Perih semakin terasa di badanku ketika angin bercampur embun mengusap bekas-bekas cakaran di tangan dan mukaku. Bekasnya semakin memerah tidak wajar. Ini tidak seperti luka yang aku derita jika aku kena cakar kukuku saat menggaruk. Naluri rider-ku kembali memuncak di jalanan desa yang sempit. Aku memacu motor yang ku pinjam dari temanku agar cepat sampai di klinik yang ada di kecamatan. Perih seakan menjadi teman setia dalam perjalananku kali ini. Akhirnya aku sampai di bangunan yang tidak terlalu besar dan bercat putih. Klinik ini tidak lebih besar dari posko KKN yang aku tinggali. Beberapa orang yang berpakaian serba putih terlihat hilir mudik ke sana-ke mari. Dengan langkah gontai kususuri halaman klinik. "Maaf Neng, daftar dulu," kata seorang perawat di meja resepsionis. "Nama saya

