Keesokan paginya, Marry sudah siap bahkan saat langit masih gelap. Sekarang mungkin sekitar jam empat pagi, wanita itu kini sudah siap dengan pakaian jaz setelan hitam. Saat ini dia sedang sibuk mengecek persediaan peluru, tidak ada yang boleh tertinggal di perjalanannya ini. Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar bersamaan dengan suara Diandra yang melengking keras.
“Marry! Kau sudah bangun? Belum? Mengapa kau tidak menajwab? Mati?!”
Marry memutar bola matanya jengah, jika Diandra bukan teman kecil serta seperjuangannya, Marry sudah sejak lama menembak tenggorokan wanita itu. Dengan malas, Marry menajwab,”Jika aku mati, maka kau juga harus mati, s****n. Mengapa berisik sekali? Masuklah.” Tak lama setelah Marry menjawab, pintu kamarnya segera terbuka dan Diandra muncul. Diandra muncul dengan mengacungkan pistolnya ke arah Marry, lalu berbicara dengan suara yang sengaja dibuat-buat. “Angkat tangan, aku dari pihak kepolisian. Dengan-“
Paa! Krak!
Diandra terkejut, karena tiba-tiba Marry berbalik, memukul tangannya, lalu merebut pistol miliknya sangat cepat, secepat kedipan mata.
“Apa? Kau dari pihak kepolisian? Kalau begitu aku harus membunuhmu,” ucap Marry, menatap Diandra dengan senyum tipis, namun terlihat penuh kemenangan. Diandra memutar bola matanya, lalu menajwab,”Menoleh lah ke belakang.” Marry yang mendengar ini segera menoleh ke belakang, lalu melihat tangan Diandra memegang belati yang sudah sangat dekat dengan pinggangnya. Jika Diandra menancapkan belatinya, maka isi perut Marry bisa saja langsung berantakan. Marry mengangkat kedua bahunya acuh dan membalas,”Lihatlah apa yang tertancap di bahumu.” Begitu Marry berkata demikian, Diandra dengan cepat segera menatap bahunya. Keningnya mengerut ketika tidak melihat apa pun, hal ini membuat Marry tersenyum tipis, kemudian menarik tangan Diandra yang memegang belati, membuat bagian tajam belati mengarah ke tenggorokan Diandra dengan tangannya sendiri. Setelah itu Marry menempelkan ujung pistolnya ke dahi Diandra. “Jangan lengah, atau kau akan dibunuh,” bisik Marry, kemudian melepas cengkeraman tangannya dan mengembalikan pistol yang dia pegang ke Diandra.
“Terima kasih atas pemanasannya pagi ini, aku akan mencatat pesanmu di kitab suci,” ujar Diandra. Marry yang mendengar ini tertawa pelan. “Memangnya kau punya agama? Kau itu orang sesat, Diandra. Mencatat pesanku di kitab suci? Aku saja malas menjadi Tuhanmu.”
Diandra yang mendengar ini segera mengangguk bagian belakang lehernya yang tidak gatal. “Ya....”
“Sudah selesai,” ucap Marry setelah selesai mempersiapkan perlengkapannya. Tas yang kemarin telah dia ganti dengan yang baru, hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diingkan. Bagaimana jika pria misterius kemarin kembali muncul dan mengenalinya dari tas sebelumnya? Bisa panjang urusannya, Marry akan jauh lebih sibuk. Lagi pula, seharusnya yang mengerjakan misi seperti ini adalah Diandra, raut wajahnya terlihat bodoh, jadi cocok mengantar barang seperti ini.
“Kau ingin aku antar ke bandara? Hitung-hitung aku ingin tebar pesona di sana, siapa tahu ada pria tua kaya raya tidak memiliki anak dan istri,” tanya Diandra sambil menajwab, Marry yang mendengar ini mengangguk. “Tentu saja, dan berhenti berlagak seperti wanita genit, Diandra. Di mataku itu menjijikan. Jika selama ini yang kau cari adalah pria tua seperti itu, untuk apa kau capek-capek ke bandara? Bukankah Big Papa ada?” lalu Marry tertawa di akhir kalimatnya sambil jalan pergi lebih dulu meninggalkan Diandra.
