SF 40

1399 Kata

“Andra!” pekik Dyah histeris melihat putra semata wayangnya terbaring tak sadarkan diri. Ia berlari menghampiri Andra sementara sang suami segera memerintahkan anak buahnya untuk memanggil dokter. Riasan wajah seharga jutaan rupiah itu kini ternodai oleh air mata yang membanjiri pipinya. Kedua tangannya menepuk-nepuk pipi Andra yang tak juga terbangun. Suhu tubuh pria itu normal, hangat. Napasnya pun masih berhembus dengan wajar. Lalu mengapa Andra seolah tidak terusik sedikit pun saat sekitarnya begitu bising, bahkan setelah tubuhnya ditepuk-tepuk oleh sang mama? Pria itu terlihat damai, pemandangan yang selama satu bulan terakhir ini tak pernah dilihat oleh Dyah maupun Riswan selama mereka mempersiapkan hari yang sakral ini. Tak lama kemudian, dokter Gun datang tergopoh dengan peralat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN