8. Pria Itu Berhasil Melarikan Diri

1371 Kata
Marry berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar tajam. Kepalanya tengah memikirkan kejadian barusan, yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah … apakah laki-laki misterius itu mati? Hatinya mulai merasa gelisah. Seharusnya saat pertemuan pertama mereka, pria itu sudah mengetahui bahwa dirinya adalah anggota sss Black Shadow, dan pihak misterius yang mengirim pria itu juga seharusnya telah mengganti dia dengan orang lain. Jika pihak misterius tiudak mengganti orang untuk mengejarnya, maka bukankah berarti pria itu juga bukan orang biasa? Maksud Marry … identitasnya. Bukankah berarti identitasnya tidak biasa? Mengingat dari cara bertarung pria itu dan aksi nekat setengah gilanya barusan. Apakah mungkin pria itu dengan mudah mati begitu saja? Marry menghela napas, kemudian memijit kening kepalanya. Mengapa pula masalah ini muncul, s**l*n Marry ucapkan untuk orang yang membocorkan rahasia ini. Di tengah sibuknya Marry memikirkan hal tersebut, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, lalu tak lama suara Diandra terdengar. “Marry, kau ada di dalam?” Marry yang mendengar ini segera melirik ke arah pintu, lalu menajwab singkat,”Ya.” Pintu kamar Marry terbuka, lalu muncul Diandra. Marry menatap Diandra bingung. “Ada apa?” Diandra yang mendnegar ini hanya menajwab santai,”Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan, ini tentang pria Sawamura yangt mengejarmu.” Marry mnegangguk. “Oh.” Diandra yang mendengar ini balas mengangguk, kemudian mulai bertahnya,”Apa kau ingat ciri-cirinya? Pertama kali aku melihatnya saat menjemputmu kemarin malam, namun karena jarakku dan dia tidak terlalu dekat, aku pun jadi sulit.” Marry yang mendengar ini terdiam sejenak, untuk mengingat kira-kira bagaimana sosok detail pria itu, lalu tak lama menjawab,”Dia memiliki tinggi badan kira-kira 185 cm, tubuhnya tegap profesional. Hanya itu yang aku tahu, aku juga kesulitan mendeskripsikannya, dia tertutup rapat. Hanya mata yang dapat aku lihat.” Diandra menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian dia kembali bertanya,”Apa kau yakin hanya itu? Coba ingat-ingat lagi, mungkin saja kau melupakan sesuatu. Sesuatu apa pun itu, bahkan hal terkecil sekalipun.” Marry yang mendengar Diandra sepertinya sangat serius menggali pria misterius itu pun segera bertanya dnegan kening mengerut. “Mengapa kau bertanya-tanya? Apakah saat kau mengecek tempat kejadian mobilku yang terbakar jasadnya tidak ada?” Diandra yang mendengar ini terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya pelan. “Ya, tidak ada jasadnya sama sekali, bahkan satu atau dua tulang manusia, tidak ada. Oke, lupakan satu atau dua tulang, kini tanda-tanda abu manusia yang terbakar pun tidak ada. Bersih, sangat bersih.” Marry yang mendengar ini tertegun, kemudian mengepalkan kedua telapak tangannya erat. “Tidak mungkin, Diandra. Sebelum melompat dan berguling keluar dari mobil, aku melihat dan menyaksikannya sendiri. Pria itu, pria misterius yang menyerangku itu sudah melebur ke dalam kobaran api bersama mobilku. Dan kini kau mengatakan bahwa jasadnya tidak ada? Tidak mungkin, bisa saja kau mengartikan abu manusia menjadi abu serpihan mobil biasa.” Diandra mengerutkan keningnya. “Jadi maksudmu aku keliru? Marry, bagaimana mungkin aku keliru kepada tugas dan penyelidikkan penting seperti ini? Pria itu secara ganas mengincar AQM-304 dan berusaha membunuhmu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku keliru?” Marry menggelengkan kepalanya lagi, lalu jari telunjuknya menunjuk wajah Diandra. “Jadi maksudmu aku berdusta? Kau meragukan ucapanku?” Diandra menggelengkan kepalanya pelan, jari tangan kanan wanita itu bergerak memijit keningnya. “Entah aku yang keliru atau kau yang salah, yang pasti memang jasad pria misterius itu tidak ada. Menghilang. Jika kau tidak percaya, kau bisa mendatangi tempat kejadian mobilmu itu lagi, para anggota penyelidik Black Shadow tidak ada yang menyentuhnya sembarangan.” Marry menghela napas gusar. “Jika memang tidak ada, lalu kemana perginya ia? Rasanya mustahil dia menghilangt begitu saja. Pertama, aku memperhatikan mobilku saat meledak, aku juga melihat dia lenyap dimakan kobaran api. Kedua, jika memang pun dia berhasil kabur, seharusnya aku melihat dia melarikan diri. Tidak masuk akal jika dia tiba-tiba menghilang begitu saja.” “Sangat masuk akal.” Tiba-tiba suara Ivana terdengar, Marry dan Diandra segera menoleh ke arah pintu. “Masuk akal jika ternyata memang pria misterius itu lebih kuat dari dirimu, Marry,” sambung Ivana, Diandra yang mendengar ini pun menganggukkan kepalanya setuju. “Benar, bisa jadi memang pria