Diandra yang mendengar ucapan Marry segera membalas,”Maksudku adalah pria tua yang waras, bukan tidak waras seperti Big Papa. Bagaimana bisa aku bersedia dengan rubah tua itu.”
“Siapa yang rubah tua?” Tiba-tiba suara Big Papa terdengar, membuat Diandra membeku, kemudian memaksakan senyum lebar. “Peliharaan pamanku, dia pernah memelihara rubah tua,” jawab Diandra, Marry yang mendengar ini hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Big Papa menaikkan alis kirinya, menatap datar ke arah Diandra. “Kau pikir aku tidak tahu bahwa ayah dan ibumu adalah anak tunggal? Bagaimana mungkin kau memiliki paman, jangan lupa siapa yang memungutmu.”
Diandra yang mendengar ‘memungut’ dari mulut Big Papa segera merasa kesal. “Hei, tidak adakah kata yang lebih baik dari ‘memungut’? Tega sekali … padahal aku wanita yang cantik.”
Marry dan Big Papa yang mendengar ini menatap datar dan malas ke arah Diandra, mereka lebih memilih untuk diam saja dan tidak membalas. Membalas ocehan Diandra adalah kegiatan yang paling tidak berguna, lebih baik mereka mengurus urusan yang lebih penting, contohnya n*****a AQM-304 ini.
“Akan ada beberapa anggota Black Shadow yang diam-diam menjagamu, jadi tidak perlu khawatir dengan serangan tiba-tiba,” ucap Big Papa. Marry yang mendengar ini mengangguk. “Baik, namun aku harus menghapus mereka saat akan naik ke dalam pesawat. Lebih baik jangan membawa penjagaan apa pun.”
Big Papa mengerutkan keningnya. “Kau yakin? Sepertinya luka bekas misi kemarin milikmu belum sepenuhnya sembuh.” Mata Big Papa menatap ke lengan kiri Marry. Marry yang mendengan ini pun juga segera melirik lengan kirinya, begitu juga dengan Diandra yang penasaran.
“Ini hanya sayatan pisau, sudah terbiasa, bahkan sering.. Untuk apa kau mengkahwatirkan luka kecil ini? Bukankah dulu saat aku kecil kau sendiri yang memberikan luka seperti ini?” tanya Marry sambil mengangkat kedua bahunya acuh, dia tidak terlalu menganggap serius luka sayatan miliknya. Big Papa tertawa pelan. “Aku tidak mengkhawatirkan luka sayatan itu, bahkan jika tangan kirimu patah, kau harus tetap menjadi orang yang mengantar n*****a tersebut. Aku hanya takut … bagaimana jika di tengah misi kau kekurangan kekuatan dan fokus hanya karena luka kecil tersebut? Itu berbahaya untuk n*****a ini.” Lalu Big Papa mengetuk tas yang Marry tenteng.
Diandra yang mendengar ini segera berkata,”Big Papa, anda tidak perlu khawatir! Ayolah… Yang mengantar n*****a ini adalah Marry. Siapa Marry? Anggota sss yang hebat, bahkan jika kepalanya hilang pun dia akan tetap pergi untuk menyelesaikan misinya.” Diandra terkekeh di akhir kalimat. Marry memutar bola matanya jengah. “Ya, aku adalah anggota sss yang berguna, sedangkan kau tidak.” Diandra yang mendengar ini balas memutar bola matanya jengah pula. “Tch, aku tarik kembali kalimat memujiku yang barusan.”
Big Papa berbalik, lalu pergi ke depan lebih dulu meninggalkan Marry dan Diandra sambil berkata,”Kalian berguna dan tidak berguna di waktu yang tepat, aku merasa lega karena kalian tidak ‘tidak berguna’ sepenuhnya.”
“Marry, cepat berangkat dan antar pesanan spesial konsumen. Ingat, jangan lupa untuk menjadi 'kurir paket' yang baik,” lanjut Big Papa, sebelum Diandra mengoceh cepat dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya.
“Baik,” jawab Marry dengan anggukkan kepala singkat, kemudian matanya melirik Diandra. “Cepat siapkan mobilmu, aku tidak bisa terlambat di penerbangan nanti.”