon yang hanya diam sedari tadi.
"oh s**t! ada apa dengan otak ku! ayolah kerja samanya!!"
"emm..tidak ada" ia beranjak pergi ke kamar mandi,untuk membersihkan tubuhnya. Hanya mandi!
"apa apaan!" nisa pun pergi ke ruang ganti dengan perasaan kesal,memang kudu banyak sabar yaa..
***
ceklek
"ini kamar kita,kau bisa tidur dimana saja terserah, asal tidak di ranjang saya,sa..hei!" nisa melengos melewatinya,langsung masuk ke ruang ganti.
"hei! dimana sopan santun anak itu?!"
ceklek
"surat kelulusan gue" ia baru berujar setelah Reon menatap kearah tangan nya heran selama beberapa menit.
Reon pun mencari cari berkas itu, hingga membongkar laci meja rias yang entah sejak kapan sudah berada disana,ia sendiri heran sebelumnya tak ada benda menjengkelkan itu disana.
"kau lihat sendiri, tak ada"
"itu bukan urusan gue,gue tau nya ada di lo" melengos pergi keluar dari kamar.
ceklek
nisa hanya duduk duduk di ayunan yang berada di taman belakang rumah,niat nya tadi beres beres atau masak gitu tapi you know lah, orang kaya memang ribet.
Ia membuka ponselnya,yang dipenuhi pesan tak mengenakkan tentang pernikahannya.
"dia pakai pelet apaan sih"
"jangan jangan udah tek dung"
"pasti dia sengaja jebak CEO ganteng itu"
"ganteng mata mu,ambil aja sono buat lo! kampret!"
Ia lalu membuka log panggilan, ada beberapa panggilan yang tak lain tak bukan adalah panggilam dari Rendy,kasian sadboy.
Nisa tak sadar jika ada seorang pria yang mulai gila,melihatnya sambil senyum senyum menggunakan teropong dari kejauhan,bahkan memfotonya secara diam diam.
"NISAAA.."
"IYA MAAA.. AKU DITAMANN" gak mantu gak mertua sama aja,sama sama tarzan.
"sini dulu, kita butuh ngobrol serius"
"ngobrol a.."
"tinggal nurut aja sini" dih malah ngamokk.
"nih nisa nya"
"sini duduk dulu nisa,kita perlu bicara"
"ada apaan nih, suka gue kalau ribut ribut nihh" linggis mana linggis!
"ada apa pa?" tanyanya pada papa mertua yang tampak serius itu,disana juga ada reon yang tak kalah sengak ehh serius maksudnya.
"kalian beneran mau pindah?"
"hah apaan sih anjirr, lo ngapain liat liat gue heh kampret! wahh gak ada akhlak memang"
"pindah ke mana pa?"
"reon tak membicarakannya pada mu?" reon melototi nisa,pengen nisa cubit tuh paru parunya.
"bukannya gitu pa,dia.."
"dia? apakah kalian tak seharusnya memikirkan tentang panggilan kalian masing masing?" sekarang mak nya yang berkomentar.
"iya mas reon ma.. Aku belum terbiasa ma,pa maaf"
"kampret lo om pedo! gue sumpahin lo cepet ubanan!!"
"kalian bicarakan dulu berdu hal ini,jangan bahas pindah kalau belum sepakat!" ujar papa marco tegas.
"iya pa" ujar keduanya,lalu reon menarik tangan nisa ke kamar mereka.
ceklek
"ti.. "
"lepasin dulu" memotong ucapan reon, yang di yakini oleh nisa bakal panjang kek pidato kepala sekolah waktu upacara, yang katanya singkat saja atau tanpa panjang lebar, Ia menunjuk tangannya menggunakan mulut yang dimonyong monyongkan.
"tunggu bentar,gue duduk dulu" mendaratkan bokongnya di sofa yang empuk itu.
"tidak bisa kah kau serius?!"
"bisa, ngomong aja"
"saya mau kita pindah, dan kau dengar sendiri tadi papa mau kita berdua sepakat akan hal ini"
"kenapa pindah? kan baru aja pindah ke sini"
"kau kira saya akan betah jika terus terusan diawasi oleh keluarga saya?"
"ya nggak sih"
"lagi pula kau juga akan lebih bebas jika kita pindah ke rumah saya"
"enakan disini sih, ada temennya"
"akan saya beri surat kelulusan mu jika kita pindah"
"oke,kapan?"
"sekarang" bergegas keluar.
"aneh lo om pedo!" makinya namun ia tetap mengekori pria yang ia sebut 'om pedo' itu.
ceklek
"ini ruang apa lagi? orang kaya memang ribet"
"ngapain kalian kesini?"
"kita sudah sepakat soal pindah rumah"
"betul nisa?" nisa hanya mengangguk.
"oke,kalian boleh pindah setelah cuti kantor mu selesai"
"kalau begitu be.."
"cuti mu papa perpanjang jadi dua minggu"
"loh kok gitu sih pa?!"
"kamu pilih cuti atau honeymoon"
"cuti aja" semuanya tampak kaget,karena nisa yang diam sedari tadi tiba tiba menjawab, jawabannya ajip banget lagi.
"apa alasan mu memilih agar dirumah dari pada honeymoon nisa?"
"kami berdua tidak seperti pasangan baru menikah pada umumnya, terlalu cepat jika langsung honeymoon pa"
"ogah banget gue honeymoon sama pedo, yang ada ginjal gue dijual entar sama dia hih!"
"reon?"
"iya pa, benar yang dikatakan nisa ada baiknya jika kami dirumah dulu untuk pendekatan dan saling kenal dulu"
"baik lah, jika itu keputusan kalian"