Keesokan harinya, Andra berniat berjalan-jalan terlebih dahulu di kota yang tak pernah tidur ini. Ia ingin membeli beberapa barang, sehingga ia memilih pergi ke distrik dengan deretan toko yang berjejer. Sebenarnya tidak ada barang yang secara spesifik ingin Andra beli, tetapi ia tidak ingin kembali dengan tangan kosong. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Andra keluar dari sebuah toko aksesoris dengan membawa sebuah paper bag lengkap dengan senyumnya. Waktu yang telah menunjukkan tengah hari dan ia pun merasa haus, sehingga ia berencana pergi ke kafe terdekat untuk bersantai sejenak. “Andra?” Langkah pria itu terhenti bersamaan dengan sapaan bernada tanya sekaligus satu tangan yang menahan lengannya. Andra menoleh kesamping, mendapati seorang wanita Asia berusia tiga puluhan tengah

