Hampir tiga puluh menit sejak Wildan menghubunginya, Andra telah menjejakkan kakinya di lantai teratas gedung Sagara Grup. Tepat setelah membuka pintu ruangannya, tampaklah kedua wanita berbeda generasi yang tengah sibuk mengobrol sambil membolak-balik majalah. Andra mendengus kesal dan segala mood baiknya luruh seketika saat menyadari jika majalah itu adalah kumpulan katalog pernikahan dari beberapa WO. “Sudah datang?” sapa Dyah tanpa menatap putranya dan terus fokus pada gambar-gambar di kertas. “Hhmm,” sahut Andra hanya dengan berdehem. Pria lebih seperempat abad itu berlalu melewati sang mama dan juga tunangannya menuju meja tempatnya bekerja. Sebisa mungkin Andra mencoba untuk mengacuhkan kedua wanita itu dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Namun, rencana itu tentunya hanya akan me