itu lebih kuat darimu,” ujar Diandra. “Itu berarti Sawamura sungguhan mengincar nyawamu dan AQM-304,” timpal Ivana. Marry mengertakkan giginya kesal, dia jengkel mendengar Diandra dan Ivana berkata demikian. Pria itu lebih kuat darinya? Itu benar-benar menyebalkan. “Lupakan tentang seberapa hebat dia, Marry. Sekarang yang aku perlukan adalah deskripsi dirinya, aku membutuhkannya. Aku kesulitan karena tidak mengetahuinya dengan detail, bukankah yang pernah bertarung dengannya adalah dirimu?” ucap Diandra, kini topik pembicaraan kembali fokus kepada deskripsi pria misterius tersebut. Marry termenung sejenak, dia berusaha mengingat keras. Lalu … tak lama kemudian, Marry teringat akan sesuatu. “Aku ingat sesuatu,” ucap Marry kilatan cahaya dingin di matanya muncul. Diandra yang mendengar ini segera menaikkan alis kirinya. “Apa?” “Luka,” jawab Marry singkat, membuat Ivana tertawa dan berkata,”Berbicaralah lebih jelas, Marry.” Lalu wanita itu menepuk pelan kepala Diandra menggunakan tangan kanannya. “OTak bocah ini sedikit ada gangguan, jaringannya kurang lancar. Jika kau tidak mengatakan kalimat dengan rinci, lengkap, dan tepat, dia tidak akan paham dengan ucapanmu.” Diandra yang mendengar ini segera menepis tangan Ivana kasar. “Berhenti berbicara sesuatu yang menyebalkan Diandra, aku juga mengerti jika Marry hanya ingin menggantung kalimatnya, dia pasti akan melanjutkannya. Dua tahun lagi aku akan belajar ilmu kedokteran, bagaimana caranya mengubah lidah beracunmu menjadi ramah.” Ivana yang mendengar ini tersenyum manis. “Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku.” Marry memutar bola matanya jengah, salah satu dari mereka muncul di hadapannya saja sudah membuat dia sakit kepala, apa lagi kini keduanya? Jika bukan kaarena saat ini suasananya genting, Marry sudah menendang mereka keluar dari kamarnya. “Marry, lanjutkan, jangan pedulikan gangguan Ivana, dia semakin gila dari hari ke hari karena mempelajari sains. Ck, tidak. Bukan sains yang membuatnya gila, dia memang sudah terobsesi dari kecil. Lupakan saja, dia memang ternyata sudah gila dari lahir,” ujar Diandra sambil mengolok Ivana, sedangkan Ivana hanya tersenyum mendengarnya. Baiklah … sekarang saatnya kembali ke mode serius. “Saat pertemuan pertama kami, aku dan dia sempat bertarung di area parkiran VIP, kami bertarung sangat sengit. Sangat singkat waktu itu, aku pun terburu-buru, tidak tahu apakah itu mengenai tubuhnya atau tidak,” ujar Marry, kedua sudut alisnya menyatu, sangat kentara bahwa wanita itu tengah serius mengingat kejadian bertarung mereka berdua kemarin malam. “Diam-diam menggunakan pecahan kaca mobil, aku menggores dan menancapkan pecahan kaca tajam tersebut ke bagian paha pria itu. Sekali lagi, aku tidak tahu apakah pecahan kaca itu berhasil melukainya atau tidak, karena waktunya sangat singkat dan tanganku sama sekali tidak terkena noda darah miliknya jika memang itu terluka,” lanjut Marry. “Hanya itu?” tanya Diandra, sepertinya wanita itu kurang merasa puas, terlihat dari raut wajahnya. Marry mengangguk singkat. “Ya, hanya itu. Selebihnya pria itu benar-benar pandai menjaga rahasianya, dia sepertinya juga salah satu anggota dnegan peran penting di Sawamura.” Ivana tersenyum tipis. “Seharusnya mudah menemukannya,” ucap wanita itu, membuat Diandra menoleh dengan kening mengerut. “Mudah?” Ivana mengangguk. “Jika memang Marry berhasil menusuk paha kakinya menggunakan pecahan kaca, seharusnya saat ini pria itu berjalan pincang. Memang benar, luka tusuk seperti itu biasa untuk seseorang yang aktif bergelut di dunia gelap, namun jika luka tersebut tidak ditangani dengan serius, maka dapat berakibat fatal. Contohnya, selesai mendapatkan luka tersebut dan bertarung lagi denganmu yang termasuk dalam anggota peringkat sss, tentu saja dia akan mendapatkan luka baru. Di pertarungan kalian juga pasti orang itu terpaksa melakukan banyak gerakan, bisa saja lukanya kembali basah dan semakin buruk. Apa lagi mendengar cerita brutalmu yang mengendari mobil demi untuk menyingkirkannya, seharusnya … setidaknya saat ini ada beberapa bagian tulangnya yang patah, begitu juga dengamu. Dan lagi, bukankah kau bercerita melihatnya termakan kobaran api? Aku percaya kepadamu, begitu juga dengan Diandra yang mengatakan jasadnya tidak ditemukan, pria itu berhasil kabur. Lukanya pasti saat ini telah berkali-kali lipat jauh lebih parah.” Diandra yang mendengar ini mengangguk. “Aku mengerti sekarang apa yang harus aku lakukan,” ucapnya, sedangkan Marry hanya diam, wanita itu termenung memikirkan ucapan Ivana. “Sebelah kanan atau kiri kau menusuknya?” tanya Diandra. “Kanan,” jawab Marry singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN